
Semangat Kelar🤭🤭🤭
****
Ia pun ingin tahu, kenapa Johan masih memikirkan dan memperhatikan Lilis, padahal mereka sudah lama bercerai sementara Lilis pun sudah menikah dengan orang lain.
"Memangnya kau belum beristri lagi?" tanya Frida dengan tatap selidik.
Johan memperlihatkan jari-jarinya yang kosong tanpa cincin satu pun. Cukup sebagai jawaban. "Siapa tahu kau copoti dulu," gurau Frida, pura-pura tak percaya.
"Kalau memang begitu pasti ada tandanya di jari. Bagian kulit yang biasa tertutup cincin pasti berbeda warna dengan sekitarnya. Nih, lihatlah." Johan menyodorkan kesepuluh jarinya.
Frida cuma mengamati sebentar. Ia tentu tahu kebenaran kata-kata Johan. "Ya, deh. Saya percaya," katanya tersenyum manis.
Johan memandang Frida dengan tatapan penuh makna. Sepertinya dia terpukau oleh senyuman Frida. Tapi dalam hati dia merasa bersalah.
Bus Frida sudah datang. Mereka berdiri. Johan menyodorkan tangannya untuk menyalami Frida lalu sengaja berlama-lama memegang tangan Frida, seperti segan melepaskan. Kemudian ia melambaikan tangan setelah Frida masuk dan menoleh kepadanya. Frida pun membalas lambaian nya.
Setibanya dirumahnya , Frida merenungkan peristiwa yang dialaminya barusan. Apa yang akan dikatakan nya kepada Bram nanti supaya lelaki itu bersedia membuka dompetnya lagi? Ia harus merencanakannya baik-baik.
Frida bertekad, bahwa kali itu adalah yang terakhir ia menghubungi Bram. Terakhir pula ia meminta bagian. Sesudah itu ia tak mau berurusan lagi dengan lelaki itu. Karena itu bagian yang mau dimintanya haruslah cukup besar hingga bisa memuaskan perasaannya. Selama ini Bram sudah memperlakukan nya secara tidak adil. Ia tidak percaya bahwa Bram cuma berhasil menguras deposito Lilis saja. Pasti masih ada yang lain. Mungkin perhiasan atau harta lain yang tidak diketahuinya.
Sedang dari Indira, korban Bram sebelum Lilis, jelas lebih akrab hingga tahu betul isi rumahnya. Indira seorang janda tanpa anak yang mendapat warisan lumayan dari mendiang suami pertamanya. Karena itu setelah kematiannya, harta Indira semuanya jatuh ke tangan Bram. Ada rumah dan isinya, tanah, perhiasan, uang dan entah apa lagi. Tetapi dia yang berjasa memperkenalkan kedua perempuan dengan Bram setelah menyelidiki dan menilai mereka cocok untuk dijadikan korban, cuma mendapat bagian sedikit. Jumlahnya cuma sekitar tiga juta. Padahal seharusnya jauh lebih banyak. Seharusnya jumlah yang layak diperoleh nya itu bisa digunakan untuk membeli mobil.
Tak perlulah sedan mewah, melainkan cukup mobil kijang. Dengan demikian ia tidak harus bersusah payah menunggu bus setiap hari. Benar-benar menjengkelkan dan menggemaskan. Gobloknya, ketika itu ia tak mau menuntut dan menerima saja seberapa yang diberikan. Padahal tanpa jasanya, Bram takkan mungkin memperoleh semua harta itu. Namun harus diakui, Bram selalu siap memberi uang setiap kali ia mengalami kesulitan. Tapi jumlahnya sedikit-sedikit, sekedar menutupi kebutuhan nya. Apa artinya jumlah sedemikian, karena selalu habis untuk makan sehari-hari.
Ia merenung lebih dalam. Sekarang ia sudah tahu, bahwa Bram orang yang berbahaya. Tetapi ia pun yakin, bahwa dirinya tidak akan begitu saja disingkirkan karena masih dibutuhkan. Kemungkinan Bram masih ingin berpetualangan lagi. Itu terbukti dari permintaannya untuk tetap bekerja sama. Jadi selama ia dibutuhkan, ia tidak akan disingkirkan begitu saja. Ia harus memanfaatkan hal itu. Maka adalah suatu kebodohan bila ia menyatakan ingin putus hubungan. Tempo hari ia berkata begitu tanpa berfikir panjang. Ia teringat lagi pada percakapannya dengan Johan barusan lalu tersenyum. Ya, orang harus pandai-pandai menggunakan taktik untuk mencapai keinginannya. Ia harus belajar untuk tidak selalu berjalan lurus ke tujuan.
Flatnya tidak memiliki telepon. Memang ada untung dan ruginya mengingat segala biaya ditanggung bertiga. Siapa yang memakai telepon lebih banyak daripada yang lain? Tapi ruginya adalah kesulitan bila ingin menghubungi orang lain. Seperti sekarang ia tak bisa menghubungi Bram dalam suasana pribadi. Maka ia terpaksa turun dari flatnya di lantai tiga untuk mencari telepon umum yang lenggang dengan berbekal uang logam.
Bram berhasil dihubungi. "Ada apa lagi Frid?" tanya Bram dengan nada kurang nyaman.
__ADS_1
"Ah, kau tidak mau tahu rupanya. Ya, sudah." sahut Frida jengkel.
"Tunggu. Katakan dulu ada apa. Jangan cepet ngambek dong." Suara Bram lebih manis.
"Habis kau kedengaran kurang senang rasanya aku dianggap pengemis, deh. Belum apa-apa sudah dikira mau minta-minta."
"Sori deh, Frid. Aku lagi pusing nih. Maunya marah-marah. Ayolah, katakan. Ada apa?"
"Tadi Johan menemuiku lagi. Ia kelihatannya gigih lho."
"Mau apa lagi sih, dia itu?"
"Entahlah. Ia mengajakku keluar. Kelihatannya sih dia tertarik padaku."
"Tertarik padamu? Hu, gombal!"
Frida menjadi panas. "Kau pikir aku makhluk jelek hingga tak ada lelaki yang tertarik padaku?" serunya geram.
"Aku tidak sebodoh itu, Mas."
"Lantas kau mau diajak olehnya?"
"Mau! Janjinya malam Sabtu."
"Aduh, kenapa mau saja?"
"Itu urusanku. Tak ada hubungannya dengan mu. Sebagai manusia dan sebagai lelaki, Johan itu cukup menarik dan menyenangkan."
"Aduh..."
Frida tersenyum. "Dan aku sudah cukup lama tidak bergaul akrab dengan lelaki. Rasanya kesepian."
__ADS_1
"Hei, tahukah kau bahwa Johan itu punya teman kumpul kebo?"
Frida tertegun sebentar. "Ah, yang penting dia tidak beristri," katanya masa bodoh. Sedikit banyak ia kecewa tapi kemudian terpikir bahwa Johan tidak penting baginya. Bila Johan benar ingin memanfaatkan nya maka ia pun harus bisa balik memanfaatkan.
"Tunggu Frid. Kau menelepon dimana?"
"Biasa. Telepon umum."
"Ngomong begitu apa tidak takut kedengaran orang?"
"Kebetulan sepi."
"Begini saja. Aku datang ya. Kita bisa bicara leluasa."
"Oke. Aku tunggu dibawah saja." Frida teringat akan rasa ngerinya tempo hari ketika melihat kemarahan Bram padahal mereka cuma berdua saja di flatnya. Sebaiknya ia berhati-hati.
Tak sampai sejam kemudian ia melihat mobil Bram memasuki halaman rumah susun. Pada saat itu cukup banyak orang sedang berangin-angin disekitarnya. Ada yang sedang main bulutangkis, ada yang jalan-jalan hilir mudik. Pendeknya jauh dari suasana sepi. Frida bergegas mendekati mobil Bram yang sudah menemukan tempat parkir.
"Hei!" sapa Bram dengan sikap yang manis.
"Hei juga. Cepat sekali kau datang ya."
"Ayo, kita bicara disini?" Bram membuka pintu mobilnya, menyilahkan Frida masuk. Tapi Frida tidak merasa aman didalam mobil. "Ah, enakkan diluar saja, Mas. Enak kena angin," Ia beralasan. Maka merak bicara sambil berdiri dan menyandarkan tubuh ke mobil.
"Nah, apa yang mau kau bicarakan?" tanya Frida.
"Pertama-tama aku ingin mengingatkan janjimu. Apakah kau memberikan alamatmu kepadanya?"
"Tentu saja tidak. Jangan khawatir akan hal itu."
****____****
__ADS_1