
Happy Reading...
Dinda bisa memaklumi keberatan Bagas. Ia mengantarkan kepergiannya sampai ke pintu pagar. Ketika melihat gerakan ibu Leli dirumah sebelah ia buru-buru masuk lalu mengunci pintu.
Pada mulanya ia bermaksud menelepon ayahnya, tapi kemudian berfikir akan kemungkinan ayahnya sedang sibuk dibengkel. Maka ia beralih menelepon Tante Della.
"Jadi sekarang dia mengincar orang lain lagi?" seru Della dengan penuh emosi dalam suaranya.
"Begitulah Tante."
"Mudah-mudahan saja dia selamat ya."
"Ya, Tante."
Hening sebentar. Kemudian terdengar suara cemas Della, "Tapi... Dind. Kau harus hati-hati juga lho. Kalau sampai Bram tahu bahwa kau terlibat maka dia bisa melampiaskan amarahnya padamu. Sudah jelas dia orang yang berbahaya."
"Aku tahu Tante. Tapi aku sudah minta Bagas agar tidak menyebut namaku atau kerabat ku bila berhadapan dengan Bram atau tantenya. Demi keselamatan tantenya dia bersedia bekerja sama."
"Masalahnya, apakah dia bisa dipercaya? Kalau dia sampai kelepasan bicara..."
"Kelihatannya dia tidak sebodoh itu Tante."
"Kau yakin? Gunakan instingku, Dinda."
Dinda tersenyum. Della berbicara seolah dirinya punya Indra keenam. "Ya. Aku akan menggunakannya Tante."
"Kabari aku lagi bila Bagas menghubungimu."
"Pasti Tante."
Setelah meletakkan telepon, Dinda mengenang kembali pertemuannya barusan dengan Bagas. Anak muda yang menarik, pikirnya untuk kesekian kali. Diam-diam ia berharap bisa mengenalnya lebih jauh lagi dan pertemuan mereka yang akan datang tidak cuma membicarakan seputar masalah itu saja. Tapi muncul juga kekhawatiran. Seorang lelaki dewasa seperti Bagas, yang menarik dan nampaknya sudah mapan, kemungkinan besar sudah punya pacar. Dan tidakkah Bagas menganggapnya seperti anak kecil?
__ADS_1
Dinda bertekad untuk menjaga sikapnya nanti bila bertemu Bagas lagi. Ia akan berbicara dan bersikap dewasa supaya Bagas tidak meremehkannya.
Malam harinya, Johan tidak menelepon melainkan datang sendiri bersama Irene, yang sekarang sudah berstatus sebagai istri sah. Bagi Johan cerita tentang Bram yang barusan didengarnya terlalu penting untuk dibicarakan lewat telepon. Maka Dinda menceritakan semua isi pertemuannya dengan Bagas. "Bukti bahwa ceritanya benar adalah foto pernikahan Bram dan tantenya. Aku sudah minta satu, tapi dia tak mau memberikan karena disitu ada tantenya yang tidak mau dia libatkan. Tapi dia berjanji untuk mencarikan foto yang lain Yah."
"Aku maklum kalau dia tidak mau memberikan. Itu pertanda dia memikirkan tantenya," komentar Johan.
"Tapi seandainya dia berikan aku akan menggunting foto itu dengan menyisakan bagian yang ada Bram saja."
"Kasihan kalau digunting," kata Irene dengan senyum.
"Oh ya Tante Maya itu cantik deh. Dan juga kaya. Pemilik salon, butik, dan sebuah rumah mewah serta mobil mewah. Harta itu diperolehnya sebagai warisan almarhum suaminya. Pasti dia jauh lebih kaya daripada ibu." Dinda bercerita dengan gemas.
"Bagas yang mengatakan?" tanya Johan.
"Ya. Jelas Bram tidak akan mendekati perempuan yang miskin, betapapun cantiknya."
"Sebelum kesini Tante Della menelepon. Dia menyampaikan kekhawatirannya mengenai keselamatanku. Aku pikir, kekhawatirannya masuk akal. Aku pun merasakan hal yang sama. Bram pasti sangat membencimu. Dendanya yang dulu pasti akan bertambah kalau dia tahu bahwa sekarang kau kembali ikut campur. Dulu dia masih bisa meredam amarahnya karena tujuannya toh sudah tercapai. Tapi sekarang dia bisa memandangku sebagai penghalang. Orang yang ambisius akan melakukan segala sesuatu untuk menyingkirkan halangan yang merintangi."
"Jadi kupikir sebaiknya kita mengantisipasi segala kemungkinan Dind," Johan melanjutkan. "Kita bersiap-siap dulu sebelum terjadi sesuatu. Sebaiknya kau dan Bi Imah tinggal bersama kami. Ya, aku tau kau lebih suka sendirian. Tapi ini untuk sementara."
Dinda tidak ingin meremehkan kecemasan ayahnya meskipun terpikir bahwa sementara itu relatif sifatnya. Seberapa lama kan sementara itu? Ia menyukai Irene demikian juga sebaliknya. Tapi tinggal serumah bisa menggangu privasi masing-masing.
"Betul sekali Dinda." Irene cepat menyambung ucapan suaminya. "Aku senang kau bersama kamu. Dan percayalah, kita tak akan saling menggangu privasi masing-masing. Aku sudah membicarakannya dengan ayahmu. Ruang diloteng seluruhnya untuk keperluamu. Bagaimana?"
Dinda terharu dengan ketulusan yang terkandung dalam suara Irene. Spontan ia memeluk Irene. "Terimakasih Tante. Masalahnya bukan soal ruangan. Tapi, bisakah aku minta waktu dulu yah? Kita tunggu kabar berikutnya dari Bagas, baru menentukan tindakan selanjutnya."
Johan berpandangan dengan Irene. Akhirnya Johan berkata, "Baiklah. Tapi aku tetap berkeyakinan, bahwa setelah keluarnya informasi mengenai Bram maka bahaya mulai muncul. Masa kita harus tergantung pada seseorang yang belum kita kenal seperti Bagas? Ingatlah kepada teori yang mengatakan, bahwa seseorang yang pernah membunuh akan terdorong mengulas perbuatannya. Apalagi kalau tidak ketahuan."
"Ya. Ayah bentar," sahut Dinda pelan.
"Kau harus waspada Dinda." Irene mengingatkan lagi. "Ekstra waspada."
__ADS_1
Dinda menatap kedua wajah didepannya. Wajah-wajah cemas dan menyayanginya. Bila menuruti keinginan untuk menghibur mereka, maka pastilah ia sudah mengikuti mereka sekarang juga. Tapi masih ada egonya yang tinggi. "Terimakasih ayah, Tante. Aku akan ekstra waspada."
Johan menyadari, sama seperti diwaktu yang lalu, ia tak bisa memaksa Dinda.
Ketika mereka bertiga masih membicarakan perkembangan baru itu, telepon berdering. Dinda melompat. Ternyata perkiraannya betul. Bagas yang menelepon. "Aku berhasil menemukan sebuah fotonya Dind. Pasfoto kecil yang bisa di perbesar. Kalau kau perlu secepatnya besok bisa kubawa kan. Sekarang sudah malam ya. Aku takut dicurigai tetangga."
"Besok juga bisa, mas. Sore saja ya? Pagi aku sekolah dan kau kerja, bukan?" tanya Dinda dengan girang.
"Baiklah. Sepulang kerja aku langsung ke tempatmu."
"Ngomong-ngomong dimana kau menelepon?"
"Dirumah. Mereka menginap di Menteng malam ini. Oh ya, Tante belum ku ceritakan. Belum ada kesempatannya. Aku tak ingin membuatnya syok. Harus mencari kesempatan yang paling baik."
"Ya. Tentu saja. Dia pasti kaget."
"Sekali lagi terimakasih Dinda, untuk informasi nya."
"Sama-sama. Jangan lupa mas. Hati-hati dalam bersikap. Om Bram itu pintar membaca orang."
"Ya. Aku akan mengingatnya."
Setelah menutup telepon Dinda segera menyampaikan berita itu. Johan nampak antusias. "Bila sudah memperoleh foto itu aku akan membawa nya kerumah susun Tanah Abang untuk diperlihatkan dengan kawan-kawan Frida. Siapa tahu ada saja orang disana yang pernah melihat Bram mendatangi Frida."
"Seandainya memang benar Bram suka ketempat Frida, itu kan tidak cukup untuk menuduhnya terlibat yah."
"Tentu saja. Tapi setidaknya kita sudah punya petunjuk."
"Apakah ayah sudah mendapat kabar lagi dari keluarga Frida?"
"Ya. Bahwa Frida masih tetap menghilang. Pamannya melapor pada polisi untuk kedua kalinya. Dia pun rajin meneliti mayat tak dikenal yang ditemukan, kalau-kalau itu Frida. Termasuk mayat yang terpotong-potong itu. Dia merasa ngeri tapi terpaksa. Kasihan ya."
__ADS_1
****____****