
Welcome again,,, Happy Reading
****____****
"Ya. Mudah-mudahan saja tidak begitu. Bagaimana dengan Dinda? Rasanya aku sudah cukup lama tidak mendengar ceritamu tentang anak itu."
"Sejak Lilis kawin, Dinda tak pernah kesini. Nelepon pun tidak. Aku mau nelepon tapi gak enak rasanya. Khawatir Dinda jadi sulit bicara leluasa. Maklum disana sudah ada Bram, orang yang biasanya dijadikan bahan pembicaraan."
"Barangkali dugaan buruknya selama ini tidak jadi kenyataan. Bram berhasil menetralisir instingnya. Mereka berhubungan baik sekarang. Kalau memang ada masalah pasti dia menghubungi mu, bukan?"
"Kalau dia tak menghubungi, bukan berarti tak ada masalah. Mengingat dia dulu sangat yakin dengan instingnya, aku justru berharap dia tak menjalin hubungan baik dengan Bram."
"Lho?" Bustaman tak mengerti.
"Kecurigaan membuat dia lebih waspada menjaga diri."
"Ah, kau sungguh-sungguh?" Bustaman menggaruk kepalanya. Lebih baik ia tidak memusingkan diri dengan masalah itu. Ia lebih suka menghadapi sesuatu yang nyata, sesuai dengan profesinya.
Tetapi kerisauan Della segera lenyap setelah Dinda meneleponnya. "Maaf, Tante. Aku lama tak memberi kabar. Sekarang ada kesempatan. Ibu dan Om pergi jalan-jalan. Bibi sudah tidur."
"Jadi bagaimana keadaanmu? Ibu bilang kau baik-baik saja."
"Ya. Aku baik-baik, Tante. Sekarang lagi sibuk belajar kungfu sama ayah." Dinda merendahkan suaranya.
"Apa? Kungfu?" Della tertawa. Yang seperti itu memang khas Dinda. "Jadi kau bukan belajar bahasa Inggris seperti dikatakan ibu mu ya?"
"Ya, Tante. Habis kalau diberitahu, Ibu pasti ngomong macam-macam. Dan ia pun akan memberi tahu Om. Padahal justru itu yang tidak diinginkan. Jangan sampai Om tahu."
Della mengerutkan kening. "Kau belajar itu untuk menghadapinya, bukan?"
"Betul, Tante. Karena itu aku tak ingin ia tahu. Biar ia menyangka aku cewek lemah tak berdaya."
"Wah, segawat itukah, Din?"
"Sekarang setiap malam aku mengganjal pintu dengan meja dan kursi, Tante."
"Lho, memangnya tak ada kuncinya?"
"Tak ada, Tante. Kuncinya hilang."
"Minta pasang yang baru, Din! Ayolah. Bilang sama ibu."
__ADS_1
"Justru aku tidak mau Ibu menyangka macam-macam. Dia pasti akan bertanya. Mana mungkin aku mengatakan penyebab yang sebenarnya? Aku tidak mau merusak hubungannya dengan Om. Kasihan."
Della tertegun. Jadi anak itu menyayangi ibunya. Padahal Lilis sering menyebut Dinda egois dan mementingkan perasaannya sendiri. Ternyata pendapat itu tidak benar. Della merasa mendapat pelajaran berharga. Walaupun seorang anak suka membangkang dan menentang, tetapi didalam hati ia masih menyimpan rasa sayang dan bahkan bersedia berkorban. Bukankah itu sangat menyentuh hati? Sayang, Lilis tidak mengetahui hal itu.
"Kalau begitu, baik-baiklah kau menjaga diri. Tapi mengenai kunci itu, aku punya usul. Bagaimana kalau kau memasang sendiri selirnya? Aku punya selot cadangan berikut peralatan bor praktis. Gampang kok. Kalau kau mau nanti aku suruh si Beni ke sana sekarang juga. Mumpung Ibu mu belum pulang, Bagaimana?"
"Nanti si Beni tanya-tanya, Tante. Aku mesti bilang apa padanya?"
"Tidak. Dia tidak akan bertanya-tanya.
"Kalau kepergok gimana, Tante?"
"Ah, kan barangnya dibungkus. Bilang saja mau nanya PR padamu. Nanti kupesan begitu kepadanya."
Dinda tertawa. "Ih, Tante pintar cari akal rupanya."
Della tertawa juga. "Ah, masa begitu saja pintar. Baiklah. Jangan buang waktu. Kau tunggu saja kedatangan si Beni ya."
Setelah hubungan telepon berakhir, Della segera memanggil Beni, putra sulungnya yang sebaya dengan Dinda dan memberinya instruksi sambil membenahi dan membungkus barang-barang yang akan diberikan untuk Dinda. Beberapa saat kemudian Beni sudah menstater motornya dan menuju rumah Dinda.
Sejam kemudian, waktu yang cukup sebentar bagi Della, Beni sudah kembali dengan membawa serta bungkusan tadi. "Lho?" tanya Della heran. "Apa tak jadi diberikan, Ben?"
"Bi Imah tidak bangun?"
"Tidak. Dia tidur seperti babi. Pendeknya selamat. Sekarang kamar Dinda bisa dikunci dari dalam. Memangnya ada bahaya apa sih, Ma? sampai harus dipasang selot malam-malam begini? Apa besok tidak bisa?"
Della sadar, Beni tak bisa disuruh diam kalau belum mendapat penjelasan. "Ah, sebenarnya bukan karena ada bahaya, Ben. Cuma dia merasa tak enak bila tidur dengan pintu tak terkunci. Kuncinya hilang."
"Kenapa dia tidak minta tolong pada Om Bram saja?"
"Kan nggak enak, Ben. Sepertinya dia justru merasa tidak aman terhadap Om Bram."
"Memangnya Om Bram itu drakula, Ma?"
Della merasa kesal untuk pertanyaan yang bertubi-tubi itu, tapi toh tertawa. "Ah, kamu ini cerewet amat sih, sudahlah jangan bertanya melulu. Tapi kau tidak dijelaskan oleh Dinda?"
"Dia malah balik bertanya, memangnya aneh kalau pintu kamar dipasangi selot karena kuncinya hilang?"
Della tertawa lagi. "Nah, apa kau pikir aneh?"
Beni berpikir sebentar. "Nggak sih ..."
__ADS_1
"Nah, ya sudah dong. Kalau tidak aneh, kenapa pertanyaanmu begitu banyak?"
"Tapi ..., kok Dinda tak ingin diketahui oleh Tante Lilis dan Om Bram? Dia sampai menjaga segala bahkan terhadap Bi Imah."
"Itu karena dia merasa khawatir disangka yang bukan-bukan. Eh...., stop! Jangan tanya lagi," cegah Della ketika Beni membuka mulutnya.
"Aku bukan mau bertanya, Ma." Beni protes.
"Oh, habis kau mau ngomong apa, Ben?"
"Imbalannya, dong Ma."
"Beres! Tapi ada syaratnya lho. Jangan bilang-bilang sama adikmu."
"Dan kepada Tante Lilis dan Om Bram?" tanya Beni bergurau.
"Hus! Awas, ya!"
Beni tertawa geli. Sebenarnya ia juga senang karena berhasil melaksanakan tugas yang diperintahkan dengan baik. Sekarang ia bisa memikirkan imbalan apa yang bisa dimintanya dari mamanya.
Lalu telepon berdering. Dari Dinda. "Terimakasih Tante. Beni bekerja dengan terampil deh. Dia berbakat jadi tukang."
Della tertawa. "Baguslah kalau sudah beres. Jadi sebentar lagi kau bisa tidur nyaman ya?" Della melirik ke arah Beni, yang memasang telinga di dekatnya.
"Ya, Tante. Terimakasih sekali lagi. Apakah Beni sudah pulang?"
"Sudah Tuh, lagi nguping di dekatku."
Beni menjulurkan lidahnya, tapi menetap di tempatnya. Kedengaran Dinda tertawa. "Tadi aku lupa mengatakan kepadanya, Tante. Nanti aku akan memberi hadiah atas bantuannya itu."
"Wah, tak usah beri hadiah Din. Dia sudah minta imbalan kok."
Beni berseru di dekat mamanya. "Hadiahnya apa Din? Mau dong!"
Di sana Dinda tertawa. "Wah, dua mau tuh, Tante. Katakan nanti. Tapi surprise dulu. Eh, Tante Dell sudah dulu ya. Mereka pulang."
"Iya deh. Sampai nanti ya."
Della meletakkan telepon dengan lega. Malam itu Dinda tidak perlu mengganjal pintu dengan meja dan kursi. Kasihan sekali. Kalau bukan karena ada sesuatu, mustahil Dinda mau bersusah payah seperti itu.
****____****
__ADS_1