Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 25


__ADS_3

Sejak berada di kelas, Dinda tidak bisa konsentrasi. Berkali-kali ia teringat kepada ibunya. Pikirannya benar-benar tidak tenang. Entah kenapa, justru pada saat itu ia teringat kepada Bram dan ibunya. Dan bukan cuma sekedar ingat kepada mereka berdua, melainkan pada suatu hal yang dulu pernah terasa janggal tapi tak terlalu dipikirkannya. Ia pernah beberapa kali memergoki tatapan jahat Bram kepada ibunya. Dari pengalaman menonton film dimana para pemainnya berakting dengan serius, ia belajar membedakan makna tatapan seseorang. Marah, dendam, sedih, benci, dan yang satu jahat, yang lain melecehkan.


Tapi ada perbedaan lain yang jauh lebih penting dan sangat mengganggu pikiran sekarang. Tatapan Bram kepada ibunya itu diarahkan dari belakang, tanpa sepengetahuan ibunya. Sedang Bram sendiri pun tidak tahu bahwa dia melihat. Tetapi tatapan Bram kepada dirinya dilakukan terang-terangan tanpa sembunyi-sembunyi. Dalam hal yang pertama, Bram tak ingin diketahui. Dalam hal yang pertama, Bram tak ingin diketahui. Tapi dalam hal yang kedua jelas berlawanan. Padahal para pengarang mengatakan, bahwa tatapan dari belakang justru memperlihatkan isi hati yang sebenarnya. Bila memang demikian, bukankah itu berarti Bram tidak berniat baik kepada ibunya? Bila tidak cinta mengapa mengatakan cinta? Itu pasti bukan sekedar kemunafikan saja. Aduh, Ibu, kau harus hati-hati. Tidak boleh sembarangan mempercayai mulut manis.


Untung saja Dinda duduk di belakang , hingga sikap nya yang termangu-mangu tidak ketahuan oleh guru nya. Bahkan ia terus saja melanjutkan pemikirannya dengan intens. Sebegitu mendalamnya hingga rasanya ia bisa terbang keluar dari tubuhnya untuk pulang ke rumah menjenguk ibunya. Sayang ia tidak bisa melihat ibunya yang terkungkung didalam rumah sedang ia pun tak bisa masuk. Ia hanya bisa berteriak-teriak memanggil. "Ibuuuu! Ibuuu...!"


Ketika menyadari situasi, ia terkejut sendiri. Apa yang telah terjadi atas dirinya? Ia masih didalam kelas, ditengah teman-temannya. Sepertinya lama sekali waktu yang barusan dijalaninya. Padahal jam istirahat yang pertama saja belum selesai. Pengalaman seperti itu baru pernah dialaminya. Tiba-tiba keringat dinginnya bercucuran. Ia takut sekali. Mungkinkah itu semacam alarm? Ia memutuskan untuk segera berbicara dengan ibunya, langsung dan terus terang, begitu ia pulang sekolah sebentar.


Ia akan menceritakan bahwa prasangka nya mengenai Bram bukan sekedar didasari insting belaka, melainkan juga diperkuat oleh pengamatan. Jelasnya, pengamatan lah yang menghasilkan instingnya. Apa saja hasil pengamatannya itu akan dibeberkannya, tak peduli ibunya akan tersinggung atau marah besar. Toh apa yang dilakukan itu semata-mata demi ibunya.


Ketika istirahat pertama, ia segera lari kehalaman menuju box telepon umum. Karena kegesitannya ia berhasil mendahului anak-anak lain yang juga berminat menggunakan telepon. Ia menghubungi rumahnya. Yang penting ia bisa mendengar suara ibunya. Cukup lama baru telepon disana diangkat. Jantungnya berdebar keras selama menunggu. Betapa terkejutnya ketika mendengar suara Tante Della. Aduh, apakah ia salah memutar nomor telepon hingga nyasar ke rumah tantenya?


"Mana ibu, tante? Aku ingin bicara," katanya dengan suara bergetar.


"Tenang, Din. Ibu mu mengalami musibah. Kau bisa pulang? Mintalah izin pada kepala sekolah."

__ADS_1


Tanpa basa-basi lagi, Dinda segera meletakkan telepon. Ia merasa seperti dikejar hantu. Tentu saja ia akan pulang. Harus pulang. Ia berlari menuju gerbang sekolah. Sampai disana ia terkejut lagi. Aduh, ia belum minta izin dan belum mengambil tasnya. Ia berlari kembali.


Akhirnya, dengan wajah merah dan napas tersengal-sengal ia tiba di rumah. Tante Della menyambutnya di pintu lalu memeluknya. "Ibu mana Tante? Mana Ibu?" teriak Dinda sambil menangis.


Kemudian Bustaman muncul dan memeluknya juga. Dengan diapit dua orang itu, Dinda dibimbing keruang dalam. Ia menjerit-jerit keras-keras ketika melihat sesosok tubuh terbaring diatas karpet dilantai tertutup kain keseluruhannya! Ia meronta dari pegangan lalu menghambur kesana. Ia berjongkok dan menarik kain menutup bagian wajah. Jeritannya bergema lagi ketika ia melihat wajah ibunya yang hampa tak bernyawa. "Ibuuuuu! Ibuuuuu! Maafkan aku, buuu...!" saat berikutnya ia jatuh pingsan.


Ketika Dinda sadar kembali ia sedang berbaring disofa dalam pelukan Tante Della. Ia melihat wajah Tante Della berurai air mata. "Dinda sayang. Kau sudah sadar? Tabahlah Din." Della mengusap-usap kepalanya. Dinda segera duduk dan merangkul bibinya. Keduanya berpelukan, saling menghibur. "Ceritakan Tante, apa yang terjadi?"


"Bi Imah meneleponku. Katanya ibu mu jatuh dari atas tangga, terus berguling-guling ke bawah dan kepalanya membentur tembok. Waktu itu ibu tak bersuara lagi dan nampaknya tak bernafas. Untunglah waktu itu Om Bus masih di rumah. Tante cepat datang kesini bersamanya. Om Bus sudah panggil ambulans sebelum ke sini. Tapi rupanya ibu mu sudah... sudah meninggal, Din. Kata Om Bus, lehernya patah. Relakan ibu pergi ya Din. Ibu meninggal seketika. Tak merasa sakit lagi."


Tetapi hati Dinda sangat sakit. Ia menangis terisak-isak ketika teringat akan tekadnya waktu di sekolah tadi. Ternyata kesempatan itu tak diperolehnya. Semua sudah tak ada gunanya. Sudah terlambat.


Dinda mengangguk. "Jadi ibu meninggal karena jatuh dari atas tangga, Om?"


"Ya."

__ADS_1


"Aneh. Kok bisa jatuh? Sejak tinggal disini, selama hidupku, ibu belum pernah jatuh dari atas tangga. Terpeleset pun tak pernah."


Della dan Bustaman berpandangan. Apakah ucapan itu mengandung suatu dugaan?


"Oh ya, hampir lupa," Bustaman cepat mengalihkan. "Tahukah kau nomor telepon Om Bram? Dia harus diberitahu tapi aku tak bisa menemukan nomor teleponnya di dinding. Aku juga tidak tahu alamat kantornya."


Dinda menggeleng. "Sayang sekali, Om. Aku juga tidak tahu."


"Barangkali ada di catatan di kamarnya, Din?" Della setengah menyarankan. "Mari kuantar kau mencari ke atas."


Dinda segera melompat dengan sigap. Ia melangkah dengan cepat hingga Della harus mengejar nya. Tetapi setelah menaiki tangga, ternyata Dinda punya maksud lain. Ia memeriksa setiap anak tangga dengan teliti. Dari bawah terus keatas.


"Cari apa, Din?" tanya Della.


"Kalau-kalau ada kesengajaan, Tante."

__ADS_1


Della tak bertanya lagi. Ia cuma mengamati dan sesekali membantu pemeriksaan Dinda. Tetapi semua anak tangga yang berlapis keramik nampak bersih dan tak licin oleh bahan berminyak. Itu diyakini oleh keduanya setelah menggosok dengan jari. Demikian pula lantai atas, sebagai tempat awal jatuhnya Lilis. Mereka tak menemukan sesuatu yang janggal. Tak ada yang licin-licin dan tak pula ada benda yang bisa membuat tersandung. Bi Imah pun meyakinkan hal itu.


****____****


__ADS_2