Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 40


__ADS_3

Johan senang sekali dengan hasil yang diperoleh nya itu. Ia menyampaikan kepada Dinda ketika menjemputnya pulang sekolah. "Tapi Dinda memang tidak boleh optimis dulu, karena belum tahu apa yang akan dikatakan perempuan itu nanti."


Dinda membenarkan. Ia pun ikut senang, bukan semata-mata karena hasil yang diperoleh melainkan karena semangat dan keseriusan yang diperlihatkan ayahnya. Itu menandakan ayahnya tidak cuma berjanji kosong sekedar untuk menyenangkan hatinya saja. "Lain kali kalau ayah sibuk, sebaiknya tidak usah memaksakan diri menjemput ku. Kalau mau ketemu kan gampang, Yah," katanya.


Usul Dinda itu memang melegakan perasaan Johan. Di hari-hari awal sejak kepergian Bram dari rumah Dinda, ia merasa Dinda bersikap menyendiri dan menarik diri, baik dari dirinya maupun dari Della dan Bustaman. Dinda masih tetap berlatih kungfu, tapi di rumahnya sendiri. Mereka bertiga menyimpulkan bahwa sikap Dinda itu disebabkan karena kekecewaan yang sangat. Sesuatu yang patut dimaklumi. Tapi yang mereka khawatirkan kalau-kalau Dinda merasa kecewa terhadap mereka, karena menganggap mereka tidak membantu secara maksimal. Bram sudah pergi tanpa meninggalkan jejak. Sementara mereka tidak bisa berbuat apa-apa terhadap lelaki itu. Dinda pun terkesan tak ingin dihibur berpanjang-panjang, apalagi kalau wujudkan cuma kata-kata. Dinda kelihatan tegar, tak perlu dihibur. Perubahan itu saja sudah menandakan adanya sesuatu yang mengganjal. Dalam hal itu mereka sepakat untuk tetap bersikap biasa kepada Dinda. Kalau Dinda menarik diri, maka sepatutnya mereka tidak melakukan hal yang sama. Sedang Johan cukup menyadari, bahwa Dinda menunggu realisasi janjinya. Sekarang, hasilnya sudah nampak.


"Ngomong-ngomong, apakah kau ingin ikut denganku menemui perempuan bernama Frida itu?"


Dinda tersentak. Wajahnya memperlihatkan antusiasme. "Boleh Yah?" serunya.


"Tentu saja boleh. Sementara aku bicara dengannya, kau bisa mengamati dan mempelajarinya."


"Kalau begitu, sebaiknya aku jauh-jauh saja ya Yah? Sepertinya aku tidak bersama Ayah. Janjinya dihalte bus kan?"


"Ide yang baik."


Ada berbagai sebab kenapa Johan mengusulkan hal itu. Di samping ingin membuktikan keseriusan nya, bahwa dia tidak cuma mengarang atau mengada-ada, ia pun ingin membangkitkan semangat Dinda. Masih ada satu faktor pendorong yang lain. Ia percaya akan ketajaman insting Dinda!


****


Frida bertugas sebagai teller di Bank. Bersama beberapa rekannya sesama teller, ia menempati pos paling depan, berhadapan dengan nasabah atau calon nasabah. Maka seperti para rekannya itu Frida berwajah menarik, sedap dipandang. Sebagian bank memang mementingkan persyaratan yang satu itu. Keindahan fisik bisa menjadi daya tarik. Hal semacam itu paling diupayakan di tengah ketatnya persaingan antar bank.

__ADS_1


Pada saat awal setelah perbincangan telepon dengan Johan ia merasa senang dan tertarik oleh sensasi petualangan yang akan dijalaninya. Seperti apakah lelaki yang suaranya menyenangkan dan nadanya simpatik itu? Tampaklah dia? Kaya kah? Tapi saat-saat berikutnya, setelah ia merenungkan kembali muncul perasaan kurang enak. Lilis Kurniati sudah meninggal. Apa gerangan yang mau ditanyakan seorang mantan suami. Kenapa lelaki itu tidak bertanya saja pada Bram?


Frida jadi bertambah gelisah ketika tiba-tiba teringat kepada Indira, seorang mantan istri Bram yang lain, sebelum Lilis. Bukankah Indira juga sudah meninggal karena kecelakaan? Bedanya dengan sekarang, ketika itu tidak ada yang bertanya-tanya kepadanya. Dia jadi merinding. Maka untuk menentramkan perasaannya ia cepat-cepat menelepon Bram begitu mendapat waktu luang. Perasaannya jadi lebih tenang begitu mengenali suara Bram yang menyambut sapaannya.


"Mas Bram, barusan ada lelaki yang mengaku sebagai mantan suami Lilis ingin bicara denganku. Aku berjanji ketemu dia sebentar, saat pulang kantor. Kira-kira mau tanya apa ya?"


"Mau tanya apa? Lho, mana aku tahu. Tak kau tanyakan pada saat itu?"


"Dia bilang, tidak enak bicara di telepon. Tapi katanya sih tidak butuh waktu lama. Paling lama juga seperempat jam."


"Janjinya dimana? Di kantormu?"


"Tidak bisakah kau minta mundur, misalnya besok lusa?"


"Wah, mana bisa. Aku tidak tahu kemana menghubungi orang itu. Memangnya kenapa sih? Apa kau pikir itu penting?" Frida tak bisa menyembunyikan kecurigaannya.


"Bukan begitu. Aku kan nggak tahu apa yang mau ditanyakan nya."


"Heran ya. Kenapa dia tidak menghubungi mu saja?"


"Wah, Frid. Jangan sekali-kali kau berikan nomor telepon ku padanya, ya? Dia tidak boleh tahu. Pendeknya nantilah kujelaskan padamu. Cuma hal yang satu itu kuminta dengan sangat padamu."

__ADS_1


Frida mengerutkan dahi. Apakah ia merasakan nada ancaman dalam suara Bram itu? Ia mengangkat bahu. "Baiklah. Selama itu bukan urusanku, aku tak mau pusing."


"Nah, begitu baru bagus. Jangan sekali-kali ikut campur dalam masalah orang lain Frid. Jadi kupegang janji mu itu lho. Sekarang dengarlah baik-baik. Kira-kira aku sudah menduga apa yang mau ditanyakan padamu. Akan kuberitahu, jawaban terbaik yang harus kau berikan kepadanya nanti. Begini..."


Frida terbelalak. Ucapan Bram itu singkat saja tapi ia termangu sesudahnya. "Hei, dengar atau tidak Frid!" seruan Bram mengejutkannya.


"Oh ya. Tentu saja dengar. Kau tidak perlu berteriak begitu."


"Sori. Tapi kau sudah paham, kah? Ingatlah. Kalau membantu orang, tak boleh setengah-setengah. Harus tuntas. Jadi sebentar lagi aku ke tempatmu untuk menanyakan hasil pertemuan mu itu ya?"


"Baiklah. Aku akan membantumu sepenuhnya, mas. Jangan khawatir. Tapi komisinya dong."


"Beres."


Setelah pembicaraan selesai Frida termangu lagi sebentar. Kemudian ia kembali mengangkat bahunya. Apa pedulinya dengan hal-hal aneh atau di luar kewajaran? Seperti kata Bram, kali sudah membantu maka harus tuntas. Bukankah orang sebaiknya tidak berjalan mundur? Apalagi sekarang rezeki kembali terbayang didepan mata. Mustahil reseki itu ditolak. Hidup mengandalkan gaji semata adalah suatu penderitaan. Dan bicara, apalagi meributkan, tentang moral adalah munafik.


Pikiran itu membuat semangatnya bangkit kembali. Hidup ini sebenarnya menyenangkan. Dia cantik, punya pekerjaan yang terhormat meskipun gajinya kecil dan tak begitu sulit mendapat uang tambahan apa pun caranya. Ya, dia memang tidak punya suami tapi itu bukan salahnya karena ia memang tidak menginginkan yang satu itu. Baginya, suami itu cuma penghalang dan pengekang, penuntut dan pengatur, dan akan selalu minta bagian bila ia mendapat rezeki. Punya suami berarti punya majikan di rumah. Padahal sudah cukuplah majikan-majikan di kantor. Ia ingin menjadi majikan dari dirinya sendiri.


Dengan wajah ceria ia melangkah menuju halte bus. Lenyap sudah rasa cemasnya barusan. Ia akan membantu Bram sepenuhnya dan itu menjadi urusan serta tanggung jawab Bram juga. Tapi, seperti apakah lelaki yang akan ditemuinya nanti?


****____****

__ADS_1


__ADS_2