
Johan dan Irene membenarkan. Perempuan seperti Maya akan sulit ditaklukkan Bram. Untuk bisa berlaku seperti Maya itu jelas dibutuhkan mental yang kuat. Tapi bagaimana dengan faktor keberuntungan atau kesialan?
Beberapa hari kemudian Johan menerima telepon dari Bagas dibengkelnya. "Om, saya sudah berhasil meneliti rumah Om Bram di Menteng itu, terutama halaman belakangnya. Saya kesana mengajak Tante pada saat om Bram sedang dikantornya. Sebagai istri Tante tentu berhak keluar masuk. Alasan saya ingin mendapat gambaran yang lebih cermat mengenai rumah antik peninggalan Belanda."
"Ya, ya lalu?" tanya Johan tidak sabar.
"Saya tidak melihat adanya kelainan, Om. Semuanya wajar dan pada tempatnya."
"Tapi mana mungkin kau bisa mengetahui mana yang wajar dan pada tempatnya kalau kau belum pernah kesitu sebelumnya?"
"Betul juga Om. Kesimpulan saya berdasarkan kejanggalan dan kewajaran. Misalnya tidak nampak bekas galian atau satu bagian berbeda daripada bagian lainnya. Menurut Tante, keadaannya memang seperti itu ketika pertama kali memasuki rumah itu. Bedanya, ketika itu rumahnya agak kotor dan berantakan. Tapi cuma itu."
"Dan bangkai tikus?"
"Ah, apa hubungannya dengan bangkai tikus Om?" Suara Bagas kedengaran heran.
"Itu cuma insting Dinda saja. Katanya, mungkin itu semacam pertanda dari arwah yang penasaran."
"Ah..."
Johan tak ingin membicarakan soal itu berkepanjangan. "Baiklah, terimakasih bahwa kau telah melakukannya."
__ADS_1
"Om, biarpun segalanya nampak rapi di luar belum tentu didalam sama halnya. Om Bram memiliki waktu dan keleluasaan banyak sekali untuk merapikan semuanya sebelum bertemu dengan Tante. Ia tentu tidak bodoh dengan membiarkan Tante memasuki rumahnya bila di rumahnya itu ada sesuatu."
"Kau tidak menceritakan hal itu kepada Bu Maya kan?"
"Tentu tidak Om. Nanti dia bisa ketakutan."
"Bagus."
Johan merasa agak kecewa dengan kabar yang barusan diperolehnya itu. Tapi sesungguhnya hal itu memang sudah ia duga sebelumnya. Bram bukan orang yang ceroboh.
****
Bram dan Maya melewatkan malam Minggu itu di rumah Menteng, demikian mereka mengistilahkan rumah itu untuk membedakannya dengan rumah milik Maya. Sejak pernikahan mereka sering melakukan hal itu. Disitu mereka bisa menikmati kesepian dan ketenangan. Tak perlu jauh-jauh pergi ke puncak yang perjalanannya bisa membuat lelah fisik dan mental.
Ia mengamati lagi wajah yang sebagian tertutup bantal. Sesungguhnya lelaki ini menarik dan hangat, pikirnya menyayangkannya. Sikap atentif ya benar-benar menyentuh hati sampai ke dasar. Sulit sekali menerima atau mempercayai tuduhan Dinda perihal Bram. Benarkah Bram punya potensi dan niat mencelakakannya? Pertanyaan cinta Bram yang sering diucapkannya kedengaran tulus dan sungguh-sungguh. Tetapi seperti itu jugakah perlakuannya terhadap kedua mantan istrinya dulu? Cerita Dinda lebih menyentuh hati sekaligus mengerikan. Oh, betapa pintar dan mudahnya lelaki bertutur tentang cinta, pikirnya jengkel. Tapi kemudian ia tersenyum. Tidak adil menuduh seperti itu tentang lelaki. Bukankah perasaan pun sama saja? Cara paling mudah mencapai sesuatu adalah dengan mengatasnamakan cinta.
Maya memejamkan matanya. Wajahnya yang bebas riasan, dikelilingi rambut kusut, tampak sedikit pucat. Tapi ia tetap cantik. Bahkan sedikit kerut-kerut halus di seputar matanya kelihatan seperti riasan alami. Sebenarnya ia sedang berpikir, tapi dalam posisi seperti itu tidak nampak ekspresi apa-apa pada wajahnya. Sama seperti bayi-bayi dalam tidur maupun terjaga, bersih suci dari dosa.
Lalu ia mendengar gerakan disampingnya. Matanya tak dibukanya. Ia tahu Bram sudah terbangun. Ia mendengar napasnya dekat sekali. Apakah Bram akan menciumnya? Jantungnya berdebar oleh kekhawatiran kalau-kalau sentuhan bibir Bram bisa membuatnya menampakkan hal-hal yang sedang terpikir. Tapi rupanya Bram tidak menciumnya. Napas Bram tak lagi terasa menyembur hangat dimukanya. Kenapa Bram tak jadi menciumnya? Tak ingin membangunkan? Ia tetap memejamkan mata. Baru ketika terasa ranjang bergerak pertanda Bram beringsut ke pinggir, ia mengintip sedikit. Bram bangkit dan menuju kamar mandi. Begitu Bram tak kelihatan. Maya cepat mengubah posisi tubuhnya yang sudah pegal, miring ke sisi dimana ia lebih mudah mengintip keluarnya Bram.
Tak lama kemudian Maya mendengar suara bilasan air. Bila Bram sudah masuk ke kamar mandi pasti keluarnya sudah dalam keadaan segar dan bersih. Cepat-cepat ia bangun lalu merapihkan tempat tidur. Jangan sampai ia diperlakukan seperti Lilis yang kebiasaan tidurnya dimanfaatkan. Padahal semula ia ingin mengintip apa gerangan yang akan dilakukan Bram bila ia terus pura-pura tidur. Terasa memang tidak mungkin ia bisa mengintip dengan leluasa tanpa ketahuan. Dan bila kedapatan maka sudah pasti Bram akan mencurigainya. Apa yang akan dikatakannya nanti padahal ia tidak mempersiapkan jawaban.
__ADS_1
Bram keluar. "Hai! Pagi sayang!" serunya ceria.
"Pagi juga!"
Bram memeluk Maya dari belakang lalu mencium lehernya. Tapi Maya menggeliat melepaskan diri. "Kau licik, mandi duluan. Sekarang kau sudah wangi. Aku masih..."
"Mandi atau belum mandi, kau tetap saja wangi, May. Kau selalu wangi."
"Aku mandi dulu ah. Biar segar."
"Aku buatkan sarapan ya. Roti panggang?"
"Ya."
"Minumnya apa?"
Maya berpikir sejenak. "Buatkan saja sama dengan mu."
Setelah Bram berpakaian dan keluar. Maya masih termangu sejenak. Kemudian dengan gerakan menyentak ia bergegas ke kamar mandi.
****___****
__ADS_1
dukungan nya makasih yaaaa
kita lanjut lagi yaaaa