Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 63


__ADS_3

Happy shopping...


****___****


"Jadi dia punya rumah sendiri. Padahal kepada ibuku dia mengaku tak punya rumah. Cuma mengontrak. Waktu diminta pergi dari rumah ini pun dia mengatakan tak tahu harus tinggal dimana," kata Dinda dengan gemas.


"Kepada kalian ia berbohong. Tapi kepada Tante ia mengaku. Mungkin sebuah taktik," Bagas menyimpulkan.


"Ia bisa memperkirakan, bahwa kalian tidak seperti ibu yang percaya saja apapun yang dikatakannya. Buktinya, kau menyelidiki dirinya. Kalian cukup teliti."


"Tapi toh kena dibohongi. Apalagi dia menyimpan kengerian. Ya, dia orang yang mengerikan," keluh Bagas dengan wajah cemas.


"Kau harus hati-hati Bagas," Johan setengah menghibur. "Pandai-pandailah bersandiwara. Jangan perlihatkan rasa negerimu itu. Nanti dia curiga. Dia orang yang cerdik."


"Ya, saya akan berhati-hati om. Tadi malam saya sampai tak bisa tidur memikirkan Tante Hesti. Dia seperti ibu bagi saya."


"Apakah Bram tahu perihal hubungan mu dengan tantemu?"


"Tentu saja Om. Tante menceritakan semuanya. Dia tahu keakraban saya dengan Tante, maka dia berusaha mendekati dan mengambil hati saya."


"Kalau begitu, kau sangat berbeda denganku dimatanya," kata Dinda dengan sakit hati. "Kepadaku dia memperlihatkan kebencian dan maksud buruk. Tapi kepadamu sebaliknya. Padahal aku juga akrab dengan ibuku."


"Mungkin itu merupakan taktik Dinda. Dia bersikap sesuai watak orang yang dihadapinya. Kau dan aku berbeda dalam usia. Dimata ibumu, kau tentu dianggap masih anak-anak yang pikiran dan pendengarannya jauh dari dewasa. Sedang aku dimata Tante tidak begitu," Bagas menyimpulkan.

__ADS_1


"Ya, kita harus akui dia memang pintar," kata Johan.


"Sepintar-pintarnya, pada suatu saat dia akan terpeleset juga," Dinda berkata yakin, setengah mengutuk.


"Betul sekali. Aku setuju denganmu," sambut Bagas.


Kemudia percakapan beralih kepada kasus hilangnya Firda. Bagas mendengarkan dengan serius dan penuh konsentrasi. "Ya. Hilangnya itu mencurigakan. Orang tak mungkin hilang begitu saja bagai ditelan bumi." Bagas membenarkan kesimpulan Johan, bahwa kemungkinan besar Firda sudah meninggal.


"Tapi harus saya akui, tak ada bukti atau petunjuk Bram punya hubungan dengan kasus itu," kata Johan. "Satu-satunya yang menimbulkan kecurigaanku, karena cuma Frida lah yang bisa menjelaskan lebih banyak perihal Bram. Keterangan Frida tentang benar tidaknya Lilis berjudi sangat merugikan. Dia pasti punya kecurigaan juga kepadaku, bahwa aku merayunya untuk mengorek informasi MB Dan seandainya dia memang tak mau berhubungan lebih jauh denganku, kenapa dia mau berjanji? Saya tidak berhak memaksanya. Dan seandainya lagi dia sengaja tak mau menemuiku, kenapa harus menghilang sampai kehilangan pekerjaan dan putus kontak dengan teman dan kerabatnya?"


"Tak bisa lain, tentu dia memberitahu Bram perihal pendekatan yang om lakukan. Selanjutnya Bram menyuruhnya utk berkata begini atau begitu," kata Bagas.


"Pada hari terakhir ia berada di rumah susun Tanah Abang, Frida kelihatan sedang menelepon di telepon umum yang berada dihalaman rumah susun. Tapi tentu saja tak ada yang tahu dengan siapa dia berbicara. Sesudah itu dia pergi naik bajaj. Tak pula ada yang tahu kemana Frida pergi. Dia tak pamit kepada siapapun, karena sedang sendirian di flatnya."


"Apakah om tidak menanyakan kepada teman-temannya disana, siapa teman lelaki Frida yang suka datang berkunjung atau menjemputnya?" tanya Bagas.


"Bila om mendapatkan petunjuk bisakah saya diberitahu?"


"Tentu saja. Kita saling menukar informasi."


"Terimakasih om. Tolonglah bantu mendoakan Tante saya, supaya dia selamat, om dan Dinda?" pinta Bagas dengan wajah prihatin yang mengibakan perasaan Dinda.


"Tentu Bagas. Kami bukan cuma mendoakan, tapi juga bersedia membantu dengan cara apa saja yang sekiranya bisa dipakai."

__ADS_1


Dinda cuma mengangguk dengan kerongkongan tersekat. Dari pengalamannya sendiri ia tahu betapa sulitnya menjaga seseorang dari orang yang begitu dekat dengannya, hidup bersama dan tidur bersama, dan memberikan cinta berlimpah.


****


Dengan berbekal foto Bram, Johan kembali ke rumah susun Tanah Abang. Ia menelepon dulu ke diskotik tempat Erni dan Desi, kedua gadis teman seflat Frida, pada jam kerja mereka dimalam hari. Tujuannya cuma untuk membuat janji, kapan ia bisa bertemu dengan mereja untuk memperlihatkan foto itu. Janji seperti itu penting untuk tidak mengganggu privasi dan kesibukan orang.


Kedua gadis mengamati foto Bram bergantian. Lalu mereka menggeleng. "Kami belum pernah melihat lelaki ini." Keduanya sepakat. "Tapi tentu mas Johan maklum. Kami tidak memahami kehidupan Frida."


"Ya. Saya sudah menduga hal itu. Tapi saya akan meninggalkan foto ini pada anda berdua. Maukah anda memperlihatkannya pada tetangga sekitar dan juga orang-orang yang suka nongkrong dihalaman? Barangkali mereka pernah melihatnya bersama Frida. Oh ya, ibu kan cuma foto wajah. Jadi perlu say tambahkan deskripsinya. Tubuhnya tinggi besar. Kira-kira 180 senti dan perutnya agak buncit, kulitnya gelap."


"Baiklah mas," sahut Erni. "Kamu akan segera melaksanakannya. Orang-orang disini pun sering menanyakan perihal Frida. Apakah dia sudah ditemukan dan sudah dilaporkan pada polisi. Jadi mereka pasti senang bila bisa membantu."


"Tapi seandainya benar orang ini suka menemui Frida, apa yang bisa dilakukan terhadapnya, mas? Bukankah tak ada bukti keterlibatannya?" tanya Desi.


Johan mengangguk. Ia tahu, pertanyaan seperti itu pasti akan terulang. "Memang belum ada bukti. Tapi setidaknya, tambah menguatkan dugaan dan kesimpulan saya bahwa dia memang terlibat."


"Bagaimana sih kesimpulan anda itu mas?" tanya Desi ingin tahu.


"Wah, saya belum bisa mengatakannya. Kalau bukti sudah cukup baru saya bisa menceritakan dan tentu saja sekalian melaporkannya kepada polisi. Bila cuma berupa dugaan, maka saya bisa dituduh memfitnah. Tapi saya berjanji bila kelak terbongkar maka anda berdua akan saya ceritakan dengan lengkap."


Janji Johan itu cukup membuat kedua gadis terhibur. Meskipun mereka tidak akrab dengan Frida tapi sebagai sesama perempuan ada rasa solidaritas.


Dua hari kemudian, Johan sudah mendapat kabar dari Desi yang meneleponnya. "Kabar baik, mas! Sampai saat ini saya sudah mendapat lima orang yang menyatakan dengan pasti bahwa mereka pernah melihat orang dalam foto itu bersama Frida. Satu diantaranya adalah tetangga satu blok yang pernah melihat dia memasuki flat kami bersama Frida. Satu lgi melihatnya sedang disamping mobilnya menunggu Frida lalu mereka berbincang-bincang. Sedang yang tiga lagi menyatakan melihat mereka berdua ngobrol ditempat parkir dimalam hari. Mereka bertiga ini saling mendukung karena pada saat itu sedang bersama-sama. Dan meskipun malam hari, penerangan lampu cukup terang, hingga mereka bisa melihat orang itu dengan cukup jelas. Menurut ketiga orang ini, perbincangan antara mereka berdua kelihatan seru. Sepertinya ada masalah penting yang diperdebatkan."

__ADS_1


***___****


lanjut...


__ADS_2