
Dinda mengangguk. Ia sudah belajar untuk mengendalikan diri dari kesalahan. Ia pun bertekad tidak akan membiarkan dirinya terjebak lagi dalam situasi yang menguntungkan orang yang menjadi lawannya. "Om benar," katanya pelan.
"Tapi kau tidak perlu putus asa, Dind," kata Johan. "Sekarang ini biarlah kita mengalah dulu. Tapi toh tidak berarti kita menyerah dengan berdiam diri. Aku akan menyelidiki apakah benar Lilis suka berjudi dengan menanyai beberapa teman yang sudah dikenal sebagai penjudi. Di samping itu, aku pun akan menyelidiki perihal si Bram. Apa dan siapa dia itu."
"Pada malam dia dibawa ke rumah sakit, aku menggeledah tas dan kamarnya, tapi tidak bisa mendapatkan apa-apa," Dinda mengakui perbuatannya. "Tasnya dikunci dengan kode nomor yang tidak diketahui. Sedang laci dan lemari dikamarnya tidak menyimpan suatu petunjuk. Bahkan tak ada selembar kertas atau surat apa pun yang bisa menjelaskan apakah benar seorang pengusaha. Dan kalau memang pengusaha, apa yang di usahakan ya."
Ketika orang kembali terperangah mendengar pengakuan Dinda itu. Mereka diingatkan sekali lagi akan keseriusannya.
"Tak kau temukan alamat kantor dan nomor teleponnya?" tanya Bustaman.
"Tidak, Om. Tak ada kartu nama siapa pun yang kutemukan."
"Aneh juga ya. Itu berarti dia tidak mau meninggalkan jejak apa pun di rumah. Segalanya dia tinggalkan di kantornya. Ya, dia pasti punya kantor," kaya Della dengan penasaran. "Apakah jejaknya tidak bisa dicari di Asosiasi Pengembang?"
"Tunggu, Ma. Seandainya jejaknya bisa kita temukan disana dan kita berhasil mendapatkan informasi tentang dirinya, tentunya tak ada hubungannya dengan kecurigaan kita bukan?" kata Bustaman.
__ADS_1
"Betul juga," sahut Della lesu. "Orang-orang yang mengenal dia tentu tidak tahu semuanya tentang dirinya."
"Tidak apa-apa. Paling tidak kita bisa memperoleh gambaran mengenai kelakuannya di luar sana." Johan memberi semangat kepada Dinda. "Jadi serahkanlah tugas penyelidikan itu kepadaku."
Dinda memandang ayahnya dengan tatapan terimakasih. Johan menerima tatapan itu dengan senang. Sesungguhnya ia ingin membantu bukan demi Lilis melainkan demi Dinda. Tapi ia cukup menyadari, kalau bukan karena kasus ini kemungkinan ia tak bisa seakrab sekarang dengan Dinda. Toh tidak sepatutnya mensyukuri suatu musibah walaupun itu membawa hikmah. Ia tidak punya perasaan apa-apa lagi kepada Lilis. Yang tinggal cuma kenangan tapi kenangan itu pun tidak membangkitkan emosi apa-apa. Seorang istri bisa menjadi mantan, yang berlalu tanpa kesan, tapi tidak begitu halnya dengan anak. Tak ada yang namanya mantan anak. Ia mengulurkan tangan yang disambut Dinda dengan genggaman erat. Lewat tatapan dan kontak fisik semakin kuatlah ikatan yang sudah terbentuk.
"Jadi kita akan menyampaikan persetujuan kepada Bram," Bustaman menegaskan lagi.
Semua kepala mengangguk. "Ya."
"Kau belum menyampaikan hal yang sudah kita sepakati kepada Dinda, Bus," Johan mengingatkan. Sejak kasus itu hubungannya dengan Bustaman dan Della menjadi pulih, bahkan menjadi akrab. Padahal dulu ketika ia terusir dari rumah Lilis, ia seperti putus hubungan dengan mereka. Masing-masing tak mau tahu lagi. Yang satu malu, yang lain jengkel. Sekarang segala perasaan negatif sudah terusir dan digantikan oleh keinginan dan keharusan bersatu.
"Oh ya," Bustaman teringat. Ia sudah menerima tugasnya sebagai juru bicara keluarga
dan orang yang dituakan diantara mereka. "Begini, Dind. Masalahnya mengenai rumah ini. Kami bertiga sepakat untuk bersama-sama mengembalikan kredit bank dan mengambil surat-suratnya. Selanjutnya rumah ini tentu menjadi milikmu seperti yang seharusnya. Tetapi ada masalah lain. Kami tidak tega melihatmu tinggal berdua saja dengan Bi Imah disini. Jadi kami punya usul. Bagaimana kalau kau dan Bi Imah tinggal bersama ayahmu, sedang rumah ini dikontrakkan saja?"
__ADS_1
Dinda berpikir sejenak. Ia teringat kepada Irene. Ia tahu perempuan itu menyukai kebebasan. Demikian pula dirinya. Tidakkah mereka bisa saling menggangu hanya dengan kehadiran dan kedekatan yang terus menerus setiap hari? Mereka bisa akrab dengan sesekali bertemu, tapi belum tentu begitu halnya bila hidup bersama. Pada akhirnya perasaan terganggu itu bisa mengganggu hubungan Irene dengan ayahnya. Dan itu tidak diinginkannya. Ia ingin segalanya berlangsung seperti semula. Maka ia menggeleng. "Bukannya aku tidak ingin dekat ayah, tapi aku lebih suka segalanya berjalan seperti dulu. Aku senang tinggal di rumah ini. Dan aku akan tetap latihan sama ayah seperti dulu juga. Tidak usah mengkhawatirkan diriku. Dulu sebelum ada Om Bram, kami cuma bertiga sama ibu. Maka sekarang bedanya tidak banyak. Kupikir, Bi Imah bisa diajari menjaga rumah selama aku sekolah."
Bustaman, Della, dan Johan saling berpandangan sejenak. Jawaban Dinda itu sudah diduga sebelumnya. "Kau tidak ingin memikirkannya dulu, Dind?" tanya Della.
"Kan sudah tadi, Tante," sahut Dinda dengan senyum.
"Baiklah," kata Bustaman. "Kau memang anak yang mandiri. Baguslah itu. Tapi ingatlah, jangan terlalu percaya diri hingga kau lalai untuk bersikap waspada. Dan jangan merasa bahwa kau sudah cukup pintar kungfu hingga meremehkan orang lain."
"Ya, Om. Aku sama sekali belum pintar kok. Masih jauh. Tapi aku tahu bahwa diriku masih sangat bodoh karena terbukti sudah terjebak oleh Om Bram." Dinda masih ingat akan tekadnya untuk tidak membiarkan dirinya dipermainkan orang lain lagi.
Bustaman mengangguk. Bila Dinda sudah bersikap seperti itu maka akan lebih mudah mengajaknya bicara. "Jadi masalah itu sudah beres. Sekarang ada hal lain yang mau ku bicarakan. Aku tahu jauh didalam hatimu, kau masih menyimpan harapan untuk terlaksananya autopsi atas jenasah ibu. Ya kan? Ada hal-hal yang mau ku kemukakan sebagai pertimbangan. Tapi bukan untuk menghilangkan harapanmu itu. Aku cuma ingin kau mempertimbangkan segi efektivitas nya. Kau berharap, dengan autopsi bisa menemukan zat-zat beracun yang ada didalam jasad ibumu. Bila ada maka bisa menyeret Bram ke penjara. Tapi coba kita pikirkan dan renungkan peristiwanya dulu."
Dinda mengerutkan kening. Apakah itu berarti Bustaman meragukan? Tapi ia berusaha untuk bersikap dewasa dengan tidak membantah lebih dulu. "Katakan saja, Om."
"Begini. Ibu mu menjatuhkan cangkirnya ketika minumannya belum habis. Kesimpulan mu ia merasakan kesakitan hingga cangkirnya terlepas. Tapi kalau itu benar, maka ia tak mungkin mampu membersihkan lantai dengan tisu. Buat apa susah payah melakukan hal itu? Tentunya ia tak akan peduli. Mungkin ia memilih berteriak atau menjerit minta tolong. Tapi Bi Imah tidak mendengar teriakannya, padahal ia berasa di ruang bawah. Jadi mestinya ada sebab lain kenapa ia menjatuhkan cangkirnya." ucap Bustaman.
__ADS_1
****___****