Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 67


__ADS_3

Happy Reading


****___****


"Oh, tentu saja. Ayolah, ceritakan."


Bram bercerita mengenai Dinda, anak tiri yang membencinya karena telah merebut cinta ibunya. Ia menggambarkan Dinda sebagai seorang anak yang suka berkhayal mengenai hal-hal yang mengerikan karena terlalu banyak membaca tapi tak suka bergaul. "Dia anak yang aneh dengan prasangka yang mengerikan mengenai orang yang dibencinya. Mungkin sedikit kurang beres. Tetapi anehnya, kerabatnya mendukungnya dan ikut memusuhiku. Mereka tak mau percaya bahwa Lilis benar-benar suka berjudi dan menuduhku dengan sangat kejam. Bayangkan. Anak itu berani menendangku hingga rahang ku retak. Bukankah itu kelakuan yang tidak wajar? Anak perempuan kok begitu. Jelasnya dia merasakan suatu kebencian yang luar biasa hingga membuatku sakit."


Maya mendengarkan dengan cermat. Ia nampak serius dan prihatin. Bram sedikit was-was mengamatinya. Ia hampir yakin sekarang, bahwa Maya benar-benar belum tahu mengenai pertemuan Bagas dengan Dinda. "Duh, ceritamu seru sekali, Bram!" komentarnya setelah Bram selesai bercerita.


"Seru? Itu tuduhan yang kejam, May."


"Ya. Memang kejam. Tapi kau harus maklum, anak itu sakit. Kenapa kau harus mengkhawatirkan tuduhan dari seseorang yang punya masalah seperti itu? Biarkan sajalah. Apalagi kau sudah keluar dari kehidupannya. Kau punya kehidupan yang baru"


Bram ingin sekali bersorak dengan penuh kebahagiaan. Dimatanya, Maya benar-benar seorang dewi. "Jadi, kau tidak mempercayai tuduhannya itu, bukan? Oh, hatimu sangat mulia, May. Terimakasih sekali." Bram berlutut didepan Maya lalu memeluk lututnya. Ia meletakkan kepalanya diatas pangkuan Maya. "Aku mencintaimu, May. Bukan kepalang takutku ketika aku tahu apa yang dilakukan Bagas."


Maya membelai kepala Bram. "Kau jangan marah sama Bagas, Bram. Dia melakukan hal itu pasti untuk kebaikan kita juga. Nyatanya dia tidak menyampaikan. Dia pun tidak percaya kepada cerita anak perempuan itu. Coba pikir. Seandainya dia memang percaya, pasti dia tidak akan menunggu lama untuk menyampaikannya padaku. Kenapa dia harus percaya pada sembarang orang. Dia kan punya penilaian sendiri."


"Ya. Pendapatmu itu benar, May. Benar semata. Tentu aku tidak marah pada Bagas. Dia pun sayang padamu. Tapi aku takut kehilangan dirimu. Aku sangat takut, May."


"Bila kau benar, kau tidak perlu takut. Cinta itu indah sekali, bukan?"


"Ya, indah sekali." Bram menengadahkan muka lalu menatap wajah Maya. Wajah itu bukan cuma cantik, tapi juga indah. Benar-benar seorang dewi. Dan dewi itu miliknya.

__ADS_1


****


Esok siangnya, Dinda dijemput Johan disekolah sesuai perjanjian mereka. Dari sekolah mereka mampir ke rumah Dinda dulu untuk mengambil barang-barang yang semalam tak sempat dibawa.


Seperti biasa, Dinda turun didepan rumah untuk membuka pintu pagar supaya ayahnya bisa memasukkan mobil ke halaman. Dengan demikian tidak perlu repot lagi mengeluarkan barang-barang untuk dimasukkan kedalam mobil. Ia ingin membawa barangnya sebanyak mungkin tapi tak ingin terlihat secara mencolok oleh tetangga. Tapi kemudian ia terkejut karena pintu pagar tak terkunci. Gembok berikut rantainya yang semula mengait pintu sudah lenyap. Ia tak segera memberitahu ayahnya melainkan membuka pintu dulu lebar-lebar. Baru setelah mobil masuk dan ia merapatkan pintu kembali ia memberitahukan soal itu.


Johan terkejut. Wajahnya menjadi pucat. "Tidak mungkin aku lupa. Kemarin aku sendiri yang merantai dan menggembok pintu itu." Ia bergegas memeriksa pintu dan sekitarnya. Tapi tak ada sisa-sisa rantai atau gembok yang berceceran.


Lalu mereka sama-sama mengarahkan pandang ke pintu rumah. Sepintas lalu tidak nampak sesuatu kelainan. "Kau tunggu disini Dinda. Biar aku masuk duluan," kata Johan.


"Tidak. Aku ikut."


Johan terpaksa membiarkan Dinda mendampinginya. Ternyata pintu rumah pun tak terkunci melainkan dirapatkan saja. Kunci kedapatan dirusak. Setelah pintu terbuka lebar dan mereka masuk keduanya sama-sama terkejut. Dinda memekik. Keadaan rumah kacau balau. Kursi dan meja. jungkir balik tak karuan. Televisi dan radio lenyap. Kamar Dinda lebih kacau lagi. Koper, tas dan kantung-kantung plastik yang sudah disiapkan untuk dibawa berhamburan isinya. Semua berserakan dilantai. Baju, buku, kertas-kertas. Kaca meja hiasnya pecah dan yang mengejutkan pada kaca yang retak-retak berlumuran cairan merah kental. Setelah diperiksa ternyata cairan itu merupakan saus tomat dan sambal botol, karena botol-botolnya yang sudah kosong berserak dilantai bercampur dengan barang-barang lain.


Didalam hati Johan mengucap syukur berulang kali. Ia memahami sekarang apa makna kelakuan Dinda yang aneh kemarin itu. Dinda tertolong oleh instingnya sendiri. Tak sanggup ia membayangkan apa yang mungkin terjadi bila Dinda dan Bi Imah tidak pergi dari rumah itu semalam. Bukankah cairan merah kental yang berlepotan di cermin itu melambangkan sesuatu? Cuma ada satu nama yang muncul di benaknya, Bram!


Tak lama kemudian mereka berdua sudah merasa tegar kembali. Kejutan telah berlalu. Tinggal menghadapi realitas. Untuk itu tentu dibutuhkan kondisi yang serba kuat, baik mental maupun fisik.


"Om Bram," kata Dinda.


"Aku juga berpikir begitu. Tapi kita tidak bisa sembarangan menuduhnya Dinda. Tak ada bukti. Dan aku juga yakin bukan dia sendiri yang melakukan hal ini. Sepintas lalu sepertinya perampokan biasa. Tapi buat apa perampok susah-susah berbuat seperti ini? Cukup ambil barang berharga, lalu pergi. Bisa juga mereka merusak untuk melampiaskan amarah karena niat semula tidak kesampaian."


"Ya. Mereka bermaksud membunuhku. Atau paling tidak mencederai ku. Bukankah saus tomat itu melambangkan darah, Yah?" suara Dinda bergetar oleh perasaan ngeri.

__ADS_1


"Mungkin itu cuma ancaman Dind. Jangan berpikir terlalu ekstrim." Johan tak mau membenarkan karena tak ingin membuat Dinda tambah cemas.


"Aku sudah merasakan ancaman itu Yah."


"Ya. Kau harus berterimakasih untuk anugerah itu Dind. Tak sembarangan orang memiliki kepekaan seperti itu."


"Oh, Yah. Aku sangat marah kepadanya."


"Aku juga. Tapi kemarahan tidak boleh menggelapkan pikiran kita."


"Ya. Jangan sampai terjadi seperti dulu."


"Mari kita periksa tempat lain, Dind. Yang ini biarkan saja. Jangan disentuh. Biarkan polisi memeriksanya."


"Polisi? Apa kita perlu melaporkan kejadian ini, ayah? Sudah terbukti dulu mereka meremehkan pendapat dan kesimpulan ku."


"Bagaimanapun, peristiwa ini harus dilaporkan. Kita tidak mungkin dan tidak mampu main hakim sendiri."


"Terserah ayah."


Bersama-sama mereka menelusuri semua ruangan. Dibagian belakang tak ada kelainan. Lalu mereka naik ke loteng. Sejak menempati kamar tamu, Dinda tak pernah pindah kamar lagi atau menempati kamarnya yang lama. Ia merasa lebih praktis dan nyaman di kamar bawah karena dekat dengan Bi Imah. Disamping itu berdekatan dengan kamar ibunya membuatnya selalu teringat pada hal-hal yang menyedihkan.


****____****

__ADS_1


__ADS_2