
"Dia kelihatan terpukul setelah mengetahui hasil lab. Aku kasian padanya," kata Della.
"Menurut pengamatan ku. Dia sudah nampak diam dan menyendiri sebelum hasil lab diketahui," bantah Bustaman.
"Betul sekali. Mungkin karena terlalu tegang. Tapi aku masih ragu-ragu, apakah hasil lab itu sudah cukup memastikan bahwa Bram tidak bersalah," kata Johan.
Della dan Bustaman saling berpandangan. "Apakah kau punya prasangka juga, Mas?" tanya Della.
"Entahlah yang paling tahu adalah Dinda. Dia merasakan dan melihat. Aku pikir, kita tidak boleh kehilangan kepercayaan akan dirinya," sahut Johan.
"Jadi kau masih mencurigai Bram?" tanya Della.
"Bukan begitu. Aku tidak tahu dimana posisiku. Sudah kukatakan, yang paling tahu dan merasakan adalah Dinda. Kita tidak boleh menyepelekan instingnya."
"Insting itu bisa dipengaruhi perasaan pribadi," kata Bustaman. "Pada awalnya dia mencurigai niat buruk Bram kepadanya. Itu sangat masuk akal karena yang merasakan gangguan seperti itu tentu hanya orang yang bersangkutan. Aku dan Della percaya pada prasangka nya. Tetapi pada perkembangan selanjutnya aku tidak begitu yakin lagi. Tuduhan menuduh itu bukan main-main. Argumentasi yang dikemukakan polisi sangat logis. Dan kedengaran lebih logis dibandingkan analisa yang dibuat Dinda."
"Ya Secara pribadi aku memang lebih suka bila Dinda yang salah, meskipun aku sangat menghargai pendapatnya. Aku lebih suka bila Lilis meninggal dalam ketenangan dan kewajaran," Della membenarkan.
__ADS_1
"Kadang-kadang kenyataan tak sesuai dengan keinginan, Del," kata Johan. Baginya, ucapan itu kedengaran sinis. Ia teringat kembali pada peristiwa dulu, yaitu perselingkuhan Johan saat masih menjadi suami Lilis. Barangkali seorang suami yang pernah jelek lebih bisa mengendus kejelekan dari suami lainnya, karena pengalaman pribadinya. Hampir saja terlontar ucapan itu ketika ia melihat tatapan suaminya yang mengingatkan. Ini bukan saatnya bertengkar antara sesama kita!
Johan tidak menyadari makna tatapan Della. Ia asik berpikir. "Seandainya Bram mau menyingkirkan Lilis, apa motivasinya?"
"Dulu Bram pernah meminjam deposito Lilis sebesar lima puluh juta, tapi sudah dikembalikan. Lilis sendiri yang memberitahuku. Sesudah itu aku tidak tahu, apakah ada kasus serupa lagi atau tidak. Kupikir, kalau memang ada tentu Lilis datang memberitahuku. Biasanya ia suka minta pendapat atau berbagi rasa denganku," Della menjelaskan. Keseriusan Johan melunakkan perasaannya.
"Kalau begitu, tak ada masalah keuangan," gumam Johan.
"Barangkali soal cewek? Tapi masa iya, sih. Nikahnya kan baru beberapa bulan. Biasanya lelaki baru selingkuh kalau usia pernikahannya sudah beberapa tahun." Della menyindir. Puas bisa membalas ketika ia melihat wajah Johan yang kemerahan.
"Ya. Kita tidak mungkin membiarkan Dinda tinggal bersama Bram. Dinda tak mau keluar dari rumah, maka yang harus keluar adalah Bram. Dia bukan suami Lilis dan juga bukan ayah Dinda," kata Johan. Mau tak mau ia jadi teringat pada pengalamannya sendiri ketika diusir keluar dari rumah itu. Dia tidak akan membiarkan. Yang paling membuatku ngeri adalah bagaimana kalau Bram membalas dendam kepada Dinda karena mempermalukannya," kata Della.
"Kupikir dia tidak akan berani. Bisa lolos dari persangkaan sekarang ini saja dia sudah sangat senang." pendapat Bustaman.
"Sekarang dia senang. Besok lusa dia beranggapan lain. Apalagi kalau dia benar-benar bersalah seperti persangkaan Dinda." Johan sependapat.
Della mengerutkan kening. Nampaknya Johan condong berpihak kepada Dinda. Mungkin ada kesamaan keturunan? "Tapi Dinda tidak punya bukti ataupun saksi mata hingga dia harus jadi sasaran pembalasan," Della membantah.
__ADS_1
"Bagaimana pun, kita sudah sepakat bahwa Dinda tidak boleh serumah lagi dengan Bram. Bila urusan pemakaman selesai, kita akan membicarakannya dengan Bram." Bustaman mengakhiri rapat keluarga itu.
*****
Pemakaman sudah usai. Dinda kembali pada rutinitasnya sehari-hari. Ia sudah bersekolah kembali, belajar dan juga berlatih kungfu serta pernafasan. Tapi ia berlatih sendiri. Ayahnya sudah mengajak tapi ia beralasan belum ada waktu.
Tetapi Johan rajin menjemputnya dari sekolah dan mengantarkannya pulang. Bagi Johan cuma itu satu-satunya cara untuk bertemu dan berkomunikasi. Ia masih segan mendatangi Dinda di rumahnya, karena tak ingin bertemu muka dengan Bram. Ada kekhawatiran dalam diri Johan, bahwa kasus itu bisa membuay Dinda menjauh lagi darinya. Sikap Dinda yang pendiam dan menutup diri cukup jadi alasan kekhawatirannya. Sampai saat itu ia menghibur diri dengan berpikir, bahwa hal itu tentu disebabkan karena Dinda masih bersedih atas kematian ibunya. Tapi ia cukup menyadari bahwa penyebabnya bukan cuma itu. Dinda merasa sangat kecewa karena tak bisa membuktikan kesalahan Bram. Kalau saja Dinda mau mengungkapkan perasaan hatinya, ia bisa lebih leluasa menghibur dan menyatakan dukungannya.
Dinda tak pernah menceritakan dugaannya tentang keaslian barang-barang yang diperiksanya di lab dan kemungkinan sudah di tukar oleh Bram. Ia sangat yakin bahwa Bram memang melakukan hal itu. Kalau tak berniat demikian, untuk apa Bram menanyakan Bi Imah? Kalau Bram memang tidak meracuni ibunya, kenapa ia perlu menanyakan cangkirnya? Sebegitu pentingkah masalah cangkir itu? Dan dirinya sangat bodoh karena telah memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada Bram untuk melakukan hal-hal yang diinginkannya. Kalau saja ia tidak ikut dengan Bustaman ke kantor polisi pada waktu itu. Penyesalan itu tetap menghantuinya.
Ia menyimpan hal itu sendiri karena merasa tak ada gunanya mempersoalkan. Siapa yang mau mempercayainya sekarang? Paling-paling mereka cuma pura-pura percaya, supaya tidak membuatnya sedih. Yang pasti kepercayaan mereka itu tidak akan cukup untuk bersatu dan bersiteguh menuntut dilakukannya autopsi! Oh Ibu, sungguhkah kau meninggal dengan tenang dan bahagia? Betapa aku mendambakan bahwa keadaannya memang benar demikian.
Hari-hari sesudah pemakaman dia dan Bram tak pernah bertegur sapa. Boleh dikatakan mereka juga sangat jarang bertemu muka. Bram tetap melakukan aktivitas rutinnya dengan jogging pagi-pagi sekali, lalu pada saat ia pulang Dinda sudah berangkat ke sekolah. Kemudian Bram pergi dan pulang di malam hari pada saat Dinda sudah masuk ke kamarnya. Hari Minggu yang merupakan hari libur belum tiba, tapi Dinda sudah merencanakan untuk menghabiskan hari itu dirumah ayahnya.
Meskipun saling menghindar seperti itu, toh ada juga saatnya mereka berpapasan. Pada saat itulah Dinda baru menyadari bahwa sikap Bram sudah berbeda jauh dibanding dulu ketika ibunya masih ada. Sekarang Bram tak berusaha untuk beradu pandang atau mencoba menarik pandangannya agar dia bisa melecehkan lewat tatapan matanya. Sebaliknya ia berusaha untuk tidak beradu pandang. Jalan pun diupayakan tidak dekat-dekat. Dinda menyadari, perubahan itu tentunya wajar. Sekarang situasi sudah berubah. Yang dipikirkannya adalah bagaimana sesungguhnya tatapan Bram kepadanya dari belakang!
****____****
__ADS_1