Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 36


__ADS_3

Ngebut ah,,, mau kelarin cerita ini. Udah ada yang ngantri pengen di ceritain lagi soalnya 🤭


****____****


Johan tertawa. "Ah, dia terlalu kuat untuk mati. Tapj itu bagus untuk introspeksi Din. Lain kali jangan terlalu gampang menyerang duluan. Ilmu itu untuk membela diri. Bukan untuk melampiaskan dendam."


"Ya, Yah. Aku sangat mengingatnya."


"Mengingat sekarang kamu cuma berdua, mau ayah temani?"


"Ah, tak usah Yah. Nanti Tante Irene yang sendirian dong. Tidak apa-apa. Aku justru lebih aman sendiri eh sama Bi Imah daripada sama lelaki itu."


"Baiklah kalau begitu. Jangan lupa mengunci pintu dan jendela. Besok kita bertemu lagi disekolah ya?"


Setelah Dinda menutup telepon ia berpandangan dengan Bi Imah. Perempuan itu masih saja memandanginya dengan wajah takjub dan tak percaya. Dinda tertawa. "Kenapa Bi?" tanyanya.


"Non, jadi hebat amat ya?"


"Hebat apanya?"


"Saya sempat melihat, tuh Non. Wah..., tendangan kok bisa tepat begitu. Itu pasti hasil latihan Non setiap pagi ya? Nggak sia-sia Pak Johan mengajari."


"Apa bibi mau diajari?"


"Nggak ah. Orang udah tua begini. Nanti malah tulang sendiri yang patah," Bi Imah tertawa.


"Menurut Bibi, apa aku keterlaluan sama dia tadi?"


"Ya..., sedikit Non. Tapi kalau dipikir, dia juga keterlaluan sih."


"Keterlaluan bagaimana Bi?"


Bi Imah menceritakan bagaimana ia melihat Bram tertawa kesenangan setelah melepas Bustaman dan Della pergi. "Bibi pikir, tertawa seperti itu sama sekali tidak pantas. Mestinya dia sedih kehilangan Bu Lilis."

__ADS_1


Bagi Dinda, cerita Bi Imah itu merupakan tambahan keyakinan akan keburukan Bram. "Ayo, Bibi punya cerita apa lagi tentang dia?" ia bertanya dengan bersemangat.


Bi Imah menggeleng kepala dengan wajah menyesal. "Sayang, nggak ada lagi Non."


"Apakah dulu Bibi gak suka nguping atau ngintip?"


"Nggak Non."


"Sayang sekali."


Bi Imah ikut menyesal. Ya, sayang sekali.


****


Perbuatan Dinda itu telah menimbulkan kasus baru. Bram mengancam akan mengadukan perbuatannya itu ke polisi. Padahal dokter dan rumah sakit dibayari oleh Bustaman yang merasa bertanggung jawab. Rupanya setelah rasa sakitnya reda ia menjadi garang. Bustaman tentu saja menjadi cemas. Apalagi perbuatan Dinda itu disaksikan Bi Imah, hingga pengaduannya memiliki kekuatan. Jadi bila dibandingkan dengan rencana melaporkan kecurigaan bahwa Bram telah menguras harta Lilis, maka pengaduan Bram itu lebih memiliki kekuatan. Mereka cuma mencurigai tanpa bukti atau saksi, sementara Bram memiliki saksi mata serta visum dokter mengenai lukanya.


"Anda seharusnya memaklumi temperamennya yang panas, pak Bram. Tambahan lagi dia sedang bersedih." Bustaman mencoba membujuk.


"Memaklumi apa?" kata Bram sambil memegangi rahangnya. Masih sakit kalau digerakan. Jangankan untuk bicara, makan pun sulit. Ia terpaksa makan terus supaya tidak kelaparan. "Sulit untukku memakluminya. Aku sudah mencoba berbaik-baik kepadanya. Eh, dia begitu kurang ajar. Mengerikan sekali anak itu. Pada suatu waktu dia bisa membunuhku."


"Tempo hari Anda mengaku punya rasa bersama kepada Dinda, karena ibunya sudah menghabiskan simpanannya tanpa anda bisa mencegahnya. Nah anggaplah itu impas sekarang," kata Bustaman lagi.


"Huh, apanya yang impas? Penganiayaan ini bukan cuma fisik pak Bus, tapi juga harga diri. Dia menghinaku."


"Dia belum dewasa. Maafkan sajalah pak."


"Kenapa bukan dia sendiri yang minta maaf?"


"Dia tidak mau."


"Nah, dia tidak merasa bersalah, bukan? Dari situ jelas bahwa kebenciannya tak bisa hilang. Mengerikan sekali."


"Jadi anda akan tetap mengadukan perbuatannya itu?" tanya Bustaman cemas, tapi juga jengkel. Ia pun tak sabar lagi karena harus bersikap merendah terus-terusan.

__ADS_1


"Saya tidak akan mengadu bila syarat saya dipenuhi, pak."


"Syarat apa?" Bustaman menyangka Bram akan minta ganti rugi dalam bentuk uang.


"Sederhana saja. Anda tidak ingin Dinda diadukan, supaya tidak menjadi heboh dengan akibat mencemarkan nama baik. Nah saya juga tidak ingin dicemarkan."


"Dicemarkan?" Bustaman tak segera memahami.


"Ya. Saya memperkirakan, anda akan mengadukan saya dengan tuduhan telah menguras harta Lilis. Itu memalukan sekali. Meskipun tidak terbukti, tapi heboh seperti itu cukup untuk menghancurkan nama baik saya. Jadi syaratnya itu saja. Kita sama-sama tidak saling mencemarkan."


Bustaman tertegun. Usul Bram itu sangat di luar dugaan. Tetapi ia tak ingin memutuskan sendiri. "Kalau begitu saya akan merundingkan dengan keluarga saya pak. Nanti malam saya akan memberi kabar. Boleh minta nomor telepon anda?" tanya Bustaman ketika teringat bahwa Bram sudah pindah ke rumah Dinda dan belum memberi alamat barunya.


"Saya belum punya handphone. Biar saya saja yang menelepon Anda sekitar pukul sembilan."


"Pukul sepuluh saja saya di rumah." Bustaman memberikan nomor telepon rumahnya.


Setelah mencapai kesepakatan, Bustaman segera menghubungi Della dan Johan. Pertemuan akan diadakan dirumah Dinda sore hari.


Sepertinl diwaktu yang lalu, mereka berkumpul kembali. Dinda termangu dengan perasaan bersalah. Ia sudah memperkirakan bahwa akibat perbuatannya adalah sesuatu yang bisa menyulitkan. Bram sudah memanfaatkan kesempatan itu.


"Dia sangat cerdik," komentar Johan.


"Betul," Della membenarkan dengan gemas. "Dia tahu kita mencurigainya, maka dia menggunakan kesempatan ini. Kalau dia tidak bersalah, kenapa dia melakukan penukaran? Apalagi dia merasa dilukai harga dirinya dan marah sekali. Bahkan dia takut dibunuh oleh Dinda. Nah, kalau sampai begitu kenapa dia tidak mengaku saja tanpa pakai kompromi segala?"


"Dia memang bersalah," kata Dinda.


Tiga pasang mata menatap Dinda, Sesuatu dalam nada suara Dinda membuat mereka tergugah. Mereka menyadari, tak ada argumentasi apa kesalahan Bram. Tetapi keteguhan keyakinan itu tidak tepat disebut keras kepala. Ada sesuatu yang sangat dipahami Dinda tapi tidak bisa dipahami mereka.


Kesadaran itulah yang membuat mereka akan segan membantah atau menyatakan keraguan meskipun mereka merasa tidak bisa seyakin itu. Tapi penyebabnya bukan rasa iba melainkan respek. Dalam usianya yang belia Dinda memperlihatkan keseriusan dan sikap concern yang mendalam terhadap kasus itu. Dinda mengikuti instingnya, lalu mengamati, mempelajari, dan kemudian bertindak. Pastilah semua itu disebabkan karena cintanya kepada ibunya.


"Lantas apa yang harus kita katakan kepadanya?" tanya Bustaman. "Apa kau punya usus Dind?"


"Seandainya kita biarkan dia menuntut dan sementara itu kita pun mengadukan dia, apakah kita bisa menang Om?"

__ADS_1


Bustaman menggeleng. "Aku tidak bermaksud membuatmu pesimis Dind. Tapi kenyataannya kita memang sulit menang. Untuk saat sekarang ini, kita tidak bisa mengadukan dia tanpa bukti dan saksi. Itulah yang nanti diminta polisi. Padahal dia punya kekuatan untuk mengadukan dirimu. Kau bisa susah baik sekarang maupun nanti. Sekarang kau sedang menghadapi ujian. Dan untuk jangka panjang nanti kau bisa terlanjut punya reputasi buruk. Bagaimana kalau kau memerlukan surat kelakuan baik?"


****____****


__ADS_2