Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 68


__ADS_3

Happy Reading


****____****


Pertama-tama mereka membuka kamar Dinda yang lama. Sudah jelas isi kamar itu tidak diapa-apakan. Suasananya yang kosong pasti tidak menarik untuk dijarah. Kemudian mereka beralih ke kamar satunya lagi, kamar Lilis. Kesan nya sama. Sepertinya debu dikamar itu pun masih melekat secara utuh.


"Sekarang aku akan menelepon polisi," kata Johan saat menuruni tangga.


Pada saat ayahnya menelepon Dinda teringat kepada Bagas. Bila Bagas menepati janjinya, maka pastilah pada saat itu ia tengah berbicara dengan Tante Maya. Mereka berdua sudah mengetahui masa lalu Bram dengan bayang-bayang kelamnya. Percayakah Tante Maya bahwa Bram yang dicintai dan dinikahinya adakah seorang lelaki yang berhati buruk? Sulit memperkirakan jawabannya. Bila Tante Maya sangat mencintai Bram, maka pukulan yang dirasakannya pastilah berat sekali. Tapi cinta bisa membuatnya tidak percaya. Lebih baik tidak percaya daripada percaya tapi menanggung beban berat.


Masalahnya, tidak mau percaya atau memang tidak percaya? Betapa dilematis. Dinda merasa iba kepada Tante Maya. Tetapi Bram pun sudah tahu, bahwa mereka tahu. Bram pasti mengantisipasi reaksi mereka. Bila teringat kepada kelicikan Bram dimasa lalu, Dinda jadi pesimis bahwa Tante Maya bisa melepaskan dirinya dengan utuh dari jeratan cinta Bram. Ah, sungguh menggemaskan kepandaian Bram mempermainkan para perempuan yang dinikahinya dengan senjata cinta. Ia tidak punya hati dan tega mengoyak cinta tulus yang diberikan kepadanya Pikiran itu membuat Dinda berharap, kelak dirinya tidak sampai terjebak cinta semacam itu. Lalu ia teringat kepada Bagas dan pipinya memerah. Apakah Bagas merasa prihatin dan cemas akan dirinya bila mengetahui peristiwa ini?


Tim reserse datang dipimpin oleh petugas yang sudah dikenal oleh Johan dan Dinda. Dia adalah Arman, petugas yang dulu menerima laporan mereka perihal kematian Lilis. Arman pun masih mengingat mereka berikut kasusnya dulu. Sementara anak buahnya memeriksa tempat kejadian, ia mendengarkan dan mencatat laporan Johan. Dinda menyela sesekali kalau Johan lupa sesuatu.


Johan tidak lupa bercerita tentang insting Dinda yang terbukti kebenarannya. "Sudah sering kali dia saya bujuk untuk pindah dari sini, Pak. Tapi dia selalu menolak dan mengulur waktu. Nanti, nanti terus. Tiba-tiba kemarin sore dia nelepon dan mendadak minta dijemput. Suaranya panik. Begitu pula sikapnya."


Arman menatap Dinda dengan selidik. "Apakah kau punya kemampuan paranormal?" tanyanya.


Dinda menggeleng dengan tersipu. "Tidak, Pak. Saya tidak punya bakat semacam itu. Semata-mata insting dengan perhitungan yang rasional."

__ADS_1


"Maksudmu?" Arman bertanya heran.


"Saya tahu, bahwa Bram sudah tahu tentang keterlibatan saya. Dia pastilah membenci saya. Sangat membenci. Dari duku sudah benci. Apalagi sekarang."


"Ah, bagaimana kau bisa memastikan bahwa ini perbuatan Bram? Sama seperti kematian Bu Lilis yang tak busa dibuktikan akibat perbuatannya."


"Dulu saya membaca wajahnya, matanya, sikapnya. Saya merupakan penghalang. Dari dulu sampai sekarang. Dulu saya tidak berhasil mencegah perbuatannya. Tapi sekarang saya menghasut istrinya dengan kemungkinan dia gagal. Tentu sekarang saya tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap saya karena tak pernah bertemu. Tapi dari pembicaraan Tante Leli, tetangga sebelah, saya punya dugaan kuat bahwa dia punya maksud buruk. Kenapa dia berpesan kepada Tante Leli untuk memberinya kabar perihal diri saya? Pasti dia mau mengecek keadaan saya saja. Masih bencikah saya kepadanya dan masihkah saya tinggal berdua saja disini?"


"Jadi percakapan dengan tetangga sebelah itulah yang membangkitkan kecemasanmu?"


"Betul, pak. Mula-mula saya mencemaskan keadaan Bagas dan tantenya. Saya ingin memberi tahu Bagas, bahwa penyelidikan yang dilakukannya itu ketahuan oleh Bram. Tapi ketika saya menelepon, saya mendengar suara Bram. Buru-buru saya matikan. Bulu kuduk saya meremang mendengar suaranya. Entah kenapa. Dari situ saya menjadi cemas. Ada dorongan ingin pergi. Harus pergi secepatnya."


"Dia bisa menyuruh orang lain, Pak. Tak mungkin ia mau menempuh resiko tertangkap," kata Johan.


"Ya. Memang bisa saja. Tapi ingatlah, kita belum punya bukti. Jangan sembarang menuduh. Instingku memang berkata benar. Tapi belum tentu Bram ada dibaliknya. Jadi, kebetulan takutnya sama dia, yang datang orang lain. Dengan kata lain, pelakunya adalah perampok beneran yang sudah mendapat info bahwa rumah ini cuma didiami seorang gadis remaja bersama pembantunya. Maka kau dianggap sasaran empuk."


"Dan saos tomat itu, Pak? Pecahnya cermin? Juga berantakannya barang-barang saya dikamar? Buat apa mereka melakukan hal itu? Bagi saya itu adalah amukan kemarahan karena orang yang dicari sudah pergi. Sementara barang jarahan cuma kecil nilainya."


Arman merenung sebentar. "Pendeknya jangan menyimpulkan begitu dulu. Coba pikirkan. Logika dan kewajaran penjahat bisa saja berbeda dengan kita. Apa yang tidak wajar buat kita, buat mereka wajar saja. Jadi, jangan menyimpulkan siapa pelakunya dari akibat perilaku."

__ADS_1


Dinda menjadi lesu. "Ya. Kita selalu membutuhkan bukti konkret dan saksi mata."


"Benar sekali. Karena. kita tidak boleh salah menangkap dan menuduh orang." Arman berkata dengan ramah, setengah menghibur. Ia merasa iba melihat kegundahan Dinda.


"Lantas bagaimana dengan kasus lenyapnya Frida, Pak?"


"Siapa itu Frida?" tanya Arman heran.


"Oh, kasus itu tercatat di Polres Tanah Abang, Pak," Johan menjelaskan. Semula ia segan menceritakan. Tapi karena Dinda sudah mengemukakan, maka ia terpaksa menceritakan.


"Wah, banyak sekali ceritanya ya," kata Arman dengan takjub. "Apakah Bram tidak ditanyai perihal Frida?"


"Katanya sudah pak. Tapi ia menyatakan tidak tahu menahu. Ia memang kenal Frida tapi katanya tidak akrab."


"Ya. Memang sulit. Kesimpulan anda bahwa Bram terlibat dalam kasus itu pun sulit dibuktikan. Pertama, Frida itu belum ditemukan. Jadi siapa bisa memastikan apakah dia masih hidup atau sudah mati? Kedua, tak ada saksi mata yang melihat mereka pergi berdua pada hari terakhir keberadaan Frida di flatnya. Tapi saya bersimpati pada usaha dan jerih payah anda menyelidiki. Kalau boleh saya memberi saran, berhati-hatilah dengan ucapan dan tuduhan anda. Salah-salah dia bisa balik menuduh anda telah mencemarkan nama baiknya. Misalnya cerita Dinda kepada Bagas, bisa saja dianggapnya sebagai hasutan untuk merusak keutuhan rumah tangga nya."


"Tapi saya menceritakannya dengan tujuan untuk melindungi, Pak. Jangan sampai Tante Maya menjadi korban karena dia tidak tahu apa-apa. Dengan mempercayai cerita saya maka dia bisa berhati-hati," Dinda membantah.


Arman geleng-geleng kepala. "Saya kira, percaya atau tidak percaya, dia pasti akan terpengaruh. Dan selanjutnya mana mungkin hubungan mereka bisa utuh seperti semula. Coba pikirkan. Mana mungkin kita bisa tenang hidup berdampingan dengan seseorang yang dituduh sebagai pembunuh dan kemungkinan mau membunuh kita juga? Wah, tidur pun tak bisa nyenyak dan makan tak enak. Bagaimana kalau dibunuh dalam tidur dan makanan diracuni?"

__ADS_1


****___****


__ADS_2