
Sesudah urusan kamar mandi selesai, mereka terpaksa pulang dengan berat hati setelah berpesan pada Bi Imah agar menemani dan menjaga Dinda. Ada rasa bersalah dihati masing-masing bahwa tak ada kerabat yang menemani Dinda disaat seperti itu. Tetapi tak ada kerabat lain yang lebih dekat selain mereka. Sementara Dinda itu sedikit aneh, tapi keanehan memang sudah melekat pada diri Dinda hingga tidak mengherankan lagi.
Selanjutnya Dinda dengan Bi Imah menggotong dipan Bi Imah untuk disejajarkan dengan dipannya. Bagaimana pun, ia juga mendambakan dari seseorang yang bisa memahami perasaannya. Tentu saja Bi Imah merasa senang karena dianggap berarti. Ia sayang kepada Dinda karena telah ikut mengasuhnya sejak usia balita. Sekarang anak itu kehilangan ibu dan tak mau ditemani siapa-siapa, termasuk ayah kandungnya, kecuali dirinya. Ah, Bi Imah merasa bahagia bercampur sedih. Tentu saja ia akan menjaganya dengan sebaik-baiknya, bahka rela kehilangan nyawa bila diperlukan. Tetapi tak lama setelah merebahkan dirinya diatas kasur, ia pun tertidur pulas karena rasa capek tak kuasa ia lawan.
Dinda menatap Bi Imah dengan sedikit kecewa. Sebetulnya ada hal-hal yang ia ingin tanyakan, tapi kalah cepat oleh kantuk Bi Imah. Percuma saja membangunkannya U menjawab pertanyaan nya, karena kemungkinan Bi Imah tak bisa menjawab dengan benar. Maka ia cuma bisa tergolek diam, mendengar suara-suara. Meskipun ia juga capek, tetapi kantuk belum mau datang. Terlalu banyak pikiran yang menguasainya.
Larut malam, baru Bram pulang. Dinda mendengar suara kendaraannya memasuki halaman. Bram memiliki kunci cadangan sendiri, hingga tidak perlu dibukakan pintu. Seandainya ia tidak membawa kunci pun, Dinda tak akan mau membukakan pintu. Ia yakin, setelah naik ke loteng Bram pasti akan memeriksa kamarnya dan mendapati dirinya tak ada disana. Dan kemudian Bram akan menjenguk kamar Bi Imah lalu mendapati kamar itu pun kosong. Maka terakhir pasti kamar inilah yang diperiksanya. Ia menantu dengan mata nyalang kearah pintu. Sekarang ia tak perlu mengkhawatirkan pintu itu, karena berkunci. Kuncinya masih menggantung di lubangnya. Benar saja. Ia tak perlu lama menunggu untuk mendengar langkah pelan dan kemudian handel pintu bergerak sekali, dua kali, lalu berhenti. Sesudah itu ia tak mendengar apa-apa lagi. Sunyi sepi.
*****
Esok paginya Dinda bangun kesiangan. Bi Imah yang sudah bangun lebih dulu seperti kebiasaannya, tidak membangunkan karena ia memang tidak berpesan begitu. Bi Imah merasa iba kepadanya dan menganggap sebaiknya ia tidur cukup.
"Tadi Bapak berpesan, kalau non atau siapa saja mencarinya dia ada di rumah sakit," kata Bi Imah.
"Apa dia sarapan dulu, Bi?"
"Oh ya. Dia ngopi dan makan mi instan."
__ADS_1
"Terus ngomong apa lagi?"
"Nggak ngomong apa-apa non. Cuma pesan itu saja. Dia juga memberi uang untuk belanja hari ini. Non mau makan apa?"
"Apa saja yang gampang, Bi. Mi instan juga boleh."
"Habis itu saya ke pasar dulu, ya Non?"
"Ya Bi. Eh, sebentar Bi. Aku mau tanya sesuatu. Kemarin apakah pak Bram bertanya kepada bibi soal pecahan cangkir yang kusuruh simpan itu?"
"Ya Non. Mulanya dia nggak tahu kalau cangkir itu pecah. Dia tanya apakah saya sudah mencuci cangkir bekas minuman ibu. Saya bilang cangkir itu pecah dan masih disimpan karena Non yang suruh. Tisunya juga nggak boleh dibuang. Terus dia menanyakan, dimana saya menyimpannya, Jadi saya kasih tahu."
"Wah, saya nggak tahu, non. Sesudah itu saya sibuk disuruh ini itu. Saya nggak tahu apa yang dikerjakan bapak."
"Ya sudah. Nggak apa-apa Bi."
Dinda termenung sesudahnya. Ternyata benar apa yang dikhawatirkan nya semalam. Tetapi ia sadar tidak bisa menyalahkan Bi Imah. Semua akibat keteledoran nya semata. Ia telah melakukan sesuatu yang sangat, sangat bodoh. Seharusnya barang-barang yang penting itu tidak diserahkannya kepada Bi Imah. Seharusnya ia menyimpan dan menyembunyikannya sendiri. Seharusnya.... Oh. Apakah ada gunanya disesali? Menangis sampai banjir pun percuma. Waktu tak bisa disuruh kembali untuk memberinya kesempatan memperbaiki kesalahan yang telah diperbuatnya. Jadi, setelah penyesalan tak berguna, apakah ia harus kehilangan harapan?
__ADS_1
Sebelum hari siang, hasil dari lab sudah keluar. Dinda tidak terkejut lagi. Hasilnya negatif! Kandungan cairan yang masih melekat pada pecahan cangkir dan noda tisu hanyalah kopi, susu dan gula. Tidak ada zat beracun.
Yang menyakitkan hati Dinda bukan hanya akibat dari keteledorannya sendiri melainkan pandangan orang-orang terhadapnya. Mereka nampak kehilangan kepercayaan dan menganggapnya berlebihan. Sementara reaksi Bram memang sudah jelas bisa diduganya. Bram memandangnya dengan tatap sinis dan melecehkan. Memang tak ada kata-kata yang terucap oleh Bram, tapi tatapannya itu seolah mengatakan, "Kau tak bisa menyudutkan aku, apalagi mengalahkan!"
Setelah itu Dinda bersikap menarik diri. Di samping kekecewaan dan sesal tak bisa dihapuskan meskipun sadar itu tak berguna, ia pun mulai kepada orang-orang yang selama ini membantunya. Bustaman, Della, dan ayahnya. Tentu saja mereka tak memperlihatkan isi hati mereka terang-terangan kepadanya. Tapi ia bisa merasakan bahwa kepercayaan mereka tetap menyayangi, mendukung, dan melindunginya. Tapi yang diinginkannya bukan cuma itu. Ia ingin mereka mempercayainya juga.
Ketika orang yang terdekat dengan Dinda itu sudah berusaha menghibur Dinda habis-habisan. Tapi kata-kata mereka klise belaka. "Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Jangan sedih lagi. Relakan kepergian ibu." Cuma semacam itu. Tak ada kata-kata yang menjanjikan dan memberi semangat. Misalnya, "Jangan putus asa, Din. Kita akan selidiki terus lelaki itu. Bukankah jenazah ibu tidak di kremasi? Masih ada harapan bahwa kebenaran akan terungkap." Padahal, kata-kata semacam itu bisa sangat membantunya. Tak sekedar sebagai penawar kesedihan dan kekecewaan, tapi juga pembangkit semangat yang mengingatkan bahwa dia tak sendirian. Sekarang ia merasa sendirian.
Celakanya lagi, Dinda mempunyai perasaan bahwa orang-orang terdekatnya itu justru merasa senang dan lega dengan hasil lab itu. Berati tak ada masalah yang merepotkan. Takkan ada kegemparan yang bisa membuat keluarga mereka tak menyatakan dengan kata-kata. Tapi bagi Dinda, perasaan sebagai hasil pengamatan sudah cukup. Itu lebih. bermakna daripada kata-kata yang kosong.
"Dinda sangat membenci Bram. Tapi kebenciannya masuk akal." Johan menyimpulkan dalam pembicaraan yang berlangsung tanpa kehadiran Dinda.
"Ya." Della membenarkan. "Aku yakin, lelaki itu punya niat kurang baik terhadap Dinda. Anak itu peka."
"Tapi gagasannya cemerlang lho," Bustaman mengakui. "Aku sempat mengaguminya. Mungkin itu disebabkan karena ia banyak membaca. Banyak gagasan dan teorinya berasal dari buku."
****___****
__ADS_1
to be continued 😂