Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 12


__ADS_3

Lilis mencibirkan bibirnya. Ia gemetar karena marah dan juga takut. Sekarang ia sudah terlibat. Orang itu tentu akan memberitahu Bram perihal niatnya membantu itu. Apakah Bram akan menjadi marah karenanya? Ah, mustahil ia marah bila niatnya tulus dan baik.


Pada saat itu ia membutuhkan seseorang untuk berbagi pendapat dan juga perasaan. Tetapi ia tidak bisa melakukannya dengan Dinda. Ia sudah tahu apa kira-kira reaksi Dinda. Lagipula Dinda belum dewasa untuk diajak berdiskusi masalah berat seperti itu. Apalagi Dinda sekarang sudah punya hubungan dengan Johan. Ia benci sekali bila membayangkan bahwa perlakuannya itu merupakan pembalasan yang setimpal atas perbuatan selingkuhnya, hingga tak ada lagi utang piutang antara mereka berdua.


Lalu ia teringat kepada Della.


Della menerima kunjungan Lilis dengan terheran-heran. Ia memperkirakan Lilis pasti membutuhkan sesuatu atau sedang bermasalah. Dari dulu begitu. Mereka jarang berhubungan kecuali untuk hal-hal yang penting benar. Jangan-jangan masalah Dinda. Ia jadi was-was. Sejak pernikahan Lilis. Dinda belum menghubunginya lagi untuk menyampaikan segala unek-uneknya. Padahal menurut perkiraannya pastilah unek-unek Dinda, banyak sekali setelah hidup seatap dengan Bram. Dan sesungguhnya ia sendiri pun ingin tahu apa saja yang terjadi. Ternyata yang datang sekarang adalah bukan Dinda.


Lilis tak membuang waktu lama untuk menceritakan masalahnya.


"Jadi kau mau membantunya dengan uangmu, Kak?"


"Ya. Aku punya deposito seratus juta. Masih utuh sejak awal Del. Selama ini aku cuma makan bunganya saja. Jadi apa salahnya kupakai sebagian sekarang ini untuk membantu suami?"


Della tertegun. Dia dan Lilis masing-masing mendapatkan jumlah uang yang sama dan juga sebuah rumah yang nilainya kurang lebih sama sebagai warisan dari orang tua mereka. Sampai saat itu, setelah lewat waktu bertahun-tahun uang mereka di depositokan masih utuh tak terpakai kecuali diambil bunganya. Tiba-tiba sekarang Lilis mau mengambil sebagian. Tentu saja itu merupakan hak Lilis. Mau dipakai sebagian atau seluruhnya, adalah sah miliknya. Tetapi Della menyayangkan. Ketika masih bersuamikan Johan, milik Lilis itu tetap utuh tak tersentuh. Sekarang baru beberapa bulan menikah, Bram sudah punya problem keuangan. Tetapi ia tidak mau mengemukakan pikirannya itu. Nanti dituduh menghasut.


"Tahukah Dinda perihal niatmu ini, Kak?"


"Dia tidak perlu tahu. Kenapa kau tanyakan? Dia pasti akan bersikap sinis kalau tahu."


"Dia sudah cukup dewasa Kak. Bagaimana pun dia adalah anakmu. Keturunanmu. Bila kau tak ada nanti, dialah yang akan mewarisi hartamu itu. Bukan Bram."


Segera setelah berkata begitu, Della menyadari kesalahannya. Ia melihat Lilis melotot. "Apa katamu? Bila aku tak ada? Aku tak pernah berpikir tentang kematian. Siapa yang mau mati? Uang itu sepenuhnya milikku. Mau kupakai atau tidak adalah hakku. Tak ada yang mengharuskan aku menyimpannya untuk Dinda. Seandainya uang itu keburu habis pun tak ada masalah. Sudah nasib Dinda bila aku tak bisa meninggalkan warisan untuknya. Yang penting, sekarang aku punya uang dan aku bisa memanfaatkannya. Masa suami dalam kesulitan tidak ditolong? Coba kalau suamimu sendiri yang begini apa kau akan diam saja?" Lilis nyerocos dengan sengit.


"Maaf Kak. Bukan begitu maksudku. Jangan salah paham. Tentu saja kau harus menolong suami."


"Aku datang kepadamu minta dukungan moril. Setidaknya suatu persetujuan atas tindakanku. Bahwa aku melakukan sesuatu yang benar. Tetapi malah ngomong begitu," gerutu Lilis.

__ADS_1


"Sudah kukatakan, aku salah ngomong. Ya, kau benar Kak. Setidaknya mas Bram membutuhkan lima puluh juta, bukan semua uang yang kau miliki."


Kembali Della merasa salah bicara setelah Lilis kembali melotot. "Seandainya ia membutuhkan semuanya pun akan kuberikan!" seru Lilis.


"Ya, ya. Tentu saja, Kak. Maaf."


Lilis termangu dengan wajah sedih. Dengan iba Della merangkul bahunya. "Sudahlah, Kak. Bantu saja dia. Kalau bukan kau, siapa lagi yang bisa membantunya? Seandainya terjadi apa-apa atas dirinya kau bisa dihantui perasaan bersalah karena tidak membantunya."


"Zaman sekarang banyak orang jahat, Del." keluh Lilis.


"Ya. Memang betul." Della membenarkan dengan perasaan ngeri ketika terpikir bahwa bila terjadi apa-apa atas diri Bram padahal ia menganjurkan untuk tidak menolongnya, maka pastilah ia pun akan merasa bersalah.


"Jadi kau mendukung bahwa aku sebaiknya membantunya?" tanya Lilis dengan tatapan tajam, kalau-kalau Della tak serius.


"Ya," sahut Della tak bisa lain.


"Ya. Tentu saja. Daripada menganggur mending dipakai." Della ingin menentramkan hati Lilis. Mungkinkah sebenarnya Lilis kurang rela memberikan uangnya kepada Bram? Bila Lilis sudah mantap dengan keputusannya ia tentu tidak perlu meminta pendapat orang lain.


"Kuminta kau jangan menceritakan itu kepada Dinda. Aku tidak tahan kalau ia bicara macam-macam."


"Oh ya, bagaimana kabarnya Dinda? Apakah dia baik-baik saja?"


"Dia baik. Sekarang dia pergi kerumah Johan seminggu dua kali. Katanya mau les Inggris sama pacar Johan, si indo itu."


"Wah, pantas sekarang Dinda sudah lama tak suka main ke sini lagi."


"Begitulah anak itu."

__ADS_1


"Kak, aku tahu betul Dinda. Dia sedang sibuk, bukan lupa. Sampaikan salam ku padanya, Kak."


"Janji kau tak akan bilang-bilang?"


"Ya. Aku berjanji, Kak. Jangan khawatir. Aku pun tak ingin ia ikut cemas."


Lilis tertawa sinis. "Apa katamu? Dia ikut cemas? Mungkin dia malah bersyukur kalau Bram mendapat musibah. Ketika melihat wajah Bram bengkak, dia malah tersenyum. Kan kurang ajar tuh."


Tiba-tiba Della ingin tersenyum karena rasa geli yang muncul tiba-tiba membayangkan rupa Dinda saat itu. Ia berusaha keras supaya tidak membuat Lilis tersinggung.


"Oh ya, ada satu hal lagi yang perlu kusampaikan Del. Ketahuilah, Bram sama sekali tidak minta bantuanku. Ia pun tidak tahu bahwa aku berniat membantunya. Aku tidak tahu apakah dia bersedia menerima uluran tanganku atau tidak. Bahkan khawatir kalau-kalau ia malah tersinggung."


"Ah, masa orang mau dibantu malah tersinggung Kak."


"Hei, jangan sinis Del. Bahwa ia sampai digebuki orang juga merupakan petunjuk akan harga dirinya. Ia ingin mengatasi masalah sendiri. Kalau mau cari selamat, tentu ia berusaha minta bantuan sebelum kena gebuk. Bahkan sesudah digebuk pun ia tetap menutup mulutnya. Nah, hebat kan, dia?" Lilis membanggakan.


"Ya. Tapi kalau sudah terdesak, ia pasti minta juga."


"Kau masih saja sinis Del."


"Tidak. Aku tidak sinis, kak. Cuma mengatakan pikiranku saja."


"Ya, sudah."


Della ingin menghibur Lilis. "Ia pasti senang bila kau menawarkan bantuan. Justru di matanya, citra dirimu sebagai istri akan meningkat. Dalam susah dan senang suami istri tentu sepenanggungan."


****____****

__ADS_1


to be continued 😂


__ADS_2