Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 65


__ADS_3

"Ah, mana bisa begitu. Biarin dari sononya kayak gimana, tapi kau bisa berubah. Yang penting ada kemauan. Anak Tante, si Sela itu, juga kepingin mengajakmu. Katanya ada teman cowoknya yang suka nanyain kamu. Siapa sih cewek tetangga itu? Cakep juga ya?"


"Jadi Tante mau menawarkan cowok?"


Tante Leli tidak tersinggung. Ia tertawa keras. "Nah, keluar deh judesnya. Ayolah Dinda. Memangnya kau tidak suka cowok? Kalau tidak suka, artinya tidak normal lho. Eh, tentu saja bukan itu maksudku. Ada yang lain, yang cukup penting. Ini berhubungan dengan ayahmu." Tante Leli menatap tajam.


"Ayahku?" Dinda melotot kaget. Ia menjadi cemas dengan tiba-tiba. Siang itu ayahnya memang tidak menjemputnya sepulang dari sekolah. Apakah ada kabar buruk?


"Maksudku ayah tirimu, Om Bram."


"O... dia. Kenapa dia tente?" Dinda tak kurang kagetnya meskipun kecemasannya tadi sudah lenyap.


"Beberapa hari yang lalu, Tante ketemu dia secara kebetulan. Ada famili yang mencari rumah. Eh, ternyata dia sudah hebat sekali sekarang, Dind. Dia sudah jadi direktur."


"Lalu?" Dinda mengerutkan kening. Ia menjadi cemas. Sebuah kecemasan yang lain.


"Dia mengirimkan salam padamu setelah bertanya apa kau masih tinggal disini atau tidak."


"Dan...?"


"Dan kami sempat ngobrol sejenak. Dia bertanya banyak tentang dirimu, tanpa perhatian tentu saja. Oh ya, sekalian saja Tante ceritakan tentang anak muda yang bawa kijang itu."


Dinda ternganga. Kecemasan menjadi kenyataan. "Dia tentu bertanya tentang rupa anak muda itu."


"Oh ya, tentu saja. Wajar dong. Kalau ada orang bertanya-tanya tentang dirimu, tentunya kau ingin tahu seperti apa rupanya. Apalagi dia tidak menyebut nama. Apa kau tau namanya Dind?"


"Kok, tanya saya Tante. Mana saya tahu."


"Jadi dia tidak menyebut namanya kepadamu?"


"Tidak. Buat apa? Saya tidak perlu tahu."

__ADS_1


Tante Leli menatap kecewa. "Tapi kalian mengobrol cukup lama. Masa mengobrol lama tak berkenalan dulu." Ia kurang percaya.


"Saya tidak perlu berkenalan. Dia seorang salesman. Mau menawarkan barang."


"Ha? Salesman? Kok sama Tante nggak nawarin apa-apa?"


"Mana saya tahu."


"Memangnya dia menawarkan barang apa?"


"Yah, macam-macam. Perabotan rumah tangga. Mungkin dia tahu, saya tinggal sendirian dan tidak punya pemahaman tentang perabotan. Kalau Tante kan sudah ahli. Ngomong sama Tante kan bisa didebat."


Tante Leli tersenyum senang dan mengangguk membenarkan. "Jadi kamu nggak tahu apa-apa tentang dia?"


"Nggak. Ngapain saya mesti tanya-tanya. Nanti dia bisa salah paham Tante."


"Ya. Benar juga." Tante Leli percaya karena yakin bahwa Dinda seorang gadis yang lingkup pergaulan nya kurang. "Tapi anehnya, kenapa sama Tante dia tanya-tanya om Bram? Jadi sama kau dia tidak menanyakan hal yang sama?"


"Mestinya kamu tanyakan, apa urusannya hingga perlu bertanya-tanya begitu."


"Ah, buat apa." Dinda mengangkat bahu dengan sikap cuek.


"Kau tidak ingin tahu?" Tante Leli merasa heran karena teringat sikap Dinda yang berbeda ketika pertama kali diberitahu tentang anak muda itu.


"Ingin tahunya sudah lewat, Tante."


Tante Leli memandang jengkel. Jadi seperti itulah sikap remaja sekarang. Mana mungkin sikap seperti itu bisa membuat seorang gadis muda hidup sendiri dan mandiri? "Ya, sudah. Om Bram memintaku mengawasimu agar bisa sekalian menjaga keamanan mu. Kelihatannya dia cukup sayang padamu Dinda."


Dinda tersenyum sinis. Ia tahu sekarang dorongan kedatangan perempuan itu adalah Bram. Mungkin Bram sudah memberikan nomor teleponnya kepada Tante Leli supaya perempuan itu bisa mengirimkan kabar kepadanya. Hampir terlontar pertanyaan dari mulutnya, tapi ia berhasil menahan. Jangan perlihatkan keingintahuan karena Tante Leli bisa menarik kesimpulan dari sikapnya. Maka ia cuma berkata dingin. "Begitulah Tante. Dekat bau tai, jauh bau wangi."


"Wah, masa iya begitu Dinda. Rupanya kau betul-betul tidak menyukainya ya?"

__ADS_1


"Apakah dia yang bilang begitu Tante?" Dinda jadi emosi.


"Tapi betulkan?"


Tiba-tiba Dinda menjadi sadar. Dia tidak boleh terpancing pada saat dimana masalahnya yang dibicarakan itu sudah lama lewat. Sekarang ada masalah lain. Maka ia hanya mengangkat bahu dan mengunci mulutnya.


Tante Leli menunggu reaksi Dinda dan menjadi penasaran. "Lantas apa yang harus kusampaikan kepadanya?" katanya setengah mengeluh.


"Katakan saja, saya sudah tidak punya hubungan lagi. dengan dia. Ibu sudah tidak ada. Maka dia pun sama."


Tante Leli mengerutkan kening. Ia merasa jengkel kepada Dinda karena tidak mau bercerita lebih banyak. Seandainya Dinda mau bercerita mengenai antipatinya kepada Bram, maka dengan senang hati ia akan memberi simpatinya. Tapi anak ini sangat judes. Tak mengherankan bisa Bram mengatakan takut untuk mengunjunginya. Baiklah ia akan menyampaikan apa adanya. Ia segera pamitan.


Dinda menjadi ramah sekali. "Terimakasih untuk pemberitahuan nya Tante. Saya bersyukur untuk perhatiannya. Tante baik sekali ya," katanya dengan senyum manis.


Tante Leli keheranan sesaat. Cepat benar Dinda berubah. Apa kira-kira Dinda bisa diajak bicara sekarang? Tapi ia segera membatalkan niat yang terpikir. "Jadi Tante sampaikan saja apa yang kau katakan barusan kepada om Bram bila dia bertanya."


"Ya, Tante. Dengan demikian Tante tidak perlu berbohong."


Ucapan itu terasa sinis ditelinga Tante Leli. Ia buru-buru pergi. Setidaknya ia punya sesuatu untuk disampaikan kepada Bram.


Dinda termangu sendiri. Jadi Bram sudah tahu bahwa Bagas pernah bicara dengannya. Maka Bram pun tahu bahwa Bagas sudah tahu. Jantungnya berdetak lebih cepat. Bukankah Bagas baru akan memberitahu tantenya besok? Padahal Bram sudah mengetahuinya sejak beberapa hari yang lalu. Sayang ia tidak menanyakan kepada Tante Leli berapa haru tepatnya itu.


Dinda menatap tajam. Hari sudah jam lima sore. Bagas pasti sudah pulang dari kantornya. Entah sudah berada dirumah atau masih dijalan. Cepat-cepat ia meraih telepon, lalu menghubungi nomor Bagas atau rumah Tantenya Bagas. Setelah hubungan tersambung, ia mendengar suara lelaki yang berat, "Halo?"


Tiba-tiba Dinda tertegun. Bulu romanya berdiri serentak. Suara itu dikenalinya. Suara Bram! "Halo? Halo?" Nah, kedengaran lagi. Memang tak salah. Tanpa mengeluarkan suara ia buru-buru meletakkan telepon kembali. Tentu saja ia takkan mau bicara dengan orang itu lagi. Lagipula, apa yang mau dikatakannya? Mencari Bagas? Itu tidak mungkin.


Ia terduduk dengan lemas. Ternyata suara Bram telah membuatnya kacau. Segala yang dialaminya bersama lelaki itu teringat kembali bagaikan baru saja terjadi. Oh, kebencian itu terasa membakarnya kembali. Tapi setelah emosi itu berlalu, muncul perasaan yang lain. Suatu kecemasan itu seolah melumpuhkan dirinya. Ia kembali ke pesawat telepon lalu menghubungi Johan, ayahnya.


"Ayah! Bisa jemput aku sekarang?" kayanya tanpa bisa menyembunyikan getaran emosi.


****____****

__ADS_1


Maaf ya update nya gk konsisten,,,


__ADS_2