
Dengan wajah manis dan mungil, terkesan kebeliannya, tetapi tampil tenang dan bicara lancar serta penuh logika, Dinda berhasil membangkitkan simpati Lettu Arman.
"Baiklah. Itu kesepakatan kita ya. Jadi kita tunggu saja hasil lab. Sementara itu silahkan merundingkan masalah kremasi itu dengan pak Bram. Tentunya saya harap jangan sampai terjadi keributan. Di tengah suasana duka masa meributkan soal itu. Kasian arwah almarhumah nanti."
Maka jalan keluar tercapai. Mereka tinggal menghadapi Bram. Untuk menghimpun kekuatan, karena jelas semua anggota keluarga berada di belakang Dinda, mereka berkumpul komplit untuk bermusyawarah bersama Bram. Sebenarnya jumlah mereka tak banyak, yaitu Della bersama suaminya Bustaman, Johan, dan Dinda. Cuma berempat, tapi merupakan orang-orang terdekat atau pernah dekat dengan Lilis. Tapi empat orang berhadapan dengan satu orang.
Pada awalnya Bram kelihatan gelisah. Dahinya berkeringat. Kumisnya bergerak-gerak. Sebentar-sebentar disapunya dahinya dengan telapak tangan yang kemudian di gosokkannya ke pahanya. Ia mendengar ucapan Bustaman, yang dipilih untuk berbicara. Semakin lama ia kelihatan semakin tenang. "Jadi singkatnya, kita tunggu hasil lab dulu. Bila negatif tak ada autopsi, tapi juga tak ada kremasi. Baiklah. Saya setuju saja anda semua mungkin merasa lebih berhak daripada saya, mengingat saya cuma jadi suaminya selama beberapa bulan saja. Tetapi bila arwahnya sampai penasaran karena permintaannya tak dikabulkan, maka itu menjadi tanggung jawab kalian." Ia mengucapkan dengan tenang walaupun suaranya kedengaran bergetar. Sama sekali tak ada argumentasi yang diajukannya. Ekspresi nya sulit dibaca.
Dinda mengamati sikap Bram dengan heran. Dirinya ikut menjadi gelisah melihat sikap Bram yang diluar dugaannya itu. Ia mengira, Bram akan menantang dan mendebat seru. Adakah sesuatu yang salah dan di luar perhitungannya? Ia merasa kehilangan pegangan, dan jadi pesimis karenanya. Ia mengamati lebih tajam, tapi Bram selalu menghindar beradu pandang dengannya. Sesudah dengar pesan Bustaman sebelumnya, ia memilih diam. Tapi pikirannya dilanda kebingungan.
Bukan cuma Dinda yang tercengang melihat ketenangan Bram. Ketiga orang yang lain pun demikian. Mereka sempat berpikif, bahwa Dinda telah bertindak berlebihan dengan permintaannya itu. Orang bodoh pun tahu, bahwa tuntutan Dinda itu secara tidak langsung merupakan prasangka yang buruk sekali terhadap diri Bram. Tetapi yang terasa mengherankan, kenapa Bram tidak marah? Setidaknya lelaki itu tentu tersinggung oleh tuduhan itu. Apalagi bila tuduhan itu ternyata benar. Siapa yang sedang difitnah?
"Masih ada lagi kah yang mau dibicarakan?" tanya Bram.
"Tidak ada. Sudah cukup."
"Kalau begitu, sampai nanti setelah hasil lab diketahui. Saya pergi dulu." Bram pergi tanpa mengarahkan pandangan sedikitpun kepada Dinda.
Setelah kepergian Dinda, suara tiga orang seperti pecah di udara.
"Kok dia tidak kelihatan marah? Kalau aku dibegitukan pasti emosi," kata Johan.
__ADS_1
"Ya. Aku juga." Bustaman membenarkan. "Tapi aku yakin, didalam dia pasti mendidih. Itu disebabkan kepandaiannya mengendalikan diri."
"Dan dia tak bisa berbuat lain untuk menentang kita," sambung Della.
"Tapi, apakah dia tidak khawatir menghadapi hasil lab kalau dia memang bersalah telah melakukan sesuatu?" Johan menampakkan keraguan.
Mendadak ketiga orang itu menoleh kepada Dinda yang sejak semual berdiam diri. Dinda kelihatan termenung. Mereka segera menyadari telah melakukan kesalaha. Sepatutnya mereka tidak mendiskusikan hal itu didepan Dinda, apalagi bila menjurus pada keraguan akan kebenaran tindakan Dinda.
Johan menepuk pundak Dinda. "Sudahlah Din. Jangan dipikirkan dulu soal itu. Kita tunggu saja hasilnya?"
"Ya," sahut Dinda lesu.
Kemudian Bustaman cepat mengalihkan permasalahan dengan mengajukan usul agar malam itu Dinda tinggal bersamanya saja. Sebetulnya ia sudah merundingkan soal itu dengan Della, dan tinggal menunggu saat yang tepat saja. Sudah tentu ia tak mungkin mengemukakan usul itu didepan Bram. Tetapi Johan yang mendengarnya ikut pula mengajak Dinda agar tinggal dirumahnya saja, setidaknya untuk sementara. Mustahil membiarkan Dinda berduaan saja dengan Bram.
Tetapi Dinda menolak. "Jangan. Rumah ini rumah ibu. Bukan rumah Om Bram. Kalau aku keluar, maka dialah yang menguasai rumah ini. Itu tidak boleh terjadi."
"Lantas, apa kau mau mengusirnya? Itu tidak pantas pada saat berkabung seperti ini Din. Apa kata orang nanti?" kata Della lembut.
"Kalau begitu tunggu saja sampai masalah ini selesai Tante. Bahkan ibu belum dimakamkan." Waktu berkata begitu, kekerasan hati membayang diwajah Dinda.
"Baiklah. Bagaimana kalau kutemani? Biar aku menginap disini,' kata Della.
__ADS_1
"Oh, tidak usah Tante. Jangan dong. Tante kan punya kesibukan sendiri. Aku sungguh tidak apa-apa kok. Kan ada Bi Imah. Aku akan minta Bi Imah menemaniku tidur."
"Lantas dimana tidurmu, Din? Masih dikamar yang lama? Tapi kamar itu terlalu dekat dengan kamar Bram. Bagaimana kalau di kamar tamu saja? Kamar itu lebih aman karena ada di bawah dan dekat sama Bi Imah."
Dinda setuju. Dulu ia memang pernah menginginkan kamar itu dengan alasan yang sama, tapi ia tahu ibunya pasti tak akan merasa senang. Di samping itu ia bertahan karena harga diri. Ia ingin memperlihatkan kepada Bram bahwa dirinya tak gentar hingga harus menyingkir. Tetapi sekarang masalahnya lain. Ibunya sudah tak ada dan ia pun mengenal rasa takut.
Bi Imah cepat-cepat membersihkan kamar tamu. Sedang Dinda bersama ketiga orang yang penuh diliputi perasaan tak tega itu mengikutinya naik ke loteng untuk membantu memindahkan kasur dan bantalnya. Dinda tak bisa tidur kalau kasur dan bantalnya berbeda.
Di depan kamar ibunya dan kamar Bram juga, Dinda berdiri tertegun. "Ada apa Din?" tanya Della cemas.
"Mumpung tak ada Om Bram, aku ingin menjenguk kamar itu lagi Tante."
"Kenapa?" tanya Bustaman dan Johan hampir berbarengan.
Tetapi Dinda tidak menjawab pertanyaan itu. Ia sudah memegang handel pintu. Ternyata pintu tak bisa dibukanya. Terkunci. "Wah, sekarang dikunci. Dia pasti mau mengamankan isinya." Dinda menggerutu.
"Sudahlah Dind," Della menariknya dari sana.
Ketika akan menuruni tangga, tatapan mereka berempat serempak tertuju kepada anak-anak tangga dibawah. Mereka melangkah dengan hati-hati, terutama Bustaman dan Johan yang menggotong kasur. Bahkan Johan yang pernah lama tinggal dirumah itu dan tentunya sudah akrab dengan tangga itu ikut merasa khawatir kalau-kalau terpeleset. Padahal dulu tak pernah ada perasaan itu. Ia biasa berlari, baik saat naik maupun saat turun. Dan ia tak pernah terpeleset atau tersandung.
****____****
__ADS_1