
Bram sedang menunggu Maya di meja makan sambil membaca koran. Di atas meja sudah terhidang sepiring roti panggang, telur rebus, bumbu-bumbu, dan dua cangkir kopi susu yang asapnya masih mengepul.
"Wah, cepat sekali mas," puji Maya.
"Aku sudah terbiasa, May. Tapi bukan aku yang cepat. Kau yang mandinya lama."
"Ah, masa? Biasa-biasa saja kok."
"Ayolah. Kita mulai?"
"Sudah lapar mas?" Maya tersenyum.
"Belum sih. Tapi buat apa kita duduk di sini kalau tidak segera mulai makan?"
Maya mengaduk-aduk isi cangkirnya. Kopi instan dengan susu murni. Ia teringat kepada cerita Dinda. Minuman terakhir yang diminum Lilis sebelum meninggal adalah minuman seperti ini. Persis sama. Dan sama-sama dibuatkan oleh Bram. Ia melepaskan sendoknya.
"Kenapa?" tanya Bram.
"Rasanya aku lupa mematikan keran habis mandi tadi. Aku lihat dulu ya?" Maya bergerak untuk berdiri.
"Jangan! Biar aku saja yang pergi. Kau tunggu disini kalau-kalau ada lalat ya?" Bram melangkah pergi dengan gerakan yang gesit.
Begitu Bram lenyap dari pandangan matanya, tangan Maya terulur kearah cangkir Bram.
Tak lama kemudian Bram kembali. "Semua keran sudah mati, May." ia melapor.
"Oh, sori Mas. Bikin kau capek saja."
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Hitung-hitung pengganti lari pagi yang hari ini tak kulakukan."
"Besok kan bisa lagi. Memang kau menyesal?"
"Tentu saja tidak. Kenapa aku harus menyesali hal seperti itu?" Bram mengaduk minumannya. Maya pun melakukan hal yang sama. Ketika Bram minum seteguk, ia pun minum sedikit. Kemudian Bram melahap telur rebusnya, berikut rotinya, lalu menghirup lagi minumannya sampai habis.
"Kau makan cepat sekali, mas. Apa enaknya makan begitu?" Maya baru menguliti telur rebusnya.
"Aku sudah terbiasa, May. Justru kalau berlama-lama malah hilang enaknya. Aduh!" Tiba-tiba Bram memekik kesakitan. Kedua tangannya mendekap dan menekan lambung. Posisi tubuhnya membungkuk. Saat berikut ia jatuh ke lantai. Tubuhnya semakin bungkuk. Kedua kakinya menekuk dengan lutut dibawah dagu. Sepasang tangannya memeluk kaki sambil menekannya ke perutnya. Dengan posisi tubuh seperti itu ia berguling-guling dan mengerang-erang. Wajahnya pucat menampakkan sakit yang luar biasa.
Maya terbelalak. Sejenak ia cuma berdiri mematung dengan kebingungan. Baru kemudian ia tersadar dengan kaget. Ia berlutut di samping Bram tapi tidak berani menyentuhnya. Kemudian Bram muntah-muntah, lalu mengerang-erang dan mengaduh-aduh. Maya meraih kepala Bram dengan takut-takut. "Mas... ke... ke... napa?"
Bram membelalak kepada Maya. Bola matanya terbalik-balik. Keringat dinginnya bercucuran bagai anak sungai. Kulitnya dingin. Ia membuka mulutnya tapi tak keluar kata-kata. Yang terdengar cuma erangan.
"Aku panggil dokter, ya Mas? Tunggu ya. Tahan." Maya melompat dan berlari ke pesawat telepon. Tapi orang pertama yang dihubunginya adalah Bagas.
"Tetapi Gas... polisi harus diberitahu lho."
"Ya. Tentu saja Om. Maukah om menolong? Saya ingin secepatnya mendampingi Tante. Kedengarannya dia histeris betul. Dia sendirian disana."
"Tentu saja. Pergilah. Nanti saya akan menyusul kesana."
Berita itu menggemparkan keluarga Johan dan keluarga Bustaman dihari Minggu pagi. Johan bersama Dinda, dan Bustaman bersama Della berangkat dari rumah masing-masing. Mereka tiba susul menyusul. Pintu gerbang sudah dibuka oleh Bagas sehingga memudahkan kendaraan segera masuk.
Tante Maya berwajah pucat dan bermata sembab. Dinda segera memeluknya. Terasa bagaimana tubuh Maya gemetar. Tapi Maya tidak banyak bicara. Ia cuma menunjuk dengan tangannya ketengah ruangan. Kondisinya nampak lemah dan syok. Tak ada yang menderanya dengan pertanyaan.
Bram sudah meninggal. Jenazahnya ditelentangkan diatas karpet. Posisi tubuhnya sudah lurus, kaki membujur, dan kedua tangannya dipasangkan di atas dada. Bustaman menyimpulkan kematiannya terjadi sekitar sejam sebelumnya. Bagas membenarkan hal itu. "Waktu saya datang. tubuh om Bram masih hangat. Napasnya masih ada tapi pelan sekali. Nadinya tak terasa. Tadi tubuhnya tidak seperti ini,om. Dia melengkung, kedua kakinya ditekuk dan tangannya memeluk kaki Sepertinya dia menahan sakit yang amat sangat. Kami tidak tega melihat tubuhnya seperti itu, maka kami merapihkan lebih dulu sebelum keburu kaku. Lalu kami menggotongnya kesini. Berat sekali. Tapi bisa juga. Kasihan membiarkannya terbaring dekat muntahan."
__ADS_1
"Apakah sisa muntahannya masih ada?" tanya Bustaman.
"Masih, om. Kami tahu itu perlu diperiksa apakah dia memang keracunan."
"Itu sudah pasti. Cuma masih perlu diteliti, racun apakah penyebabnya."
Johan datang bergabung setelah menelepon polisi. "Saya melaporkannya kepada pak Arman dari Komdak. Dia sudah memiliki semua pengaduan perihal Bram dimasa lalu, termasuk kasus hilangnya Frida. Sebentar lagi dia datang bersama tim nya."
Ketiga lelaki menatap sebentar kepada Maya yang duduk di sofa diapit oleh Dinda dan Della. Keduanya merangkul Maya dari kiri dan kanan. Jelas Maya masih terguncang.
"Waktu saya datang, Tante sedang menunggu diluar," Bagas menjelaskan. "Sikapnya tegang luar biasa. Dia gemetar hebat. Dia takut kepada om Bram dan juga merasa bersalah. Seharusnya dia berbuat sesuatu untuk menolongnya tapi dia kehilangan akal oleh rasa takutnya. Bukankah seharusnya dia yang mengalami seperti itu?"
"Ap maksud anda?" Bustaman belum mengerti.
"Tante sudah menukar cangkir mereka berdua. Yang diminum om Bram itu berasal dari cangkir yang semula berada di depannya. Sejak mendengar cerita Dinda, dia punya kebiasaan untuk menukar-nukar piring, mangkuk, atau gelas yang mereka gunakan. Mulanya dia berbohong bahwa ingin mengecek keran air diatas. Bram pergi dan Tante memanfaatkan kesempatan."
"Lalu Bram meminumnya tanpa curiga?"
"Betul. Dia meminumnya sampai habis. Tapi mungkin ada beberapa tetes sisanya. Semua makanan dan minuman masih utuh diatas meja."
"Aduh, Bu Maya benar-benar mujur," kata Johan dengan takjub. "Mungkin dia punya insting sepeka dengan Dinda."
"Memang benar, Om. Tapi Tante menganggap dirinya telah membunuh Om Bram. Kemungkinan polisi pun beranggapan demikian. Tak ada saksi yang melihat kejadiannya." Bagas berkata dengan murung.
Johan berpandangan dengan Bustaman. Mereka merasakan kebenaran dalam ucapan Bagas itu. "Jangan khawatir, Gas. Kamu akan mendukung Bu Maya sepenuhnya," Johan berjanji.
****____****
__ADS_1
Bantu like, komen, vote, n gift iklan nya yaaa makasih 😘😘