
Johan sangat senang bisa mengajak Dinda kerumahnya saat itu. Pekerjaan dibengkel sudah diaturnya dengan para montir. Ia memang sudah mempersiapkan sebelum pergi dengan maksud tak merasa terikat bila ia berhasil mengajak Dinda. Semula terpikir ia sudah merasa cukup senang bila bisa menjemput Dinda lalu mengajaknya makan. Karena perkembangannya seperti itu ia membeli lagi beberapa potong ayam berikut kentang goreng untuk dibawa pulang. Irene pasti senang dengan oleh-oleh itu. Hari ini Irene cuma bekerja setengah hari sebagai guru bahasa Inggris dibeberapa kelas khusus bahasa asing.
Di dalam hati Dinda menyimpulkan perbuatan ayahnya itu sebagai wujud dari cinta. Kalau ayajnya tidak mencintai Irene mustahil ingat untuk membawakan oleh-oleh? Cinta itu mendorong orang untuk memberi perhatian sebesar-besarnya. Mustahil ada cinta bila tak ada perhatian. Ingat saja tidak cukup. Ia suka kepada hal-hal yang romantis. Tapi anehnya ia tidak suka kepada hubungan ibunya dengan Bram meskipun mereka juga romantis.
"Apakah Tante Irene masih mengajar Yah?"
"Oh ya, masih. Tapi sekarang ia dirumah. Hari ini cuma setengah hari."
Sebenarnya ada banyak yang ingin ditanyakan Dinda mengenai perempuan bernama Irene itu. Bagaimana sebenarnya status hubungan kedua orang itu? Ia pernah mendengar cerita ibunya yang mengandung kecaman, bahwa kedua orang itu cuma hidup bersama. Ia tak ingat lagi kapan, mungkin setahun atau dua tahun yang lalu, ketika ia diperkenalkan ayahnya pada Irene. Cuma sekali-kalinya itulah ia melihat Irene. Tapi ketika itu ia tak begitu memperhatikan karena wawasan pikirannya belum seperti sekarang. Ia belum terbiasa apalagi terdorong kritis, seperti apa yang dilakukan terhadap Bram.
"Tahukah ia bahwa aku akan datang Yah?"
Johan menoleh dan tersenyum. "Tentu saja ia tahu bahwa aku bermaksud menemuimu. Tapi apakah kau jadi datang ke rumah ia belum tahu pasti. Ia senang sama kamu Dinda."
"Ah, masa? Kan ketemunya baru sekali. Mana mungkin."
"Mungkin saja. Yang seperti itu namanya simpati pada pandangan pertama."
"Tapi aku sekarang tidak sama lagi seperti aku yang dulu ketika berkenalan dengannya."
Johan menoleh heran. "Ah, masa iya. Dimataku kau masih tetap Dinda yang dulu kok. Oh, ya kalau maksudmu pertumbuhan, sudah tentu itu benar. Setiap orang tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. Apalagi orang seusiamu yang berkembang dengan pesat. Tetapi kau toh tidak berubah seluruhnya. Masih ada dirimu yang lama."
"Bagaimana dengan dirimu sewaktu bayi, Ayah? Apakah ciri-cirinya masih ada sekarang?"
__ADS_1
Mereka tergelak bersama. Rasanya jadi menyenangkan.
"Ngomong-ngomong, apakah Ayah pernah melihat Om Bram?"
"Tentu saja pernah."
"Kapan itu? Kok aku tidak tahu."
"Apakah Ibu tidak bercerita? Mereka berdua datang ke bengkel dan Ibu memperkenalkan Bram kepadaku. Mereka sekalian memberikan undangan."
"Lantas kenapa papa tidak datang?" seru Dinda. Seandainya ayahnya datang saat itu, tentu ia tidak perlu termangu-mangu sendirian.
"Ayah malu, Din. Makanya ayah cuma mengirim bunga saja. Maaf Ayah tidak meneleponmu ya? Ketika itu Ayah masih ragu-ragu bagaimana sebenarnya perasaanmu terhadap ayah. Ayah takut kau marah pada ayah seperti halnya ibumu."
"Tentu saja tidak Din. Sekarang ayah bahagia."
"Seharusnya ayah dari dulu menemuiku."
"Ya, memang seharusnya begitu. Tapi sekarang tidak terlambat kan? Ayah memang bodoh dengan kekhawatiran yang tidak beralasan."
"Aku juga mengira ayah melupakan aku karena sudah punya Tante Irene. Biasanya lelaki begitu."
Johan melirik dengan mengerutkan kening. Apakah maksud Dinda ini? "Nah, kau punya prasangka juga rupanya. Tapi tidak apa. Pangsa saja kau berprasangka buruk. Ayah memang suami yang buruk."
__ADS_1
"Tapi sebagai ayah tidak terlalu buruk, Yah." kata Dinda dengan nada menghibur. Sebenarnya ia menyadari ucapannya barusan. Bukan keinginannya menghakimi perbuatan ayahnya terhadap ibunya. Ia tidak ingin ikut campur masalah itu. Biarkan hak itu menjadi urusan kedua orang tuanya. Toh ia menghargai kejujuran ayahnya itu. Tak ada pembelaan diri. Memang benar, biasanya lelaki cenderung suka menyeleweng. Kalau ada yang setia maka bisa jadi itu disebabkan karena memang tidak punya kemampuan atau kesempatan untuk menyeleweng. Seorang pengarang berkata begitu. Jadi bukan orisinil pemikiran Dinda sendiri. Ia mempercayai pemikiran itu.
"Terimakasih Din. Tapi terus terang saja. Seorang suami yang buruk sukar menjadi ayah yang baik. Perpisahan itu saja sudah penghalang. Ayah sudah mengalaminya."
"Sudahlah, jangan bicarakan soal itu lagi, Yah. Nggak enak."
"Baiklah. Memang tidak enak."
Di depan sebuah rumah yang sederhana tapi halaman cukup luas dibanding besar rumah Lilis, Johan menghentikan mobil. "Itu rumah Ayah, Din. Sebentar ya, Ayah buka pintu pagar dulu." Ia turun dari mobil lalu membuka pintu lebar-lebar. Saat berikutnya mobil meluncur memasuki halaman.
Dinda memandang ke sekitar. Ia baru kali ini ke tempat ini. Biasanya ia bertemu dengan ayahnya di bengkel. Menurut pendapatnya rumah itu cukup menyenangkan. Tentu saja ayahnya bukan orang kaya hingga terasa tidak janggal. Justru seandainya ayahnya yang ia tahu tidak kaya itu memiliki rumah mewah, maka itu menandakan kejanggalan. Dan biasanya apa yang nampak janggal itu merupakan pertanda ketidakberesan, entah pada situasi dan kondisi atau pada orang sendiri. Entah di buku yang mana ia membacanya.
Lalu seorang perempuan tergopoh-gopoh keluar. Wajahnya penuh senyum. Ia berkulit putih, bertubuh ramping dan sedikit lebih tinggi daripada Dinda. Wajahnya cantik, berhidung mancung, bermata cokelat dan berambut cokelat pendek serta ikal. Jelas ia orang indo. Beberapa saat lamanya Dinda mengagumi penampilan Irene. Ia sangat maklum kenapa ayahnya tertarik pada Irene. Perempuan itu memiliki daya pikat yang tinggi. Dinda merasakannya karena ia merasa senang berada didekat Irene, padahal waktunya baru sebentar. Terpikir, alangkah berbedanya Irene dengan ibunya. Tentu ibunya juga cantik, tapi ada perbedaan yang cukup mencolok berupa keunikan diri masing-masing. Dulu ia mungkin tak bisa membedakan. Tapi sekarang terasa dengan jelas. Irene lebih kelihatan intelek, cerdas dan punya tenggang rada yang tinggi dengan humor yang tinggi juga. Sementara ibunya kebalikan dari itu semua. Dinda jadi merasa bersalah dengan pikiran itu. Bagaimana pun, ibunya tak bisa dibandingkan dengan perempuan lain. Sesungguhnya ia juga tidak tahu apa saja keburukan dan kekurangan Irene, yang pasti dimilikinya, karena ia belum gitu mengenalnya.
"Wah, kau sudah tinggi ya?" seru Irene, menepuk pundak Dinda. "Setahun atau lebih kau pasti akan lebih tinggi daripada aku. Kau seperti ayah mu, tinggi."
"Ah, aku tidak mau terlalu tinggi, Tante. Nanti kaya galah, dong."
Mereka tertawa.
****____****
Selamat menikmati bacaan nya,,, insyaallah 3 Bab yaaa setiap Senin-Sabtu ajah. Minggunya mau bobo.
__ADS_1