
"Betul sekali Pak. Hal itu juga sudah kamu bicarakan. Entahlah. Keputusan terakhir ada padanya. Dia yang menempati. Bukan saya."
"Tapi ibu yang membelikan." Ucapan Bram bernada kekaguman.
Perempuan itu tertawa. Tawanya seperti pertanyaan merendah.
Bram segera mengulurkan tangannya. "Nama saya Bram, Bu".
"Maya Widiawati," perempuan itu menyambut. Lalu ia menyikut pemuda di sampingnya. "Kenalkan. Ini keponakan saya, Bagas."
Bram mwlihat seorang pemuda yang tampan dengan sepasang mata yang cerdas. Bagas mengangguk sopan dan menjabat tangan Bram dengan erat. "Ini direktur kami," kata staf Bram yang barusan memberi penjelasan kepadanya.
Bram mengeluarkan kartu namanya dan memberikan kepada Maya. Lalu Maya pun membuka tasnya dan ganti memberikan kartu namanya sendiri. Disitu Bram membaca alamat, nomor telepon, dan juga profesi Maya. Perempuan itu pemilik sebuah salon kecantikan dan butik.
Selanjutnya Bram menyilahkan mereka duduk dan menyuruh stafnya mengambil minuman. Rupanya Maya dan Bagas tidak terburu-buru ingin pergi ke tempat lain, karena mereka menerima tawaran Bram. Mereka melanjutkan perbincangan dengan lebih serius. Sementara di stan pameran yang berseberangan, yang barusan dilihat-lihat oleh Maya dan Bagas, beberapa orang penjaganya memperhatikan dengan tatapan iri. Seorang calon pembeli telah digaet saingan.
Tetapi bagi Bram, perlakuan ramahnya kepada Maya bukan cuma karena menghadapi calon pembeli yang serius. Sebelumnya ia sudah jatuh hati. Yang masih meragukan hanyalah status Maya. Istri orangkah dia? Perempuan secantik dan sekaya itu tentunya takkan dibiarkan sendirian oleh para lelaki, lebih-lebuh oleh "pemburu" seperti dirinya. Tapi ia pun harus cermat menjaga hatinya sendiri. Jangan sampai ia terpikat pada istri orang.
Akhirnya Maya dan Bagas pamitan setelah mengatakan ingin melihat langsung lokasi sebelum memberikan keputusan. Tentu saja itu merupakan permintaan yang wajar. Bram akan merasa heran kalau mereka tidak memintanya. Mereka membuat janji, kapan waktu yang paling baik untuk kedua belah pihak. Bram ingin menanganinya sendiri meskipun ia bisa saja menyerahkan kepada stafnya. Maka ia menawarkan diri untuk menjemput kedua orang itu di kediaman mereka pada waktu yang sudah disepakati.
"Wah, kami tak perlu dimanjakan seperti itu, pak," kata Maya sambil tersenyum.
Bram tersipu tapi menjawab cepat, "Ini merupakan pelayanan kami, Bu."
__ADS_1
"Bagaimana kalau tak jadi membeli?"
"Tak jadi pun tak apa-apa. Kami maklum kok. Mungkin Ibu berhasil mendapatkan yang lebih berkenan," kata Bram dengan gaya salesman yang berpengalaman.
Maya tidak menolak usul Bram itu. Ia menyampaikan terimakasih dengan sikap yang memikat. Ketika ia pergi tanpa mampir ke stan lainnya, Bram terus memandangi dan mengagumi bagian belakang tubuh indah Maya. Sebelum berbelok, tiba-tiba Maya menoleh lalu tertawa dan melambaikan tangannya ketika mendapati Bram masih berdiri memandanginya. Bram tersipu dengan muka memerah. Tapi ia sempat membalas lambaian Maya. Setelah Maya tak kelihatan lagi, Bram pun melangkah cepat-cepat untuk menyusul kepergian Maya bersama Bagas. Ia menahan langkahnya ketika kemudian melihat kedua orang itu. Ia cuma ingin tahu kendaraan jenis apa yang digunakan mereka.
Ketika ia melihat mereka memasuki sebuah mobil dari merk mahal ia tersenyum puas. Ia merasa optimis meskipun berusaha menekan harapannya agar tidak terlalu melambung. Jangan girang dulu. Siapa tahu perempuan itu bersuami atau sudah punya kekasih. Dan benarkah Bagas itu cuma seorang keponakan? Wajarkah tindakan Maya membelikan rumah bagi seorang keponakan? Hanya ada dua penyebabnya. Maya sangat menyayangi keponakan dan ia memiliki uang berlimpah.
Pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab itu membuat semangat Bram meninggi. Ia pasti akan mengetahui jawabannya tak lama lagi.
****
Ketika menjemput Maya dan Bagas di rumah mereka, Bram tercengang melihat kemewahan rumah yang ditempati. Rumah itu tidak terlalu besar tapi dibangun dengan selera tinggi. Arsitektur indah dan bahan bangunannya kelas satu. Ia menyatakan kekagumannya dengan terus terang.
"Oh, maaf Bu. Apakah saya menyinggung perasaan anda?" Bram berkata dengan sikap sendu juga padahal dalam hati ia tertawa girang.
"Ah, tidak apa-apa Pak." Maya tersenyum menenangkan.
"Sebenarnya kita senasib, Bu. Saya pun belum lama ditinggal istri saya. Belum ada setahun."
"Oh ya?" mata Maya bersinar dengan sorot simpati. "Pasti kesedihan anda masih tebal. Lebih tebal daripada saya, karena kepergian suami saya sudah lebih dari dua tahun. Saya sudah bisa menerima keadaan. Nasib seperti ini bukan cuma saya saja yang mengalami. Maut bisa merenggut siapa saja, kapan saja."
"Betul sekali Bu. Tapi yang berat itu kan rasa kehilangan. Pasrah sih pasrah, tapi rasa kehilangan tak bisa segera hilang."
__ADS_1
"Kalau begitu, Anda tentu sangat mencintainya." Maya berkata dengan sikap respek.
"Ya, Bu. Ah, sebaiknya kita tidak membicarakan hal itu."
Maya menggangguk. "Setuju, Pak. Kehidupan ini harus tetap kita jalani, bukan?"
Mereka berangkat dengan menggunakan kendaraan Bram. Sebelum pergi ia sempat melihat bahwa sedan mewah Maya berada di garasi. Ada dua mobil disitu. Selain sedan, satunya lagi sebuah Toyota Kijang. Ia menduga, Kijang itu pastilah kendaraan yang biasa dipakai Bagas. Pemandangan itu cukup untuk menguatkan perkiraannya semula bahwa Maya seorang yang kaya. Ah, tepatnya janda yang kaya.
Dalam perjalanan, Bagas berinisiatif duduk dibelakang hingga Bram yang mengemudi jadi berdampingan dengan Maya. Bram merasa senang dengan sikap Bagas itu yang dinilainya sebagai sikap tahu diri. Bagas memang tak banyak bicara kecuali seperlunya dan kalau ditanya. Sesekali Bram menatapnya lewat kaca spion. Ia menganggap Bagas seorang anak muda yang simpatik dan bisa menempatkan diri. Tak mengherankan kalau Maya menyayanginya.
Belakangan Maya menjawab keingintahuan Bram. "Bagas adalah anak kakak sulung saya yang sudah meninggal ketika ia masih kecil. Saya mengasuhnya sejak kecil. Boleh dikata dia seperti anak saya sendiri. Apalagi saya tidak punya anak."
"Ibu mengadopsinya?" tanya Bram.
"Belum terpikir, tuh. Habis ayah kandungnya masih ada. Dia pasti tidak setuju. Saya kira yang paling penting bagi Bagas adalah kasih sayang. Bukan formalitas atau resmi-resmian."
"Ya, itu betul sekali Bu," kata Bram dengan respek.
Menyadari hubungan erat Bagas dengan Maya maka Bram pun memberikan perhatian penuh kepada anak muda itu. Dalam waktu singkat ia berhasil mendekatkan diri kepada Bagas. Ia sudah tahu, bahwa jalan yang paling singkat dan tepat untuk merebut hati Maya adalah lewat Bagas.
Selanjutnya, upaya Bram menawarkan rumah untuk dibeli tidak lagi maksimal seratus persen melainkan sudah terbagi. Sebagian lainnya adalah upaya untuk menonjolkan dirinya. Rumah tak begitu penting lagi. Seandainya dia bisa berterus terang, maka pastilah dia akan berkata tanpa malu, "pilihlah aku, bukan rumah ini!"
****___****
__ADS_1