Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 77


__ADS_3

Hari Minggu pagi itu Dinda menunggu-nunggu kedatangan Bagas seperti biasanya. Bagas suka datang pagi, antara jam delapan sampai jam sembilan. Menurut pengakuan Bagas, ia terbiasa bangun pagi dan paling senang beraktivitas dipagi hari. Sedang Dinda sendiri juga terbiasa dengan hal yang sama. Ia masih tetap rajin dengan latihan-latihan kungfunya. Apalagi sekarang ia berdua dengan ayahnya, hingga ada yang mendorong semangatnya. Tetapi hari itu sampai jam sepuluh Bagas belum muncul juga. Dinda menjadi gelisah. Bila berhalangan pastilah Bagas menelepon dulu.


"Kau saja yang menelepon, Dinda. Siapa tahu teleponnya lagi rusak," Johan menganjurkan.


Dinda mengikuti anjuran itu. Yang menerima teleponnya adalah pembantu. Ia sudah mengenalnya karena pernah berkunjung ke rumah Tante Maya beberapa kali. "Oh, Non Dinda. Pak Bagas belum bangun, tuh. Biasanya sih sudah bangun jam segini. Entah kenapa sekarang belum."


"Tante Maya?"


"Sama, non. Belum bangun juga."


Dinda berpikir sebentar. "Saya bermaksud meminjam majalah sama mas Bagas."


"Kalau begitu, datang saja kesini, Non."


"Iya deh. Tapi belum pasti, ya Bi."


Kemudian Dinda menyampaikan niatnya itu kepada ayahnya. "Kayanya sih mas Bagas tidak akan datang, Yah. Sudah siang sih. Tapi aku mau mengambil majalah yang dia janjikan saja."


"Mari kuantarkan Dinda. Bagaimana kalau sekalian saja kita jalan-jalan bertiga? Kita kerumah Bagas dulu. Dari sana kita jalan-jalan, lalu cari makanan. Sudah lama sekali kita tidak pergi bertiga di hari Minggu," Johan mengusulkan.


Dinda setuju. Demikian pula Irene. Dalam waktu setengah jam mereka sudah dalam perjalanan. Dan seperempat jam kemudian rumah Tante Maya sudah dicapai. Kondisi jalan yang sepi seperti biasanya dihari Minggu membuat mereka lancar saja dalam perjalanan.


Dinda turun sendiri. Ayahnya bersama Irene memutuskan untuk menunggu di mobil. Bila semua masuk rumah maka kesannya seperti bertamu, padahal sudah jelas penghuni rumah masih tidur atau tidak siap menerima tamu.

__ADS_1


Pembantu membukakan pintu. "Masuk saja, Non. Masih belum bangun tuh."


"Nggak apa-apa, Bi. Saya cuma mau ambil majalah saja, terus pergi lagi."


"Non sudah tahu tempatnya? Bisa cari sendiri?"


"Saya sudah tahu, Bi. Di loteng kan?"


"Non naik saja sendiri ya? Saya lagi sibuk di dapur."


Pembantu meninggalkan Dinda sendirian. Ia bergegas menaiki loteng. Ia pernah diajak ke situ oleh Bagas untuk diperlihatkan koleksi buku dan majalah komputernya.


Suasana sangat sepi. Ia sengaja melepaskan sepatunya dibawah tangga langkahnya tidak menimbulkan suara. Di loteng ia langsung menuju kesudut dimana terdapat ruang kerja Bagas. Sepanjang satu sisi dinding berhadapan dengan meja dan kursi terdapat rak buku. Ia ke sana dan mulai mencari majalah komputer yang terbaru. Tetapi ia tidak menemukannya. Pandangannya berkel. Di atas meja terdapat peralatan komputer Bagas. Mejanya rapi sekali. Ia tidak berani mengacak-acak. Akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri pencarian. Rasanya kurang enak mencari sendiri seperti itu padahal orangnya tidak tahu.


Ia memilih sebuah pintu yang letaknya paling dekat ke ruang kerja Bagas. Pelan-pelan ia memutar handel pintunya. Tidak dikunci. Ia jadi berdebar ketika teringat bahwa dulu Bram pernah melakukannya seperti itu. Ia membuka pintu sedikit saja, sekedar cukup untuk memasukkan kepalanya. Segera kesejukan udara kamar yang dipasang pendingin menerpa tubuhnya. Meskipun hari sudah cukup siang, tapi suasana temaram dan redup karena gorden tebal menutup jendela. Tetapi Dinda masih bisa melihat obyek-obyek didalamnya. Untuk beberapa saat matanya melotot kearah tempat tidur. Ia mengira telah salah membuka kamar orang lain, yang seharusnya tidak dibukanya. Wajahnya menjadi panas. Ia terkejut dan malu oleh perasaan telah melakukan kesalahan besar. Mulutnya dibekapnya dengan tangan supaya tidak sampai keluar suara-suara yang tidak dikehendaki.


Diatas ranjang ada dua orang. Maka untuk sesaat ia merasa pasti itu bukan kamar Bagas atau kamar Tante Maya. Mungkin orang-orang itu tamu yang menginap. Ia bermaksud menarik kembali kepalanya dan buru-buru pergi dari situ sebelum ketahuan. Tetapi pada saat berikutnya ia membatalkan niatnya dan kembali melotot. Matanya sudah semakin terbiasa oleh suasana didalam kamar. Sekarang ia sudah bisa mengenali sosok-sosok diatas ranjang. Kedua orang disana adalah Bagas dan Tante Maya!


Kesadaran itu memukulnya dengan sangat hebat. Ia merasa syok. Tubuhnya menjadi dingin lalu gemetar. Susah betul baginya untuk memalingkan mata. Ada rasa tak percaya akan apa yang dilihatnya. Bagaimana mungkin dua orang itu, Tante dan keponakan, tidur bersama? Mereka berdua menutup tubuh dengan satu selimut. Dati keadaan selimut yang tertarik ke bawah bisa dilihat bahwa mereka tidak berpakaian. Posisi keduanya pun berangkulan. Malu! Malu! Dinda menjerit dalam hati. Ia membekap mulutnya semakin erat. Jangan sampai jeritan itu terlontar keluar.


Akhirnya dengan memaksa diri ia menarik kepalanya lalu menutup pintu. Tubuhnya sangat lemas. Bahkan untuk menutup pintu pelan-pelan pun dibutuhkan usaha yang tidak gampang. Toh ia berhasil. Sesudah itu ia berjongkok sebentar untuk memulihkan tenaga. Karena rasa takut kalau-kalau ketahuan ia cepat berdiri menuruni tangga dan selamat sampai di bawah.


"Nooon...! Sudah ketemu majalahnya?" seru pembantu yang melihatnya.

__ADS_1


"Tidak ketemu, Bi. Saya pulang saja ya? Terimakasih."


Dinda sudah berlari keluar sebelum


pembantu sempat bicara lagi. Si pembantu bengong sebentar. Setelah berpikir sejenak ia memutuskan untuk tidak menceritakan kejadian itu kepada Bagas. Baru sekarang ia menyadari bahwa telah membiarkan Dinda mengambil sendiri barang Bagas. Bagaimana kalau ada yang hilang? Jadi lebih aman kalau ia menutup mulut.


Johan dan Irene sangat terkejut melihat wajah Dinda yang pucat. Begitu masuk ke mobil, Dinda menjatuhkan dirinya di jok belakang. Kedua kakinya di tekuk hingga ia bisa berbaring miring.


"Kenapa, Dinda?" tanya Johan. Irene cepat keluar dari mobil untuk pindah ke belakang. Ia berjongkok dekat Dinda lalu mengusap-usap kepalanya. "Ada apa Dinda?" tanyanya lembut.


"Jalan dulu saja, Yah! Jalan! Cepat! Cepat!" seru Dinda sambil memukul-mukul jok dengan tinjunya.


Sesaat Johan berpandangan dengan Irene. "Baiklah. Jalan dulu saja, Mas," kata Irene. Ia pun menutup pintu lalu duduk di samping kaki Dinda.


"Kemana?" tanya Johan seperti orang bodoh.


"Pokoknya jalan sajalah. Menjauh dari sini," sahut Irene.


Johan menjalankan mobil menuju arah rumahnya. Dalam keadaan seperti itu kiranya paling baik bila mereka pulang saja. Beberapa menit setelah mobil berjalan Dinda bangkit tapi hanya untuk mengubah posisi. Sekarang kepalanya berpindah ke pangkuan Irene. Kedua tangannya memeluk pinggul Irene. Lalu ia menangis tersedu-sedu. Irene membelai-belai kepalanya dan memutuskan untuk tidak bertanya dulu. Ia meraih tisu dan menyodorkan kepada Dinda yang menerima tanpa menghentikan tangisnya. Johan mengamati dari kaca spion atau menoleh ke belakang setiap ada kesempatan. Irene memberi tanda agak ia tidak banyak bertanya. "Sebaiknya konsentrasi ke depan saja, mas."


"Tapi Dinda..."


"Berikan kesempatan pada Dinda untuk melampiaskan emosinya."

__ADS_1


****____****


__ADS_2