
Tinggal serumah, betapa pun usahanya menghindar, ternyata tak bisa mengamankan dirinya. Ada saja saatnya ia berpapasan dengan Bram. Walaupun disertai kehadiran ibunya, Bram berani melemparkan tatapan cemooh kepadanya. Tentunya pada saat ibunya tidak melihat. Dan bagaimana pun ia berusaha untuk tidak melihat, tetap saja tatapan intens Bram menarik matanya. Ketika ia balas menatap dan menantang nya dengan sorot kebencian, menampakkan segenap perasaan yanv sesungguhnya, Bram pun tersenyum dan kelopak matanya berkedip-kedip. Senyumnya semakin lebar saja!
****
Hari-hari sesudah ia mengatakan "ya" kepada Bram, Lilis merasa dirinya diperlakukan seperti ratu. Bram melimpahkan dengan perhatian dan kasih sayang yang kadang-kadang terasa terlampau banyak. Lilis merasa terbuai dan bahagia. Sepertinya ia berada di alam mimpi, atau suatu keadaan yang tidak riil. Ia tidak lagi menyesal, atau merasa was-was barang sedikit pun, karena telah menyerahkan seluruh harta yang dimilikinya ke tangga Bram. Deposito nya menjadi nihil dan rumahnya tergadai. Dan ia pun belum melihat gantinya dalam bentuk safe-deposit sebuah bank yang namanya saja tidak disebutkan. Katanya, saham itu aman dan terjamin disana dibandingkan disimpan di rumah. Bagaimana kalau rumah kedatangan perampok atau terbakar? Lilis percaya sepenuhnya.
"Nanti bunga Bank menjadi tanggungan ku dan keuntungan yang didapat ku transfer didalam tabunganmu. Lihatlah nanti, bagaimana tabunganmu akan membengkak." Bram menjanjikan dengan penuh keyakinan.
Dinda sempat merasa heran melihat ibunya begitu cerah bagaikan kejatuhan rezeki besar. Lilis sering melamun dengan wajah penuh senyum. Senandungnya memenuhi udara rumah. Bi Iman juga keheranan dan melaporkan nya kepada Dinda. "Ibu lagi senang."
"Kenapa ya Bi?"
"Memangnya Non nggak tahu?"
"Wah, kalau tahu masa tanya, sih."
"Saya juga nggak tahu Non. Mana mungkin saya bisa tahu kalau Non saja nggak tahu. Barangkali..." Bi Imah cepat-cepat menutup mulutnya dengan rupa khawatir.
"Barangkali apa, Bi?"
"Eh, nggak apa-apa Non. Saya cuma keselip lidah."
"Ayo, dong bilang Bi. Nggak apa-apa selip lidah juga. Aku janji nggak akan bilang orang lain."
Semula Bi Imah tetap menolak memberitahu apa yang terpikir olehnya barusan, tapi Dinda mendesak terus, membujuk dan setengah mengancam. Akhirnya Bi Imah kewalahan. "Betul janji ya, Non. Jangan bilang siapa-siapa. Apalagi sama ibu. Waduh, saya bisa diusir."
"Aku janji, Bi. Buat apa bilang-bilang. Kita kan bebas berpikir."
"Jangan-jangan ibu hamil, Non!" bisik Bi Imah setelah menengok kanan kiri lebih dulu.
__ADS_1
"Apa?" pekik Dinda. Tapi ia cepat tersadar setelah melihat Bu Imah menjadi pucat. Ia segera menepuk pundak Bi Imah untuk menenangkan nya. Bi Imah terduduk lemas. "Aduh, Non. Jangan lupa sama janjinya ya," ia mengeluh takut.
"Tentu, Bi. Ini cuma diantara kita saja. Tapi mana mungkin Bi. Ibu kan sudah tua. Umurnya sudah 37, lho."
"Umur empat puluh saja masih bisa punya anak Non."
"Betul, Bi?" Dinda menegaskan dengan cemas. Seandainya dugaan Bi Imah itu benar, betapa celaka jadinya. Itu berarti ibunya terikat lebih erat dengan Bram disamping ketambahan beban harus mengurus bayi. Dan Bram punya alasan untuk bertahan terus dirumah itu. Ia mengeluh dalam hati. Masalah seperti itu tak pernah terpikir sebelumnya. Ia mengira ibunya tam mungkin bisa punya anak lagi. Seorang adik yang berayahkan Bram pasti akan menjadi monster. Dan dia akan menjadi pengasuhnya kelak. Uh, betapa buruk nasib seperti itu. Seandainya benar demikian, perlukah ia bertahan terus dirumah itu? Ia menjadi sedih dengan tiba-tiba.
"Kenapa Non?" tanya Bi Imah cemas ketika melihat air mata Dinda.
Dinda cepat-cepat mengeringkan matanya. "Nggak apa-apa Bi. Tapi aku nggak percaya tuh. Kalau benar, masa Ibu nggak bilang-bilang."
Bi Iman mengangguk. "Betul Non. Belum tentu bener," katanya dengan nada menghibur. Ia tahu Dinda tidak menyukai kemungkinan itu.
Tetapi Dinda tetap merasa cemas. Seandainya persangkaan itu benar, ibunya tentu akan memberitahu nya. Tapi pasti tidak sekarang, ketika gejalanya belum nampak. Ibunya pasti bisa memperkirakan bagaimana reaksinya. Nanti kalau perutnya sudah membuncit barulah ia akan merasa terpaksa untuk memberitahu.
"Tapi itu baru dugaan Bi Imah," kata Della setelah berpikir. "Jadi belum tentu benar. Orang yang sedang gembira kan penyebabnya bisa macam-macam. Kau jangan risau dulu, Din."
"Apa betul ibu bisa hamil lagi, Tante?"
"Tentu saja bisa kalau dia masih subur. Demikian pula Om Bram."
Dinda menjadi muram. Kegembiraan macam apa lagi yang kiranya bisa menjadi penyebab?
"Mungkin ibumu menang undian, Din," Della menebak. "Atau Om Bram mendapat untung besar."
"Kalau memang begitu, tentu ia membeli sesuatu, Tante. Entah mobil baru, perhiasan baru, perabot baru, atau barang baru lainnya. Tapi tak ada sesuatu yang baru dirumah."
Della tidak tahu mesti bilang apa. Sesaat terpikir anak ini memang sedikit aneh. Segala yang lain daripada biasanya jadi bahan pemikiran yang intens. Bukankah kerisauan mengenai sesuatu yang belum pasti malah jadi menyiksa diri sendiri? "Tenanglah, Din. Kalau memang perkiraan itu benar, cepat atau lambat ia pasti akan memberitahuku. Tapi rasanya janggal kalau ia menunggu lama sebelum memberitahu. Mestinya aku adalah orang pertama yang dikabari begitu tahu dirinya hamil."
__ADS_1
Dinda sedikit lega. "Jadi Tante tidak begitu yakin?"
"Ya."
"Syukurlah kalau memang tidak begitu."
"Ah, rupanya kau tidak senang mendapat adik Din?"
"Bukan persoalan itu, Tante. Siapa dulu bapaknya."
Sahutan yang sedikit ketus itu mengejutkan Della. Ia disadarkan kembali akan kebencian Dinda kepada Bram. "Bagaimana dengan pintu kamarmu itu Din? Sudah merasa aman sekarang?"
"Oh, sudah Tante. Aku bisa tidur lelap sekarang. Dia pasti sudah tahu bahwa pintuku tak bisa dibuka lagi. Jadi buat apa capek-capek?"
"Dia siapa, Din?"
"Siapa lagi, Tante." Dinda segera menceritakan pengalamannya sewaktu mengintip lewat lubang angin di kamarnya. "Dirumah kan, tidak ada orang lain Tante. Bi Imah tidak mungkin melakukan hal itu. Apalagi ibu. Aku memang tidak melihatnya sewaktu berada didepan pintu kamarku. Tapi cuma dia satu-satunya orang yang gentayangan disaat itu dan pintu kamarnya berseberangan."
Wajah Della menjadi merah karena marah. Ia percaya sepenuhnya kepada Dinda. "Lelaki bejat!" ia memaki.
Kemarahan Della membuat Dinda risau. "Jangan beritahu ibu, Tante. Kalau diberitahu pun ia takkan percaya. Jadi percuma. Nanti kita malah disangka memfitnah. Ibu sangat mencintai lelaki itu. Dalam keadaan seperti itu, mana mungkin ia bisa melihat keburukannya?"
"Kau bicara seperti orang dewasa saja Din. Apa kau bisa mengatasinya nanti? Terus terang aku sangat cemas memikirkan ulahnya itu."
"Aku sangat ingin menendangnya Tante."
****____****
to be continued 😂
__ADS_1