Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 58


__ADS_3

Siang itu Dinda turun dari mobil ayahnya sepulang sekolah. Johan tidak mampir karena suasana dibengkelnya sangat ramai. "Daaag... Ayah!" seru Dinda sambil melambaikan tangan. "Daaag.. juga, Dind!" Johan balas melambai. Kemudian mobilnya melesat pergi.


Dinda berdiri sejenak memandang mobil ayahnya. Lalu tatapannya beralih sesaat ke sebuah mobil kijang yang tengah diparkir tak jauh dari rumahnya. Pengemudinya duduk saja didalamnya. Dinda merasa si pengemudi sedang memandanginya, tapi kemudian ia bersikap tak peduli. Ya, mungkin saja ia memang layak dipandangi, pikirnya. Dengan seragam SMA nya, putih dan abu-abu, ia merasa lebih dewasa. Sedikit bangga ia melirik pakaiannya yang masih baru lalu melangkah ke pintu.


"Dindaa! Dindaa!"


Dinda menoleh ke arah suara. Ibu Leli, tetangga sebelah rumah, menggapai kepadanya. "Kesini sebentar, Dind!"


"Ada apa Tante?" tanya Dinda setelah mendekat.


Perempuan yang sebaya ibunya itu menatapnya kritis sejenak. "Aduh, kau sudah SMA sekarang, Dinda?"


"Sudah dong Tante. Kalau belum masa pakai baju begini." Dinda tertawa. Ibunya tidak begitu menyukai ibu Leli. Mereka berdua kurang akur dan jarang bicara. Ia sendiri pun jarang sekali ditegur ibu Leli. Tetapi setelah ibunya meninggal perempuan itu bersikap manis kepadanya. Ia tetap menjaga jarak karena tahu apa yang diinginkan ibu Leli darinya. Perempuan itu ingin memuaskan keingintahuannya mengenai keluarganya dan juga dirinya sendiri.


"Kau tambah cantik saja Dind. Sudah lama Tante tidak melihatmu. Mestinya kamu main sesekali kesini dong. Masa sendirian saja."


"Saya tidak sendirian Tante. Kan ada Bi Imah."


"Ya. Tapi dia kan pembantu."


"Tidak apa-apa, Tante. Bila perlu bantuan, saya boleh lari minta tolong sama Tante kan?" Dinda tersenyum manis. Gayanya menyanjung.


Ibu Leli pun tersenyum senang. "Ya. Tentu saja boleh. Kalau bukan tetangga yang paling dekat, siapa lagi yang bisa menolong? Tapi kau harus akrab dong. Jangan mengucilkan diri."


"Saya bukan mengucilkan diri, Tante. Saya sibuk."


"Sibuk apaan sih?" Ibu Leli membelalakkan matanya. Keingintahuan jelas membayang diwajahnya.


"Mengurus rumah Tante. Saya permisi dulu ya?" Dinda kembali tersenyum manis.


"Hei, tunggu dulu! Buru-buru amat sih, Dind. Tunggu. Ada hal penting yang mau ku sampaikan. Aduh kok jadi lupa."

__ADS_1


"Hal penting apa, Tante?" Dinda menjadi serius.


Ibu Leli menatap kejalan sebentar. "Ngomong nya jangan disini Dind. Yuk didalam."


Dinda setuju diajak duduk di teras. Dia percaya ibu itu punya informasi penting. Tidak biasanya ia berlagak seperti itu.


"Tadi orang itu ada diluar, Dinda. Ya saya yakin memang itu mobil kijangnya."


"Orang apa? mobil Kijang apa Tante? Ayolah ceritakan."


"Tadi kau lihat ada mobil kijang diparkir disana?" ibu Leli menunjuk arah dengan tangannya.


"Ya, saya lihat."


"Pengemudinya pernah bertanya kepadaku soal pak Bram dan ibu mu. Dia tanya apa benar disini rumah mantan istri pak Bram yang bernama Lilis? Kujawab iya. Dia mengenalkan diri sebagai kerabat pak Bram yang sudah lama tak bertemu. Entah benar, entah bohong. Dia banyak bertanya tentang pak Bram dan Lilis. Sayangnya saya tak mungkin bisa menjawab semua pertanyaannya. Makan kukatakan, kenapa dia tidak bertanya kepadamu saja sebagai anak Bu Lilis. Tentunya kau lebih tahu. Katanya dia malu sama kamu. Rupanya dia datang lagi tuh. Heran kenapa dia diam saja disana. Apa masih malu ya?"


Dinda menjadi benar-benar serius. "Katanya dia kerabat Om Bram?"


"Tapi kok dia masih diam saja Tante?"


"Mungkin malu atau gimana. Orangnya masih muda dan sopan, Dind. Tante yakin dia tidak berniat jahat."


"Siapa sebenarnya yang dia cari, ibu atau Om Bram?"


"Pasti bukan ibumu. Dia tahu bahwa ibumu sudah tiada."


"Kalau begitu dia mencari Om Bram. Apa Tante tidak memberitahu bahwa Om Bram sudah pindah?"


"Oh dia tidak mencari Pak Bram kok. Dia tahu bahwa pak Bram tidak tinggal bersamamu lagi."


"Lho aneh." Tapi segera setelah mengucapkan kata itu, Dinda menyesal. Tidak sepatutnya ia memperlihatkan perasaannya didepan Bu Leli. Ucapannya itu membuat Bu Leli menjadi lebih ingin tahu. Maka ia mengangkat bahu. "Masa bodoh ah. Itu bukan urusan kita, bukan?"

__ADS_1


Dinda pamitan setelah mengucapkan terima kasih. Tapi sebelum melewati pintu pagar, Bu Leli memegang lengannya. "Apa pak Bram pernah menghubungimu lagi Dind?" tanyanya.


"Belum Tante. Kenapa? Apa Tante pernah ketemu dia?"


Bu Leli menggeleng. "Ah, tidak." Sebenarnya a masih ingin bertanya, tapi sikap Dinda membuatnya segan.


Ketika Dinda ke jalan ia melihat mobil itu masih disana. Ia sangat ingin tahu. Informasi mengenai Bram pasti berharga sekali. Sejak angkat kaki dari rumahnya tak pernah ada kabar berita mengenai Bram. Padahal kasus lenyap nya Frida masih misterius. Sayangnya kecurigaan mereka terhadap Bram tak punya kekuatan hingga tak bisa disampaikan kepada orang lain, lebih-lebih kepada polisi.


Dinda sengaja berlama-lama membuka pintu pagarnya. Diam-diam ia melirik dan mengamati. Pengemudi mobil itu belum keluar dari mobilnya. Tak jelas apa yang dilakukannya karena kaca mobil agak gelap. Ia berharap si pengemudi segera menemuinya untuk menyampaikan sendiri apa sebenarnya yang dikehendakinya. Mestinya orang itu tak begitu saja parkir tanpa tujuan.


Kemudian muncul rasa herannya. Kenapa orang itu tak segera keluar menemuinya kalah memang ingin bicara? Ia menjadi was-was. Seharusnya ia berhati-hati. Siapa tahu orang itu justru suruhan Bram yang berniat jahat kepadanya. Pikiran itu mendorongnya untuk cepat-cepat masuk rumah lalu mengunci pintu.


Dinda menelepon ayahnya di bengkelnya. "Betul sekali Dind. Kau harus hati-hati. Kemungkinan orang itu mencari informasi mengenai dirimu. Bukan mengenai Bram. Jangan dibiarkan masuk rumah. Kau mau ayah kesana?" tanya Johan dengan nada khawatir.


"Tidak usah yah. Aku akan berhati-hati. Kelihatannya orang itu cuma sendirian kok."


"Jangan pernah meremehkan orang lain."


"Tidak yah. Nanti ku kabari lagi ya?"


Tak lama kemudian Dinda makan siang, kedengaran ketukan pintu pagar. Bi Imah bergegas keluar. "Biarin, Bi! Aku saja!" seru Dinda sambil melompat.


"Oh, temannya Non?" tanya Bi Imah. Tapi Dinda tak mendengar karena ia sudah berlari ke luar.


Tinggi pagar yang sebatas leher Dinda membuat ia langsung berhadapan dengan si pengetuk pintu. Dia seorang pemuda yang lebih tinggi sekepala dari pada Dinda, berwajah tampan dengan sorot mata yang ramah. Sikapnya agak canggung dan ia tersenyum malu ketika menyapanya. "Selamat siang dik. Barangkali Adik sudah diberitahu oleh Tante dia sebelah tentang saya, bukan? Tempo hari saya memang datang menyampaikan perihal Om Bram. Waktu itu saya belum berani datang langsung kesini. Malu sih. Masa cuma mau nanya-nanya begitu saja. Saya juga takut disangka jelek."


"Memangnya Mas mau tanya apa sih?"


****____****


to be continued 😂

__ADS_1


__ADS_2