Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 18


__ADS_3

"Tentu saja paling baik kau berpikir dulu, Lis." kata Bram kemudian. "Jangan tergesa-gesa mengambil keputusan. Bila kau keberatan, tentu tak jadi masalah. Biar aku saja yang terjun dalam usaha itu. Aku bisa memahami kalau kau merasa sayang menggunakan milikmu itu karena merupakan warisan orang tuamu. Tentu kelak akan kau wariskan kepada Dinda, bukan?"


Lilis menatap suaminya. Ia merasa tersentuh oleh ucapan itu. Rupanya Bram sangat menyadari bahwa apa yang dimilikinya sebagai warisan dari orang tuanya akan menjadi hak Dinda seutuhnya dan tak ingin menggangu. Sikap seperti itu menandakan bahwa Bram bukanlah orang yang rakus, apalagi untuk menggolongkannya sebagai lelaki yang ingin memoroti harta istri. Ia merasa bahagia dan juga lega karena kesimpulan itu menghapus prasangka buruk. Oh, kalau saja ia bisa membagi perasaannya itu dengan Dinda. Sayang sekali Dinda tak bisa diajak berbagi dalam hal seperti itu. Segala sesuatu mengenai Bram tak mau didengarnya. Dinda sudah menjatuhkan vonis terhadap Bram. Barangkali waktu juga yang bisa mengubah pendirian Dinda itu.


"Ya. Sebaiknya ku pikir dulu Mas," ia berkata dengan wajah yang memperlihatkan kecerahan hatinya. Ia ingin memelihara harapan Bram supaya tidak kecewa. Memikirkan itu bukan berarti menolak.


Bram tertawa senang. Ia memeluk Lilis hingga sang istri terheran-heran. Apakah Bram salah tanggap? "Aku justru senang kau berkata begitu," Bram menjelaskan. ",Itu berarti kau bijaksana. Berpikir adalah langkah yang paling bijak, Lis. Jangan pernah melakukan atau memutuskan sesuatu tanpa berpikir lebih dulu. Apalagi bila permasalahannya penting. Jangan seperti perempuan penurut yang selalu ikut suami, biar pun diajak jatuh ke dalam jurang."


Lilis menyambut pelukan Bram dengan perasaan berbunga-bunga. Ucapan itu bisa dianggap sebagai pujian. Dan baginya pujian semacam itu sangat berharga, jauh lebih berarti dibanding pujian bermakna gombal. Mungkin untuk orang seusianya, pujian mengenai fisik sudah tak begitu menyentuh lagi. Bagaimana pun senangnya bila mendapat pujian bahwa dirinya cantik, roh didalam hatinya sadar pujian semacam itu tidak sepenuhnya benar.


"Bagaimana kalau hasil pemikiranku tidak bisa memenuhi harapanmu, Mas?" tanyanya ingin tahu.

__ADS_1


"Ah, apa pun keputusanmu, tidak jadi masalah buatku. Tadi aku memang sangat antusias karena ingin membagi prospek keuntungan dengan mu. Jika kau tidak mau, tidak apa-apa. Justru itu menandakan bahwa kau tidak materialistis."


Lilis tersenyum bahagia. Kata-kata itu pun merupakan pujian yang menyenangkan. Tetapi ia tahu, biar pun Bram tidak memperlihatkannya, sesungguhnya Bram akan kecewa juga seandainya ia menolak ajakan itu.


Untuk bahan pemikiran dan pertimbangan, Bram memberikan setumpuk brosur dan salinan surat-surat kontrak. "Calon mitraku ini bukan cuma bergerak di bidang properti, tapi juga kontraktor. Lihat proyek-proyek yang pernah dikerjakannya. Bukan cuma milik pemerintah, tapi juga milik swasta."


Lilis memiliki banyak waktu untuk memikirkan dan merenungkan. Sebenarnya yang ia renungkan bukanlah isi brosur dan surat-surat yang diberikan Bram itu. Bonafiditas dari PT Subur Mandiri, demikian nama perusahaan calon mitra Bram itu sama sekali tidak menarik minat nya. Ia toh tidak akan tahu banyak mengenai perusahaan itu meskipun kertas-kertas itu ia pelototi. Meskipun hanya masalah kerelaannya melepaskan harta yang i miliki. Tentu saja bila sampai ia lepaskan bukan berati hilang. Ia memiliki saham sebagai penggantinya. Tapi bagaimana pun, baginya saham itu bukanlah uang yang bisa digunakan setiap saat dan memiliki nilai yang pasti. Ia juga bukan tidak percaya kepada Bram. Justru sekarang ia semakin mempercayai dan menyayangi Bram karena baginya selama ini segala tindakan dan sikap Bram telah membuktikan tanpa harus diutarakan dengan perkataan. Keraguannya disebabkan karena ia harus beralih dari sesuatu yang sudah rutin kepada sesuatu yang lain yang sama sekali baru. Dalam hal yang pertama ia merasa aman dan terjamin. Selalu terpikir bahwa ia punya rumah dan cukup uang untuk melewati hari-hari yang paling buruk sekali pun. Tapi bagaimana dengan yang kedua?


Ternyata keputusan yang harus diambil jauh lebih sulit dibanding pertama kalinya, ketika ia membantu Bram dengan uang sebanyak lima puluh juta. Nilainya memang tak sama. Yang dulu cuma sebagian kecil dari hartanya. Tapi yang sekarang adalah semuanya.


Ia sempat teringat Della. Apakah ia harus mengulang apa yang dilakukannya sebelumnya, yaitu minta pendapat Della? Tetapi ia mengkhawatirkan reaksi Della bisa menggoyahkan kepercayaannya kepada Bram. Ia takut menemukan prasangka dalam ucapan dan wajah Della. Apalagi masalah yang sekarang lebih besar daripada dulu. Ia tidak ingin terpengaruh oleh pendapat Della. Di samping itu ia juga takut kalau-kalau melihat cemooh dalam ekspresi Della. Bagaimana ia bisa meyakinkan Della bahwa Bram seorang suami yang penyayang dan penuh tanggung jawab? Jadi, buat apa minta pendapat seseorang yang pada akhirnya cuma menjengkelkan dirinya saja?

__ADS_1


Sebenarnya ia memerlukan seseorang untuk diajak bicara mengenai masalah itu. Ah, kalau saja Dinda orangnya. Tapi Dinda lebih tidak mungkin lagi. Dinda lebih sinis dan buruk sangka dibandingkan Della. Padahal selayaknya ia memang bicara dengan Dinda, mengingat Dinda adalah ahli warisnya kelak. Tetapi tak ada gunanya juga juga melakukan hal itu karena ia sudah tahu apa reaksi Dinda nanti. Kemungkinan besar Dinda akan berusaha keras untuk mencegah dan menghalangi seandainya ia bermaksud menyetujui ajakan Bram. Dinda tidak boleh diberitahu. Dinda toh tidak harus tahu karena ia belum dewasa dan harta itu sepenuhnya masih menjadi haknya. Ia bebas dan berhak melakukan apa saja dengan harta miliknya. Justru seandainya ia menerima ajakan Bram maka tujuannya adalah untuk memperbanyak harta itu. Berati Dinda bisa menerima warisan lebih banyak lagi kelak.


Selagi dalam proses pemikiran itu, Bram bersikap sabar dan baik kepadanya. Bram tak pernah mendesak atau bertanya-tanya. Sepertinya Bram benar-benar memahami bagaimana sulitnya mengambil keputusan. Ia sangat bersyukur dan menghargai sikap Bram yang demikian itu. Jelas betapa berbedanya sikap Bram dengan Johan. Dulu, Johan dikenalnya sebagai orang yang amat tidak sabaran. Tidakkah itu menandakan keberuntungannya, bahwa ia bisa mendapatkan orang yang berbeda?


Tetapi berlawanan daripada Bram, sikap Dinda semakin menyebalkan saja. Sejak Bram tinggal bersama mereka, Dinda tak pernah makan semeja bertiga, baik makan pagi, siang, maupun malam. Kalau pagi hari Dinda selalu makan lebih dulu. Itu masuk akal karena dia harus berangkat ke sekolah pagi-pagi. Sedang pada saat makan siang Bram tak ada di rumah. Tetapi saat makan malam, dimana semuanya berkumpul, dia pun menolak makan bersama.


****____****


Jangan lupa like n komen ya


Vote mingguan gratis n gift nya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2