
Sikap Bagas itu sesungguhnya melegakan Bram. Tapi ia masih belum puas. Selama anak muda itu masih membuntuti Maya dan tinggak seatap dengannya, maka ia belum merasa aman dan tenang.
****
Ketika kendaraan Bram sedang melintas di kawasan Menteng, tiba-tiba Maya yang duduk disamping Bram menyatakan niatnya untuk mampir ke rumah Bram. Usul Maya itu mengejutkan Bram. "Wah sebaiknya jangan sekarang May. Kau kan tahu saya tak punya pembantu. Rumah itu belum ku bersihkan. Malu-maluin, ah. Beritahu saja kapan. Nanti kupanggil pembersih untuk merapihkan semuanya."
Maya menggeleng. "Itu bukan masalah Bram. Memang nya saya petugas kebersihan mau menginspeksi rumahmu?" katanya geli. "Mau kotor atau berantakan, saya akan memaklumi. Barangkali itu bedanya, antara rumah janda dan rumah duda, ya?"
Bram ikut tertawa. Ia berpikir sebentar. "Baiklah. Tapi kau jangan ngeledek nanti ya?"
"Tidak. Saya janji." Maya mengangkat tangannya dengan lagak orang mengangkat sumpah.
Begitu saja muncul prasangka dihati Bram, bahwa ada kemungkinan Maya ingin mengecek keberadaan rumahnya. Benarkan dia punya rumah dikawasan Menteng seperti yang diceritakan atau cuma bohong semata? Sejak awal ia sudah tahu bahwa Maya tidak bisa disamakan dengan Indira ataupun Lilis. Bukan cuma wajah Maya menyiratkan kecerdasan tapi materi pembicaraannya pun demikian. Tetapi kemudian ia menepis prasangka itu. Tak ada salahnya bila Maya ingin tahu lebih banyak mengenai dirinya. Justru itu pertanda baik. Keingintahuan itu menandakan perhatian dan juga keseriusan. Berbeda halnya dengan orang yang tak peduli. Ia jadi berdebar oleh ketegangan. Benar-benar seriuskah perhatian Maya terhadapnya? Sebelum melakukan pendekatan lebih jauh lagi, ia harus yakin lebih dulu.
Tapi ia pun menyadari, bahwa sebelumnya ia harus lebih banyak membuka diri meskipun tidak perlu banyak-banyak. Kejujuran perlu diperlihatkan, sejauh mengenai hal-hal yang bisa diketahui atau diselidiki.
Pemikiran itu membuat tingkah lakunya tenang dan terkendali. Ia sadar dirinya tengah diamati cermat dan tidak ingin tampil gugup seolah menyimpan suatu kebohongan. Seorang perempuan seperti Maya sudah pasti ingin memperoleh seorang pendamping yang berkualitas.
Setibanya didepan pintu gerbang rumahnya Bram berkata, "Nah, ini dia gubukku, May. Jangan bandingkan dengan istanamu ya."
"Sebuah rumah tua yang antik!" seru Maya dengan kekaguman dalam suaranya.
Bram menoleh dengan wajah heran. "Antik?" tanyanya tak mengerti dari sudut mana penilaian Maya itu.
"Ya. Antik dan unik," Maya menegaskan dengan sikap serius.
__ADS_1
"Tunggulah sampai kau melihatnya dari dekat." Bram menekan remote control ditangannya. Pintu gerbang terbuka. Mobil melesat masuk. Kemudian pintu menutup lagi. Bram memarkir mobilnya didepan teras rumah, lalu bergegas keluar untuk membukakan pintu bagi Maya.
Begitu menginjakkan kaki dihalaman Maya segera melayangkan pandangannya ke seputar rumah bagian depan. Wajahnya menampakkan kekaguman yang jelas. "Lihat, betapa kokohnya rumahmu ini, Bram. Ini pasti bangunan zaman Belanda, bukan?"
"Betul sekali May."
"Wah, luar biasa. Pantas sebagai seorang pengembang kau tidak bermaksud merenovasi rumah ini. Salut untukmu, Bram. Kecantikan rumahmu ini sepatutnya dipertahankan."
Pada saat Maya mengagumi rumahnya, Bram justru mengagumi Maya. Perempuan itu berdiri bagaikan seorang ratu dengan kecantikannya yang bersifat klasik. Wajahnya yang penuh senyum dan gaunnya yang bermotif bunga dan semarak dengan warna-warna benar-benar membuat cerah suasana sekitar. Sepertinya rumah yang biasanya suram dan kelabu itu tiba-tiba didatangi dewi yang memberi keindahan pada sekitarnya.
Lalu Maya menoleh dan mendapati dirinya sedang dipandangi. Ia tersipu. "Hei, apakah saya kelihatan aneh?" tanyanya.
Bram tersenyum. "Sama sekali tidak. Saya sedang mengagumi mu."
"Bukan saya, tapi rumahmu inilah yang seharusnya kau kagumi."
"Saya sudah siap melihat sarang laba-laba sekalipun." Maya bergerak dengan gesit mengikuti langkah Bram yang sudah mengeluarkan kunci rumah.
Setelah membuka pintu lebar-lebar, Bram menyilahkan Maya masuk. "Kau bebas melihat-lihat kesegala penjuru. Dibelakang ada teras dan kebun. Pintunya terkunci tapi kuncinya melekat disitu. Sementara kau melihat-lihat, saya menyiapkan minuman."
Bram tersenyum puas mengamati tingkah Maya berlagak seperti seorang yang sedang berminat membeli rumah. Ia senang bahwa Maya menyukai dan mengagumi rumahnya. Semula ia merasa minder bila membandingkannya dengan rumah Maya.
Ketika ia sedang berdiri didepan kulkas yang terbuka untuk mengambil minuman, ia terkejut ketika mendengar pekikan Maya dari arah belakang. Tanpa menutup dulu pintu kulkas ia berlari secepat kilat menuju belakang rumah. Tiba-tiba saja keringat dinginnya bercucuran. Jantungnya serasa mau copot.
Maya sedang berdiri diambang pintu belakang dengan wajah menghadap ke kebun. Ketika Bram berada disampingnya ia menoleh sambil menutup hidung. "Ih, bau!" serunya. Tangannya menunjuk.
__ADS_1
Bram menatap kearah yang ditunjuk. Ada bangkai tikus besar dibawah tangga teras. "Oh, tikus," katanya lega. "Kupikir ada apa."
"Tapi tikus itu besar sekali Bram."
"Sudahlah. Yuk, kedalam! Lihat wajahmu sampai begitu pucat. Kau perlu minum." Bram menggandeng lengan Maya yang bersandar di tubuhnya bagaikan orang yang merasa cemas. Memanfaatkan kesempatan itu Bram merangkul pundak Maya lalu membimbingnya kedalam. Meskipun jantungnya masih berdebar kencang, toh Bram senang untuk kontak fisik yang menghangatkan hati dan tubuhnya itu. Barangkali ia harus berterima kasih kepada tikus itu. Mereka duduk berdampingan disofa. Bram menyodorkan Coca cola kalengan yang sudah dibukanya dan dimasukkan sedotan kepada Maya. Mereka menyedot minuman masing-masing pelan-pelan.
"Sudah hilang kagetnya?" tanya Bram sambil mengamati wajah Maya dari samping.
"Oh, sudah." Maya tersenyum lalu menoleh dan beradu pandang dengan Bram. "Kau pun kaget sekali mendengar teriakkan ku. Maaf ya? Seharusnya saya tidak bertingkah seperti itu."
"Sudahlah. Tidak apa-apa. Saya pun mesti minta maaf karena membiarkan mu masuk sendiri kedalam rumah yang kotor. Sungguh memalukan."
Maya meletakkan jari dibibir Bram. "Kita sudah saling memaafkan. Sekarang ada pekerjaan penting yang harus kau lakukan."
"Apa itu?" tanya Bram heran.
"Kau harus menyingkirkan bangkai tikus itu, bukan? Jangan dibiarkan lama-lama disitu."
"Ya, tentu saja. Nanti ku buang. Tapi nanti sajalah setelah kau ku antarkan pulang."
"Wah, sebaiknya sekarang saja Bram. Semakin lama nanti semakin bau. Dan saranku, sebaiknya bangkai itu kau kuburkan saja. Jangan membuangnya ditempat sampai atau di got. Itu tidak baik. Apa kau punya sekop atau cangkul? Saya mau membantumu."
Bram terkejut. "Jangan May. Masa kau membantu untuk urusan begitu. Biar saya saja. Tapi saranmu itu memang benar. Kau tunggu disini saja ya."
"Ah, saya mau ikut melihat." Maya melompat berdiri.
__ADS_1
****____****