
Happy Reading dan yang belum shopping Happy Shoping 😂
****___****
Bram memang sudah tahu kebiasaannya. Bukan jarang sekali suami yang begitu baik dan bersedia melayani istrinya? Biasanya malah terbalik. Suamilah yang selalu menuntut dilayani istrinya.
Tapi ia ingin minum. Ia meniupi tepi cangkir lalu menghirup sedikit demi sedikit. Uh, enak sekali. Kopi instan dengan susu murni. Gulanya pas. Ia akan memesan minuman itu lagi untuk besok, pikirnya.
Setelah pikirannya melayang kemana-mana, tiba-tiba ia teringat kepada Dinda. Entah kenapa ia jadi teringat kepada Dinda pada saat seperti itu. Biasanya ia tak mau lamunan indahnya menjadi kacau oleh pikiran mengenai Dinda. Biasanya, pikiran tentang Dinda bisa membuyarkan lamunan indahnya. Karena itu ia selalu menyisihkan pikiran itu. Dan biasanya berhasil. Tetapi kali ini pikiran tentang Dinda menetap. Tak mau pergi. Tak mau tersisih. "Ibu... lelaki itu tidak baik. Instingku yang bilang, Bu!" Entah kenapa ucapan itu terngiang lagi di telinga seperti benar-benar diucapkan Dinda sekarang.
"Tidak, Din. Kau salah. Instingmu itu terbukti tidak benar," ia mengucapkan keras-keras.
"Ah, ibu. Jangan membutakan mata dan perasaan. Mana mungkin ibu tahu apa yang ada didalam hatinya?"
Lilis terkejut. Suara siapakah itu? Rasanya Dinda tak pernah bicara seperti itu. Apakah Della yang bicara begitu? Tetapi itu suara Dinda. Ah, mana mungkin. Dinda tak ada disini. Dinda sedang ada di sekolahnya. Lucu, tadi ia menanyakan Dinda kepada Bram. Begitu saja ia bertanya tanpa berpikir terlebih dahulu. Sepertinya mulutnya bicara sendiri. Bukankah gerakan mulut itu diperintahkan oleh otak?
Mana mungkin kata-kata bisa keluar sendiri tanpa ada yang menyuruh. Setidaknya ia harus berpikir. Ia memang merasa aneh, tapi tidak sampai merinding karenanya. Barangkali ia mimpi? Ia mencubit lengannya sendiri. Terasa sakit. Jadi bukan mimpi. Pasti bukan, karena apa yang dialaminya barusan bersama Bram juga rill. Alangkah sayangnya kalau cuma mimpi karena itu sangat indah. Cinta, kasih sayang, dan kehangatan.
__ADS_1
Memang ada sesuatu yang lain sekarang. Kebahagiaan seperti yang dirasakannya sekarang bukan sesuatu yang baru saja ia rasakan. Kemarin dan kemarin-kemarinnya juga sama. Hari-hari yang dilaluinya bersama Bram adalah kebahagiaan. Tetapi baru sekarang pikiran tentang Dinda hadir begitu intens. Biasanya bila Dinda teringat, maka itu cuma selintas. Ingatan itu pun sengaja ia hilangkan karena menggangu kebahagiannya.
Dinda adalah gangguan, tapi tak begitu berarti hingga dengan mudah bisa ia lenyapkan dari pikiran. Sekarang berbeda. Dinda yang datang bukan cuma pikiran, tapi seperti hadir walaupun tak nampak. Suaranya jelas dan jernih.
Perbedaan nyata lainnya, pikiran tentang Dinda tak lagi terasa sebagai kata-kata manis. Justru kata-kata seperti itu adalah gangguan yang bisa mengacaukan kebahagiannya. Yang dirasakannya sekarang adalah kerinduan kepada Dinda! Kalau saja ia bisa mengajak serta Dinda dalam kebahagiaannya sekarang. Bukankah Dinda adalah bagian dari dirinya?
Muncul juga penyesalan, kenapa ia tidak melanjutkan usaha pendekatannya. Seharusnya orang berusaha itu tak cukup sekali dua kali. Tapi ia terlalu malas untuk bersikap gigih. Setelah mendapat sambutan dingin dari Dinda, ia pun mundur. Barangkali ia harus memulai lagi usahanya. Dinda adalah anaknya sendiri. Sesulit itukah mendapatkan nya kembali? Tapi ia menganggap syarat yang di tuntut Dinda sangat besar. Meskipun tak diutarakan secara gamblang, sepertinya Dinda menuntut agar ia memilih antara dirinya dan Bram. Mana mungkin ia memilih salah satu. Ia menginginkan kedua-duanya.
"Dinda...," keluhnya.
Perasaannya menjadi berat. Kebahagiaannya barusan terasa semu belaka. Ia meraih cangkir kopinya lalu menghirup isinya. Sekarang tak begitu panas lagi. Ia menghirup lebih banyak.
Suara Dinda yang merupakan teriakan itu mengejutkannya hingga cangkir yang dipegangnya lepas lalu jatuh ke lantai hingga pecah berserakan. Sebagian isinya menggenang. Ia sempat merasa sayang karena tidak keburu menghabiskan. Rasanya minuman itu menjadi luar biasa enak karena baginya merupakan ramuan kasih sayang.
"Aduh, Dinda. Kenapa sih?" keluhnya. Kekecewaan yang terasa mengalahkan perasaan lainnya. Bahkan ia tak terpengaruh oleh keanehan situasi. Ia tak berpikir atau tak merasa bahwa situasinya aneh. Sepertinya Dinda memang berada disitu. Jadi tak mengherankan kalau suaranya bisa terdengar.
Ia cepat berdiri dari tempat tidur, terdorong oleh keharusan mengangkat pecahan cangkir dan menyelamatkan karpet dari cairan kopi susu yang mengalir. Ia berjongkok setelah mengambil tisu di meja, lalu mengeringkan lantai. Baru kemudian ia memunguti pecahan cangkir dengan hati-hati dan membuangnya ke tempat sampah yang berada di kolong meja. Tak urung jarinya terkena ujung pecahan yang tajam. Ia memekik pelan lalu mengeringkan darah yang keluar dengan tisu. "Aduh, ini gara-gara kamu Dinda," katanya.
__ADS_1
"Oh, ibu..., ibuuuu..." Suara Dinda terdengar mendesah sedih.
Lilis tak begitu memperhatikan suara yang terakhir itu. Ia sibuk dengan jarinya. Setelah membalutnya dengan handsaplast ia memutuskan untuk keluar karena hari semakin siang. Bi Imah belum diberi uang untuk belanja ke pasar.
Ia melangkah dengan tubuh sedikit oleng dan membungkuk ke depan. Ia tak sanggup menjawabnya, karena pada saat berikut tiba-tiba pandangannya jadi berputar. Ia menjerit, lalu jatuh terguling ke bawah tangga!
"Ibuuuuuuu! Ibuuuuuu....!"
Sambil terguling itu ia mendengar jeritan Dinda, berbaur dengan jeritannya sendiri. Sementara dibawah, Bi Imah ternganga dengan tatapan horor. Ia tak bisa mengeluarkan suara saking kagetnya. Lilis terguling-guling terus ke bawah kemudian kepalanya membentur dinding dengan keras. Disana ia diam tak bergerak. Barulah Bi Imah menjerit sambil berlari mendekat. Ia meraih tubuh Lilis. "Ibuuuu...., Buuuuu bangunnn!" panggilnya. Tapi Lilis tak menyahut. Bi Imah mencoba meraba nadi Lilis, tapi tidak tahu bagian mana yang mesti dipegang. Wajah Lilis yang putih nampak semakin putih. Matanya terbuka tapi sepertinya tak melihat apa-apa. Bi Imah gemetar ketakutan. Ia tidak tega melihat sepasang mata yang terbuka tanpa makna itu. Dengan memberanikan diri ia mengulurkan tangan, lalu mengusap kedua mata Lilis dengan gerakan dari atas ke bawah. Kedua mata Lilis pun tertutup.
Bi Imah melompat berdiri. Ia kebingungan sebentar. Kemudian ia berlari menuju meja telepon. Ia tahu, tapi harus menelepon majikan laki-lakinya, Pak Bram. Tapi mana nomornya? Pada dinding meja samping telepon tergantung secarik kertas bertuliskan nomor-nomor telepon penting. Ada nomor kantor polisi, pemadam kebakaran, dan nomor-nomor lainnya. Ia teringat kepada Della, orang yang paling dikenalnya. Dengan tangan yang gemetar hebat ia memencet nomor Della.
****____****
Maaf ya lama gk update,
lagi musmet, 😂
__ADS_1
Selamat menikmati, akan ku selesaikan cerita ini. Dan bersiap dengan cerita baru berbau bau bau bau ðŸ¤