Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 38


__ADS_3

"Kira-kira kenapa Om?" tanya Dinda.


"Mungkin tak sengaja atau suatu kecelakaan. Tapi yang sudah pasti, ia tidak merasa kesakitan waktu itu. Dan andaikata ada racun didalam minumannya, maka sudah pasti pula ia tidak meminum semuanya. Bila racunnya bersifat korosif atau membakar, maka ia akan langsung kesakita. walaupun minumnya sedikit karena mulutnya terbakar. Dia akan muntah-muntah dan pada pemeriksaan luar kondisi mulutnya sudah langsung kelihatan. Demikian pula muntahnya itu bisa diperiksa di lab dan segera diketahui apa yang terkandung di dalamnya. Tapi ibumu tidak muntah-muntah. Jadi dalam hal ada racun, maka yang paling mungkin adalah jenis obat tidur atau obat bius. Tapi ia tidak minum semuanya, maka dosisnya pun rendah sekali. Tidak membuatnya kesakitan, tapi sedikit teler. Yang ini mungkin cocok dengan apa yang dilihat Bi Imah. Maka selanjutnya ia tidak bisa berpijak dengan baik sewaktu menuruni tangga. Kematiannya bukanlah disebabkan oleh apa yang diminumnya, melainkan kecelakaan yang terjadi kemudian. Jadi dalam anggapan yang belakangan ini, kita coba menelaah hasil autopsi seandainya dilakukan. Pada dosis yang terlalu sedikit, maka akan sulit sekali menemukannya. Di samping itu, kondisi jenazah semakin lama membusuk hingga jelas sulit pula. Kemungkinan besar hasilnya negatif. Padahal sekarang ini tak mungkin menuntut autopsi setelah polisi menganggap tak ada indikasi bahwa kematiannya tak wajar."


Dinda mengangguk. Ia mengerti. "Jadi autopsi tak ada gunanya lagi, Om?"


"Benar Dind. Malah akibatnya bisa memukul diri sendiri. Menggali lalu mengautopsi mayat itu suatu peristiwa menggemparkan. Sudah hasilnya tak diperoleh, kita malah bisa dituntut balik karena telah mencemarkan nama baik orang."


"Aku mengerti Om. Tapi aku yakin, bahwa Om Bram memang menjadi penyebab kematian ibu. Sampai mati pun aku tetap yakin akan hal itu. Doa terlalu cerdik untuk membiarkan dirinya bisa dilacak. Coba pikirkan, Om. Hampir setiap hari dia membawakan minuman buat ibu. Pasti minuman itu mengandung sesuatu yang sama. Tetapi belum berhasil membunuh ibu seperti yang diinginkan. Minuman itu saja, cuma membuat teler. Buat ibu kondisi itu cuma membuatnya tidur lagi. Selama dia memutuskan untuk melanjutkan tidurnya maka dia selamat. Tetapi pada saat itu dia bangun karena cuma minum sedikit. Yang sedikit itu saja cukup membuatnya teler hingga terjatuh di tangga. Itulah yang diinginkan Om Bram. Mati oleh kecelakaan. Rupanya dia cukup sabar dengan terus mengulangi dan menunggu hasilnya. Rupanya berhasil juga."


Pemikiran Dinda itu membuat ketiga pendengarnya tertegun. Analisa Dinda sangat masuk akal. Mengerikan dan juga menyedihkan karena memberi perasaan kalah dan tak berdaya. Bila sudah demikian, apa lagi upaya mereka selain membiarkan Bram melenggang pergi dengan bebas?


"Apa kau sekarang sudah bisa menerima situasi nya dengan lapang dada?" tanya Bustaman.


"Ya, Om. Tapi dendam itu takkan bisa hilang."


"Kami mengerti Dind. Dendam itu bukan milikmu. Tapi milik kita bersama. Satu hal tak boleh kau lupakan. Ada kemungkinan dia pun dendam padamu. Jadi hati-hatilah selalu," kata Bustaman yang dibenarkan oleh Della dan Johan.


"Aku akan berhati-hati. Tapi aku tidak takut padanya. Aku punya tiga orang pelindung yang hebat." Dinda mendekat lalu mencium pipi ketiga orang didepannya satu persatu.


Mereka terharu. Della terisak pelan.


"Kita harus kompak," kata Johan.


"Ya."

__ADS_1


Malam itu Dinda ke kamar ibunya. Ia memandang berkeliling lalu memeriksa lagi lemari dan semua laci-laci. Bekas-bekas Bram sudah tak ada lagi. Tak ada yang tertinggal. Lelaki itu datang dan pergi dengan cepat. Ketika datang dia tak membawa apa-apa, tapi ketika pergi ia membawa semuanya termasuk sebuah nyawa.


****


Johan memulai penyelidikannya dengan mencari keberadaan wanita bernama Frida. Della tidak tahu alamat rumahnya, tapi tahu tempat kerjanya. Della mengatakan, Frida bekerja di Bank. Setahu Johan baik Lilis maupun Della sama-sama mendepositokan uang mereka disitu. Pastilah perkenalan Lilis dengan Frida karena Lilis sering kesana. Untuk memastikan ia menelepon dulu.


Untunglah disana memang ada karyawati bernama Frida dan cuma ada seorang hingga ia tak perlu bingung memilih.


"Bapak siapa?"


"Saya Johan, mantan suami Lilis Kurniati. Ibu mengenalnya bukan?"


"Oh ya. Tentu saja. Ada urusan apa ya pak?"


Suara itu kedengarannya menyelidiki, pikir Johan. Tapi ia merasa tak perlu heran. Itu tentunya wajar saja. Tidak sepatutnya ia menelepon untuk urusan pribadi pada jam kerja. Cepat-cepat ia menjawab, "Sudahkan anda dengar perihal kematian Lilis?"


"Tidak apa-apa Bu. Apakah ibu sudah bertemu dengan Pak Bram setelah Lilis meninggal?"


"Belum."


"Jadi anda mengenal pak Bram?"


"Ya."


"Baiklah. Saya tidak ingin lama-lama menggangu ibu ditengah kesibukan kerja. Bolehkah saya bertemu dengan ibu diwaktu senggang? Saya ingin bicara sebentar saja perihal Lilis. Ada hal-hal yang mau saya tanyakan."

__ADS_1


Disana diam sebentar. Rupanya sedang berpikir. Kemudian terdengar jawaban yang tidak bersemangat, "Boleh saja pak. Tapi rasanya saya tidak bisa banyak membantu. Saya memang kenal Lilis tapi tidak seberapa akrab."


"Biarpun begitu, siapa tahu anda mengetahui hal-hal yang ingin saya ketahui. Tapi saya tidak bisa menanyakannya lewat telepon. Dimana kira-kira saya bisa bertemu dengan ibu?"


"Wah, dimana ya? Tidak lama kan?"


"Tidak Bu. Tidak lama. Paling lama juga seperempat jam."


"Oh, baik kalau begitu. Saya selalu pulang naik bus di seberang kantor. Ada halte bus disana. Anda bisa bertemu saya disana".


"Tapi saya belum mengetahui anda. Bagaimana saya mengenalinya?"


Terdengar suara tawa. "Oh saya lupa. Betul juga. Saya mengenakan seragam kantor berwarna hijau lumut. Tinggi sedang, kira-kira 160 senti. Rambut pendek. Duh, apa ya cirinya yang gampang? Bingung deh. Tunggu saya pikir dulu." Diam sebentar lalu bicara lagi.


"Tas saya pak. Saya membawa tas tangan berwarna hitam. Bentuk segi empat, ukuran kira-kira dua kali buku saku. Pada tas itu saya gantungkan sebuah hiasan berupa gantungan kunci berwarna keemasan dan merupakan huruf F. Inisial nama saya."


"Baiklah sebelum jam lima saya menunggu disana. Apa saya perlu memberitahu ciri-ciri saya?"


"Oh ya sebaiknya begitu."


"Tinggi saya 180, ramping, kulit gelap, umur empat puluh, rambut sedikit ikal, tak berkumis, dan... ya, cukuplah begitu."


"Baik sampai nanti."


Johan senang sekali dengan hasil yang diperoleh nya. Ia menyampaikan nya kepada Dinda ketika menjemputnya pulang sekolah. "Tapi Dinda memang tidak boleh optimis dulu, karena belum tahu apa yang akan dikatakan perempuan itu nanti."

__ADS_1


****____****


to be continued 😂


__ADS_2