
Lalu mereka memasuki kamar Lilis. Di situ tangis Dinda tak bisa dibendung lagi. Ia memandang tempat tidur yang masih acak-acakan dan tahu bahwa ibunya baru saja bangun sebelum ajal menjemputnya. Di situ terasa kuat sekali bekas-bekas kehadiran ibunya. Sepertinya ibunya masih di sana. Belum pergi jauh.
Della memeluk Dinda kuat-kuat, khawatir anak itu akan pingsan lagi. Ia mengajaknya duduk sebentar di tempat tidur. Dinda menatap tempat tidur. "Tidakkah Tante mencium bau ibu? Masih ada bau nya."
Della menggeleng-gelengkan kepala dengan rupa cemas. Ia menganggap Dinda sudah berlebihan. Tidak ingatkan Dinda bahwa kamar itu bukan cuma ditempati Lilis sendirian? Entah disisi yang mana tempat Bram. " Ayolah Dinda. Kita harus mencari nomor telepon Bram. Dia harus diberitahu secepatnya. Itu kewajiban kita."
"Tante saja yang cari."
Terdesak oleh waktu. Della bergegas membuka laci-laci. Ia sangat bingung karena tidak tahu bagaimana mencarinya. Rasanya juga kurang enak menggeledah barang privasi orang lain. Tetapi laci-laci yang diperiksanya selintas nampak melulu berisi barang-barang milik Lilis. Tak ada surat-surat atau kartu dengan nama Bram diatasnya. Ia merasa segan membuka lemari. Lagipula mustahil ada jejak Bram disitu.
"Apakah Bram punya meja kerja, Din?" Ia bertanya. Tapi tak ada jawaban. Ia menoleh dan melihat Dinda sedang mengamati tempat sampah yang ditariknya dari kolong meja kecil. Tempat sampah itu berupa ember plastik dengan pijakan untuk membuka tutupnya. Dengan heran dan ingin tahu Della cepat mendekat. "Ada apa, Din?"
"Lihat Tante. Ada cangkir pecah dan tisu basah oleh cairan coklat. Pasti ibu habis minum sesuatu sebelum turun, tapi menjatuhkan cangkirnya. Lihat piringnya masih ada diatas meja. Minumannya belum habis jadi mengotori lantai. Tisu itu yang dipakai membersihkan."
Della menganggap Dinda membuang waktu dengan pengamatan seperti itu. "Ayolah,Din. Itu memang benar sekali. Tapi tak ada hubungannya dengan apa yang harus kita lakukan. Cepatlah bantu aku."
"Pikirkan Tante. Kenapa ibu menjatuhkan cangkirnya? Setahuku ibu tak pernah menjatuhkan piring mangkuk pada saat sedang digunakan."
"Lantas kenapa?" tanya Della dengan perasaan tak enak.
"Ada sesuatu dalam minumannya!"
"Ah...," Della melotot.
"Buuuu! Nooon!" suara Bi Imah memanggil-manggil terdengar disusul orangnya. Bi Imah nampak pucat dan napasnya terengah-engah. Mungkin berlari menaiki tangga. Dia nampak tegang luar biasa.
"Ada apa Bi?" tanya Della kaget. Bukankan Bustaman menjaga dibawah?
"Tadi ada telepon dari pak Bram nanyain ibu. Jadi sekalian diberitahu oleh pak Bus. Katanya dia akan segera pulang. Jadi sudah beres. Nggak usah nyari-nyari lagi." Bi Iman bercerita dengan mata mengering seputar kamar.
__ADS_1
"Kesini Bi. Kebetulan Pak Bram belum datang. Ayo cerita yang jelas," Dinda memerintah. "Tadi ibu minum apa?" tanyanya sambil menunjuk piring diatas meja.
"Oh itu. Bapak yang bikin kok. Setahu bibi kopi susu. Kopinya instan, susunya susu murni."
"Bibi lihat bikinnya?"
"Nggak. Masa diliatin. Entar bapak kurang senang dong. Yang bawa kesini juga bapak. Tapi bapak sering gitu kok. Kemarin bikinnya teh manis. Kemarinnya lagi coklat susu. Begitu ganti-ganti."
"Jadi sebelum ibu bangun, dia membawakan minuman?"
"Ya."
"Baiklah. Sekarang ceritakan bagaimana Bibi melihat ibu jatuh. Aku ingin dengar dari bibi sendiri."
Bi Imah menceritakan dengan suara gemetar. Kengeriannya kembali lagi ketika mengulang kisahnya yang sudah diceritakan barusan. Dinda mendengar dengan diam. Della yang sudah tahu ceritanya lebih banyak mengamati sikap Dinda. Ia heran mendapati bagaimana seriusnya Dinda menyimak. Pada saat seperti itu wajah mungil Dinda jadi kelihatan dewasa.
Tiba-tiba Dinda berseru, "Jadi ibu kelihatan seperti orang sakit Bi?"
"Dan sebelum jatuh dia menjerit dulu?"
"Bi Imah berpikir dulu. "Betul. Bibi yakin bener deh."
"Baik bi. Sudah cukup. Turunlah dulu. Kami menyusul belakangan."
"Sebentar lagi pak Bram datang." Bi Imah mengingatkan lagi.
"Ya, Bi."
"Kenapa Bi Imah bilang begitu?" tanya Della setelah Bi Imah tak nampak.
__ADS_1
"Maksudnya jangan sampai kita kedapatan berada disini oleh Om Bram."
"Oh ya? Wah kalau begitu cepatlah kita turun." Della jadi khawatir.
"Ah, kenapa mesti takut Tante?"
"Bukannya takut. Nggak enak aja."
Dinda mengambil tempat sampah berikut piring yang berada diatas meja. Ia membawanya serta. "Mau kamu apakan?" tanya Della.
"Ini barang bukti, Tante. Mau kusimpan. Siapa tahu ada racunnya."
"Eh, jangan bilang begitu didepan Bram Din. Jangan bikin ribut didepan jenazah ibumu, itu tidak baik."
"Ya, Tante." sahut Dinda patuh. "Tapi Tante beritahu Om Bus nanti ya? Om Bus kan dokter. Jadi lebih gampang memeriksakan barang itu ke laboratorium."
"Baik," Della cepat berjanji. Ia tahu ads sesuatu dibenak Dinda. Tetapi ia tak begitu ingin membicarakan nya sekarang, ketika begitu banyak hal mesti di urus. Mustahil meributkan sesuatu yang belum pasti ketika masalah yang nyata belum dibereskan.
Dinda menyerahkan tempat sampah kepada Bi Imah untuk disimpan dan berpesan agar tidak membuang isinya. "Ini penting, ya Bi."
"Ya, Non," sahut Bi Imah tanpa bertanya. Ia sudah kehilangan semangat untuk bertanya macam-macam. Ia pun capek berbicara.
Bram datang tak lama kemudian. Ia kelihatan terkejut setelah diberitahu. Dengan sikap emosional ia menubruk jenazah Lilis lalu memeluk dan menciuminya. Tetapi Dinda memperhatikannya dengan tatapan membara. Ketika Bram memandangnya Dinda memalingkan muka. Bram membatalkan niatnya untuk menyampaikan kesedihannya kepada Dinda, sekalian menghiburnya.
Sebagai seorang suami, Bram memiliki hak untuk menentukan perlakuan terhadap jenazah Lilis sesuai dengan agamanya. Bram memutuskan untuk menyewa ruang duka di rumah sakit dimana jenazah Lilis disemayamkan. Disana upacara kebaktian bisa diadakan sekalian menerima tamu. Ia menganggap rumah terlalu sempit dan merepotkan.
Hal itu disepakati bersama. Dinda pun setuju. Sebenarnya alasan yang terpikir olehnya tidaklah sama dengan apa yang dikemukakan Bram. Bila banyak tamu berdatangan ke rumah, terutama para kerabat, tentulah mereka akan usil bertanya-tanya dan melihat-lihat keadaan rumah terutama bagian tangga. Itu akan sangat melelahkan dan membuat stres. Ia kasian kepada Bi Imah yang paling banyak menerima pertanyaan.
Setelah masalah itu disepakati, Bram menyampaikan niatnya mengkremasikan jenazah Lilis. Dinda terkejut. "Tidak!" serunya. Semua orang terkejut melihat reaksi Dinda yang spontan emosional. Johan yang juga hadir dalam acara itu lebih terkejut lagi. Tiba-tiba ia melihat Dinda yang berbeda daripada biasanya. Dinda yang nampak menyimpan sesuatu yang tak diketahuinya. Muncul prasangka dan rasa was-was ketika melihat tatapan Dinda yang mengandung permusuhan kepada Bram. Ada apakah sebenarnya?
__ADS_1
****____****
to be continued 😂