Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 7


__ADS_3

Update setiap Senin-Sabtu jam 8 malam lewat dikit ya.


****____****


Dinda cukup menyadari, bahwa ia tidak boleh terlalu berpegang pada hal-hal yang teoritis. Itu pula yang sering dibacanya. Para pengarang rajin mengingatkan, betapa hal-hal yang nampak di luar belum tentu sama dengan yang sesungguhnya ada di dalam. Ekspresi bisa membohongi. Tapi toh ada kalanya, bila seseorang cukup cermat, ia bisa memang bersandiwara dalam kehidupan ini, tapi tidak terus-menerus. Memakai topeng terus-menerus itu tentu melelahkan.


Tetapi Dinda pun merasa bangga akan ayahnya. Fisik Johan yang tinggi ramping, sama seperti dirinya, jelas berbeda dengan fisik Bram meskipun tinggi tapi agak tambun. Kegemukan itu sepertinya menyiratkan kemalasan dan kerakusan. Tapi dari pengamatannya selama berhari-hari yang dilalui bersama, Bram bukanlah orang yang malas. Pagi-pagi ia suka melakukan jogging ke Senayan, kemudian berangkat kerja. Pulang ke rumah sudah sore lalu tidur sebentar. Kemudian makan malam, nonton televisi, lalu tidur lagi. Begitulah acara rutin ayah tirinya itu. Sedang ibunya cuma bersedia ikut jogging bersama Bram pada hari-hari awal saja. Sesudah itu ia kembali pada kebiasaan lamanya, yaitu tidur. Lilis ibu rumah tangga yang menikmati hidupnya dengan bermalas-malasan.


"Nah, sekarang berceritalah Dinda!"


Sebetulnya Dinda ingin bertanya banyak pada ayahnya, tapi ternyata ia keduluan. Setelah berpikir sejenak ia pun mulai bercerita mengenai kehidupannya yang sekarang bersama seorang anggota keluarga baru. Tetapi ia memutuskan untuk tidak bercerita dulu mengenai antipati dan prasangka buruknya mengenai Bram. Ia merasa cerita itu untuk dikeluarkan pada saat lain, saat yang lebih tepat. Sekarang waktu terlalu singkat. Ia pun harus bisa memperkirakan bagaimana reaksi ayahnya bila mendengar cerita seperti itu. Sudah pasti reaksi ayahnya akan berbeda dengan reaksi Tante Della.


"Tadi kau bilang kau tidak suka pada Om Bram. Kenapa?"


"Ah, sukar dikatakan alasannya Ayah. Antipati saja."


"Apakah dia bersikap baik padamu?"


"Oh, tentu saja Yah. Dia sangat berusaha untuk berbaik-baik kepadaku."


Ucapan itu membuat Johan merasa was-was. "Kau harus hati-hati kepadanya Din. Kau sudah dewasa dan cantik pula. Jangan terlalu dekat padanya. Ada banyak kasus lelaki suka mengincar putri tirinya. Kau harus menjaga jarak justru bila ia berusaha mendekat. Dengan adanya jarak ia akan menyadari bahwa tidak terlalu gampang baginya untuk berbuat buruk. Terutama kau harus ekstra hati-hati bila kebetulan sedang berduaan dirumah. Jangan mau diajak minum-minum karena ia bisa memasukkan obat bius kedalam minumanmu. Pendeknya jangan dekat-dekat lah."


Dinda tercengang mendengar peringatan ayahnya yang panjang itu. Memang benar, reaksi seorang ayah berbeda dengan reaksi seorang Tante. Padahal ia belum bercerita mengenai insting-instingnya. Bagaimana pula reaksi ayahnya bila ia sampai menceritakan? Tapi tentu saja ia sependapat dengan ucapan ayahnya itu. Ucapan itu persis dengan apa yang dipikirkannya sendiri. Maka ia menjawab dengan serius, "Ya, ayah. Aku memang tidak mau dekat-dekat dia. Jangan khawatir."


Johan menjadi lega. "Tapi kau harus tetap berhati-hati. Manusia itu panjang akalnya, Din. Yang jelas aku tidak akan tinggal diam kalau dia berani mengganggu mu."


Kali ini Dinda kembali terkejut oleh nada ancaman dalam suara ayahnya. Tapi ia merasa senang karena ada yang melindungi. Tiba-tiba saja ia teringat sesuatu. "Yah, apakah ayah masih pintar kungfu?" tanyanya.


Johan tercengang. "Kenapa kau tanyakan itu, Din?"

__ADS_1


"Nggak apa-apa. Kepingin tahu aja kok."


"Tentu saja masih. Aku harus berlatih setiap hari. Sayang kan ilmu itu. Lagi pula bagus untuk menjaga kebugaran. Bila ditinggalkan maka ilmu itu pelan-pelan akan sirna. Ya, setiap ilmu pada umumnya begitu. Bila tidak digunakan atau di asah akan terlupakan. Tak ada bedanya antara ilmu yang menggunakan pikiran dengan menggunakan tenang fisik. Pendeknya aku masih cukup gesit Dinda. Nah, sekarang katakan, kau tentu tidak bertanya tanpa sesuatu maksud bukan?"


"Betul sekali ayah. Aku ingin belajar!"


Johan terkejut lagi. Dinda benar-benar penuh kejutan. Dulu ia sering mengajaknya belajar tapi Dinda tidak mau karena dilarang ibunya. tapi ia tak mau bertanya dan segera menanggapi dengan antusias. "Bagus! Kapan kau mau mulai?"


"Secepatnya, Yah."


"Kapan itu?"


"Besok?"


Johan tidak berpikir lama-lama untuk menjawab. "Baik. Dan waktunya? Kau harus tetap sekolah dong."


"Ya, cukup. Lebih pun tak apa. Lantas tempatnya dimana? Yang pasti tidak di rumahmu. Rumah Ayah aja ya?"


"Apa Tante tidak keberatan Yah?" tanya Dinda ragu-ragu setelah sejenak merasa gembira. Ia tahu ayahnya tidak sendirian di rumah melainkan ditemani seorang wanita yang dipanggil Tante Irene.


"Tentu saja tidak," sahut Johan ringan.


"Oh, senang sekali," kata Dinda sambil tertawa.


Johan memperlihatkan wajah putrinya dengan kritis. Ia memang ikut senang menanggapi keinginan Dinda itu. Dengan demikian mereka menjadi lebih sering bersama-sama dan punya waktu banyak untuk saling mengakrabkan diri. Rencana itu di luar harapannya yang paling muluk. Tetapi ia tidak percaya kalau Dinda tidak punya sesuatu maksud lain di balik keinginan itu.


"Apakah ibumu tahu, Din?"


"Tidak. Apakah aku mesti minta izinnya, ayah?" tanya Dinda was-was. Ia justru tidak ingin memberi tahu ibunya.

__ADS_1


"Bukan begitu. Ia tentu ingin tahu kenapa tiba-tiba kau jadi sering ke rumahku. Dan bagaimana pula kalau ia melarang?"


Dinda berpikir. Sesungguhnya ia memang belum memikirkan kemungkinan itu. Lalu teringat dengan kaget, bahwa pada saat itu pun ibunya belum tahu kenapa ia terlambat pulang. Johan menatapnya dan langsung menebak pikirannya. "Sebaiknya kau telepon ibu sekarang supaya ia tidak cemas memikirkan."


"Apa yang harus kukatakan padanya, Ayah?" tanya Dinda sambil mengambil hape nya dari dalam tas.


"Katakan saja kau kebetulan ketemu Ayah lalu diajak makan. Ia akan senang bahwa kau ingat untuk memberitahu nya."


Dinda mengangguk lalu mencari nomor ibunya di kontak dan mulai menelepon. Tak lama kemudian ia sudah terlibat pembicaraan dengan Lilis. Pada awalnya Lilis kedengaran kurang senang tapi tidak melarang ketika Dinda berkata. "Habis makan, aku mau ikut Ayah ke rumahnya dulu, Bu."


"Memangnya mau apa sih?"


"Cuma main saja."


"Main apaan?"


"Iseng-iseng. Jangan khawatir Bu. Aku tidak anak nakal," Dinda bercanda. Tapi ibunya tidak menyambut dengan tawa. "Ya, sudah. Biar kularang pun kau tetap akan pergi, kan?"


"Aku pergi sama Ayah, Bu. Bukan dengan sembarang orang."


"Ya, sudah. Pulangnya diantar kan?"


"Tentu dong, Bu."


Setelah menutup telepon, Dinda termenung sebentar. Ia tahu, seandainya ibunya belum memiliki Bram pastilah ia dimarahi dan dilaranv pergi. Apakah itu berarti kehadirannya dirumah tidak dibutuhkan lagi? Ia menggeleng untuk menepis pikiran tidak menyenangkan itu. Sekarang bukan saatnya untuk merasa murung.


****____****


Terimakasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2