Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 43


__ADS_3

"Terimakasih Dind. Ucapan mu itu luar biasa. Aku berjanji tidak akan mengkhianati Irene. Tapi bagaimana kalau dia yang meninggalkan aku?"


Dinda menoleh untuk mempelajari wajah ayahnya. Untuk sementara topik pembicaraan sudah beralih. Tapi hal itu memang sudah lama ingin dibicarakannya. Momen yang tepat adalah kalau ayahnya sendiri yang memulai. "Apakah itu berarti ayah meragukan dia? Ketakutan itu disebabkan oleh keraguan."


"Bukan, Dind. Ketakutan juga bisa disebabkan karena pengalaman dan rasa kasih sayang. Aku pernah mengkhianati ibumu, jadi sekarang aku punya ketakutan yang sama. Aku juga menyayangi Irene, jadi takut dia beralih kepada orang lain."


Dinda masih mengingat pembicaraannya dengan Irene. Aku menyukai kebebasan, Dind! Karena itulah aku lebih suka hidup bersama saja daripada terikat dalam pernikahan. Tapi kebebasan ini pun punya tanggung jawab. Tapi ketika ia memberanikan diri bertanya, "Apakah kebebasan itu membahagiakan Tante sekarang?" ternyata Irene tak mau menjawab.


"Jangan-jangan dia pun punya ketakutan yang sama yah!"


Johan melirik dengan tatapan selidik. "Apakah dia mengatakan hal itu kepadamu?"


"Tentu saja tidak. "Itu cuma perkiraan. Eh, jangan ngomong soal insting lagi Yah. Aku sudah bosan."


Johan tersenyum. "Apa kau pikir sudah saatnya untukku mengajak Irene berbicara dari hati ke hati?"


"Ya, Ayah. Ku pikir begitu."


"Ngomong-ngomong kau mau langsung pulang atau kerumahku dulu?"


"Pulang saja, ah. Jangan lupa ideku itu Yah. Bicarakan sama Tante Irene. Kalau dia memberi lampu hijau, Ayah mau nggak?"


"Tapi, apa kau pikir aku bisa berpura-pura?"


"Kenapa tidak? Yang penting, perempuan itu menyukai ayah."


"Jangan-jangan dia bisa menduga apa yang ku kehendaki."


"Semuanya tergantung pada kepintaran ayah." Dinda tersenyum.


Johan geleng-geleng. Seandainya dia belum memahami Dinda, pasti dia akan menolak dengan tegas. Kenapa dia harus mau saja disuruh dan di arahkan oleh seorang anak kecil, bahkan anaknya?


"Sebaiknya kau ikut ngomong dengan Irene, supaya dia lebih yakin."

__ADS_1


"Kan bisa nelepon Yah? Teleponlah aku kalau sudah ada kesepakatan. Bicara berdua saja pasti lebih leluasa," Dinda melirik penuh makna.


Johan menepuk pelan paha Dinda. Mereka berpandangan sejenak lalu tersenyum.


****


Frida bertempat tinggal di rumah susun dan membagi sebuah flat bersama dua orang teman. Dengan membagi tiga sewa rumah maka beban mereka menjadi lebih ringan. Kedua temannya bekerja malam hari di sebuah diskotik. Pada saat ia pulang kerja, biasanya mereka sudah berangkat, hingga ia bisa menikmati kesendiriannya. Dan sebaliknya bila ia sedang bekerja, kedua temannya itu juga tidak perlu terganggu oleh kehadirannya. Cuma dihari libur mereka berkumpul bersama. Tapi itu juga tidak selalu. Masing-masing memiliki kegiatan sendiri-sendiri. Dengan demikian mereka bisa hidup bersama dengan cukup rukun.


Sore itu Frida mendapati seseorang sudah menunggu di depan pintu flatnya. Bram. Lelaki itu tersenyum ramah dan menyapanya dengan mesra. Ia membalas dengan sama mesranya. Mereka pernah menjali hubungan yang intim dimasa lalu, tapi sudah berakhir. Semuanya sudah padam. Tak ada daya tarik lagi, yang satu kepada yang lain, walaupun sekedar untuk iseng atau kebutuhan biologis. Karena itu Frida tak pernah melihat atau menikah Bram sebagai makhluk lawan jenis dengan daya tarik seksual. Ia melihat semata-mata sebagai seorang mitra dalam menghasilkan uang. Dan ia tahu Bram pun menilainya dengan cara yang sama. Itu sudah terbukti lewat kerja sama mereka.


Tetapi sekarang ketika sudah berduaan dengan Bram didalam flatnya, ia merasa sesuatu yang berbeda. Ada perasaan kurang nyaman, entah was was atau kecemasan, pada saat ia bertatapan dengan Bram. Tiba-tiba lelaki itu nampak seperti sosok yang berbahaya. Dua kali peristiwa kematian dalam hidup pernikahan Bram bisakah dibilang sebagai kebetulan? Padahal ia tersangkut didalamnya. Tekadnya semula untuk tidak peduli menjadi luntur. Uang bisa diperoleh bila ada rezeki, tapi nyama?


"Bagaimana pertemuan dengan Johan barusan?" tanya Bram tanpa menyadari apa yang tengah berkecamuk dalam hati Frida.


Frida bercerita dengan cepat. "Pendeknya aku memenuhi semua ajaranmu, Mas. Tak ada yang terlewatkan. Dia bertanya persis seperti yang kau duga."


"Baguslah. Kau memang seorang mitra yang baik. Apa dia kelihatan puas?"


"Ia menanyakan alamatmu?"


"Tidak."


"Bagus. Kau memang harus bekerja sama Frid, karena sejak awal kau sudah bekerja sama." Kata-kata itu kedengaran nya sebagai ancaman.


"Tapi rencanamu kan cuma menguras uangnya bukan menyebabkan nya mati!" seru Frida, tak tahan lagi dengan pikiran-pikiran nya yang mengerikan.


Bram mengerutkan kening dan menatap tajam. Frida tak tahan beradu pandang karena tatapan itu membuatnya takut. "Kenapa kau berpikir begitu? Apa Johan yang bilang begitu?" tanya Bram.


"Dia tidak bilang apa-apa. Tapi aku punya otak, mas. Masa iya dua-duanya bisa mati. Tak mungkin kebetulan kan?"


"Hei, jaga mulutmu itu Frida! Jangan memfitnah orang sembarangan. Dua-duanya mati karena kecelakaan. Sudah takdir mereka. Apa yang bisa kulakukan?"


"Tapi... bagaimana mungkin? Indira mati karena kecelakaan, demikian pula Lilis. Apa semua perempuan yang nikah denganmu begitu buruk nasibnya?" tanya Frida penasaran.

__ADS_1


Bram tersenyum. Frida tak mengerti kenapa Bram bisa tersenyum ketika mereka membicarakan kematian. Apalagi yang mati itu para mantan istri Bram. Tidakkah Bram punya kepekaan perasaan? Ia merinding.


"Ya. Mereka bernasib buruk," kata Bram. "Pernahkah kau mendengar tentang orang-orang, baik lelaki maupun perempuan, yang selalu membawa sial bagi pasangannya? Nah, aku termasuk orang itu. Siapa yang nikah denganku berumur pendek."


Tatapan Frida mengandung horor. Ia menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak percaya yang seperti itu."


"Terserah. Aku tidak mungkin memaksamu untuk percaya."


Frida termangu. Kemudian ia berkata pelan-pelan. "Kalau begitu, aku tak mau bekerja sama lagi denganmu. Nanti bisa ada lagi yang mati."


"Ya sudah. Terserah kalau kau sudah tidak suka uang."


Percakapan tentang uang membuat Frida menengadahkan lagi kepalanya. "Mana komisi yang kau janjikan itu?"


Bram tertawa. "Tuh, masih suka kan?" katanya mengejek.


Anggaplah itu pembayaran yang terakhir. Setelah itu aku tak mau lagi berurusan denganmu. Carilah orang lain."


"Ah, jangan begitu Frid," Bram mencoba membujuk. "Mustahil kita putus hubungan begitu saja. Kau jangan percaya takhayul, dong. Aku tadi cuma bercanda. Pasti kebetulan saja kalau dua-duanya mati karena kecelakaan. Dimana-mana ada kebetulan."


"Nggak ah. Cukup sampai disini saja, Mas."


"Tak suka yang lagi?"


"Bayar sajalah yang terakhir itu, Mas" Frida mengulurkan tangannya.


"Sekarang aku tidak bawa uang tunai. Atau kau mau cek aja?"


"Nggak. Tempo hari kau beri aku cek kosong. Bikin malu saja. Mending nilainya gede."


"Siapa suruh kau mendesak terus padahal sudah kukatakan bahwa aku sedang bokek."


***___***

__ADS_1


__ADS_2