Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 32


__ADS_3

Yang dipikirkannya adalah bagaimana sesungguhnya tatapan Bram kepadanya dari belakang! Apakah sesungguhnya Bram memang tak berniat mengganggunya seperti yang dicurigainya dulu? Padahal justru sekaranglah kesempatan bagi Bram bila memang ingin menggangu, dan bukan dulu ketika ibunya masih ada. Apakah sekarang Bram tak merasa perlu berpura-pura lagi karena tujuannya sudah tercapai? Tujuan apa? Sungguh mustahil bila Bram menyingkirkan ibunya tanpa motivasi.


Kemudian Johan menceritakan padanya perihal janji Bustaman untuk berbicara dengan Bram agar lelaki itu pindah rumah. Johan menyatakan rasa herannya kenapa Bustaman belum juga mengajak Bram berbicara. Tentu saja Dinda mengatakan senang bila Bram keluar dari rumahnya. Ia tidak takut tinggal berdua dengan Bi Imah. Sedang mengenai biaya sehari-hari bukankah mereka bisa hidup dari bunga deposito ibunya? Ayahnya pun bisa diandalkan untuk itu.


Sementara itu Bustaman bukannya tak ingat akan janjinya. Hanya saja ia memerlukan waktu untuk berkonsultasi dengan ahli hukum. Jangan sampai ia mengusir orang tanpa dasar hukum. Setelah mendapat penjelasan bahwa seorang suami tidak berhak atas harta istri yang diperoleh si istri dari warisan, barulah ia merasa lega. Baik uang deposito yang dimiliki Lilis maupun rumahnya diwarisinya dari orangtuanya, bukan dari penghasilan sendiri selama hidup perkawinannya. Jadi semua harta Lilis itu jatuh ke tangan Dinda. Dan karena Lilis tak punya penghasilan sendiri, maka tak adalah yang namanya harta gono gini, sehingga Bram tidak berhak mendapat bagian.


Setelah itu Bustaman mengadakan janji pertemuan dengan Bram pada suatu sore tanpa mengatakan lebih dulu apa yang mau dibicarakannya. Bram menyatakan persetujuannya. Sementara itu Dinda diberitahu juga. Ia diminta untuk tidak ikut hadir karena dikhawatirkan akan emosi. Dinda setuju. Ia akan pergi ke rumah ayahnya.


Maka pada saat yang ditentukan itu Bustaman datang bersama Della. Bram menyambut mereka dengan ramah. Setelah duduk berhadapan, jelas tampak bahwa ketiganya merasa kurang nyaman.


"Maksud kedatangan kami mungkin akan kurang berkenan bagi pak Bram. Untuk itu kami harapkan kebesaran hati anda memahami persoalannya." Bustaman memulai dengan basa-basi. Ia melihat dahi Bram berkeringat dan kumisnya bergerak-gerak. Pasti lelaki itu lebih gelisah daripada dirinya, pikirnya untuk menenangkan perasaannya sendiri. Tugas seperti ini lebih membebani perasaan dibanding pembedahan yang paling sulit.


"Saya sudah siap, Pak Bus. Tidak usah berat hati. Sebenarnya dengan terus terang harus saya katakan bahwa saya sendiri membutuhkan pertemuan ini untuk menyampaikan suatu masalah yang sangat menyedihkan. Saya tidak tahu bagaimana menyampaikannya hingga terpaksa mengulur-ulur waktu. Kebetulan ada kesempatan ini. Saya sadar tak bisa mengukur waktu lebih lama lagi."


Bustaman berpandangan dengan Della. Ada masalah apakah gerangan? Sikap Bram begitu serius bahkan cemas.


"Masalah apa sih, Pak?" Della mendahului bertanya. Ia sangat ingin tahu.


"Ah, tampaknya kita sama-sama punya masalah yang mau dikemukakan. Karena Pak Bram bilang masalahnya menyedihkan. Apa sih?" tanya Della lagi.


Bram termangu dengan wajah sedih. Agak lama baru ia bicara, "Saya sangat menyesal bagi Dinda karena ibunya tidak meninggalkan apa-apa untuknya kecuali hutang semata," katanya dengan suara pelan tapi jelas.

__ADS_1


"Apa?" teriak Della. Sedang Bustaman melompat dari kursinya karena kejutan ganda. Pertama informasi yang disampaikan Bram, dan kedua suara lantang istrinya.


"Lilis menghabiskan hartanya di meja judi! Maafkan saya karena tak bisa mencegahnya!"


"Bohong! Lilis tak pernah berjudi!" seru Della dengan wajah berang. "Kau pasti bohong. Mentang-mentang ia tak bisa membela diri."


"Saya tidak bohong," kata Bram dengan sikap merendah. Wajahnya menunduk dengan pandangan ke bawah. "Kalian sendiri tidak tahu kemana saja dia pergi sepanjang hari. Tahu-tahu dia mengatakan punya utang sementara depositonya sudah dihabiskan."


"Lantas rumah ini?" tanya Bustaman ngeri.


"Sudah digadaikan ke bank. Sebentar saya ambil suratnya." Bram berdiri lalu menuju bufet yang tak jauh dari tempat mereka duduk. Ia mengambil sebuah map dari salah satu lacinya. Rupanya sudah dipersiapkan. Map itu ia sodorkan kepada Bustaman.


Bustaman dengan Della sama-sama terbelalak melihat surat pernyataan kredit bank sebesar seratus lima puluh juta rupiah dengan rumah itu sebagai jaminan. Sulit untuk mempercayai hal itu tetapi kenyataan sudah didepan mata.


"Untuk membayar hutang judinya."


"Tidak mungkin!" seru Della penuh emosi. "Ia tidak pernah bercerita kepadaku. Padahal dia selalu cerita kalau ada masalah. Jangan-jangan kau yang mengambil uangnya. Bukannya dulu pun kau pernah meminjam uangnya sebanyak lima puluh juta?"


Bram mengangkat muka lalu menatap Della. Wajahnya menampakkan harga diri yang tersinggung. Tetapi Della tetap menatapnya dengan melotot. "Saya sudah mengembalikan uang itu. Apakah dia tidak cerita juga?" kata Bram pelan. Sikapnya seperti orang yang tengah diadili.


"Ya. Dia menceritakannya. Jadi kenapa uang yang jumlahnya lebih besar lagi tidak diceritakannya?"

__ADS_1


"Wah, mana saya tahu. Mungkin karena dia malu akan perbuatannya."


"Pasti kau yang menipunya!" seru Della. Ia menjadi gemetar membayangkan bahwa Dinda kehilangan segala-galanya. Kasihan sekali. "Lilis itu orang yang pandai menyimpan. Dia menyayangi hartanya. Mana mungkin dihabiskan untuk berjudi."


"Karena itu mana mungkin juga dia membiarkan dirinya ditipu olehku?" Bram membalas. "Untuk meminjam lima puluh juta saja dia sangat susah memberikan. Apalagi memberi semuanya. Mana mungkin."


"Aku tidak percaya dia suka berjudi. Ayo katakan, dimana dia berjudi?" tantang Della.


"Dia tidak mau mengatakan."


"Bohong!"


"Saya tidak bohong. Dia takut saya membalas orang yang menjerumuskannya. Sudah pasti saya memang berniat membela. Percayalah, Bu Della. Saya akan menyelidiki hal itu. Saya juga merasa bersalah dan dipersalahkan. Kekhawatiran saya menjadi kenyataan sekarang ini. Kalau saya tahu apa saja kegiatannya sekarang ini, pastilah saya bisa melarangnya atau membujuknya. Sayang saya tidak tahu."


Della kehilangan kata-kata untuk menyerang. Ia merasa sangat terpukul, hingga ia menyandarkan kepalanya sebentar di pundak Bustaman. Sementara Bustaman masih termangu kebingungan. Ia mencoba berpikir rasional seperti kebiasaannya selama ini. Memang ia cenderung untuk tidak mempercayai. Tapi sekedar bicara saja tentu tak menghasilkan apa-apa. Bukankah mereka sama sekali kehilangan jejak mengenai Lilis? dia tak lagi bisa ditanyai?


Kesempatan itu digunakan Bram untuk berbicara lagi, "Untuk memperlihatkan tanggung jawab saya, saya bersedia membayarkan bunga bank setiap bulannya. Tetapi biarlah saya tetap tinggal dirumah ini."


Della tersentak. Demikian pula Bustaman. Rasanya mereka sudah terkena balasan telak sekali. Belum maju sudah mundur.


"Justru untuk urusan itulah kami datang, Pak," kata Bustaman. "Anda tentu sudah tahu, bagaimana perasaan dan sikap Dinda terhadap anda. Jadi mana mungkin kalian berdua hidup rukun seatap? Paling baik bila kalian tidak serumah.'

__ADS_1


"Saya mengerti maksud anda, pak Bus. Saya tahu, bahwa saya tidak berhak atas rumah ini. Karena itulah saya minta ijin lebih dulu. Kalau memang tidak diperbolehkan, ya tidak apa-apa. Tapi bagaimana dengan bunga bank itu? Tentunya akan berat bagi saya bila harus terus membayari sementara saya harus pula mengeluarkan biaya untuk mengontrak rumah. Tapi saya kasihan kepada Dinda."


****____****


__ADS_2