
Happy Reading
****___****
Dinda terdiam. Ia cemberut, jengkel oleh ucapan yang terasa ada benarnya tapi toh berarti meragukan tindakannya. Johan menepuk bahunya untuk membesarkan hatinya. "Jangan kesal, Dind. Tujuanmu baik."
"Ya. Tujuanmu memang baik, Dinda," pak Arman buru-buru melanjutkan. "Bila saya berada ditempatmu, pasti akan berbuat hal sama. Sayangnya saya seorang petugas yang harus bertindak mengikuti aturan."
Dinda sedikit terhibur oleh ucapan itu.
"Walaupun belum ada bukti, tapi percayalah. Laporan anda berdua sudah saya catat dan kasus ini diselidiki. Bila pelakunya tertangkap bisa ditanyai apakah ada yang menyuruh dan siapa orangnya. Setiap perkembangan baru yang berhubungan dengan kasus ini akan terus diamati." Janji pak Arman memang menghibur.
Setelah para petugas pergi, mereka membereskan barang-barang yang berserakan. "Untung saja buku-buku ini tidak disobek-sobek, ya Yah. Lecek dan kumal sedikit tak apalah."
"Ya. pikirkan segi positifnya saja, Dinda. Yang penting kau selamat. Itulah yang terpenting."
"Apa ayah pikir dia benar-benar ingin membunuhku?"
"Entahlah. Seperti kata polisi tadi, jangan terlalu cepat menyimpulkan. Nanti malah membuat stres. Mungkin tujuannya mau menakut-nakuti. Jadi jangan sampai tujuannya itu berhasil."
"Dia memang tidak berhasil, Yah."
"Aku senang kau sudah pulih, Dind."
"Ayah sendiri?"
"Ya. Sama denganmu. Tadi memang kaget sekali ya?"
Ketika mereka sibuk itu telepon berdering.
"Barangkali itu Bagas," kata Dinda sambil melompat. Ternyata dugaannya tidak salah. Segera ia terlibat dalam percakapan yang seru.
__ADS_1
"Kau tahu, Dind? Sebelum aku sempat bicara, Tante sudah tahu duluan. Tapi tentu saja tidak lengkap. Ternyata Om Bram sudah tahu dari tetanggamu itu, bahwa aku main selidiki ke rumahmu. Brengsek juga ya perempuan itu."
Dinda menahan dulu keinginannya untuk bercerita perihal pengalamannya sendiri hari itu. Ia bertanya, "Lantas bagaimana reaksi Tante mu? Apa dia syok?"
"Tidak begitu. Mungkin karena sudah diberitahu om Bram lebih dulu. Toh dia kaget juga, kok pengalaman mu seperti itu. Tentu saja cerita om Bram berbeda. Dia bilang, kau anak yang sakit. Sejak awal kau membencinya karena menganggap dia merebut kasih sayang ibumu."
"Kurang ajar!" seru Dinda jengkel.
"Ya. Dia pintar berdalih."
"Yang penting, Tante Maya sudah tahu. Tentu kita tidak bisa memaksa dia untuk percaya. Apa kau kau berpesan agar dia hati-hati?"
"Tentu saja. Dia menyampaikan terimakasih padamu. Kau sudah membuka matanya lebih lebar. Oh ya, dia ingin sekali berkenalan denganmu, Dind. Maukah kau bertemu dengannya?"
"Mau," sahut Dinda tanpa berpikir. Ia memang ingin sekali melihat Tante Maya. Seperti apa perempuan yang berhasil dirayu Bram?
"Kapan? Kalau bisa secepatnya."
"Sejak hari ini aku tinggal di rumah ayahku. Jadi Tante Maya bisa datang ke sana sore hari. Kalah pagi aku sekolah. Alamat rumah ayahku sudah ada padamu, kan?"
Dinda mendapat kesempatan untuk bercerita. "Maka kebetulan sekali kau nelepon sekarang karena aku ada disini bersama ayah. Kami sedang membenahi barang-barang yang berantakan."
"Wah, kau beruntung sekali dikaruniai insting seperti itu, Dinda." Suara Bagas kedengaran takjub.
"Tak apa-apalah barang hilang atau hancur. Yang penting kau selamat. Apa kau perlu bantuan? Aku bisa kesana sekarang juga."
Sebenarnya Dinda ingin sekali berkata, "Silahkan datang," tapi ia malu kepada ayahnya yang bisa menebak perasaannya. Sesungguhnya mereka tak memerlukan bantuan. "Tidak usah, mas. Terimakasih banyak."
"Baiklah. Nanti ku telepon ke nomor om Johan saja. Begitu juga bila Tante sudah mendapatkan waktu yang aman untuk berkunjung akan ku telepon dulu."
"Jangan sampai ketahuan om Bram, mas."
__ADS_1
"Aku, eh, kami akan berhati-hati."
Dinda menutup telepon. "Tante Maya akan datang berkunjung, Yah."
"Mudah-mudahan dia tidak bernasib seperti Frida." Johan berharap.
****
Tante Maya datang bersama Bagas l. Keluarga Johan menyambut mereka dengan gembira. Mereka memandang Maya dengan kagum. Alangkah beruntungnya Bram mendapat istri secantik itu. Heran, pikir Dinda untuk kesekian kali, apa sebenarnya daya tarik lelaki seperti Bram bagi para wanita yang terpikat itu?
Suasana perkenalan berlangsung secara unik. Mereka berkumpul oleh dorongan penyebab yang sama, yaitu ancaman kematian. Pihak yang satu sudah mengalami sementara pihak yang lain baru dibayang-bayangi. Kegembiraan pun bercampur dengan perasaan sendu.
Irene ikut menemani tapi ia tidak ikut serta dalam pembicaraan yang menyangkut diri Bram. Ia bersikap bijaksana karena menyadari dirinya tidak tersangkut dan tidak banyak memahami. Maka ia lebih bnyak mendengarkan dan memfungsikan dirinya sebagai nyonya rumah yang sibuk menyiapkan minuman dan makanan kecil.
Tante Maya mengajukan pertanyaan secara adil, baik kepada Dinda maupun kepada Johan. Hal-hal kecil yang tak terpikirkan dan karenanya dan tak sempat ditanyakan oleh Bagas ditanyakan olehnya. Ia mendengarkan dengan sikap yang simpatik dan penuh perhatian kepada cerita Dinda, terutama dibagian yang menyangkut insting dan dugaaan Dinda perihal Bram.
Dinda menyukai sikap Tante Maya itu. Baginya itu merupakan kepercayaan yang penuh dan tanpa pamrih. Tak ada pertanyaan yang meragukan atau menuntut kejelasan. Hal itu sangat berbeda dibanding Tante Della, om Bustaman bahkan ayahnya sendiri. Padahal Tante Maya baru saja mengenalnya. Apakah itu sebabnya karena Tante Maya terlibat langsung dengan Bram, sedang orang lain tidak? Lebih baik percaya kalau ingin selamat. Sedia payung sebelum hujan adalah tindakan bijaksana di saat cuaca mendung.
"Jadi sebelum tragedi itu, Bram sering membawakan minuman untuk ibumu?" tanya Tante Maya.
"Ya. Menurut Bi Imah hampir setiap pagi. Tapi seringnya itu belakangan saja, menjelang terjadinya musibah itu. Waktu baru nikah sih kayaknya nggak. Karena itu ibu kelihatan bahagia sekali, sering tersenyum sendiri dan bersenandung. Sampai-sampai saya pikir ibu sedang hamil. Ternyata bukan. Pasti karena ibu senang di beri perhatian besar oleh om Bram."
"Dia pun suka membawakan minuman untuk saya, Dinda. Ada saja yang dibuatkannya untukku. Teh manis, kopi susu, coklat susu, berganti-ganti..."
"Hati-hati, Tante! Jangan diminum!" seru Dinda sambil melompat dari duduknya. Orang-orang sekitarnya terkejut oleh gerakannya. Irene cepat mendekat lalu memeluk Dinda dan mengajaknya duduk kembali. "Tenang Dind," bisiknya.
Tante Maya mengangguk pelan lalu tersenyum menenangkan. "Saya mengerti kekhawatiran mu, Dinda. Terimakasih atas perhatian mu. Peringatan mu itu akan saya bawa pulang."
"Tapi bagaimana mungkin Tante bisa hidup tenang disampingnya?" Dinda tak tahan bertanya.
"Ya. Memang sulit. Tapi saya akan mencoba. Dan jangan lupa satu hal Dinda. Dia tahu bahwa saya sudah tahu perihal masa lalunya. Jadi saya yakin untuk saat sekarang ini dia tidak akan berani macam-macam Dia berceritakan jelek tentang dirimu dan saya bersikap mempercayai. Biarlah dia terlena dulu Leh kepercayaan yang saya berikan. Dia tentu membutuhkan waktu untuk menunggu saya melupakan ceritamu hingga tidak lagi berhati-hati. Nyatanya dia bertambah atentif saja belakangan ini. Sangat baik dan penuh perhatian."
__ADS_1
****___****
to be continued 😂