Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 34


__ADS_3

Dinda menyadari bahwa ia terlalu impulsif dengan menceritakan apa yang mau dilakukannya. Sebaiknya ia tidak berkata apa-apa. "Baiklah," katanya kemudian dengan nada menyerah. "Aku akan diam saja. Tapi aku akan tetap pulang kesana. Aku harus pulang."


"Tidakkah sebaiknya kau menginap disini saja?" tanya Johan.


"Tidak perlu Yah. Aku akan baik-baik saja," Dinda menjamin dengan senyumnya.


Dinda tak bisa dicegah. Ia ikut bersama Bustaman dan Della untuk diturunkan dirumahnya nanti. Pada saat pamitan, Irene menciumnya disertai bisikan. "Waspada lah Dind." Ia mengangguk dengan tatapan terimakasih. Selama perbincangan tadi, Irene sama sekali tidak ikut campur. Ia sengaja menghindar, pergi ke ruangan lain. Tetapi Dinda tahu, sikap Irene itu bukan tanda ketidakpedulian.


****


Bustaman dan Della tidak mampir lagi ke rumah Dinda. Mobil yang dikemudikan Bustaman cuma berhenti sebentar didepan rumah untuk menurunkan Dinda, lalu meluncur lagi setelah gadis itu masuk kedalam.


Dinda tidak melihat Bram yang diyakininya pasti berada dirumah karena mobilnya berada dihalaman. Bi Imah memberi tanda dengan telunjuk keatas. Berati Bram berada di kamar. Mengetahui hal itu Dinda keruang tamu lalu menyetel televisi. Sesuatu yang tak pernah dilakukannya bila Bram ada dirumah. Bi Imah ikut bersama nya dan duduk diatas karper dibawah kursinya. Mereka menonton bersama.


Tak lama kemudian terdengar suara berdeham-deham. Bram muncul. Tetapi Dinda tetap di tempatnya. Bi Imah gelisah. Ia bergerak untuk berdiri, tapi Dinda menekan pundaknya. Terpaksa Bi Imah menetap dengan sikap canggung.


Bram memandang Dinda sebentar, tapi Dinda tidak membalas tatapannya. Mata Dinda tidak berpindah arah dari televisi seakan acara yang dilihatnya itu sangat menarik. Padahal yang tampak adalah iklan yang membosankan. Kemudian Bram duduk juga, cukup jauh dari Dinda. Ia berdehem lagi tapi Dinda tidak menoleh. Sedang Bi Imah tambah gelisah.


"Kau tentu sudah tahu, bahwa besok aku akan pergi Dinda," kata Bram.


"Ya," sahut Dinda tanpa menoleh. Ia bersikap menunggu.

__ADS_1


"Bi, bisa tolong ambilkan minuman? Air putih segelas ya?" Bram mendapat alasan untuk mengusir Bi Imah. Tapi Bi Imah dengan senang hati bergegas pergi. Ketika ia kembali lagi untuk membawakan minuman yang diminta, Bram memberi isyarat agar ia kembali kebelakang. Bi Imah merasa lega karena Dinda tidak memberinya isyarat berlawanan. Sesungguhnya ia bukan tak ingin menemani atau menjaga Dinda, tetapi ia merasa kurang enak bila mendengar hal-hal yang bersifat pribadi. Sejak awal ia sudah mencium adanya permusuhan dari pihak Dinda kepada Bram. Ia mengerti sebabnya. Tapi Bram selalu bersikap baik kepadanya dan juga sering memberi persen. Jadi bagi Bi Imah, kesan perihal Bram cukup baik. Tetapi tiba-tiba kesan itu buyar berantakan ketika ia melihat pemandangan yang kurang wajar beberapa jam yang lalu.


Ia tidak tahu dan memang tidak ingin tahu perihal perbincangan yang dilakukan pak Bus dan Bu Della dengan Bram, tapi tentu saja sangat tidak pantas bila sesudah mereka pulang Bram tiba-tiba tertawa dengan senangnya. Apalagi saat itu suasananya masih diliputi kedukaan karena meninggalnya Bu Lilis. Pantaskah Bram tertawa seperti itu? Tambahan lagi wajah pak Bus dan Bu Della sangat murung ketika berlalu.


Bi Imah ingin menjada Dinda. Tapi cukup dari belakang, di tempat yang tidak kelihatan oleh Bram. Tak jauh. Disana ia bisa melihat mereka, tapi mereka tak bisa melihatnya. Dengan berbuat demikian, mau tak mau ia terpaksa ikut mendengarkan percakapan yang terjalin antara keduanya.


"Kau sudah mendengar semuanya, bukan? Aku sangat menyesal bahwa hal seperti itu bisa terjadi."


"Menyesal? Apa betul begitu, Om?"


"Betul. Sangat menyesal."


Dinda menoleh. Baru sekarang keduanya bertatapan. Bram terkejut mendapati betapa garangnya tatapan Dinda. Seperti dimata Dinda ada sumber api yang menyembur-nyembur, bagikan naga yang tengah berang. "Tak perlu munafik, Om. Jangan pura-pura."


"Ya. Kalau ibu tidak menikah sama Om, pastilah dia masih hidup."


"Wah, kau menuduhku lagi. Jangan berlebihan, Dind. Kau sedemikian rupa membenciku hingga membayangkan yang keji-keji dari diriku. Kau sungguh-sungguh menginginkan khayalan mu itu terwujud bukan? Aku sangat mencintai ibumu. Tapi kau mengingkari kenyataan itu."


"Cintamu itu gombal besar Om."


"Apa yang kau ketahui tentang cinta?"

__ADS_1


"Aku tidak tahu tentang cinta, tapi aku bisa membaca kegombalan mu!"


"Oh ya? Apa pula yang kau ketahui tentang kegombalan?" suara Bram terdengar sinis.


"Pendeknya aku tahu, bahwa sejak awal kau cuma pura-pura mencintai ibu. Kau sama sekali tidak mencintainya. Kau bermaksud mengurasnya. Itu saja. Cuma kenapa kau begitu tega, sesudah menguras masih pula membunuh? Kau benar-benar keji."


Sambil berkata begitu, Dinda terus mengamati wajah Bram. Ia menikmati perubahan di wajah itu. Bagaimana kesabaran dan ketenangan Bram berubah menjadi kemaraha. Wajanya kemerahan dengan mata menyala. Tapi nada pembicaraannya tidak memperlihatkan kemarahannya. "Aku rela menanggung tuduhanmu Dind. Sekeji apa pun. Biarlah itu sebagai hukuman karena lalai menjaga ibumu. Aku merasa bersalah. Maafkan aku."


"Maaf?" teriak Dinda. Ia menjadi sulit menahan diri menghadapi gaya pembicaraan Bram yang seperti itu. Andaikata Bram tampil marah dengan kata-kata mengancam dan menantang, mungkin akan sebaliknya. "Enak betul! Sesudah membunuh dan menguras harta orang, lalu minta maaf. Siapa yang bisa memaafkan mu?"


Bram geleng-geleng. "Tentu saja aku tidak bisa memaksa kalau kau tidak mau memberi," katanya.


"Pada suatu saat aku pasti bisa menyeretmu kedalam penjara!"


"Oh ya? Seretlah aku sekarang! Ayo!" Bram menantang.


Mereka kembali bertatapan. Kini Dinda melihat tatapan Bram mengandung kebencian kepadanya. Untuk pertama kalinya ia melihat tatapan Bram mengandung kebencian secara langsung dan berhadapan. Tak ada lagi tatap melecehkan dan mengandung cemooh, seperti lelaki yang tengah lapar oleh nafsu. Tatapan yang sekarang ini memiliki makna yang sama dengan tatapan yang terarah kepada ibunya dari belakang. Jadi, memang seperti itulah perasaan Bram terhadapnya.


Bram memiliki perasaan yang sama baik terhadap ibunya maupun terhadap dirinya. Tiba-tiba saja pada saat yang singkat itu ia mengerti, bahwa ia telah melakukan kesalahan yang besar. Ia telah membiarkan dirinya terjebak dalam permainan yang diatur oleh Bram. Sebenarnya bukan insting semata yang membuatnya yakin bahwa lelaki itu bukan yang baik. Pada suatu saat ia pernah merasa heran akan hal itu, kenapa Bram suka menrerornya diam-diam. Rupanya semua itu adalah kesengajaan dari Bram agar ia membencinya dan sekaligus menjauhkannya dari ibunya, karena kebencian yang diperlihatkannya dengan terang-terangan itu membuat ibunya kurang senang.


****____****

__ADS_1


to be continued 😂


__ADS_2