Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 78


__ADS_3

Pada saat itu, baik Irene maupun Johan, sama-sama menduga bahwa Bagas baru saja menyatakan perasaan yang sesungguhnya kepada Dinda, bahwa ia cuma menganggap Dinda sebagai adik. Tapi kenapa Bagas tidak kelihatan tadi? Dinda cuma keluar sendirian. Dan Dinda menangis begitu sedihnya. Cuma dua kali Johan melihatnya sedih seperti itu. Yang pertama adalah saat Dinda menangisi kematian ibunya. Apakah kesedihan yang sekarang ini setara dengan yang pertama? Sebegitu cintanya kah Dinda kepada Bagas? Dalam hati Johan merasa marah kepada Bagas. Tidak seharusnya Bagas sekasar itu. Tentu ia tidan melihat dengan mata kepala sendiri.


Tapi kalau dikasari, mustahil Dinda sesedih itu?


Dinda sudah berhenti menangis. Ia sibui mengeringkan mata dan hidungnya. "Aduh, celana Tante basah kayak orang ngompol!" serunya dengan sesal.


Irene tertawa. "Biar sajalah. Tidak apa-apa. Dirumah kan bisa ganti. Kita pulang dulu saja ya?"


Dinda setuju. Emosi dan kejutan yang dialaminya sudah lewat. Ia tinggal merenungi kembali semuanya. Menyedihkan dan menggemaskan hingga dia serasa mau meledak berkeping-keping. Sama seperti perasaannya dulu kepada Bram.


"Kita sudah tertipu!" katanya setelah tiba di rumah dan minum segelas air putih yang diberikan Irene.


"Tertipu bagaimana?" tanya Johan.


"Mereka, Tante Maya dan Bagas itu, adalah... adalah..." Dinda tak bisa menyebutkan kata yang diniatkan. Ia segera beralih menceritakan apa yang barusan dilihatnya.


Tentu saja Johan dan Irene sama-sama terkejut. Keduanya serasa tercekam horor. Irene buru-buru memeluk Dinda karena khawatir kalau-kalau Dinda sedih lagi. Tapi Dinda memberi tanda bahwa ia sudah bisa mengendalikan perasaannya.


"Jadi mereka bukan Tante dan keponakan?" kata Irene.


"Entahlah. Mereka bisa saja mengaku-aku. Mana kita tahu kebenarannya?" kata Dinda kesal.


"Kita selidiki!" seru Johan.


"Buat apa, Yah? Untuk mendapatkan kebenaran? Dan kalau sudah dapat, kita mau apa? Menuntut mereka? Untuk itu selalu dibutuhkan bukti konkret, Yah! Terutama Maya yang nampak begitu innocent, suci seperti dewi," keluhnya.


"Bukan cuma kita saja yang tertipu, Mas," Irene setengah menghibur suaminya.


"Oh ya? Siapa lagi?"


"Tentu saja Bram. Lelaki itu mengincar harta Maya. Perempuan itu pun sama. Pemenangnya adalah perempuan."

__ADS_1


"Dengan bantuan kita," sambung Dinda.


"Ooooh..." desis Johan penuh kegemasan. "Kalau kubayangkan, bagaimana kita membela mati-matian perempuan itu didepan polisi, Duh... betapa bodohnya. Betapa memalukan. Mereka tentu menertawakan kita."


"Memang baru sekitar terpikir bahwa kita sebenarnya tidak terlalu cermat waktu itu," kata Dinda. "Kita terlalu dipengaruhi orang-orang. Kita senang bahwa Maya selamat dan Bram mati. Kita pun bertekad melindungi Maya dari tuduhan karena kita sudah dipengaruhi citranya sebagai orang yang baik dan terancam. Akibatnya kita tidak berpikir lagi. Mestinya kematian dengan cara seperti itu bisa menimbulkan kecurigaan. Lain halnya dengan kematian ibu dan juga istri pertama Bram. Semuanya karena kecelakaan. Tapi yang ini betul-betul oleh racun. Tidakkah Bram memperhitungkan akibatnya kelak? Ia sudah tahu dirinya dicurigai. Mustahil ia ceroboh. Bila Maya sampai mati karena diracuni, pasti Bagas dan kita juga tidak akan tinggal diam. Mayatnya tentu harus diautopsi lalu ketahuan penyebabnya. Kata Om Bus, keracunan arsen mudah dideteksi."


"Betul sekali. Oh, sungguh membuat penasaran," kata Johan dengan geram.


"Habis bagaimana? Ada sebaiknya kita melaporkan lagi kepada pak Arman?" kata Irene.


Johan terkejut. "Wah, tindakan itu sama saja dengan menelanjangi diri sendiri? Jangan lupa. Kita punya andil dalam kesalahan itu. Dan kita lagi-lagi menyodorkan kesimpulan. Mana buktinya?"


Mereka bertiga termangu sejenak untuk membayangkan kembali hal-hal yang sudah berlalu. Sekarang terasa menyedihkan untuk dikenang. Tetapi takkan mungkin menghapusnya.


"Sudahlah. Mana kita tahu bahwa sebenarnya kita berhadapan dengan penipu," kata Irene. "Yang penting, sekarang kita sudah tahu dan tidak perlu berhubungan dengan mereka lagi. Jadi kita tidak usah bersedih atau penasaran. Anggap saja sebagai pelajaran. Bukan begitu, Dinda?"


Dinda mengangguk tapi kemudian ia memejamkan mata. Diantara mereka bertiga, yang paling sedih adalah dirinya. Dia mencintai Bagas, memuja dan mengaguminya. Tak pernah ia menjumpai lelaki yang nampak begitu sempurna. Perasaan itu membangkitkan harapan indah, menghiasi mimpi-mimpinya dan menambah semangat hidupnya. Tetapi dalam waktu hanya beberapa menit, mungkin juga detik, semua itu hancur berantakan. Cukup dengan menyaksikan sebuah adegan saja. Harga dirinya sangat terluka. Ternyata dia sudah keliru menilai orang. Sangat keliru. Ah, mungkin juga bukan semata-mata keliru menilai. Tapi dia menilai dari sudut yang salah. Seharusnya dia tidak berdiri disudut yang itu. Perlukah penyesalan? Ia pun teringat kepada Bram. Kepada ibunya. Dan kepada korban-korban Bram yang lain. Barangkali seperti halnya Maya dan Bagas yang memanfaatkan dirinya untuk mencapai tujuan mereka, ia sendiri pun memanfaatkan mereka untuk membalas dendam kepada Bram meskipun dalam ketidaktahuan.


Johan dan Irene memerhatikan Dinda dengan khawatir. Tetapi mereka tidak berani menegur. Mereka lega ketika Dinda membuka mata dan membalas tatapan mereka. "Sebenarnya kita dan mereka saling meminjam tangan. Kita memang tidak tahu. Sakitnya disitu," katanya kemudian.


"Itu sudah pasti," sahut Johan. "Barangkali suami pertama Maya pun merupakan korban. Ia tidak pernah menceritakan sebab kematiannya."


"Tapi pada suatu saat mereka akan kena batunya juga. Sama seperti Bram. Selalu ada yang kalah dan yang menang. Orang tak bisa terus-terusan memang," kata Dinda.


Lalu telepon berdering nyaring. Dinda melompat. "Biar aku saja," katanya.


Dugaan Dinda tepat. Telepon itu dari Bagas. "Maaf aku tidak bisa datang, Dinda."


"Tidak apa-apa, Mas. Toh aku juga sudah bosan."


"Apa? Bosan?" suara Bagas kedengaran kaget dan tak percaya.

__ADS_1


Tapi Johan dan Irene yang mendengarkan pun ikut kaget. Benarkah Dinda sudah bosan? Apakah kemarahan dan kekecewaan bisa menimbulkan kebosanan?


"Ya. Aku benar-benar bosan."


"Ah, sayang sekali. Kau begitu berbakat."


"Terimakasih, mas."


"Jadi Minggu depan kau tak mau belajar lagi?"


"Tidak."


"Baik. Hubungi aku lagi kalau sudah bilang bosanmu."


"Ya. Terimakasih." Dinda meletakkan telepon lalu menatap ayahnya dan Irene. Ia tersenyum melihat keprihatinan diwajah mereka.


"Jadi kau tidak benar-benar bosan?" Johan menyimpulkan lega.


"Tentu tidak, ayah. Aku cuma tidak ingin melihat lelaki itu lagi."


"Bagus!"


Mereka berpegangan tangan. Betapa menentramkan hati berada didekat orang-orang yang bisa dipercaya.


"Bagaimana bila suatu waktu kebetulan kita lihat Maya menggandeng suami baru? Apakah kita harus memperingatkan si suami?" tiba-tiba Dinda melontarkan pertanyaan.


Johan dan Irene memandang Dinda dengan tatapan horor.


*******************TAMAT********************


Terimakasih yang sudah setia menunggu lanjutan cerita ini sampai tamat ya...

__ADS_1


Terimakasih dukungan nya selalu. Kita lanjut ke novel selanjutnya. Bagi yang belum Follow akun saya ini, jangan lupa di follow yaaaa,,,


Terimakasih.


__ADS_2