Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 71


__ADS_3

Happy Reading and Thanks for your support my Novel 😘😘😘😘


************________************


Hari Minggu pagi Bagas menepati janjinya kepada Dinda. Dia datang dengan membawa beberapa disket. Dinda memang sudah tidak canggung lagi menggunakan komputer karena sudah mendapatkan pelajaran tambahan di sekolahnya, tetapi sudah tentu masih jauh dari mahir. Bagas memberinya pemahaman baru mengenai banyak hal yang bisa dikerjakan dengan alat itu. Dinda sungguh bersemangat.


Setelah makan siang bersama dengan keluarga Johan, Bagas pamitan. Dia akan datang kembali pada hari Minggu berikutnya. Sepanjang hari itu hampir tak ada percakapan mengenai Bram. Bagas pun tidak menyinggung Tante Maya dalam pembicaraan. Maka Dinda dan ayahnya menyimpulkan, tak ada perkembangan baru mengenai masalah ini. Mereka tak ingin cerewet dengan terus-terusan mengulangi hal yang sama. Bila memang ada perkembangan pastilah Bagas akan memberitahu. Bahkan lewat telepon cukup.


Tetapi Dinda yang mendapat pelajaran baru yang mengasikkan terobati keingintahuannya. Perhatian dan pemikirannya teralih. Irene mengatakan kepada Johan bahwa hak itu sangat sehat bagi Dinda. Tidak baik bagi seseorang, apalagi yang masih belia, untuk terus berpikir secara intens mengenai kejahatan dan kekejian. Jadi Johan pun harus meredam keinginantahuannya sendiri. Tentu saja itu ia pun memiliki kesibukan sendiri berupa pekerjaannya sehari-hari di bengkelnya. Tapi ada saat-saat dimana masalah itu muncul menggangu pikirannya.


Beberapa kali ia sengaja melewati rumah Bram di kawasan Menteng, maupun rumah Maya. Tetapi tak pernah secara kebetulan berhasil melihat penghuninya. Entah rumahnya memang sedang kosong atau penghuninya berada didalam. Bila melewati rumah Bram ia teringat kepada teori yang pernah dikemukakan Dinda. Tempat yang paling umum menyembunyikan mayat adalah rumah milik sendiri yang ditempati sendiri juga. Seandainya teori itu merupakan kenyataan, mungkinkah Maya bisa tidur nyaman disitu? Tapi Maya tak bercerita tentang gangguan yang tidak wajar selama tinggal bersama Bram dirumah itu. Dan Bram sendiri, bisakah ia hidup nyaman dirumahnya sendirian, pada saat ia belum menikahi Maya! Tentunya bermental baja


Pemikiran terus menggelitik perasaannya. Apakah ia sangat sering teringat kepada Frida. Beberapa kali perempuan itu muncul dalam mimpinya. "Bukankah kau ingin bertemu dengan ku?" begitu tanya Frida. Akhirnya, pada hari Minggu berikutnya ia mencari kesempatan pada saat Dinda tak berada di ruangan untuk mengemukakan kepada Bagas.


Bagas nampak terkejut mendengar topik baru itu. ia termangu sesaat sebelum berkata pelan, supaya tidak sampai terdengar oleh Dinda. "Tapi Tante Maya tidak pernah bercerita tentang sesuatu yang janggal dirumah itu, Om. Cuma sekali-kalinya yang paling mengganggunya adalah bangkai tikus dihari pertama dia kesana. Tapi ia merasa bisa memaklumi, karena rumah itu tidak terpelihara. Sejak menemani rumah itu, tak ada lagi kejadian serupa. Jadi, seperti itukah dugaan Dinda?"


"Bukan dugaan, melainkan teori saja, Gas."


"Tapi itu teori yang masuk akal, Om."


"Sebaiknya kau jangan menyinggung masalah itu didepan Dinda, karena saya pernah memintanya untuk tidak membicarakannya dengan mu."


"Kenapa Om?"

__ADS_1


"Saya khawatir kau akan menceritakan kepada tantemu dengan akibat dia akan ketakutan lalu Bram mencium sesuatu yang tidak wajar."


Bagas mengangguk. "Ya. Betul juga. Saya tidak akan menceritakannya dengan tente, Om. Tapi saya akan mencari kesempatan untuk meneliti tempat itu."


"Kau belum pernah kesana?"


"Sudah, Om. Waktu itu saya membantu Tante membawa beberapa barang. Tapi tentu saja saya tidak sempat mengamati halaman belakang karena tidak punya prasangka apa-apa."


"Tentu. Saya maklum."


"Saya akan mencari upaya supaya bisa masuk kesana. Sulitnya, pintu gerbang hanya bisa dibuka oleh remote control milik Om Bram. Barangkali saya akan mengatur siasat mengajak Tante kerja sama tanpa dia harus tahu apa tujuannya. Belakangan ini Om Bram sering keluar kota."


"Tapi kau harus berhati-hati."


"Pasti Om."


"Tapi kalau yang mengajarkan bukan Bagas, belum tentu dia seserius itu," komentar Irene.


"Memang guru yang baik dan menarik akan menghasilkan murid yang baik pula. Aku selalu memperhatikan wajahnya pada saat itu. Dinda kelihatan gembira dan bersemangat. Demikian pula bila tak ada Bagas disampingnya. Ia tetap rajin dan tekun belajar sendiri."


Irene tersenyum. "Kelihatannya Bagas menganggapnya seperti anak yang belum dewasa. Perlakuannya seperti kepada seorang adik. Tetapi Dinda tidak demikian."


"Apakah dia telah membuka isi hatinya kepadamu?"

__ADS_1


"Tidak. Aku cuma memperhatikan tatapan dan sikapnya kepada Bagas. Begitu berseri dan lembut. Padahal kata Bi Imah, Dinda itu galak kepada cowok."


"Ah, kita lihat saja perkembangan hubungan mereka. Aku sendiri merasa aman saja terhadap Bagas. Dia lelaki baik yang psti akan menjaga Dinda dengan baik pula. Apalagi hubungan kita dengan dia terbilang unik, bukan?"


Karena perasaan aman itu pula makan pada hari Minggu yang ketiga sejak acara rutin itu. Johan tidak lagi merasa berat hati untuk meninggalkan Dinda dan Bagas berdua dengan ditemani Bi Imah. Ia pergi berekreasi bersama Irene dengan perasaan tenang. Tapi ia tak lupa berpesan kepada Bi Imah untuk sesekali mengintip kegiatan kedua insan itu.


Ternyata setelah mereka pulang di sore hari, Bi Imah tidak bicara apa-apa. Ia hanya mengacungkan jempolnya. Itu sebagai jawaban yang memuaskan.


Lalu Dinda melaporkan, "Kata Bagas, om Bram dan Tante Maya kelihatan bertambah mesra saja. Sikap Om Bram selalu penuh perhatian, sangat atentif."


Johan mengerutkan kening. "Oh ya? Apa tak diingatkannya supaya waspada? Sikap seperti itu bisa melenakan orang. Sama halnya seperti ibumu dulu, Dinda."


"Jangan khawatir, Yah. Menurut Bagas, Tante Maya selalu waspada. Tentunya ia tak mungkin membalas sikap atentif dengan sikap yang dingin atau mencurigai. Nanti Bram bisa menduga jelek."


"Betul juga. Tapi bagaimana mungkin ia bisa waspada terus-terusan? Pada suatu saat ia bisa saja lengah. Namanya juga suami istri, apalagi kalau mesra begitu."


"Kata Bagas, setiap kali Bram membawakan makanan untuk kemudian dimakan berdua, maka Tante selalu mencari kesempatan untuk diam-diam menukar piring mereka."


Johan dan Irene tertawa. "Aduh, cerdik sekali dia," komentar Irene. "Tapi sampai berapa lama dia bisa bertahan seperti itu?"


"Menurut Bagas, Tante Maya ingin mencari bukti yang konkret dulu apakah Om Bram benar-benar ingin membunuhnya atau tidak. Dugaan atau kecurigaan saja cuma membuatnya penasaran tanpa kepastian."


"Aduh , kepastian?" Irene setengah berseru. "Bagaimana bentuknya kepastian itu?"

__ADS_1


"Ia ingin menangkap basah dan juga memperoleh barang bukti. Katanya, jangan sampai terulang pengalamanku dulu. Ya, dia memang perempuan yang berani, bukan?" puji Dinda.


****____****


__ADS_2