Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 66


__ADS_3

Happy Reading


****


"Papa! Bisa jemput aku sekarang?" katanya tanpa bisa menyembunyikan getaran emosi.


"Hei, tenang Dinda. Ada apa?"


"Jemput saja, Yah. Aku mau pindah ke rumah ayah sekarang."


"Oke. Ayah segera kesana menjemput mu."


Setelah meletakkan pesawat telepon Dinda berlari memberitahu Bi Imah untuk segera berkemas. Maha mereka berdua berlari hilir mudik membenahi barang-barang yang akan dibawa. Bi Imah tak sempat bertanya-tanya karena sikap Dinda membuatnya takut. Tingkah Dinda seperti orang yang rumahnya terancam kebakaran.


Ketika akhirnya Johan datang bersama Irene, keduanya terheran-heran. Wajah Dinda masih kemerah-merahan sedang Bi Imah masih saja sibuk membenahi ini itu. Di lantai ada koper, tas besar, dan buntelan-buntelan. Kalau tidak melihat wajah Dinda, pastilah Irene sudah terbahak. Tapi ekspresi yang diperlihatkan Dinda membuat keduanya risau. Niat yang diutarakan Dinda lewat telepon tadi terdengar begitu mendadak. Sudah sering dibujuk-bujuk tapi Dinda terus saja mengulur waktu. Sekarang malah ingin sendiri dengan cara yang tergesa-gesa. Hal seperti itu tentu ada sebabnya.


"Hei, kau tidak perlu membawa semuanya sekarang juga, bukan?" tanya Johan. "Besok-besok kan masih bisa diangkut. Sekarang yang penting hanyalah diri kalian berdua saja."


"Ya, ayah memang betul. Tadi tak terpikir. Seperti kalau bisa, rumah ini mau kubawa juga." Dinda mengakui.


"Tak terpikir?" Johan bertanya heran. "Sebenarnya ada apa Dinda?"


Sementara Johan berbicara dengan Dinda, Irene mengajak Bi Iman memeriksa rumah sekali lagi. Jangan sampai kompor ditinggalkan masih menyala atau alat-alat listrik masih tersambung alirannya. Setelah merasa yakin akan semuanya mereka kembali ke ruang depan dimana Johan dan Dinda berada. Dinda sudah lebih tenang sekarang. Ia mengembalikan beberapa barang yang tidak begitu diperlukan kedalam kamarnya, supaya kepergian mereka tidak terlalu mencolok terlihat oleh tetangga, terutama oleh ibu Leli. Besok ia bisa kembali untuk mengambil barang lain.

__ADS_1


Pada saat Dinda menyibukkan dirinya, Johan menceritakan kepada Irene apa yang barusan dibicarakan mereka. "Biasanya dia tidak sepanik itu, Ren. Apa karena menyadari bahaya?"


"Mungkin instingnya mas," bisik Irene.


"Ya. Mungkin begitu," Johan setuju. "Tapi jangan bicarakan hal itu di mobil, Ren. Sebaiknya Bi Imah tidak perlu tahu."


Mereka berangkat setelah menyalakan lampu teras. Nampaknya tak ada tetangga yang menyaksikan keberangkatan mereka. Tentu saja mereka sudah sering melihat Dinda pergi bersama ayahnya, tapi biasanya Bi Imah tak pernah ikut serta.


Sepanjang jalan Dinda tak banyak berbicara. Ia tahu sebaiknya tidak membicarakan hal itu didepan Bi Imah. Tetapi sikapnya sudah benar-benar terkendali. Dalam diamnya ia banyak berpikir. Ada rasa malu dan juga heran, kenapa tadi ia sepanik itu. Takutkan ia kepada Bram? Padahal selama tinggal bersamanya ia tak pernah merasa takut yang seperti itu. Suatu rasa takut yang membuatnya ingin lari mencari tempat berlindung dalam ketergesaan yang menghilangkan kemampuannya untuk berpikir. Sekarang ia sudah terlindung. Pikirannya tak lagi tertuju kepada diri sendiri. Ia teringat kepada Bagas dan tantenya. Tak ada jalan lain baginya selain menunggu kabar dari Bagas besok. Ia tak mau mencoba lagi menelepon Bagas untuk kemudian mendengar suara Bram. Mungkin Bram menginap disana. Ia berharap Bagas meneleponnya malam ini. Bagas sudah tahu, bila ia tak berada dirumah pasti ia di rumah ayahnya.


Tetapi malam itu tak ada telepon dari Bagas.


****


Malam itu ia menginap dirumah Maya. Saat makan malam, Bagas menemani mereka. Berkali-kali ia mengamati perilaku Bagas dan Maya, seperti yang telah dilakukannya sejak dua hari belakangan, yaitu sejak pertemuannya dengan Bu Leli. Tetapi ia tidak menemukan perbedaan sikap mereka terhadap dirinya. Biasa-biasa saja, seperti sebelumnya. Padahal ia yakin Dinda sudah menghasut Bagas dan menceritakan segala kejelekan perihal dirinya. Ia merasa bingung dan sulit menyimpulkan sesuatu yang pasti. Mungkinkah Bagas dan Maya tidak mempan dihasut dan percaya penuh kepadanya?


Kalau memang demikian seharusnya ia merasa beruntung. Tapi ia belum yakin. Bila kepercayaan tanpa pamrih diberikan oleh seseorang seperti Lilis, yang dinilainya kurang cerdas dan malas berpikir, maka ia tak akan merasa heran. Biarpun demikian, toh orang seperti Lilis akan memperlihatkan kelainan sikap, bahkan kemungkinan besar terdorong menanyakan kebenaran isu yang didengarnya. Apalagi bila yang mengalami adalah orang seperti Maya dan Bagas. Sudah terbukti Bagas telah melakukan penyelidikan mengenai dirinya. Jadi mustahil kalau hasil penyelidikan yang telah diperolehnya malah didiamkan atau dianggap angin lalu.


Jadi, apa sebenarnya rencana mereka? Ia menjadi gelisah sendiri. Lalu dengan susah payah berusaha menutupi. Nampaknya ia berhasil karena kedua orang itu tidak menyadari kegelisahannya. Mereka asyik berbincang mengenai berbagai peristiwa yang menjadi topik saat itu. ia menyeka sesekali dan lebih bersikap sebagai pendengar hingga bisa sekalian menjadi pengamat.


Selesai makan Bagas naik ke loteng untuk pergi ke kamarnya, tempat dimana ia menghabiskan sebagian besar waktunya bila sedang berada di rumah. Maka Bram memanfaatkan waktu itu untuk mengamati Maya. Untuk kesekian kali ia menyimpulkan, tak ada yang janggal atau berubah pada perilaku Maya. Tetapi ia tidak tahan lagi mendiamkan atau menyimpulkan sendiri saja.


"Sudahkan Bagas menyampaikan padamu hasil penyelidikannya baru-baru ini?" tanyanya, selembut mungkin.

__ADS_1


"Penyelidikan apa?" Maya balas bertanya dengan sikap heran.


Bram mempelajari ekspresi Maya. Kalau itu bukan kewajaran, tentunya Maya amat pandai bersandiwara. "Mengenai masa laluku," sahut Bram, menyembunyikan emosinya.


"Oh," Maya nampak kaget. Keningnya berkerut. "Apa iya dia melakukan hal itu? Biar kutanyakan." Maya berdiri untuk menyusul Bagas ke kamarnya. Tetapi Bram menariknya duduk kembali.


"Tidak apa-apa. Jangan, May. Nanti dia tersinggung. Jadi dia tidak atau belum mengantarkan apa-apa?"


Maya menggeleng. "Maka itu aku mau menanyakan langsung kepadanya. Kenapa ia melakukan hal itu dan apa hasilnya."


"Sebaiknya jangan,May. Tunggulah sampai dia menyampaikan sendiri. Ada dua kemungkinan kenapa dia belum menceritakan. Pertama, ia menganggap tidak perlu. Kedua, ia menunggu saat yang tepat."


"Tapi kau membuatku ingin tahu."


"Biar aku saja yang menceritakan. Kau mau mendengar?"


"Oh, tentu saja. Ayolah ceritakan."


****____****


to be continued 😂


Maaf belum bisa konsisten update nya.

__ADS_1


Semoga ini segera selesai, karena yg lain menyusul.


__ADS_2