Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 35


__ADS_3

Ibunya berpikir semua itu disebabkan karena dia iri hati dan tidak suka melihat ibunya bahagia. Betapa menyedihkan bahwa sampai kematiannya, ibunya tetap tak mau bercerita mengenai apa saja yang diperbuat Bram dan kegiatannya sendiri. Maka ia merasa gelap tentang segala-galanya. Ketika Bram mengatakan bahwa ibunya suka berjudi, bagaimana ia bisa membuktikan bahwa itu tidak benar? Ia tidak tahu apa-apa!


Dinda merasa syok oleh kesadaran itu hingga dia menjadi lemas dan pikirannya buntu. Lagi-lagi penyesalan. Lagi-lagi terlambat. Oh ibu, kalau saja aku bisa meyakinkan mu dialam sana bahwa anggapan tentang diriku sangat keliru. Aku membenci lelaki itu bukan karena iri hati. Tapi dia sengaja membuatku membencinya!


Kemudian Dinda mendengar suara tertawa Bram. Sinis sekali kedengarannya. Selama pikirannya berjalan tadi ia hampir melupakan kehadiran Bram. Kesadaran barusan bagai pukulan yang mengejutkan. Ternyata dia memang masih hijau dan bodoh karena membiarkan diri dimanfaatkan. Lelaki besar didepannya ini jelas menang dalam kecerdikan dan kelicikan. Ia kembali menatapnya. Sekarang ia bukan saja melihat kebencian dimata Bram tapi juga cemooh seperti dulu. Semuanya sudah terang-terangan.


Darah Dinda mendidih. Ia merasakan suatu kemarahan yang dahsyat, menggelegak dan mendorong. Tak bisa ditahan. Dan tak ingin ia tahan. Kapan lagi ia mendapat kesempatan kedua? Sekaranglah saatnya. Maka dengan gerakan mendadak ia melompat dari kursinya lalu melompat lebih jauh lagi sambil mengayunkan sebelah kakinya darimana segenap tenaganya tersalur, mengarah ke wajah Bram yang masih tersenyum! Ketika ekspresi Bram berubah memperlihatkan kejutan, sisi telapak kaki Dinda sudah menghantam dagunya dengan keras sekali. Dalam posisi duduknya dan kondisi tidak siap akan serangan, Bram tak bisa mengelak sedikit pun. Ia berteriak kesakitan dan terguling kebelakang bersama kursinya!


Bi Imah tergopoh-gopoh berlari lalu berdiri terpaku menyaksikan pemandangan yang aneh. Apa yang dilihatnya sama sekali terbalik dari keadaan yang dicemaskannya. Bukan Dinda yang tersungkur dan teraniaya, melainkan Bram!


Dinda memberi tanda bi Imah agar menjauh. Ia sendiri berdiri dalam posisi siap dengan kedua kaki memasang kuda-kuda yang kokoh. Tatapannya tajam dan bersikap siaga. Seorang lelaki yang diperlakukan seperti itu tentunya tidak rela diam saja. Apalagi bila lelaki itu merasa fisiknya jauh lebih kuat dan bertenaga.


Tetapi betapa tercengangnya Dinda ketika melihat Bram bangkit dengan susah payab, merintih kesakitan. Kedua tangannya mendekap mukanya dibagian bawah. Diantara jarinya mengalir cairan merah. Melihat darah Dinda menjadi ngeri. Ia terpesona dan kehilangan sikap siaganya. Tetapi ia menetap ditempatnya. Bi Imah pun demikian. Mereka sama-sama terpaku sambil memandang kepada Bram!


Lelaki itu terduduk dilantai sambil merintih-rintih kesakitan. Nampaknya benar-benar tak berdaya. Dinda tak mau mendekat karena khawatir sikap Bram itu cuma tipu muslihat. Mustahil ditendang begitu saja bisa separah itu, pikirnya. Tetapi ketika Bram menurunkan sebelah tangan dari mukanya, baru melihat bahwa rahang Bram sedikit miring dan bibirnya pecah! Dinda terkejut bukan main. Ia melotot tak percaya, bahwa akibat perbuatannya bisa separah itu. Lalu Bram memandang kepadanya. Sorot matanya memperlihatkan kemarahan tapi juga permohonan. "Panggil dokter!" desisnya dengan wajah berkerut. Suaranya terdengar aneh.


Dinda berpikir sejenak. Ia menelepon Bustaman. Tetapi ia tak menjelaskan banyak ketika suara Bustaman yang penuh kecemasan bertanya dengan cerewet. "Disini ada yang membutuhkan dokter, Om!" katanya singkat.

__ADS_1


Saat itu sudah jam sepuluh malam. Tapi Bustaman datang bersama Della dengan menenteng tas dokternya. Keduanya nampak tegang dan berwajah cemas. Lalu mereka terheran-heran melihat Dinda tak kurang suatu apa pun. Dan kemudian mereka menjadi lebih heran lagi ketika menemukan Bram terkulai diatas karpet dengan bantal dibawah kepalanya. Bustaman benar-benar terperangah melihat cedera yang dialami Bram. Dia memutuskan untuk membawa Bram ke rumah sakit karena tak bisa menolongnya disitu.


Setelah memberi Bram suntikan penghilang rasa sakit, Bustaman menarik Dinda keruangan lain untuk menanyainya. Della cepat-cepat mengikuti. Bi Imah disuruh menjaga Bram tetapi ia tak mau dekat-dekat.


Bustaman dan Della ternganga mendengar cerita Dinda. "Sungguh mati, Om, Tante. Aku sangat marah dan lupa diri," katanya tanpa mengatakan bahwa sebenarnya ia memang sangat ingin menendang Bram sejak lama.


Bustaman geleng-geleng kepala. "Bukan itu Dind. Bukan itu. Aku tahu, kau sedang emosi. Tapi aku tak habis pikir, bagaimana mungkin tendangan mu bisa membuat rahangnya retak!"


Setelah keheranannya berlalu, Della tersenyum. "Dinda sudah pintar kungfu sekarang, Pa. Aku senang. Bram sudah kena batunya sekarang."


"Baiklah. Kau memang sudah pintar Din," Bustaman mengakui. "Tapi lain kali kau harus lebih mengendalikan diri. Jangan mudah terbawa emosi. Apalagi yang kau lakukan tadi bukanlah membela diri, melainkan menyerangnya. Sebaiknya kau telepon ayah mu setelah kami membawa Bram. Beritahu dia."


Setelah Bustaman bersama Della membawa Bram kerumah sakit dengan mobil mereka, Dinda mengikuti saran Bustaman untuk menelepon ayahnya.


Johan belum tidur. "Wah, jadi kau berhasil menghajarnya. Puas Dind?"


"Entahlah, Yah. Tadi aku sangat puas. Sekarang aku tidak yakin lagi. Jangan-jangan aku telah melakukan kesalahan yang lain."

__ADS_1


"Sudahlah. Sekarang tak ada gunanya menyesali yang sudah lewat. Ada baik dan buruknya perbuatan mu tadi itu. Baiknya, kau sudah tahu sampai dimana kemajuan ilmu yang kau pelajari sekalian melampiaskan emosimu yang terpendam. Hitung-hitung dia dijadikan kelinci percobaan. Ha ha ha! Tapu jangan senang dulu, lho. Ada buruknya juga. Kira-kira kau bisa memperkirakan apa itu, Dind?"


"Ya, Yah. Yang sudah terpikir ada dua. Pertama soal emosi yang masih belum bisa kukendalikan. Kedua, aku sudah memberikan citra buruk pada diriku sendiri. Bila Om Bram mengadu kepada polisi, pastilah aku nampak semakin jelek saja Dimata polisi. Lengkaplah citraku sebagai anak yang penuh dendam dan iri hati. Maka kacaulah rencana untuk mengadukan dia telah mengurah harta ibu dan sekaligus jadi motivasinya menyingkirkan ibu. Mana mungkin pula minta autopsi?" keluh Dinda.


"Betul sekali. Ah, baguslah kau sudah menyadari. Tapi jangan terlalu kecewa, apalagi putus asa, Dind. Percayalah, kebenaran akan terungkap. Dan khusus mengenai emosimu, jangan pesimis. Usiamu masih belia. Semakin bertambah umur, kau akan semakin matang."


Dinda merasa terhibur mendengar ucapan ayahnya itu.


"Sekarang kamu berdua saja dengan Bi Imah?"


"Ya, Yah. Kata Om Bus, kemungkinan Om Bram perlu dirawat di rumah sakit barang sehari dua hari."


"Jadi dia menangis seperti anak kecil?"


"Betul Yah. Kelihatannya sakit sekali. Aku jadi takut melihatnya. Bagaimana kalau dia... kalau dia mati?"


****____****

__ADS_1


__ADS_2