
Selamat Membaca dan Menikmati...
"Dia harus menyesuaikan diri, Del. Mau tak mau. Posisinya sebagai anak yang belum dewasa masih bergantung kepadaku, sementara aku membutuhkan seorang suami. Jadi mana mungkin dia bisa seenaknya menentang dan melarangku hanya karena instingnya begini-begitu?"
"Kau harus menghindari sikap otoriter, Kak Lis. Dinda itu anak pintar lho. Dia lebih pintar daripada anak-anakku," Della mengakui terus terang.
"Aku tidak otoriter, Del," bantah Lilis. "Aku dan Bram sudah berusaha mengambil hatinya. Dia yang tidak suka dan keras kepala."
"Dia membutuhkan waktu."
"Waktu?" suara Lilis meninggi. "Berapa lama lagi? Waktu itu kan relatif, Del. Bisa lama, bisa sebentar. Dan bisa saja di ulur-ulur. Wah, mana bisa dia dikasih hati seperti itu. Di mana wibawaku sebagai ibu?"
"Ini bukan masalah wibawa, Kak. Tapi kasih sayangmu sebagai ibu."
"Ah, jangan bertengkar denganku, Del. Dia tahu betul bahwa aku menyayanginya. Dia cuma tidak suka dengan Bram."
__ADS_1
"Dia punya alasan, Kak."
"Instingnya itu? Aduh, dia kan masih anak-anak, Del. Bagaimana dia bisa memahami seseorang hingga bisa menilainya baik atau buruk? Pasti aku lebih mampu menilai daripada dia."
Sampai disitu Della tidak bisa lagi berargumentasi, ia tidak berani menyampaikan dengan terus terang
apa saja yang diungkapkan Dinda kepadanya. Cerita dan prasangka Dinda membuat bulu romanya berdiri. Bagaimana mungkin ia bisa menyampaikan sesuatu yang masih berupa perkiraan dan prasangka, padahal itu bisa menyakiti hati Lilis? Dan hampir pasti Lilis takkan percaya. Lebih celaka lagi kalau hal itu sampai memperburuk hubungan ibu dan anak itu.
Tadi, pada setiap saat senggangnya ia memperhatikan Dinda secara diam-diam. Gadis itu tidak kelihatan menyendiri karena berbaur di antara orang-orang. Tapi orang-orang itu tidak dikenalnya dan juga tidak mengenalnya maka ia sebenarnya sendirian. Dinda sengaja menempati posisi itu supaya tidak terlalu kentara bahwa ia sebenarnya bersembunyi, menyendiri secara tidak mencolok.
Dengan ekspresi garangnya, Dinda seperti menyatakan perang kepada ibunya yang tidak mempedulikan protesnya dan kepada ayah tirinya yang ia benci. Della benar-benar takut akan kemungkinan pecahnya perang itu. Yang bisa dilakukannya hanya berharap supaya semua perkiraan Dinda yang pernah disampaikan kepadanya itu cuma ilusi belaka. Suatu perkiraan yang muncul sebagai akibat kesukaan Dinda berimajinasi. Dinda terlalu banyak membaca kisah drama, yang sentimental maupun yang mengerikan. Tetapi Della yakin, Dinda terlalu cerdas untuk membiarkan dirinya hanyut dalam khayalan semata. Yang dihadapi Dinda adalah realisasi kehidupan. Dan instingnya itu ....
Lelaki itu punya maksud jelek bukan saja terhadap Mama tapi juga terhadap diriku! Ada udang dibalik batu. Matanya itu, Tante! Di depan Mama matanya memancarkan kemesraan dan rasa sayang, tapi kenapa di belakangnya tidak begitu juga? Bila orang berhati tulus, bukankah seharusnya orang bersikap sama di depan dan di belakang? Dan tatapannya terhadap diriku? Uh, sangat menjijikkan! Dia suka sekali mengamati dadaku. Berlama-lama lagi. Biarpun kedapatan olehku ia tak peduli. Dia malah sengaja. Senyumnya main-main, meremehkan, dan juga ceriwis! Kuingat kata-kata dalam salah satu novel, "Bila seorang lelaki memperhatikan tubuh perempuan berlama-lama dengan mata yang berminat, maka pikirannya jelas kotor!" Ya, aku sungguh sepakat dengan ucapan pengarang itu. Betul sekali. Contoh nyata sudah kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Belakangan dia makin kurang ajar, Tante. Bukan cuma matanya saja yang suka kelayapan, tangannya pun mulai ikut-ikutan. Memang sih sampai saat ini paling-paling menepuk pundak, mengelus lengan, dan membelai kepala. Tapi siapa bisa menjamin, bahwa nanti dai tidak akan berbuat lebih dari itu? Oh, aku takut, Tante! Aku bukan hanya bendi dan eneg padanya, tapi aku juga takut!
Mengenang ungkapan perasaan dan kecemasan Dinda itu, Della merasa tubuhnya menjadi dingin. Suasana pesta saat itu tidak lagi terasa. Lihatlah wajah mungil anak itu yang dihantui kengerian pada saat orang lain tengan bergembira-ria. Apa saja yang tengah dipikirkannya? Pasti masalah yang sama, tapi kemungkinan sudah berkembang. Ia mengeratkan rangkulan ke tubuh Dinda. "Sudahlah Din. Yuk ikut Tante? Kau sudah makan?"
__ADS_1
Dinda menggeleng. "Nggak kepingin, Tante," sahutnya dengan mata masih menatap obyek yang sama. Lihatlah kedua orang itu saling menyuapi mulut masing-masing! Sungguh sandiwara yang menyebalkan! Tak tahan lagi menyaksikan lama-lama baru ia berpaling dan berpandangan dengan bibinya. Melihat wajah Della yang prihatin dan mengandung empati terhadap perasaannya (memang cuma Della yang tahu), matanya segera merebak basah.
"Eh, eh, apa ini Dinda? Jangan begitu ah," Della menepuk-nepuk punggung Dinda. "Ayo, kuatkan perasaanmu. Masa menangis di tengah pesta. Itu tidak baik lho. Kamu sayang Mama kan?"
Della segera mengambil tisu dari tas dan menyodorkannya kepada Dinda. Gadis itu pun sibuk mengeringkan matanya. Setelah matanya menjadi kering dan kesedihan berlalu ia kembali mengarahkan pandangan kepada sepasang mempelai. Tetapi Della memegang dagu Dinda dan memalingkan wajahnya dengan gerakan yang lembut. "Sudahlah, Sayang. Jangan pandangi mereka lagi. Sudah cukup kau pandangi dari tadi. Ayolah, hentikan Dinda. Jangan menyiksa pikiranmu."
Dinda menurut. Ia menunduk. Ketika Della berdiri lalu menarik tangannya ia juga mematuhi. "Yuk, temani aku makan Din. Perut kita harus diisi apa pun perasaan kita. Ingatlah. Jangan sekali-sekali mengabaikan jeritan tubuh yang minta makan, kecuali memang tak ada yang bisa dimakan."
****____****
Minta like n komen nya yaaaa,,,,
terimakasih untuk support dari kalian semua.
Lope you 🍅
__ADS_1