
Frida keheranan sesaat. Rupanya perkiraannya tadi meleset. Bram sedang ceria hari ini. "Kenapa sih kau ini?" tanyanya untuk mengecek. "Lagi senang atau lagi jengkel?"
Bram tertawa lagi. "Apakah orang jengkel bisa tertawa?"
"Wah, dapat rezeki rupanya ya." Kemudian hampir saja Frida berkata, bagi-bagi dong. Seperti kebiasaannya terhadap Bram. Tapi ia berhasil menahan diri. Besok ia akan mendapatkan bagiannya yang besar Jadi kenapa mesti minta yang kecil.
"Betul sekali, Frid. Rezeki nomplok, tuh."
"Kalau begitu, besok jadi dong."
"Oh, yang itu sih pasti. Jangan khawatir."
Mendengar kepastian itu Frida tidak tahan berkata, "Kalau yang itu sudah pasti, yang ini bagaimana?"
"Maksudmu rezeki ini?"
Frida merasa yakin suara Bram itu tidak sinis. Maka ia berkata dengan mantap, "Iya, dong. Yang mana lagi?"
"Kalau begitu, yuk. Kita makan-makan sekarang? Apa kau sudah makan?"
Tiba-tiba Frida merasa lapar. Sudah cukup lama ia tidak makan enak. Bila sebentar bertemu Bram, ia bukan cuma ditraktir makan enak tapi siapa tahu bisa kebagian sejumlah uang. "Di restoran mahal?" tegasnya.
"Iya dong. Tapi begini Frid. Aku sekarang berada didepan Bali Room, Hotel Indonesia. Mobilku parkir disana. Bagaimana kalau kau saja yang datang kesini? Kan tidak jauh. Kalau segan jalan naik bajaj aja. Sambil menunggumu aku beli kue dulu di coffee shop. Nah, pergilah berdandan."
Dengan gembira Frida kembali ke kamarnya. Betapa cerah masa depannya.
****
__ADS_1
Pada hari Minggu, sebelum jam sebelas siang Johan sudah memarkir mobilnya dilantai bawah Plaza Indonesia. Ia sengaja datang sebelum waktu yang dijanjikan karena tak tega membiarkan Frida duduk di tangga menunggunya. Biarlah ia saja yang menunggu. Dengan demikian ia pun bisa sekalian melihat dari arah mana Frida datang. Sebenarnya, dengan melihat lokasinya ia bisa memperkirakan dimana kira-kira Frida tinggal. Tapi pemukiman itu terlalu luas untuk bisa memperkirakan secara pasti. Tapi masalah itu tergantung waktu. Ada saatnya ia akan tahu juga.
Ia duduk ditangga, tak terlalu kesepian karena didekatnya ada orang-orang lain, baik perempuan maupun lelaki. Ada supir taksi, pelancong asing, juga gadis-gadis berseragam. Pantaslah bila Frida mengajukan usul duduk disitu. Mungkin pernah membuat janji serupa dimasa lalu?
Pada awalnya Johan mengkonsentrasikan perhatian ke sekitarnya, terutama kearah lokasi pemukiman dimana kemungkinan Frida bertempat tinggal. Tapi setelah waktu berjalan terus tanpa tanda-tanda kemunculan Frida ia mulai kesal. Satu jam sudah berlalu. Bahkan ia pun menjadi lapar. Ke mana Frida? Apakah perempuan itu membohonginya? Tapi kenapa? Pada pertemuan hari Jumat yang lalu nampaknya Frida bersungguh-sungguh dengan janjinya.
Ekspresi wajah dan matanya menyatakan hal itu. Tapi tidak mungkinkah itu pun merupakan sandiwara, tak ubahnya kepura-puraan sendiri? Kebohongan dibalas dengan kebohongan. Tapi ia yakin hal itu tidak mungkin. Yang paling mungkin hanyalah kecurigaan. Frida mencurigainya dan khawatir kalau-kalau dalam perbincangan yang lama ia bisa terlena lalu membuka rahasia yang seharusnya ia simpan. Bila demikian, bisakah disimpulkan bahwa Frida memang terlibat dalam persengkongkolan dengan Bram? Ah, itu terlalu jauh. Sebaiknya tidak menyimpulkan apa-apa dulu. Bagaimana pun, masih ada hari esok dan esoknya lagi. Ia akan terus berusaha mendekati Frida. Bukankah ia sudah tahu dimana bisa menemuinya?
Setelah satu jam lagi berlalu barulah Johan merasa yakin bahwa Frida memang tidak akan muncul. Percuma menunggu terus seperti orang tolol. Beberapa kali ia disangka sebagai supir taksi yang sedang bermalas-malasan. Akhirnya ia bangkit dengan tubuh pegal-pegal. Dengan langkah yang tak bersemangat ia masuk ke dalam plaza untuk cari restoran.
Setelah mengisi perutnya ia membeli ayam goreng dan kue-kue untuk oleh-oleh bagi yang berada dirumah. Disana menunggu Irene dan Dinda. Dua orang perempuan yang paling dicintainya didunia. Ia merasa iba kepada mereka karena ia tak bisa membawa pulang cerita yang menarik yang bisa menjadi titik terang bagi kasus kematian Lilis. Tetapi bagian lain dari hatinya merasa lega dan senang karena ia tak perlu merayu Frida dengan segala resikonya. Betapa menyebalkan sandiwara yang harus dijalaninya itu.
Ketika pulang, kedua perempuan menyambutnya dengan sikap heran. Ia tahu apa yang terpikir oleh mereka dan menjadi geli karenanya. Mereka tentu berpikir goblok sekali dirinya karena pulang kencan siang-siang.
"Batal!" serunya singkat untuk menjelaskan.
Irena mendekati lalu membelai kepala Johan untuk menghiburnya. "Apa kau pikir dia membohongi mu?"
Johan menggeleng. "Rasanya tidak. Dia kelihatan serius. Aku pun sama sekali tidak menyinggung soal Lilis pada saat perbincangan terakhir. Dengan jelas kuperlihatkan bahwa aku tertarik kepadany secara pribadi."
"Mungkin dia takut sama ayah karena dia punya dosa," komentar Dinda.
"Ya. Aku sependapat dengan Dinda. Pasti dia menyembunyikan sesuatu yang tak boleh kau ketahui. Maka pada saat terakhir dia memutuskan tidak pergi."
"Mestinya dia belum perlu secenas itu. Apa salahnya dia temui aku dulu lalu menilai apa sebenarnya yang ku kehendaki. Baru setelah pasti dia menghindar. Masa belum apa-apa sudah takut. Siapa tahu dia tiba-tiba sakit tanpa bisa menghubungiku. Aku tidak memberikan nomor telepon. Dia pun tidak minta."
"Mungkin dilarang si Bram," kata Dinda.
__ADS_1
"Bisa jadi. Kalau dia memang kaki tangan Bram. Pasti Bram pun tahu atau diberitahu mengenai usaha pendekatan ku," kata Johan.
"Kau bisa menemuinya lagi besok. Apa kau bosan?" tanya Irene.
"Tidak. Aku justru penasaran."
"Kalau tidak punya salah kenapa dia menyembunyikan alamatnya? Tidak bisakah Ayah menanyakan ke kantornya?" tanya Dinda.
"Kita lihat saja nanti."
***
Pada hari Senin sore, Johan kembali menunggu ditempat biasa. Tetapi tak ada Frida. Selama satu jam ia menunggu. Lalu ia menyadari bahwa Frida memang takkan muncul. Ada beberapa kemungkinan. Frida sakit dan tak masuk kerja atau sengaja mengambil jalan lain untuk menghindar darinya. Ia harus mengetahui lebih pasti. Maka ia mendatangi kantor bank untuk mengecek. Kadang-kadang masih ada satu dua staf yang kerja lembur.
"Sudah tutup pak," kata Satpam.
"Ya, saya tahu pak. Tapi saya punya janji dengan Bu Frida. Saya menunggu-nunggu tapi dia tak muncul. Apakah dia kerja lembur sekarang?"
Satpam menggeleng. Tentu saja dia kenal yang ditanyakan. "Sepanjang hari ini saya tidak melihat Bu Frida."
"Bila masih ada staf yang kerja, bisakah bapak tolong menanyakan apakah Bu Frida masuk hari ini atau tidak?"
"Bapak siapa?"
"Saya kerabatnya."
Satpam bergegas masuk. Tak lama kemudian dia keluar lalu berkata, "Dia tidak masuk pak."
__ADS_1
****____****