
Kemudian Bi Imah keluar. "Non, ada telepon dari pak Johan."
"Oh ya. Tunggu sebentar mas. Bi ambilkan minuman ya."
Dinda berlari menuju meja telepon. "Yah, ada berita besar..." Ia pun bercerita mengenai tamunya.
"Wah, bagus sekali. Itu berarti kita mendapat jejak Bram. Jangan lupa minta alamatnya Din."
"Beres Yah. Apa sebaiknya ku ceritakan semuanya mengenai ibu dan Frida yang hilang itu?"
"Ya. Ceritakan saja. Sayang sekali aku sangat sibuk jadi gak bisa kesana sekarang. Padahal aku ingin juga bicara dengannya. Oh, begini saja Din. Sebaiknya kau simpan sebagian cerita supaya dia datang menemuimu lagi. Kalau bisa mintalah padanya supaya ia mau menghubungi secara rutin untuk memberitahu setiap perkembangan atau gerak-gerik Bram."
"Oke Yah."
"Ayah tak mau menahanmu lebih lama. Bicaralah lagi dengannya. Nanti malam ayah telepon."
Dinda kembali ke teras. Bagas sedang menghirup tehnya. Dinda pun minum sebelum memulai ceritanya. Ia mulai dari awal masuknya Bram kedalam kehidupan ibunya. Bagas mendengarkan dengan asik tanpa menyela sedikit pun. Baru setelah Dinda mengakhiri ceritanya, ia berkata, "Kelihatannya aku harus percaya pada dugaanmu, Din."
"Harus, katamu?" Dinda tak mengerti.
"Ya. Maksudku, walaupun tak ada saksi dan bukti konkret, analisis mu jelas bagiku. Kau pintar merangkai peristiwa satu dengan lainnya. Kesimpulan mu juga brilian," kata Bagas dengan ekspresi kagum.
Dinda merasa tersanjung, tapi penyesalannya muncul lagi. "Sayangnya semua itu sia-sia mas. Emosiku telah mengacaukan semuanya."
"Kalau aku ditempatmu pasti aku juga begitu, Din. Tapi kau hebat karena berhasil menendangnya." Bagas tersenyum membayangkan adegan Bram kena tendang itu. "Ya. siapa sangka kau seorang gadis jago kungfu."
Dinda senang tapi juga malu mendengar pujian itu. "Ah, aku sama sekali tidak jago. Cuma bisa sedikit. Aku berhasil menendangnya karena ia tidak menyangka dan tidak siap. Kalau ia tahu mungkin situasi malah berbalik."
__ADS_1
"Jadi bagaimana saranmu sekarang mengenai tanteku? Ia sudah terlanjur menikah dengan om Bram. Dan seandainya sebulan yang lalu, saat mereka belum kawin, aku sempat mendengar ceritamu ini lalu kusampaikan pada tanteku belum tentu ia mau percaya. Bisa jadi ia menyangka aku tak suka pada om Bram karena iri hati. Tak berbeda halnya dengan ibumu yang punya prasangka serupa terhadapmu."
"Ya. Betul sekali. Orang yang sudah dibutakan oleh cinta sulit dibuat percaya. Bukan saja ia tak mau percaya bahwa orang yang dicintainya itu tidak baik, ia pun marah. Dan karena itu hubunganku dengan ibu menjadi renggang."
"Tapi bagaimana mungkin aku tidak menceritakannya pada Tante ku? Kalau sampai terjadi apa-apa, pasti aku bersalah."
"Ah, kau benar. Aku sempat merasa bersalah karena tidak berterus terang pada ibu tentang perbuatan Om Bram. Ya, sebaiknya kau ceritakan saja semuanya. Percaya atau tidak percaya itu terserah kepadanya."
"Aku akan mencari saat yang paling baik untuk itu. Ah, tak kepalang rasa syukurku karena bisa bertemu denganmu dan mendengar ceritamu. Terimakasih banyak Din. Aku dan tante Maya berhutang Budi padamu."
"Jangan bilang begitu mas. Aku juga senang karena berhasil mengetahui sepak terjang om Bram. Boleh minta alamatnya, Mas?"
"Tentu saja. Nanti kutulis." Bagas mengeluarkan selembar kartu nama lalu menulisi bagian belakangnya. "Yang dibelakang ini alamat om Bram di Bilangan Menteng. Sedang alamat dan nomor telepon ku sama dengan kepunyaan tanteku."
"Terimakasih mas. Sebenarnya masih ada satu cerita lagi, yaitu tentang Frida yang sampai saat ini masih dinyatakan hilang. Frida teman ibu yang memperkenalkan dengan om Bram. Dia menghilang secara misterius padahal sudah berjanji dengan ayahku untuk bertemu."
"Apakah om Bram ada hubungannya dengan hilangnya Frida?" tanya Bagas dengan wajah ngeri.
"Oh, senang sekali kalau aku bisa bertemu beliau. Apa dia orangnya yang mengantarmu pulang? Kudengar kau memanggilnya!"
"Betul. Mau kuberikan nomor teleponnya? Nanti kau bisa menghubunginya kapan-kapan. Sebaiknya malam hari saja."
"Tentu saja aku mau. Tapi jangan lupa berikan juga nomor teleponmu, Dind. Kalau boleh aku ingin menghubungimu lagi bila ada yang kelupaan."
"Boleh, mas. Aku juga ingin tahu bagaimana reaksi tantemu setelah kau ceritakan. Maukah kau memberitahu?"
"Ya. Mulai sekarang aku akan membuka mata dan telingaku lebar-lebar. Sayangnya itu hanya bisa kulakukan bila mereka kebetulan sedang serumah. Tapi ada kalanya mereka menginap di Menteng. Aku tentu tak bisa ikut-ikut ke sana."
__ADS_1
"Aku punya saran lain mas. Tiba-tiba teringat."
"Ya? Katakan saja."
"Jangan sekali-kali beritahu Om Bram bahwa kau mengenalku. Ia tahu betul bagaimana perasaan dan pikiran kami sekeluarga tentang dirinya. Jadi kalau dia sampai tahu, maka kau dan tante mu bisa terancam."
Bagas tertegun. Di wajahnya nampak kecemasan. "Kau benar. Kalau begitu Tante Maya pun tidak boleh memperlihatkan kecurigaannya. Seperti menanyai secara langsung."
"Oh jangan melakukan hal itu."
"Wah, sulit juga ya. Aku harus pintar berpura-pura."
"Demi keselamatan tantemu, kau pasti bisa. Jadi hati-hatilah. Beritahu tantemu dengan cara yang bijak mungkin."
Bagas termangu. "Sulit juga ya. Dia pasti sangat terkejut dan sedih. Kasihan."
Dinda mengangguk. Ia bisa membayangkan bagaimana perasaan Bagas dan tantenya bila mengetahui. Bagaimana rasanya tertipu? Oh, marah saja tak cukup... Kepingin meledak rasanya. Lalu ia teringat kepada ibunya. Ibu tidak sempat marah, tidak sempat meledak. Itu karena ibu tidak sempat tahu. Ibu pergi dengan keyakinan dalam kebahagiaan?
"Kau melamun," Bagas mengingatkan.
"Aku ingat ibuku. Dia tidak sempat diberitahu akan bahaya yang dihadapinya."
Bagas mengangguk. "Aku ikut bersedih, Dind."
"Sudahlah. Yang penting sekarang, kita harus mencegah dia mengulangi perbuatannya."
Ketika Bagas pamitan, Dinda bertanya ragu-ragu, "Bolehkan aku minta satu foto tadi, Mas? Bukan apa-apa, tapi aku memerlukan foto Om Bram. Jelasnya ayah yang memerlukan. Ia ingin menunjukkan fotonya kepada orang-orang dilingkungan tempat tinggal Frida, kalau-kalau ada yang pernah melihatnya datang kesana. Sayang sekali aku tak punya satu foto pernikahan ibu dengan dia. Ia tidak menyisakan barang satupun ketika pergi dari rumah. Mungkin juga sudah dimusnahkannya."
__ADS_1
Bagas berpikir sejenak, lalu berkata dengan nada menyesal, "Sayangnya ada tanteku disampingnya. Kalau diperlihatkan kepada sebarang orang, wajah tanteku pun akan nampak kemana-mana. Nantilah ku usahakan sebuah foto nya yang sendiri. Pasti akan kuberikan bila sudah dapat. Yang penting jangan sampai tanteku terbawa-bawa."
***___***