
"Jangan-jangan tipis harapan bahwa dia masih hidup Mas," kata Irene dengan ngeri.
"Kelihatannya begitu Ren."
Dinda termenung dengan sedih dan ngeri. Bila dibandingkan, tentu ibunya lebih beruntung dibanding Frida. Ibunya sempat disembahyangkan dan dimakamkan denga. layak. Tetapi Firda? Hidup atau mati pun tak jelas. Apakah dia membusuk disuatu tempat? Ih, sungguh mengerikan.
"Padahal yang paling sulit dari pekerjaan membunuh adalah menyembunyikan mayat," kata Dinda. "Mestinya om Bram punya tempat yang aman untuk menyembunyikan. Tapi dimana? Biasanya cara yang paling aman adalah dikuburkan, karena bisa mencegah bau atau ditemukan sembarang orang.
Johan berpandangan dengan Irene. Pertukaran pandang yang mengandung makna. Dinda bicara seperti merenung, sibuk dengan pikirannya sendiri. Apakah instingnya tengah bekerja?
"Kira-kira aku bisa menebak, Yah!" seru Dinda tiba-tiba, mengejutkan keduanya.
"Menebak apa?"
"Bagas mengatakan, om Bram punya rumah sendiri di daerah Menteng. Sebelum menikah dia tinggal sendiri disana. Tanpa pembantu lagi. Pernah tantenya ikut kesana mendadak, ternyata rumahnya berdebu dan dia melihat bangkai tikus di kebun belakang. Pasti Frida dikubur disana!"
Irene memekik pelan. Johan merangkulnya dan menepuk-nepuk pundaknya. "Ada alasan untuk tebakanmu itu?" tanyanya.
"Bangkai tikus itu petunjuknya," kata Dinda dengan tenang dan penuh keyakinan. Sepertinya dia bukan lagi memperkirakan melainkan memastikan.
"Ah..." keluh Johan berbarengan dengan Irene. Ucapan itu sama sekali tidak rasional. Mana mungkin dijadikan petunjuk?
"Itu petunjuk dari alam sana yah. Dari Frida," kata Dinda serius.
"Ah, apa pula yang kau ketahui perihal alam sana?"
"Aku tidak tahu apa-apa, tapi percaya saja."
Johan tertegun. Ia tahu, Dinda memiliki banyak pemahaman yang sebagian besar berasa dari buku-buku yang dibacanya. Tentu saja, bacaan itu sumber pengetahuan. Tetapi bacaan fiktif itu bukankah bisa mengacaukan?
"Sebenarnya teori Dinda ada juga benarnya, mas," kata Irene. "Maksudku, mengetahui tempat yang aman untuk menyembunyikan sosok mayat. Rumah itu milik pribadi dan dia sendirian. Jadi dia punya kesempatan dan keleluasaan yang banyak."
"Ya itu memang mungkin. Tapi untuk melakukan hal itu dia harus membawa Frida kedalam rumahnya. Tak adakah yang melihat?"
__ADS_1
"Menurut Bagas, rumah om Bram itu dibatasi tembok tinggi dengan tetangganya. Masyarakatnya individualis, tak peduli satu sama lain. Dia pun tak perlu turun dari mobilnya untuk membuka pintu pagarnya setiap kali keluar masuk. Jadi, bila pemilik rumah saja tak pernah kelihatan oleh tetangga, apa mungkin mereka bisa melihat siapa saja yang dibawanya masuk?"
Johan dan Irene membenarkan pendapat Dinda. "Kalau teori yang ini baru masuk akal Dind. Soal bangkai tikus itu," kata Johan.
Dinda tersenyum. "Aku tidak memaksa Ayah untuk ikut percaya."
"Kau tidak menyampaikan kepercayaan mu itu kepada Bagas kan?"
"Oh, tidak. Masalah Frida tidak ku beberkan. Itu ku simpan Yah."
"Betul sekali. Aku ingin ketemu Bagas. Jadi besok sore aku kesini menunggu kedatangannya bersamamu."
"Baik Yah."
"Kuharap kau tidak menyampaikan teorimu itu kepada Bagas. Setidaknya jangan dalam waktu dekat ini."
"Kenapa Yah?"
Dinda terpaksa membenarkan. Sudah terbukti pula bahwa ia telah beberapa kali melakukan kesalahan karena emosi yang tak terkendali. Sekarang urusan Bram bukan lagi menjadi masalahnya sendiri. Ada orang-orang lain yang terlibat. Sudah tentu ia tak ingin Bagas terancam bahaya. Tetapi perkembangan baru yang dibawa Bagas itu telah membuat hidupnya menjadi lebih bergairah.
****
Bagas memenuhi janjinya. Ia memberikan selembar foto Bram ukuran tiga kali empat kepada Dinda lalu berkenalan dengan Johan. Mereka kembali memperbincangkan hal-hal seputar Bram.
"Apakah Om tahu mengenai istri pertama Bram yang bernama Indira?" tanya Bagas.
Johan menggeleng, "Saya tidak tahu apa-apa. Bahkan namanya pun tidak tahu."
"Apakah om tidak mengecek dan mencari tahu?"
"Saya tidak memiliki pegangan apa-apa untuk mencari tahu. Sudah ketemu Frida, tapi sebelum berhasil memperoleh informasi dia keburu menghilang. Masalahnya dia pergi tanpa meninggalkan alamat, baik rumah maupun kantor. Kami benar-benar gelap perihal dirinya."
"Ya. Saya maklum, pak. Kalau begitu saya lebih beruntung, karena saya dan Tante Hesti mengenalnya sebagai direktur perusahaan properti, PT Subur Mandiri. Jadi saya bisa tanya sana sini. Menurut orang yang lama mengenalnya, dulu Om Bram itu seorang calo tanah kemudian dia membeli sebagian saham perusahaan itu. Dia bermitra dengan Handoyo yang semula menguasai keseluruhan perusahaan. Sedang rumah yang di Menteng itu tadinya rumah istri pertamanya, Indira. Setelah Indira meninggal rumah dan harta lainnya jatuh ke tangannya."
__ADS_1
"Bagaimana meninggal nya?" tanya Dinda.
"Kayanya kecelakaan arus listrik. Saya kurang jelas detailnya. Dalam mencari informasi saya tidak berani terlalu cerewet, takut dicurigai lalu dilaporkan kepada orang bersangkutan. Apalagi waktu itu saya cuma sekedar mengecek kebenaran ceritanya kepada Tante saya. Setelah ternyata memang klop, ya sudah. Tante Hesti menganggapnya sebagai lelaki jujur. Itu juga salah satu alasan mau menerima lamaran om Bram."
"Huh, jujur apaan," Dinda mencibir.
"Jujur sebagian," gurau Bagas.
"Apakah Indira tidak punya keluarga dekat yang bisa dimintai informasi lebih lengkap?" tanya Johan.
Bagas menggeleng. "Sayang saya tidak tahu Om. Apakah itu perlu? Toh kita sudah tau dan yakin orang seperti apa om Bram itu."
"Betul juga," sahut Johan. "Yang penting adalah masalah sekarang. Bagaimana melindunginya Tante mu dan menemukan Frida."
"Kita harus bekerja sama om. Saya sudah menyepakati itu dengan Dinda. Bukan begitu Dind?"
Dinda mengangguk dengan sikap bangga.
"Tentu. Kita memang harus bekerja sama. Kami senang berkenalan dengan kamu, karena mendapat informasi yang diperlukan. Sayangnya situasi jadi mengancam Tante mu," kata Johan.
"Panggil saya Bagas saja Om. Begitu lebih akrab."
Dinda mengamati Bagas senejak. Ia mendapat kesan anak muda itu tidak lagi nampak pemalu seperti kemarin. Apakah karena berhadapan dengan ayahnya hingga dia tampil dewasa? Diam-diam ia memperhatikan gerak-gerik dan wajah Bagas pada saat berbicara dengan ayahnya.
"Kau pernah kerumahnya yang di Menteng itu?" sahut Johan.
"Pernah om. Waktu itu saya membantu Tante Hesti memindahkan barang dan juga menata rumah itu. Tante dekorator yang pintar."
"Bagaimana kesanmu tentang rumah itu?"
"Rumah yang antik. Katanya itu merupakan bangunan zaman Belanda. om Bram tidak banyak bercerita mengenai rumah itu. Tapi ia terus terang bahwa dulu rumah itu milik almarhumah istri pertamanya. Menurut Tante, ketika masih tinggal sendirian ia tak begitu memperhatikan kondisi rumah itu yang cuma dibersihkan bila sudah kotor sekali "
****____****
__ADS_1