Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 70


__ADS_3

Happy Reading


****____****


"Tapi sikap ibu itu bisa mengundang tindakannya yang buruk. Riskan sekali, Bu," kata Johan.


Maya kembali tersenyum menenangkan. "Saya tahu. Tapi tidak mungkin juga saya serta merta minta cerai."


Dinda mengagumi keberanian Tante Maya. Tapi tiba-tiba muncul keraguan. Wajarkah keberanian Maya yang seperti itu? Bila dia yang berada ditempat Maya, jelas akan merasa sulit menjalani hidup dengan tenang disamping seseorang yang masa lalunya begitu meragukan bahkan bisa mengancam hidupnya juga. Kalau cuma untuk sehari dua hari mungkin masih bisa, tapi jangka waktu tentunya tidak ketentuan. Jangankan bisa hidup tenang, bersandiwara terus terusan apsti akan sangat sulit. Mungkinkan Maya sebenarnya tidak percaya seratus persen kepadanya? Atau cinta Maya kepada Bram lebih besar dibanding kecemasannya? Ah, mungkin dia sendiri yang salah karena membandingkan dirinya dengan Tante Maya. Mana mungkin orang yang satu dipersamakan dengan orang yang lain. Setiap orang tentu memiliki kekuatan dan ketabahan yang kadarnya bisa lebih besar atau lebih kecil dibanding orang lain. Dari ekspresi sekilas nampaknya Maya memang orang yang berani dan cerdas. Mungkinkah Bram akan kena batunya kali ini? Tetapi Tante Maya memang berbeda dibanding ibunya. Bila ibunya berada di tempat Maya, bisakah ia diajak bicara dengan kepala dingin seperti ini?


Diakhir pertemuan, mereka sama-sama berjanji untuk tetap saling berhubungan dan juga membina hubungan disegi yang lain, bukan cuma khusus mengenai masalah itu saja. Bagas menawarkan jasa membimbing Dinda dibidang komputer atau informatika ketika ia melihat perangkat alat itu disudut ruangan. Tawaran itu disambut dengan antusias oleh Dinda. Bagi Dinda, itu berarti hubungan yang lebih dekat lagi dengan Bagas.


Sebelum berpisah, Tante Maya memeluk Dinda dengan hangat lalu mencium kedua pipinya. "Terimakasih Dinda," katanya lembut tapi penuh makna.


Dinda merasa bahagia. Sikap yang ditunjukkan Tante Maya itu menggugah dan menyentuh perasaannya. Tante Maya bukan saja menghargai pendapatnya, tapi juga membalas dengan rasa sayang yang mendalam. Mau tak mau ia jadi membandingkan dengan ibunya. Kenapa orang lain bisa berbuat lebih dibanding ibu sendiri?


"Dia wanita yang luar biasa," komentar Irene setelah para tamu berlalu.


"Betul sekali, Ren." Johan membenarkan.


"Tapi sedikit aneh," kata Irene lagi.


"Aneh bagaimana?"


"Ketabahannya itu lho. Kalau aku ditempatnya, pasti sudah panik dan sedih. Bayangkan bila orang yang kucintai ternyata punya riwayat mengerikan. Sama saja kawin dengan orang gila harta. Bukankah tujuan Bram kawin cuma mengincar harta? Karena itu dia selektif memilih. Yang berharta dan tidak punya anak. Dan kalau toh punya anak seperti Lilis, maka dia menggunakan taktik lain. Mana mungkin aku bisa tenang dalam kondisi seperti itu?"


"Karena itulah dia luar biasa. Besar kemungkinan dia akan selamat. Bram tentu tidak akan berani sembarangan menghadapi orang yang memiliki kekuatan seperti itu."


"Tapi Bram sudah terbukti cerdik. Orang seperti dia punya seribu satu akal."


"Bagaimana menurutmu Dinda?" tanya ayahnya kepada Dinda yang belum bersuara.


"Tante Maya memang berbeda dibanding ibu. Sangat berbeda. Tiba-tiba terpikir, kenapa om Bram memilihnya?" sahut Dinda.

__ADS_1


Johan berpandangan dengan Irene. Keduanya tidak memahami ucapan Dinda. "Kan tadi sudah kukatakan, Bram sengaja memilik perempuan yang berharta dan tidak punya anak. Kecantikannya adalah kebetulan, sedang kekuatannya mungkin tidak dia perhitungkan sebelumnya," kaya Johan.


"Jangan sembarangan menyimpulkan, Yah." Dinda tersenyum. Ia meniru gaya bicara polisi Arman.


Johan tersenyum juga. "Apa kau punya kesimpulan lain?"


"Entahlah, Yah."


Johan memandang putrinya dengan penasaran. "Kau tidak punya insting mengenai Maya?"


"Aku tidak memikirkannya, Yah."


"Tidak?" Johan keheranan. "Lantas apa yang kau pikirkan?"


Dinda tidak menyahut. Ia mengangkat bahu. "Capek ah," katanya lalu ngeloyor pergi.


Ketika Johan akan bersuara, Irene tertawa dan menepuk bahunya. "Sssst... kira-kira aku tahu apa yang dipikirkannya," ia berbisik ditelinga Johan.


"Apa itu?"


Johan tertegun. Tiba-tiba ia menyadari bahwa putrinya sudah beranjak dewasa. Ia tersenyum, sedikit geli. "Aha, dia mulai tertarik sama cowok rupanya."


"Ssst... itu kan wajar, Mas. Seharusnya kau senang. Selama ini dia tidak pernah kelihatan punya teman cowok. Bi Imah bilang, dia judes sama cowok hingga mereka kelihatan takut dekat-dekat."


"Ah, Bi Imah sok tahu saja. Anak itu terlaku pintar untuk cowok seusianya. Dimatanya, mereka itu tak ubahnya anak kecil."


"Pantas dia kelihatan tertarik pada Bagas yang jauh lebih tua. Kuperhatikan tatapannya tadi. Betapa senangnya dia ketika Bagas bicara tentang komputer dan berjanji membimbingnya."


"Dinda memang tertarik sama komputer."


"Ya. Sekali tepuk dua lalat. Komputer dan bimbingan sekaligus."


Johan tertawa. Tapi kemudian berubah serius. Kita tidak tahu apakah Bagas sudah punya pacar atau belum. Pemuda seganteng itu, mustahil belum punya pacar ya? Kasihan juga kalau Dinda patah hati."

__ADS_1


"Tapi Dinda itu cantik dan pintar. Mustahil Bagas tidak menyadari hal itu."


"Aku pikir, Dinda terlalu muda untuk berpacaran."


"Hei, sejak kapan kau jadi kolot?" Irene tertawa.


"Bukan kolot Ren. Tapi sekedar keprihatinan seorang ayah."


"Dinda memang masih muda, tapi pikirannya lebih dewasa dari umurnya."


"Tapi emosinya belum. Sebenarnya aku lebih suka kalau pacar pertamanya cowok sebaya. Hitung-hitung sebagai pengalaman dan pengenalan."


"Nampaknya perbedaan usia mereka tidak sampai lebih dari sepuluh tahun, Mas."


"Memang betul. Tapi Dinda terlalu muda. Seandainya dia lebih dewasa, maka perbedaan usia tidak jadi masalah. Coba pikirkan. Lelaki yang sudah mapan seperti Bagas mana mungkin mau disuruh menunggu sampai Dinda selesai sekolah. Padahal aku ingin Dinda sekolah setinggi mungkin."


"Jangan berpikir terlalu jauh seperti itu, Mas. Biarkan sajalah mereka bergaul tanpa di prasangkai."


"Kau benar, Ren. Bagaimana pun aku senang bahwa Dinda ternyata gadis normal. Tapi..."


"Tapi apa lagi?"


"Bagas terlalu ganteng."


"Aduh, apa hubungannya?"


Johan membuka mulut tapi segera dibekap oleh Irene. "Stop! Jangan mencari-cari kejelekan orang."


"Bukan kejelekan..."


"Stop!"


*****

__ADS_1


to be continued 😂


Akan update lagi hari Minggu depan yaaa,,, Terimakasih untuk semua support nya, Terimakasih juga yang masih menunggu kelanjutan ceritanya.


__ADS_2