Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Butterfly'Club


__ADS_3

Saat itulah kehidupanku menjadi tak menentu, sering berbohong kepada orang tuaku yang mana aku sangat dan begitu menghormatinya. Orang yang aku takuti, sebab semua perintah mereka aku ikuti.


Entah sebutan jadi anak berbakti atau anak penakut buat diri ini. Yang pasti aku tidak mau apa yang kulakukan saat ini sampai ketahuan oleh mereka.


Barang haram itu jadi candu untukku. Hidup ini berubah dalam sekejap saat kumengenal dan menikmati obat-obat terlarang itu.


Hingga aku pergi meninggalkan kekasih yang begitu aku sayangi sendiri di Taman Kota. Saat tubuh ini kembali membutuhkan barang haram itu.


Aku tidak mau Lura tahu kondisiku, sebisa mungkin aku akan menutupinya, sebab dia adalah wanitaku satu-satunya. Seseorang yang kujaga perasaannya. Wanita yang amat kucintai.


Dan satu yang ada di pikiranku saat itu, ingin segera mendapatkan sesuatu yang membuat candu bagiku apapun caranya.


Flashback off


Farrel


Setelah berhasil menghubungi kekasihku, Lura. Aku segera pergi menuju kediaman Randi. Orang yang biasa menjual barang haram itu. Dengan sistem bayar nanti.


Sungguh miris kehidupan di Kota Besar inini


Mereka menjerat para pemakai sepertiku dengan cara seperti itu. Awalnya aku langsung membeli cash, tapi semakin kujalani dan nikmati tak segan untukku meminta lagi dan lagi barang itu kepada Randi. Hingga hutang ku menumpuk.


Sampai uang bulanan dan mingguan yang kuterima dari orang tuaku hanya bisa membayar hutang ku saja.


“Gue enggak ada stok sekarang ini, Rel. Yang kemari aja lu belum bayar. Mamih Rosa nagih ke gue!” omel Randi padaku.


Pasalnya sudah hampir sepuluh juta aku berhutang padanya. Tak peduli yang penting barang itu selalu ada saat ku butuhkan.


“Buat hari ini aja, Bro! Besok gue bayar! Kiriman dari ortu belum masuk rekening gue!” Aku memohon untuk kedua kalinya agar Randi mau memberiku sedikit barang haram itu.


“Huhh.” Randi membuang napas berat. “Mending lu ke Mamih Rosa aja deh! Minta sama dia. Ini alamatnya. Dia juga bilang kalau lu minta barang lagi suruh langsung nemuin dia. Udah enggak ada urusan lagi sama gue!” Rendi menyodorkan sebuah alamat padaku.


Kuambil kertas nama yang bertulisan alamat wanita yang disebut Randi tadi.


Butterfly'club


Jl. Kemuning Raya, kampung esek-esek Rt 9/ rt 6 .


Mamih Rosa.


Aku menajamkan penglihatanku melihat tulisan yang tercetak dalam kartu nama itu.


Tak peduli apapun yang penting untukku saat ini, bisa mendapatkan barang yang kubutuhkan untuk beberapa hari ke depan.


Tanpa pikir panjang aku mengendarai motorku melaju menuju alamat tersebut.


Perjalanan yang begitu jauh menurutku tempat ini berada di pinggiran kota Jakarta. Aku mengerutkan alis saat melihat tulisan kecil yang ada di bawah Butterfly’club.


Di sana tertulis menyediakan jasa pijat plus-plus, karoke, dan lain sebagainya.

__ADS_1


Aku bukanlah anak kecil yang tidak paham ini semua.


Tempat ini adalah club yang beroperasi sekaligus menjadi rumah bordil.


Suasana siang ini memang terbilang sepi atau tutup. Sebab jam buka tempat ini sekitar pukul 9 malam sampai pukul 5 pagi.


Aku turun dari motor sport ku. Dua orang pria bertubuh besar menghampiriku dan menanyakan keperluanku datang ke tempat itu.


“Ngapin lo?” tanya pria bertubuh besar dengan kepala botak itu.


“Nyari Mamih Rosa!” jawabku.


Kedua pria itu saling pandangan. Yang satu memainkan alisnya seakan memberi kode kepada temannya.


“Ikut gue!” ajaknya kemudian aku pun mengikutinya.


Sepanjang menuju ruangan Mamih Rosa kulewati beberapa tempat. Bahkan satu tempat yang kulewati ada beberapa orang wanita dengan pakaian yang sangat minim terpampang di depan mata.


Seorang wanita bahkan mencegah langkahku.


“Jon, siapa yang lu bawa? Masih fresh banget! Mamih buka jasa gigolo juga?” tanya wanita itu kepadaku.


Pria botak itu menghadangnya. “Dia tamu, Mamih! Minggir!” satu dorongan langsung membuat wanita itu bergeser.


“Ck.. Kasar banget sih, loh!” decaknya pada pria botak itu. “Nanti mampir ke kamar Ocha ya, ganteng! Ocha kasih waktu tambahan deh!” bisiknya padaku.


Aku tersenyum miris sambil berlalu, ternyata wanita yang di sebut sebagai Mamih Rosa adalah seorang mucikari. Tampat terlarang ini pun berkedok club malam yang menutupi kegiatan para wanita malam itu.


Di dunia Gelap, Mamih Rosa adalah seorang bandar yang kehadirannya tak pernah tercium pihak berwajib. Sepertinya ada oknum yang sengaja menutupi keberadaannya. Tidak ada yang tahu itu.


Dia juga seorang mucikari dengan banyak wanita yang bekerja di bawah kendalinya. Mereka yang dijadikan sumber pendapatan yang menggiurkan.


Para gadis cantik terjerat dan terpaksa demi uang rela bekerja sama dengan Mamih Rosa karena bayaran yang mereka terima sangat menggiurkan, sangatlah lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari bagi mereka.


“Selamat datang anak muda!” sapa seorang wanita dengan riasan yang tebal dan menor kepadaku.


“Ini yang membuat kamu datang kepadaku, bukan?” Mamih Rosa meletakkan benda yang aku butuhkan.


Tanpa menjawab aku langsung merebut obat tersebut, tetapi gerakanku kalah cepat dengan Mamih Rosa. Dua orang bertubuh tinggi itu pun menarik tubuhku agar sedikit menjauh dari Mamih Rosa.


Mamih Rossa memberi kode melambaikan jarinya agar kedua bodyguard itu tak perlu menahanku.


“Tidak Gratis, anak muda! Apa jaminannya, agar aku percaya padamu?”


Aku mengeluarkan dompet dan menyerahkan Kartu ATM milikku. Kuletakkannya kartu tersebut di atas meja. Setiap bulan orang tuaku akan mengirimkan uang untuk keperluan sehari-hari dan kuliah.


“Dua hari lagi mama saya akan mengirimkan uang lebih dari dua juta. Untuk saat ini saldo ATM itu hanya kurang dari lima juta. Itu jaminan saya. Dan di hari ke tiga saya akan kembali untuk mengambilnya,” ucapku seraya mengambil obat di tangan Mamih Rosa.


Wanita itu kembali menangkis tanganku.

__ADS_1


Ternyata aku hanya dipermainkan tapi mau bagaimana lagi aku butuh barang itu. Aku tidak mau saat bertemu Lura tubuh ini kembali sakau.


“Apa ucapanmu bisa dipercaya? Awas jangan sampai kamu berbohong padaku! Kamu akan tahu akibatnya jika berani bermain-main dengan Mamih Rosa.” Wanita itu mengancamku. “Jika dalam tiga hari uang itu masih belum ada dalam ATM ini aku akan menemui orang tuamu!”


Aku sangat terkejut mendengarnya. Ternyata Mamih Rosa mengenali orang tuaku dan hapal betul latar belakang kehidupanku.


“Anda kenal dengan orang tuaku!” tanyaku pada wanita itu.


“Jangan sebut saya Mamih Rosa jika tidak bisa cari tahu siapa orang tuamu pemuda kencur sepertimu. Babakan aku tahu nama perusahaan milik Papamu dan usahanya saat ini yang akan menjabat sebagai gubernur kota ini ‘kan?”


Deg...


Aku tidak menyangka sejauh itu wanita itu kenal siapa orang tuaku. Aku benar-benar harus berhati-hati padanya.


Aku tidak peduli dengan ucapannya. Dengan cepat aku rebut barang itu dari tangannya.


Kedua pria berbadan besar itu kembali menghadangku. Mamih Rosa menyuruhku menulis nomer pin ATM dan nomer teleponku.


Setelah kutulis apa yang dia inginkan, aku berlalu dari ruangan itu.


“Ingat anak muda, barang yang kamu ambil seharga tiga juta. Aku akan hitung semuanya nanti!” Teriakan Mamih Rosa masih bisa kudengar.


Aku harus segera pergi dari tempat itu, sebab waktu pulang kerja Lura sebentar lagi aku tidak mau kekasihku menunggu terlalu lama kalau bisa aku harus ada di sana sebelum dia keluar dari pusat perbelanjaan tempat di mana Lura bekerja.


.


.


.


Bersambung


Bagaimana menurut kalian ceritanya....


Penasaran dengan komen kalian.


Sesaat lagi sedikit konflik akan muncul.


Bantu like+ Favorit ya....


.


.


Mampir juga ke karya otor yang lain.



Mampir yah..

__ADS_1


__ADS_2