
Di negara lain. Tepatnya di Oxford, Inggris. Seorang pemuda berdarah Indonesia-Inggris itu tengah menatap nanar ke satu titik. Tangannya mengepal kuat saat mendengar kabar yang membuat dirinya murka.
Kematian adik perempuannya secara mendadak dan mengenaskan begitu menohok hatinya.
Beryl Catradipta Kusuma, biasa dipanggil Catra. Sosok lelaki tegas, dingin tapi berhati lembut.
Dia bisa menjadi kejam disaat sesuatu yang ia anggap berharga hancur oleh orang lain.
Seperti saat ini, kabar meninggalnya Citra secara mendadak membuat Catra terkejut. Pasalnya baru tadi siang waktu Oxford, gadis itu menghubunginya. Tidak ada gelagat aneh pada diri adiknya itu.
Citra meninggal dalam keadaan overdosis di sebuah kamar hotel. Sebuah kabar yang sangat mengejutkannya. Liona Kusuma, mama sambung dari Catra dan Citra masih saja menangis saat menghubungi putranya.
“Kamu harus pulang, Catra!” ucap Mama Liona diiringi isak tangis yang begitu menyedihkan dari seberang telepon.
Padahal kematian Citra sudah berlalu satu minggu yang lalu, tapi kesedihan masih dirasakan Mama Liona.
“Aku minta maaf, Mah! Aku tidak bisa pulang saat ini, aku makan segera pulang jika urusan di sini selesai,” balas Catra dengan penuh penyesalan sebab tidak bisa menghadiri pemakaman adiknya seminggu yang lalu.
Umur mereka hanya berbeda 6 tahun. Citra yang baru setahun menjadi mahasiswi di salah satu Fakultas ternama di kota Jakarta, harus meregang nyawa entah bersama siapa di hotel bintang lima di kotanya.
Catra bisa merasakan kesedihan yang dialami mamanya. Meskipun bukan mama kandung Catra dan Citra tapi beliau memperlakukan dan memberikan kasih sayang yang tulus pada mereka berdua layaknya anak kandungnya sendiri.
“Cepatlah pulang, Nak! Cari tahu siapa yang membuat adikmu seperti ini! Dia pergi tanpa pamit sama mama sebelumnya. Mama merasa ada yang ganjal dari kematiannya,” ucap Mama Liona lirih.
__ADS_1
“Catra janji akan mengusut tuntas semuanya, Mah! Bersabarlah, aku akan segera pulang jika urusan di sini selesai!” balas Catra. Ia berusaha menenangkan mama Liona yang begitu terpukul kehilangan Citra.
Sambungan telepon berbeda negara pun terputus.
Catra lekas berjalan masuk ke kamar. Diraihnya figura foto yang di dalamnya terdapat foto keluarga. Foto yang di ambil 23 tahun yang lalu. Di saat Liona baru saja resmi menjadi istri dari papanya. Catra, citra, mama Liona dan Papa Wira. Keluarga baru, di mana Catra berusia 8 tahun dan Citra berusia 2 tahun.
Kembali ia meraih satu figura foto seorang wanita bule cantik, Grecce Amilson adalah wanita keturunan Inggris. Mama kandung dari Catra dan Citra.
“Mama... Sorry! Aku tidak bisa menjaga adik dengan baik! Tapi kami bersyukur mama Liona telah mendidik kami dengan kasih sayang yang seharusnya kami dapat darimu.” Catra memejamkan matanya sejenak, lalu kembali membuka mata. “Aku berjanji akan membongkar siapa saja dibalik kematian Citra!” ucapnya dengan mata yang penuh dendam.
Meskipun raganya tidak bisa pulang ke tanah air. Tapi Catra tidak diam saja, ia memerintahkan orang suruhannya mengusut siapa saja orang yang bersama Citra sesaat sebelum kematian sang adik terjadi.
Catra semakin geram dan murka ketika mengetahui hasil visum yang menyatakan bahwa kehormatan adiknya terenggut bersamaan dengan kematiannya. Benci, marah, dendam semakin membuncah dalam diri Catra.
“Sudahlah, Mah! Kita ikhlaskan saja kematian Citra. Mungkin ini sudah jalan hidupnya,” ucap Papa Wira yang menghampiri Mama Liona setelah istrinya itu usai berkabar dengan Catra di Inggris.
Dipeluknya hangat raga sang istri yang masih merasakan duka mendalam karena kehilangan Citra.
“Tidak bisa, Pah! Papa tidak merasakan apa yang mama rasakan! Mama harus kembali kehilangan putri mama. Meskipun Citra tidak lahir dari rahim mama, tapi mama sangat sayang padanya. Dia anakku, dia putriku, Pah!” balas Mama Liona dengan isak tangis yang kembali pecah di hadapan suaminya.
Papa Wira menarik istrinya ke dalam pelukannya.
“Aku juga merasakan kehilangan yang sama seperti mu, Mah! Hati ini rasanya hancur sekali, aku tidak bisa membayangkan saat dia meregang nyawa. Biarkan polisi yang akan mengusut tuntas kasus ini.” Papa Wira meredam emosinya ketika ingat kondisi Citra saat di temukan. Mulut berbusa dengan beberapa jejak kepemilikan dari bagian tubuh milik putrinya.
__ADS_1
Papa Wira tidak ingin gegabah dan tersulut emosi. Beliau juga sedang mencari tahu siapa pria yang bersama putrinya malam itu.
.
.
---Bersambung--
Pemeran baru muncul... hayo siapa sosok Catra itu?
Penasaran gak kisah mereka seperti apa?
baca terus ya kelanjutannya..
...***...
Halo readers tersayang. Terima kasih sudah mampir dan baca karya recehku ini.
kehadiran kalian tuh berarti banget buat otor. like dan komen kalian selalu kunantikan loh.
Ingat ya, like+komen+Favorit kan cerita ini kirim bunga dan hadiah buat otor ya saya oong, biar otor tambah semangat buat nulis lagi.
Tengkyu meluap lupa buat kalian semua 🥰😘😘
__ADS_1