Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Menikahinya Saat Ini Juga!


__ADS_3

"Ya dia sudah sadar, saat ini sedang beristirahat kembali." Pak Antoni mengusap kepala Putri dengan lembut dan penuh kasih.


Bu Prita mendekatkan diri pada Farrel, putranya. "Kamu janji sama ibu untuk---,"


"Farrel ingat, Bu!" Potong Farrel. Kemudian ikut mendekati Putri.


"Aku senang kamu sudah sadar, Put!" Ucap Farrel sambil tersenyum hangat pada Putri.


"Terima kasih, Rel!"


Keduanya saling melempar senyum. Papa Antoni, Bu Prita dan Mama Mariana memperhatikan itu.


"Alhamdulillah pendonor dan penerima donor sudah sadar. Saya hanya mengingatkan agar keduanya benar-benar memperhatikan kesehatan," ucap Dokter Renaldi membuat Pak Antoni merasa tidak tenang.


"Maaf, Dok. Sebenarnya masa pemilihan mereka berapa lama?" Tanya Pak Antoni.


"Setelah melakukan prosedur, Semua dinilai kembali kondisi pasien. Prosedur yang dilakukan dan kondisi pasien akan menentukan lama perawatan di rumah sakit. Selain itu dibutuhkan waktu 3-6 bulan bagi tubuh, terutama profil darah untuk menyesuaikan dan pemulihan. Bahkan, untuk benar-benar pulih dibutuhkan waktu 1 tahun itu untuk penerima donor."


"Selama itu, Dok! Apa tidak bisa lebih cepat, pasti akan sangat membosankan jika harus berasa di ruang sakit terus!" sambung Putri. Ia sudah tidak sabar ingin segera beraktifitas.


"Sayang, kamu baru selesai operasi kenapa ingin segera beraktifitas, sehatkan dulu kondisi tubuhmu." Mama Mariana mengingatkan.


Dokter Renaldi memahami keinginan Putri. Pasiennya yang satu ini memang tidak bisa diam. Itu yang ia tahu.


"Aktivitas boleh dilakukan tapi disesuaikan dengan kondisi tubuh kita. Pada 3- 6 bulan awal, terutama 10-28 hari awal, tubuh kita masih rentan akan infeksi dikarenakan profil sel darah yang belum normal terutama sel darah putih. Dikarenakan sel darah putih adalah yang mengurus kekebalan tubuh, maka ini yang menyebabkan mudahnya terserang infeksi. Alangkah lebih baik beraktifitas yang sederhana saja. Sampai kondisi tubuh stabil dan bisa beraktifitas seperti biasa." Dokter Renaldi kembali menjelaskan.


"Makanya saya selalu mengingatkan agar keduanya antara pendonor dan penerima donor bisa saling menjaga kesehatan. Dengan mengonsumsi asupan makanan tinggi buah dan sayur, istirahat yang cukup, kurangi aktivitas berat, minum vitamin, serta kontrol post prosedur dengan teratur. Konsultasikan dengan dokter jika terjadi perdarahan, bengkak dan nyeri terutama di daerah prosedural, muntah berlebihan, penurunan penglihatan." lanjut Dokter Renaldi.


Semua yang ada di sana memperhatikan baik-baik apa yang dijelaskan oleh Dokter Renaldi.


"Kalau begitu, saya permisi masih banyak pasien yang harus saya periksa. Semoga lekas pulih, Putri!" sapanya pada gadis yang berbaring di brankar rumah sakit itu.


"Terima kasih, Dokter!" Ucap Putri.


"Sama-sama."


Setelah kepergian sang dokter. Mama Mariana mencoba memancing ajakan Farrel pada Putri. Ajakan untuk menikah yang belum sempat dijawab oleh anaknya itu.


"Maaf, Nak Farrel. Tante boleh bertanya?" Ucap Mama Mariana.

__ADS_1


"Apa Nak Farrel masih menunggu jawaban dari Putri?"


"Mah," cegah Putri. Ia tidak mau Mama Mariana membahas itu sekarang.


"Kenapa, Putri? Kamu berhak bahagia. Bukankah kamu juga menginginkan ini?" tanya Mama Mariana.


Putri hanya bisa menggelengkan kepalanya


"Betul kata Putri, Mah! Kita bisa membahas ini nanti." Pak Antoni menimpali.


"Tidak pa-pa, Om! Saya memang masih menunggu jawaban dari Putri. Kalau memang Putri menolak pun, saya siap. Dan tidaj akan memaksa," ujar Farrel.


Bu Prita segera mendekat. "Tidak Ibu yakin Putri pasti menerimanya, Iya 'kan, Put! Kamu mencintai putra ibu 'kan?" serah Bu Prita.


"Kamu bisa menjawabnya sekarang. Apapun yang kamu berikan, aku siap menerimanya."


Semuanya terdiam. Penasaran dengan jawaban apa yang akan diberikan oleh Putri.


"Apa kamu tidak malu mempunyai sering istri penyakitan sepertiku nantinya?"


"Bukankah kamu baru selesai operasi pencangkokan, kamu harus yakin bisa sembuh setelah ini," jawab Farrel.


"Kalau aku tidak yakin. Untuk apa aku menyusulmu sampai ke sini bersama ibu. Dia begitu ingin kamu menjadi menantunya," ucap Farrel sambil menoleh ke arah Bu Prita.


Wanita itu kemudian tersenyum sambil menatap Putri.


"Jika Putri menerimamu, apa kamu siap menikahinya saat ini juga?" ikut masuk dalam obrolan mereka.


"Pah," seru Putri. "Jangan menyudutkan Farrel seperti itu.


Kini semua balik menatap Pak Antoni. Pertanyaan yang sungguh mengejutkan.


"Sekarang Papa tanya sama kamu, Nak! Apa jawaban kamu? Jawablah sesuai dengan apa yang kamu rasakan. Jangan takut apa yang akan terjadi nanti!" Ucap Pak Antoni.


"Aku menerimanya."


"Alhamdulillah," jawab Mama Mariana dan Bu Prita kompak. Keduanya saling merangkul mendengar jawaban dari Putri.


"Untuk menikah dengan Putri sekarang pun aku siap, Om!" celetuk Farrel.

__ADS_1


Bu Prita makin merasa lega. Putranya saat ini sudah dewasa. Mampu menepati janji kepadanya.


"Kamu yakin? Om akan menyiapkan semua jika kamu sungguh-sungguh dengan ucapanmu!"


"Aku serius, Om."


----


Keputusan yang diambil secara tiba-tiba itu akan segera terlaksana. Sungguh Putri tidak menyangka semua keinginannya jadi kenyataan. Menginginkan dapat donor sumsum tukang belakang yang cocok untuknya. Dan saat ini pria yang ia cintai akan menikahinya. Meskipun dalam situasi usai operasi.


Rasa bahagia di hatinya makin terus membuat kesehatan Putri semakin membaik.


Pernikahan itu akan berlangsung sekitar 3 jam lagi. Farrel dan Bu Prita kembali dulu ke hotel untuk mempersiapkan semuanya. Tak ada hantaran yang akan dibawa. Sebab acara ini seperti tahu bulat di buat dadakan. Putri ingin sekali bertemu dengan Lura. Mumpung pernikahan itu belum berlangsung.


"Mah, Kau ingin bertemu dengan Lura. Aku ingin berbagi kebahagianku dengannya. Aku ingin dia tahu, aku sudah menggapai bahagiaku. Setelah aku menikah nanti, aku ingin Lura juga meraih bahagianya." Ucao Putri pada Mamanya.


"Ya, Mama akan meminta papa, untuk mengajak Lura ke sini!."


"Terima kasih, Mah!"


Di tempat lain.


"Maafkan papa, Mah. Ini harus papa lakukan untuk kesehatanmu," ucap Papa Wira pada Mama Liona yang terlelap di tempat tidur.


Papa Wira terpaksa memasukan obat tidur ke dalam minuman istrinya. Sebab Papa Wira perhatikan sudah tiga malam ini, semenjak Mama Liona mengetahui kebenaran soal Lura. Mama Liona sama sekali tidak nyaman saat tidur. Gelisah, takut dan mengigau sering dialami Mama Liona, beberapa hari terakhir ini.


Papa Wira tidak mau kesehatan Mama Liona sampai terganggu. Wanita itu harus merasakan kebahagiaan bersama putrinya nanti .


"Mama tidak perlu khawatir. Papa sudah mengerahkan seseorang untuk terus mengawasi Lura di sana, Mah! Kali ini Papa yang akan ikut turun tangan untuk kebahagiaan anakmu. Setelah berpuluh tahun kamu telah mencurahkan semua kasih sayang pada anak-anakku," ucap Papa Wira sambil menatap penuh cinta pada wanita yang sedang memejamkan mata di hadapannya.


.


.


.


Readers : Kapan sih thor ketahuannya. Bertele-tele lama banget ..


Author : Sabar Woi, Gak enak kan kalau langsung pada inti. gak ada lika likunya gitu. pokoknya ikuti aja ya bacaannya.

__ADS_1


__ADS_2