Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Apa Yang Terjadi Padamu, Ra?


__ADS_3

Catra,” panggil Mama Liona saat melihat pria itu datang mendekatinya.


Catra langsung menyalami dan memeluk Mama Liona sebagai sapaan.


“Kenapa kamu ke sini. Kamu masih sakit kan? bukannya dokter belum mengijinkan kamu keluar dari rumah sakit.”


“Dia memaksa, tan,” Pacho menimpali sambil meraih tangan Mama Liona ikut menyalami wanta anggun itu meski dalam usinya yang tidak musdah k


“Maaf, nyonya. Sebaiknya Anda keluar dari sini begitu juga dengan bapak,” sela security itu kemudian menunjuk Papa Wira agar ikut keluar dari ruangan itu.


Hal yang sama di lakukan pada Pak Antoni dan Mama Mariana.


“Mohon maaf, ini kamu lakukan demi ketertiban rumah sakit. Dan sudah prosedurnya jika seseorang yang membaut kegaduhan agar keluar dari sini,” ujar pria berseragam itu.


“Tapi putri saya ada di dalam sendiri, Pak!” Mama Liona seakan menolak saat petugas security memintanya keluar dari rumah sakit itu. “Pah, bagaimana ini. Mama tidak mau pergi dari sini.” Sanggah Mama Liona tapi Papa Wira tidak bisa berbuat apapun.


Pak Antoni dan Mama Mariana lebih dulu meninggalkan ruangan. Sedangkan Farrel membawa Putri kembali ke ruangannya.


“Mah, sebaiknya kita pergi dari sini, Ini hanya peringatan pertama saja, Maka dari itu sebaiknya kita ikuti ucapannya. Agar nanti kita bisa ke sini lagi,” Ajak Papa Wira sambil merangkul tubuh istrinya. “Tenang sudah ada Catra di sini biar dia yang menemani Lura!”


“Ya, papa benar.” Mama Liona lekas menatap Catra. “Nak, tolong mama. Lura tidak mau bertemu dengan kami. Mama tidak mau dia kenapa-napa di dalam. Tolong bujuk Lura, Sayang,” Pinta Mama Liona pada Catra.


Security yang tadi menegur Mama Liona masih menunggu wanita itu. Benar-benar keamanan di rumah sakit ini begitu ketat.


“Baik, Mah! Tenang saja, aku tahu Lura tidak akan berbuat nekad, Dia hany butuh sendiri. Setelah hatinya tenang dia pasti mau berbicara dengan mama. Dia wanita berhati lembut seperti dirimu, Mah. Jadi tidak perlu khawatir, Lura pasti memaafkan kalian,” ujar Catra. Kemudian melirik ke arah Pacho agar sahabatnya itu mau membantunya.


“Apa,” tanpa Catra berbicara tapi pria itu sudah hapal dengan lirikan Catra.


Catra menarik sudut bibinya. “ Peka juga loh!”


“Siapa dulu, gue gitu loh.”


“Lu, tunggu gue di luar!” Titah Catra pada Pacho langsung mendapat cemberutan dari sahabatnya itu.


“Sue, gue dijadiin satpam, di sini!,”


Papa Wira merangkul Mama Liona pelan kemudian menggiringnya keluar dari lantai itu.


Melihat kedua orang tuanya menjauh begitu juga dengan security itu, Catra membuka pelan pintu ruangan ruang perawatan Lura.

__ADS_1


Catra sedikit terkejut saat tidak mendapati Lura di tempat tidur pasien. Tapi perasaannya merasa lega saat melihat Lura sedang duduk di sofa sambil menekuk kedua lututnya sambil memejamkan mata.


Senyum langsung mengembang di wajah tampan itu. “Akhirnya kita bertemu lagi, Ra. Meskipun kamu meninggalakan aku. Tapi sekarang ini, aku tidak akan pernah meninggalkan mu,” gumam Catra sambil berjalan mendekati Lura.


Catra ikut duduk di sisi Lura. Gadis itu tidak terusik sama sekali dengan kehadiran Catra di sana. Mata yang sembab terlihat meskipun kedua mata itu sedang memejamkan mata.


“Aku tidak menyangka seperih itu kehiupan kamu, Sayang!” Ucap Catra sambil memandang wajah Lura. Ia menyingkirkan surai rambut Lura yang menghalangi wajahnya.


“Aku berjanji tidak akan meninggalakan kamu sendiri, jangan pernah merasa sendiri lagi. Sebab mulai saat ini kamu adalah tanggung jawabku. Aku adalah pemilik kehormatanmu.”


“Catra,” gumam Lura dalam tidurnya.


Mendapat panggilan dari Lura yang sedang memejamkan mata, Catra terlihat senang. Itu berarti Lura sedang merindukannya.


“Ternyata saat memejamkan mata pun kamu rindu padaku, “Catra menaikkan alisnya. Sebuah ide muncul dalam benak pria itu.”


Dia berbisik di telinga Lura. “Sayang ... Aku, Catra! Kamu rindu gak sama aku?” bisik Catra. Anggukan ia dapat dari Lura. Catra terkekeh pelan, ia semakin ingin menjahili wanita itu.


Catra diam sejenak. Pria itu bingung mau bertanya apalagi untuk menjahili Lura. Bisa-bisanya saat keadaan seperti ini, Catra malah menjahili Lura.


Pria itu kembali tersenyum, sebuah ide kembali terlintas dalam benaknya. Catra segera mempersiapkan semuanya. Ia menggunakan ponsel miliknya untuk merekam semaunya. Agar Lura tahu apa yang terjadi selama ia terlelap dalam kesedihannya.


“Ra,” panggil Catra. Tidak ada balasan dari wanita itu.


“Aku sayang sama kamu, Ra. Kamu sayang gak sama aku?” tanya Catra pada Lura yang tengah memejamkan matanya.


Hanya anggukan yang Catra dapatkan. “Catra ....” Lura kembali bergumam memanggil Catra.


“Apa, Sayang?” jawab Catra sambil terkekeh geli.


“Jangan tinggalkan aku, Cat.”


Catra memanyunkan bibirnya. “Bukannya kamu yang ninggalin aku!” balas Catra.


Tak lama Catra melihat Lura terisak dalam tidurnya. Ia tidak menyangka kesedihan itu sampai terbawa ke dalam mimpi. Merasa tidak tega, Catra langsung menarik Lura dalam pelukannya.


“Maafkan aku, Ra. Aku seharusnya melindungi kamu, berada di sisimu saat kamu sedih seperti ini. Tapi aku yakinkan saat ini dan kedepannya nanti, aku akan selalu ada buat kamu. Aku akan menikahi mu, Ra.”


Dan di saat bersamaan Lura merasa sesak. Wanita itu perlahan bangun dari lelapnya. Catra pun melepaskan pelukannya perlahan saat mendengar Lura tersadar.

__ADS_1


“Catra,” ucap Lura sambil menengaskan penglihatannya pada pria yang ada di hadapannya.


Catra memberikan senyum manis saat Lura menatapnya.


“Iya, ini aku!”


Merasa terkejut Lura langsung melepaskan diri dari pelukan Catra. Ia mendorong tubuh pria yang ada di hadapannya itu, sehingga membuat Catra terpental jatuh ke bawah.


“Aww...,” jerit Catra karena punggungnya yang terluka mengenai pojok meja yang ada di belakangnya.


Lura langsung berdiri dan mendekati Catra. “Kamu baik-baik saja?” Tanya Lura. “Maaf, aku tidak sengaja! Pasti sakit ya?”


Catra mengangguk pelan, membenarkan ucapan Lura. Kemudian Lura sedikit berjongkok hendak membantu Catra untuk bangun. Tapi rasa nyeri dan linu masih terasa di tulang ekornya. Lura sedikit meringis saat rasa nyeri menguasai diri.


“Ssshh ....” Desis Lura pelan.


Catra yang mendengar rintihan itu langsung bangun mengabaikan lukanya yang sedikit mengeluarkan darah akibat benturan bahunya pada pojok meja.


“Kamu kenapa?” Tanya Catra dengan raut wajah khawatir. Pria itu lekas berdiri dan mendekati Lura.


Rasa nyeri itu disertai rasa mual dan pusing yang menguasai diri. Lura menutup mulutnya sendiri, rasanya ingin sekali memuntahkan sesuatu dari mulut itu.


Tanpa peduli Lura berjalan cepat ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.


"Oweekk... " Berulang kali Lura memuntahkan isi dalam perutnya. Tapi hanya ada cairan bening kekuningan yang terasa pahit di tenggorokan.


"Kenapa seperti ini?" Tanya Catra sambil membantu Lura memijit tengkuk leher Lura dengan pelan. "Aku ambil minyak angin biar terasa sedikit hangat." Anggukan pelan Catra dapat dari Lura. Gadis itu lekas membasuh bibirnya dengan air. Kemudian berdiri sambil menempelkan tubuhnya di dinding kamar mandi. Lura takut rasa mual dan ingin muntah itu kembali datang.Maka dari itu dia tidak keluar kamar mandi.


Catra kembali sambil membawa minyak angin di tangannya. Ia melihat Lura yang begitu pucat, Catra langsung memeluk tubuh gadis itu dengan cepat.


"Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu, Ra?" Tanya Catra di sela pelukannya pada Lura.


.


.


.


Maafkan author yang up nya belang bentong..,

__ADS_1


__ADS_2