
...Beri rating 🌟🌟🌟🌟🌟 buat karyaku ya....
...jangan lupa like + komentar terbaik kalian...
“Tapi saya minta kamu tutup mulut dengan apa yang sudah kamu ketahui tentang Farrel. Dan untuk hubungan kalian... Maaf... saya tidak bisa merestuinya, ada banyak pertimbangan yang saya jadikan dasar atas hubungan kalian. Farrel lahir dari keluarga terhormat dengan bibit bebet dan bobot yang jelas. Saya sebagai ibunya meminta maaf jika ini akan menyakiti hatimu, tidak bermaksud untuk merendahkan asal usulmu. Tapi... Kami harus menjaga nama baik keluarga! Jadi saya harap kamu mengerti!” ucap Ibunya Farrel tegas dan jelas ku dengar.
Beliau menghentikan ucapannya saat pelayan membawa minuman dan camilan kepada kami. Senyuman ramah dan sopan ia berikan pada pelayan itu. Sungguh terlihat seperti wanita anggun dan baik.
Aku tersenyum miris mendengarnya. sakit sebenarnya mendengar ucapan Bu Prita. Aku pikir sekeras apapun perjuanganku untuk selalu bersama Farrel rasanya percuma. Bahkan aku mendengar sendiri penolakan dari Ibunya. Wanita yang telah melahirkan Farrel. Aku diam tak banyak berbicara setelah itu.
“Lura!” panggil Bu Prita membuyarkan lamunanku.
“Saya minta maaf harus mengatakan ini kepadamu,” ucapnya masih dengan nada lembut dan mampu membuat hati ini tersayat.
Aku tidak menyangka pertemuanku dengan Ibunya Farrel malah membuat perpisahan buat kami. Atau memang aku dan Farrel tidak ditakdirkan untuk bersama.
“Tidak apa-apa, Bu! Saya sadar diri, siapa dan dari mana saya berasal. Ibu tidak perlu minta Maaf, saya mengungkapkan ini semua karena saya peduli pada Farrel. Tapi tolong jangan beritahu dia kalau saya yang mengatakan ini pada, Ibu!”
Bu Prita mengangguk pelan.
“Usahakan kalian sudah mengakhiri hubungan sebelum saya membawa dia pergi! Sebab Farel tidak akan pernah mau meninggalkan orang yang ia anggap berharga dalam hidupnya.” Bu Prita mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar makanan dan minuman yang ada di atas meja itu. Sejenak ia menatapku. Dia juga menyodorkan amplop cokelat tebal kepadaku.
“Ini ada sejumlah uang untukmu, saya tahu kamu pasti membutuhkannya.”
Sungguh ucapannya membuatku terhina secara lembut.
“Maaf, Bu! Saya memberitahu Ibu soal Farrel tidak berharap mendapatkan uang. Tapi karena saya murni peduli dan sayang padanya!” Aku kembali mendorong amplop coklat itu ke hadapan Bu Prita.
__ADS_1
“Ibu tidak perlu khawatir, saya akan secepatnya mengakhiri hubungan kami. Mungkin nanti malam saya akan bertemu dengan putra Anda.” Lekas ku berdiri tanpa berani menatapnya. Sebab mata ini sudah sedikit berkaca-kaca. Tak kuasa menahan rasa sakit di hati ini.
“Maaf sudah mengganggu waktu Anda, saya permisi!”
Kulangkahkan kaki keluar dari sana. Sesak yang kurasa. Ingin rasanya berteriak untuk meredakan sesak ini.
Tidak menyangka dengan sikap yang ia dapat dari Bu Prita.
Saat ini aku hanya bisa mengikhlaskan semuanya. Pupus sudah harapan ini untuk bersama dengan Farrel. Benar kata Dina, aku dan Farrel berbeda kasta akan sangat sulit untukku bersatu dengannya.
Tak terasa air mata ini meleleh begitu saja. Aku tidak sanggup lagu menahan sesak kan air mata yang terus memaksa keluar dari sudut mata ini. Tidak mau ada yang melihat tangisku, aku bersembunyi di balik tembok.
Tangisku kembali pecah di saat itu. Aku memilih diam di tempat itu sesaat. Meredakan tangisku, setelah itu kulanjutkan perjalanan ku menuju kontrakkan.
“Loh, kenapa Ra?” tanya Dina saat membukakan pintu saat aku baru saja sampai di kontrakkan kami.
Tanpa menjawab pertanyaannya aku langsung memeluk tubuh Dina. Kembali menumpahkan sedih yang kurasa.
Dina mengambilkan satu gelas air putih dan memberikannya padaku.
“Minum dulu!”
“Terima kasih, Din!” aku meminum air itu perlahan.
“Lu kenapa?” Dina kembali bertanya.
Perlahan kuceritakan semua yang kualami tadi pada Dina. pertemuan dengan Bu Perita yang begitu menyesakkan.
__ADS_1
“Gue bilang apa sama lu, kalian tuh beda kasta. Gak mungkin buat sama-sama!”
“Tapi Farrel berbeda dengan ibunya, Din! Dia tulus sama gue! Dia bilang bakalan terus memperjuangkan gue meskipun orang tuanya nolak gue!”
“Iris kuping gue kalau dia milih lu saat ini dibanding orang tuanya!”
Aku bergeming mendengar ucapan Dina.
“Malam ini gue mau ketemuan sama Farrel, Din! Mungkin buat yang terakhir buat kami! Sebab orang tuanya akan membawa Farrel pergi dan gue harus memutuskan hubungan kami segera. Itu yang Bu Prita inginkan!”
“Kalau begitu, lu gak usah ragu. Lebih baik lu sakit hati sekarang daripada lu menderita nanti, tipe cowok kaya Farrel itu pasti lebih takut kepada orang tuanya daripada sama lu, sekarang dia ngomong gitu, tapi nanti gue yakin dia pasti lebih menuruti orang tuanya!” Dina terus menasihatimu.
Aku tidak membenarkan ucapan Dina tapi aku harus mempertimbangkannya. Setidaknya berpisah dari Farrel bisa membuat kekasihku itu sembuh, aku rela.
Setelah itu aku hanya ingin melihat sebagaimana besarnya dia memperjuangkan cintanya kepadaku. Itu yang aku tunggu dan aku harapkan.
.
.
.
Bersambung--
Halo readers tersayang. Terima kasih sudah mampir dan baca karya recehku ini.
kehadiran kalian tuh berarti banget buat otor. like dan komen kalian selalu kunantikan loh.
__ADS_1
Ingat ya, like+komen+Favorit kan cerita ini kirim bunga dan hadiah buat otor ya saya oong, biar otor tambah semangat buat nulis lagi.
Tengkyu meluap lupa buat kalian semua 🥰😘😘