Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Tato Itu, Ah ... Tidak mungkin!


__ADS_3

Satu tarikan tembakan melesat cepat ke arah Catra. Catra dengan cepat memutar tubuhnya sehingga peluru itu tepat mengenai lengan kanan Catra.


"Catra!" Teriak Lura saat ia melihat pria yang sedang memeluknya kembali terluka.


"Tanganmu." Lura melihat tangan kanan Catra berdarah. Pasti sakit, sudah ada luka di bahu sekarang ditambah luka tembakan.


Catra hanya mengangguk pelan. "Aku tidak pa-pa. Tunggu aku di sini!" titahnya.


Catra yang masih bisa berdiri tegak setelah insiden penembakan itu. Ia masih bisa berjalan menghampiri preman yang sudah berani menembaknya. Tangannya terus mengeluarkan darah. Kilat amarah jelas terlihat di raut wajah Catra. Preman itu beringsut mundur perlahan.


"Kamu berani mendekat? Jangan salahkan saya jika peluru akan segera membuatmu mati?" ancam preman yang memegang pistol.


"Silakan, tambak saja jika kamu bisa! brengsek!" Catra segera mecengkram keras baju preman itu, menariknya agar ikut berdiri. Tak henti-hentinya Catra memukul si preman dengan sisa tenaga berulang kali.


"Kamu suruhan wanita licik itu? Kalian semua brengsek, bajingan, perusak penerus bangsa." Catra semakin di buat geram dan emosi saat mengingat Citra yang meninggal akibat overdosis karena kecanduan obat terlarang yang Mamih Rosa jual. Wanita licik itu menjerat para anak muda berkelas.


"Kamu akan segera ku habisi anak muda!" Preman itu kembali mengarahkan pistol ke arah Catra. Alangkah terkejutnya ketika pistol tersebut tak bisa berfungsi sebab tak ada peluru di dalamnya.


Catra menyeringai. "Aku yang akan menghabisi mu, brengsek!" Catra kembali memukul keras di bagian kepala. Tumbang sudah preman yang ada di hadapannya itu. Dan disaat bersamaan Catra tak sanggup menahan sakit yang ia rasakan. Tubuh kekar itu ikut tumbang juga.


"Catra," panggil Lura sambil berlari menghampirinya. "Lukamu mengeluarkan banyak darah. Kita harus segera ke rumah sakit!" Lura terlihat panik saat melihat luka di bahu dan di tangan Catra.


Tidak ada tanggapan dari Catra. Banyak mengeluarkan darah membuat Catra merasakn pusing. Dia memejamkan mata sejenak untuk meredakannya.


"Tunggu, aku harus mencari bantuan!" Saat Lura hendak berdiri Catra menahannya.


"Ada seseorang yang datang kesini! Kamu tetap bersamamu!" Ucap Catra dengan suara pelan hampir tak terdengar.


Lura semakin panik. Ia meraih tubuh Catra kemudian meletakkan kepalanya di atas pangkuannya. "Kamu harus selamat, jangan tinggalkan aku! Jangan tidur, hei!" Lura menepuk-nepuk pelan pipi Catra agar membuka mata. Tak terasa buliran bening dari sudut mata Lura menetes, mengenai wajah Catra.


Merasakan cairan bening mengenai wajahnya, Catra berusaha membuka mata kemudian tersenyum ke arah Lura.


"Kamu menangis?"


"Tidak aku lapar!" Catra terkekeh kecil mendengar balasan dari Lura.


"Aku lupa mengajak kamu makan, tadi. Sshh ...." Catra kembali merasakan sakit di bagian bahu. Tepat di luka sobek bekas sabetan pisau.


"Kamu harus segera dibawa ke rumah sakit!" Lura semakin tidak sabar. "Mana orang yang kamu bilang akan datang ke sini? Dia belum juga datang." Lura mengedarkan pandangannya mencari sosok yang dibilang Catra akan datang ke tempat itu.


"Kamu benar-benar mengkhawatirkanku?Berarti benar kalau kamu mencintaiku?" tanya Catra sambil meringis kesakitan. Namun, tak digubris oleh Lura. Bisa-bisanya di saat seperti ini, Catra masih bisa bertanya hal macam itu.

__ADS_1


"Ayo, bangun!" Ajak Lura sambil membantu Catra berdiri. "Kamu masih kuat 'kan?" tanya Lura kemudian melingkarkan tangan kiri Catra yang tidak terluka ke pundaknya. Agar Catra bisa berdiri.


"Aku kuat kalau ada kamu di sisiku, Ra!" goda Catra sambil tersenyum paksa.


"Kamu ini masih bisa berbicara saat nyawamu terancam seperti ini!" Lura mulai kesal dengan ucapan Catra. "Pelan-pelan."


Meski kesal tapi Lura tetap berhati-hati membantunya.


"Kamu jangan ninggalin aku, Ra!" Ucap Catra saat mereka melangkah ber-iringan menuju mobil Catra.


Lura memapah tubuh Catra. Hembuasan napas dari pria itu, hangat terasa olehnya."Iya aku akan selalu bersamamu!" balasnya pelan, entah didengar atau tidak oleh Catra.


Catra mulai kembali menutup mata. Tubuh kekar itu sedikit terhuyung ke depan. Catra mulai kehilangan kesadarannya. Sehingga Lura harus ekstra tenaga memapahnya.


"Jangan menutup mata! kamu harus sadar! Aku akan meminta bantuan setelah kamu di dalam mobil. Kamu dengar Catra?" seru Lura dengan nada khawatir sambil terus berusaha melangkah cepat.


"Saat kamu tahu apa yang aku lakukan padamu. Tolong jangan tinggalkan aku, Ra! Aku mencintaimu. Sungguh-sungguh mencintaimu. Kamu membawa perubahan pada diriku." Kata-kata dari mulut Catra makin terdengar samar. Lura semakin takut dibuatnya.


Di saat bersamaan orang yang akan datang ke tempat itu telah tiba.


"Biar saya bantu, Nona!" Ucap pria asing yang mendekati Lura.


Lura memeluk Catra seakan ia takut jika pria yang ada di hadapannya ini adalah salah satu orang dari Mamih Rosa.


"Kami anak buah Tuan Catra. Anda tidak perlu takut!"


Tanpa banyak bicara lagi. Lura menyerahkan Catra pada mereka. Lura lebih dulu masuk di susul Catra.


Di dalam mobil, Lura memangku kepala Catra di atas pahanya. Berulang kali, Lura memanggil Catra bahkan menepuk pipi pria itu. Tapi respon dari Catra hanya sedikit.


"Tolong lebih cepat! Kita harus segera sampai di rumah sakit!" lirih Lura diiringi dengan isak tangis kesedihan.


****


Sesampainya di rumah sakit. Lura tak sedikitpun jauh dari Catra.


"Anda bisa tunggu di luar!" Ucap suster yang akan menangani Catra masuk ke dalam ruangan.


"Ra," lirih Catra dengan suara pelan.


posisi Catra saat ini tengkurap. Sebab luka yang ada di tubuhnya berada di bahu belakang dan lengan belakang. Semua luka itu ada di sebelah kanan.

__ADS_1


Catra berusaha bangkit dengan sisa tenaga yang ada. "Jangan tinggalkan aku!"


Lura meraih tangan kiri Catra kemudian menggenggamnya.


"Jangan banyak bergerak, Luka Anda harus segera ditangani!" Suster mencegah Catra untuk bangkit.


Tanpa diduga, Catra begitu erat membalas genggaman tangan dari Lura.


Kedua suster yang akan membawa Catra melihat reaksi Catra. Dia membiarkan Lura ikut bersama mereka ke dalam ruangan.


"Kamu ikut saja dulu, nanti setelah di beri obat bius untuk operasi. Pasien pasti akan lemas," ujar suster dan mendapat anggukan dari Lura.


Lura berdiri di samping kiri Catra. Sebisa mungkin Lura tidak menganggu kegiatan tim medis dalam menangani Catra.


Lura sedikit menurunkan tubuhnya. Wanita itu terus berbicara pelan di telinga Catra.


"Aku ada di sini! Aku tidak akan pernah ninggalin kamu, Cat! Aku tagih janjimu yang akan selalu ada untukku. Aku juga mencintaimu, berjuanglah untukku!" bisik Lura di telinga Catra.


Dokter dan suster yang sedang melakukan tindakan pada Catra begitu prihatin mendengar ucapan Lura. Mereka kembali melakukan tindakan selanjutnya tanpa terganggu oleh kehadiran Lura.


"Gunting saja pakaiannya, Suster!" Intruksi dari dokter yang baru saja menyuntikkan obat bius pada Catra.


Lura lekas berdiri. Ia ingin melihat tindakan yang dilakukan tim medis pada Catra. Tatapan matanya tak lepas dari tubuh Catra yang terkena luka sabetan pisau dan tembakan di lengan Catra.


Lura begitu terkejut melihat darah yang baru saja dibersihkan dari punggung Catra oleh suster.


Gambar tato besar yang begitu jelas. Ingatan Lura berputar lagi, saat dimana kehormatannya terenggut malam itu.


Tangan kanan menutup mulutnya sendiri karena tangan sebelah kiri digenggam Catra. "Tato itu ... Tidak mungkin." Lura menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak mungkin pria malam itu ... Catra!" gumam Lura terkejut mengetahui sebuah kebenaran yang ada. Ia ingat dengan jelas tato itu. Tato besar bergambar sayap elang yang melebar di punggung.


Di saat yang bersamaan. Tubuh Catra lemas, genggaman tangannya pada Lura pun lepas begitu saja.Sebab obat bius yang belum lama disuntikkan sudah bereaksi.


"Anda bisa tunggu di luar! Kami akan segera melakukan operasi pada pasien!" Ucap dokter pada Lura.


Lura hanya bisa mengangguk lemah. Kemudian ia keluar dari ruangan itu. Hati, jiwa dan perasaannya begitu syok dengan kejadian hari ini ditambah dengan kebenaran yang mulai terungkap. Matanya menatap kosong tapi pikiran dan hatinya sedang berkecambuk dengan kenyataan yang ada.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2