Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Awal Yang Berakhir Candu


__ADS_3

Beberapa hari tak mendapat kabar dari Farrel membuatku hari-hari ini tidak tenang.


Dina menyarankan untuk move on, dia menyebut Farrel tidak bisa dipercaya dan dipegang ucapannya sebagai laki-laki.


Hati ini mulai bimbang. Entah aku harus bersiap seperti apa sebelum tahu yang sebenarnya terjadi. Dan sebelum mendengar penjelasan dari Farrel aku bersikeras untuk terus bersamanya.


Hari ini, Farrel menghubungiku, meminta maaf atas kejadian Minggu lalu di Taman Kota.


Aku yang saat ini sedang menikmati istirahat kerja di tempat biasa. Di mana lagi kalau bukan di loker, bersama teman yang lain tanpa kehadiran Dina sahabatku. Kami berbeda jam istirahat saat itu.


Aku terkejut saat melihat nama Farrel muncul di notifikasi pesan chat milikku. Aku dengan cepat membuka kunci ponsel dan masuk ke dalam ruang chat-ku.


Farrel


📩


[Ay... Maaf, aku ganggu waktu kerjamu. Aku juga minta maaf untuk Minggu lalu, pergi meninggalkan mu di Taman Kota. Aku harus pergi mendadak. Ada urusan yang harus di selesaikan saat itu juga. Maaf baru memberimu kabar]


Aku terdiam setelah membacanya, ingin membalas tapi mengingat pesan dari sahabatnya. Agar mencoba belajar menjauh dari Farrel. Ingin menjauh, tapi perasaan ini mengatakan tidak. Aku masih cinta padanya. Aku masih kekeh ingin tahu penjelasan darinya, aku ingin kejujuran dari Farel.


Aku ingin membantunya. Dia adalah pria pertama yang membuat diri ini merasa berharga, aku bisa merasakan betapa sayangnya dia padaku meski dalam keadaannya yang sekarang ini.


Hati kecil ini ingin terus bersama Farrel. Sikap sayang dan perhatian, ia dapat dari Farel dengan tulus. Itulah yang membuat aku tidak bisa berpisah dari cinta pertama ku ini.


Janji yang pernah kami ucap akan untuk selalu bersama meski orang tua Farrel belum mengetahui hubungan mereka. Aku pun berjanji untuk selalu menemani perjuangannya.


Ting...


Lagi-lagi ada pesan masuk dan langsung terbuka otomatis sebab aku belum keluar dari ruang chat bersamanya.


📩


[Ay, kenapa tidak di balas? Kamu masih marah?]


Luluh sudah hati ini. Aku tidak biasa lama untuk berdiam diri darinya.


Lura


📩


[Aku tidak marah, jujur aku kecewa padamu. Ada yang kamu sembunyikan dariku. Kamu mengingkari janji untuk selalu berterus terang apapun yang terjadi]


Ku kirimkan pesan yang mewakili isi hati ini.


Tak lama ponselku berdering, Farrel langsung melakukan panggilan telepon kepadaku.


Tidak mau sekitar merasa terganggu, segera kuangkat panggilan itu.


“Akhirnya aku bisa menghubungimu lagi, Ay!” ucap Farrel dari seberang telepon.


“Nomerku selalu aktif, tidak pernah sulit untuk menghubungiku kecuali kamu yang memang sengaja tidak mau mengabariku, bahkan membalas pesan terakhir yang kukirim saja, tidak!” sahutku dengan nada ketus.


Aku ingin Farrel tahu, bahwa saat ini aku marah padanya.


“Maaf, Ay. Kemarin benar-benar mendadak sekali. Ada sesuatu yang harus aku lakukan dan itu sangat penting untukku.

__ADS_1


“Ya, aku paham, Rel. Saat ini aku memang tidak penting dan tidak ada artinya buat kamu! Jadi untuk apa sekarang kamu menghubungiku?” Makin kesal rasanya mendengar Farrel mempunyai sesuatu yang lebih penting dan itu bukan aku. “Atau ada wanita lain yang memang lebih penting, jika memang benar. Lepaskan aku! Kita akhiri hubungan ini!” ucapku spontan padahal hati ini berkata tak rela jika berpisah darinya.


“Kamu bicara apa sih, Ay! Tidak ada wanita lain selain kamu. Hanya kamu satu-satunya,” Serobot Farrel setelah mendengar ucapanku. kata-katanya terdengar bernada tinggi.


Aku tersenyum mendengarnya. Senang sekali rasanya bahwa aku masih satu-satunya wanita dalam hatinya.


“Kita harus bertemu!” lanjut Farrel.


“Aku pun ingin bicara penting padamu, Rel!”


“Apa?”


“Nanti setelah kita bertemu?”


“Tapi jangan pernah mengucapkan kata perpisahan. Aku tidak akan sanggup, Ay! Aku janji tidak akan ada yang aku tutupi mulai saat ini!”


“Janji”


“Aku janji!” Farrel menegaskan ucapannya padaku.


“Ok, jemput aku sore ini!”


“Siap, Ay! Aku pasti menjemputmu! Terima kasih sudah memaafkanku!”


“Siapa bilang aku sudah memaafkanmu?” ucapku lagi.


“Ay... Kumohon!” suara Farrel terdengar memohon padaku.


Aku menutup mulutku menahan tawa. Sangat lucu jika melihat Farrel ketakutan seperti ini. Sayangnya kami berbicara lewat telepon jadi aku hanya bisa mendengar suaranya saja.


“Maksud kamu apa, Ay! Semuanya?”


“Ya, semuanya! Apa yang terjadi padamu sekarang ini, apa yang kamu tutupi dariku!”


Tak ada jawaban kudapat. Sampai aku melihat layar ponselku, apa sambungan telepon terputus. Tapi kulihat masih tersambung. Tapi mengapa Farel tidak menjawab keinginanku.


Ternyata, Farrel sedang terdiam, di seberang telepon.


‘Apa Lura tahu apa yang terjadi padaku? Tapi tahu dari mana? Bagaimana jika di meninggalkanku setelah mengetahui apa yang terjadi pada diriku!’


Batin Farrel bergeming hingga teguran dariku membuyarkan lamunannya.


“Farrel!” Aku mencoba menegurnya.


“Hm... Ya, Maaf, Ay!”


“Kamu keberatan aku meminta hal itu kepadamu?"


“Tidak... Tidak sama sekali! Aku akan jujur padamu nanti, Tapi tolong jangan pernah tinggalkan aku, Ay!”


“Seperti janji kita, Rel. Aku akan selalu ada untukmu. Kamu saja selalu ada buat aku! Kali ini aku ingin membantumu untuk masalah yang sedang kamu hadapi saat ini!” ucapku kepada Farrel.


Kulihat beberapa SPG (Sales Promotion Girl) tengah bersiap kembali ke tempat bekerja.


“Rel, aku harus kembali bekerja, ku tunggu nanti sore!” ucapku mengakhiri obrolan kami.

__ADS_1


“Baik, sampai bertemu nanti, Ay! Love you.”


Kata manis itu kembali kudengar. Senang sekali rasanya.


“Love you to....” balasku.


Sambungan telepon terputus. Aku kembali bekerja dengan hati lega. Rasanya sangat bersemangat sekali setelah berbicara dengan Farrel.


Hati ini kembali menghangat, hubungan ini terselamatkan.


Dan aku teguhkan akan terus maju untuk selalu bersamanya.


Flashback On


Farrel


Di Taman Kota , saat aku bersama Lurah rasanya tubuh ini kembali down. Aku butuh sebuk kokain itu, serbuk yang membuat tubuh ini serasa bertenaga dan bersemangat.


Sudah menjadi keharusan untukku mengonsumsi serbuk terlarang itu. Barang haram yang pemakaiannya hanya dihirup saja.


Tubuh ini serasa candu terhadap barang haram tersebut.


Tidak mau Lura mengetahui apa yang terjadi padaku, aku pun segera menghindarinya. Pamit ke toilet. Itu alasanku. Tapi, aku mencari sela di mana tempat itu sepi.


Aku mengambil sesuatu yang selalu kuselipkan di sela-sela dompetku. Ya, serbuk kokain, serbuk yang menjadi candu untukku.


“Shittt...” Aku mengumpat kesal saat tahu serbuk yang membuatku terbebas dari tekanan itu tersisa sedikit.


Tidak peduli aku pun segera membukanya dengan cepat kemudian segera menghisapnya, padahal aku butuh lebih dari itu.


Sesaat kunikmati dan kurasakan efek yang timbul dari serbuk itu.


Meskipun sedikit, tapi bisa membuat tubuh ini sedikit beraksi. Tidak terlalu gemetar jika berhadapan dengan Lura.


Aku pun kembali menghampiri Lura di taman.


Pertama kenal obat terlarang itu saat aku bergabung dengan salah sari teman kuliahku. Dia menawariku karna tahu sedikit tentang masalahku.


Awalnya aku menolak. Aku sadar itu tak baik untukku. Tapi batin yang tertekan dengan banyak tuntutan dari orang tuaku mendorong Aku untuk sedikit mencobanya.


Sedikit, tapi lama kelamaan aku keasyikan dengan barang itu. Membuat barang haram itu candu buatku.


.


.


.


.


Bersambung


Mana komennya, aku butuh kehadiran kalian biar semangat buat up bab baru..


like+komen nya......

__ADS_1


__ADS_2