Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Terbongkar Semuanya


__ADS_3

"Apa yang terjadi pada Lura, Dokter?" Tanya Pak Antoni tiba-tiba saat memasuki ruangan. Ia langsung bersama pada Dokter Renaldi tanpa melihat wanita yang berdiri di dekat brankar sambil membelakanginya.


"Oh, Pak Antoni," sahut Dokter Renaldi kemudian sama-sama mendekati Pak Antoni.


Keduanya berhenti tepat di tengah ruangan.


"Kenapa dia bisa ada di lantai satu, Dok? Tadi pas saya tinggal pergi, Lura bersama Putri di ruangannya," ujar Pak Antoni. Matanya melirik ke arah wanita yang berdiri di dekat Lura. Wanita itu sama sekali tidak terusik dengan kedatangannya.


"Saya tidak tahu, Pak! Ibu ini yang menemukan Lura. Kebetulan juga ada saya di dekat tenang kejadian. Jadi, saya bawa Lura ke ruangannya," tutur Dokter Renaldi. "Pak Antoni, tidak perlu khawatir. Lura hanya kelelahan saja. Satu lagi, jangan buat dia banyak berpikir dulu, Keadaannya belum stabil," Lanjut Dokter Renaldi kemudian beliau pamit meninggalkan ruangan.


"Nyonya, saya pamit. Tidak akan lama lagi, Lura akan sadar. Tunggu saja!" Ucap Dokter Renaldi kemudian mendapat anggukan dari Mama Liona tanpa menoleh ke arahnya. Enggak sekali wanita itu bertatap muka dengan Antoni. kesedihan masa lalunya sejenak terlintas dalam bayangan. Dimana kehamilannya, hanya akan dijadikan umpan saja. Rasanya sudah tidak sabar ingin membuat perhitungan dengan Antoni.


Seperginya Dokter Renaldi, Pak Antoni berjalan menghampiri wanita masih menyembunyikan dirinya.


Ceklek....


Pintu ruangan terbuka, Papa Wira memasuki ruangan itu.


Pak Antoni mengernyitkan alias. Dia kenal siapa orang yang masuk ke dalam ruangan itu.


"Wira, ngapain kamu ke sini?" Tanya Pak Antoni sontak membuatnya tersadarlanjutnya dengan wanita yang ada di depannya. Ia langsung menatap ke arah wanita itu. "Apa kamu Liona?" lanjutnya.


Perlahan Mama Liona membalikan badan.


"Jika memang benar, kenapa? Hah!" ketus Mama Liona dengan tatapan benci pada Pak Antoni.


"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian mengenal Lura?" Tanya Oak Antoni menatap Mama Liona dan Papa Wira bergantian.


"Oh, Ya. mungkin kalian tidak sengaja bertemu dengan Lura. Dia adalah anak angkat ku. Tapi aku dan Mariana menganggapnya seperti anak kandungku sendiri," ucapnya sambil melangkah mendekati Lura.


Mama Liona kembali menggelengkan kepala melihatnya. Wanita itu bingung harus menjelaskan dari mana jika Lura adalah anak kandung pria itu.


"Aku bersyukur Lura hadir dalam hidup kami. Sang Pemberi Kehidupan mengirimkan dia untuk membantu Putri." Pak Antoni terus saat berbicara.


"Apa kamu tidak menyadari siapa Lura? Apa sama sekali tidak ada perasaan tak biasa yang kamu rasakan pada gadis itu?" Sederet desakan pertanyaan Mama Liona berikan pada Pak Antoni.


Ceklek...


Pintu ruangan kembali terbuka. Mama Mariana juga masuk ke dalam ruangan dengan tergesa-gesa. Ia terkejut saat melihat Mama Liona berasa di sana.


"Liona," ucapnya pelan sambil menatap Mama Liona dengan heran.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu terkejut melihatku ada di sini!" Mama Liona mulai tersulut emosi melihat Mama Mariana.


Papa Wira segera mendekati istrinya. Pria itu tidak mau Mama Liona menumpahkan kembali rasa bencinya kepada dua orang yang telah membuat dirinya mengambil keputusan menyembunyikan Lura dulu. Yang pada akhirnya, malah kehilangan Lura sampai mengirim anaknya itu meninggal dunia.


"Liona... Aku sungguh tidak menyangka bisa bertemu denganmu saat ini." Mama Mariana mendekat ke arah Mama Liona. "Aku ingin meminta maaf atas ucapanku dulu yang pernah menyakitimu." Lanjutnya kemudian berusaha meraih tangan Mama Liona.


"Terlambat, apa kamu tahu karena ucapan dan niat kalian berdua aku berpisah dari anakku sampai belasan tahun," pekik Mama Liona berhasil membuat Pak Antoni menoleh dan mengerutkan alis mendengarnya.


"Apa maksudmu, Liona?" Serobot Pak Antoni. "Tolong jelaskan padaku, apa yang telah kamu sembunyikan selama ini!" Pak Antoni menatap tajam pada Mama Liona seakan meminta penjelasan pada wanita itu.


Mama Liona menghela napas panjang. Kemudian meraih tangan Papa Wira, seakan meminta suaminya itu membantu menopang tubuhnya. "Istriku tidak menyembunyikan apapun dari kalian. Dia memang mengetahui kalau Allura Charya telah meninggal saat saat masih bayi, Dia memang salah telah menitipkan bayi itu di panti asuhan karena mendengar ucapan dirimu yang hanya menginginkan bayi itu sebagai jalan kehidupan bagi putrimu saja, tanpa peduli dengan bayi itu." Papa Wira mewakili Mama Liona mengungkapkan isi hati istrinya.


"Aku minta maaf, Liona. Aku menyesal!" Lirih Mama Mariana.


"Tunggu! Aku memang sudah menerima jika anakku denganmu telah meninggal puluhan tahun lalu. Tapi tadi aku mendengar kamu berpisah dengan anakmu selama belasan tahun. Itu berarti anak kita masih hidup?" Tanya Pak Antoni dengan raut wajah tegas meminta penjelasan dari Mama Liona.


"Jawab Liona!" Pak Antoni berbicara dengan nada sedikit tinggi. Ia langsung menoleh ke arah Lura. Merasa takut jika suaranya menganggu tidur gadis itu.


Tanpa mereka sadari, Lura sedari tadi sudah tersadar. Ia ingin membuka mata. Tapi ketika mendengar suara Mama Liona, Lura sedikit mengintip. Saat mereka sedang berdebat.


Setiap ucapan dari masing-masing orang yang berbicara dengan baik ia dengarkan. Di saat itu Lura bisa menyimpulkan sesuatu. Lura membuka matanya perlahan kemudian menguatkan diri untuk berbicara. "Apa aku anak dari kalian berdua. Pas kau bapak bayi yang kalian perdebatkan?" Ucap Lura dengan suara lirihnya. Gadis itu bangkit sendiri dari tidurnya. Meskipun kondisinya masih lemah, Tapi Lura tetap berusaha sendiri. Ia menepis bantuan dari Pak Antoni yang posisinya dekat dengan dirinya.


"Jawab! Kalian pasti bisa menjawab. Apa aku anak yang sedang kalian perdebatkan? Apa aku anak yang tidak berhak mendapat kasih sayang dari kedua orang tuaku? Kenapa tidak Tante bunuh saja aku, saat Kenapa Tante malah menyerahkan aku ke tempat yang membuatku haus akan kasih sayang." Lura berbicara dengan suara bergetar sambil menahan tangis. "Kenapa aku tidak mati saja waktu musibah itu, kenapa aku harus bertahan hidup jika kenyataannya aku adalah anak yang kehadirannya hanya untuk dimanfaatkan saja."


"Jangan coba-coba mendekat! Sekarang Papa Antoni dan Mama Mariana sudah lega bukan. Aku bayi yang dulu kalian harapkan bisa membantu Putri, saat ini telah mewujudkan keinginan kalian?" Lura menatap ke arah Mama Mariana. Jelas terlihat wajah kekecewaan dari Lura.


"Aku tidak berhutang apapun lagi pada kalian?" Ucap Lura.


"Kamu tidak berhutang apapun, Nak! Kami yang banyak berhutang padamu." Mama Mariana menimpali. "Aku benar-benar minta maaf padamu, Ra!" Sesal Mama Mariana.


"Allura...," panggil Mama Liona dengan wajah sedihnya. Ia tidak kuasa mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Lura.


"Mama rindu, Nak! Mama berusaha mencari mu, meskipun kami kehilangan jejakmu. Tapi mama yakin kamu masih hidup. Dan ini kalung milikmu bukan? Sini, biar mama pakaikan untukmu!"


Lura menggelengkan kepala. " Aku sudah tidak butuh benda itu lagi. Aku butuh sendiri!" celetuk Lura.


"Allura jangan seperti ini. Biarkan mama menemanimu! Biarkan mama menjagamu saat ini."


"Aku tidak mau! Aku ingin sendiri. Aku minta kalian keluar dari ruangan ini," pinta Lura sambil menarik kedua lututnya hingga mencapai dada. Kemudian di peluknya kedua kaki yang ditekuk itu.


Mama Liona dan Pak Antoni berusaha mendekati Lura.

__ADS_1


"Aku bilang jangan mendekatiku!" pekik Lura dengan air mata yang sudah menetes perlahan di pipinya.


"Ra, dengarkan papa! Kita bicarakan ini baik-baik. Kami minta maaf!" Ucap Pak Antoni berusaha menenangkan Lura.


"Allura... Dengar mama, Sayang! Mama sayang sama kamu. Kamu hidup mama!" Mama Liona terisak saat berbicara.


Papa Wira yang berada di samping wanita itu selalu setia bersamanya.


Lura menggelengkan kepalanya.


"Aku Ingin sendiri, aku biasa sendiri, dan aku selalu sendiri dalam menjalani hidup ini!" Tangis Lura pecah, Ia tidak tahan dengan rasa sesak di dadanya. Ini semua begitu mengejutkan Lura. Berbagai kenyataan pahit semuanya terungkap di sini.


Dari Farrel yang telah menjadi suami Putri. sahabat yang ternyata adalah saudara sedarah dengannya.


Kemudian Pak Antoni yang mengangkat dirinya sebagai anak angkat padahal kenyataanya dia adalah anak kandungnya sendiri.


Kenyataan yang begitu cepat terungkap dalam waktu singkat.


"Tolong tinggalkan aku sendiri!" Jerit Lura tanpa melihat wajah kedua orang tuanya.


"Tapi, Ra!" balas Oak Antoni.


"Tidak, Sayang!" Mama Liona menolak tidak terima.


"Aku mohon, atau aku tidak akan mau bertemu kalian lagi selamanya!" ujar Lura dan berhasil membuat kedua orang tuanya yang sudah memiliki pasangan masing-masing itu keluar satu persatu.


Di saat semuanya berasa di luar kamar. Sangat jelas terdengar isak tangis yang begitu menyayat hati dari dalam ruangan itu. Lura menangis sendiri di sana. sambil memeluk kedua lututnya.


"Pah, Putriku. Aku ingin memeluknya saat ia bersedih seperti itu." Mama Liona tak kuasa menahan air matanya juga.


"Biarkan dia sendiri. Papa yakin, Lura gadis yang bijak sepertimu. Dia hanya perlu waktu untuk sendiri." Papa Wira mengelus pelan bahu Mama Liona berusaha menenangkannya.


Di rumah sakit yang sama.


"Anjirr, pelan, Bro! Gila lagi sakit gitu tapi gesit banget, jalan lu!" ledek Pacho pada seorang pria yang memaksa ingin keluar dari rumah sakit sebelumnya dan langsung tancap terbang ke Singapura.


Begitu sampai pun pria itu tidak ada jeda beristirahat. Pria itu ingin segera menemui wanitanya. Wanita yang sudah mengunci hati dan pikirannya.


.


.

__ADS_1


Like dan komen jangan lupa.


Maafkan jika ada typo. Asli ngebut kejar jam tayang.... Nanti otoriter pasti revisi ya...


__ADS_2