Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Membalas Perasaan


__ADS_3

"Cantik 'kan? Catra berbisik di telinga Lura. "Tapi lebih cantik Kamu?" Sontak membuat Lura menoleh ke arah Catra. Wajah yang tanpa jarak, hidung dan bibir mereka saling bersentuhan.


Lura bisa merasakan hangatnya hembusan napas dari Catra. Saking terkejutnya Lura langsung menarik diri menjauh dari Catra. Wajahnya merah merona ketika mendengar gombalan Catra. Lura juga semakin salah tingal dengan kejadian barusan.


Lura pernah merasakan ini, jantungnya berdebar saat kejadian tadi. Ia ingin segera menghindar, rasanya untuk mengakui perasaannya pada Catra masih takut. Lura merasa tidak pantas untuk Catra. Selama kedekatannya dengan Catra, Lura tidak menceritakan kisah masa lalunya. Lura pikir Catra adalah orang baru. Padahal semua yang terjadi pada gadis itu, Catra sudah sangat hapal.


Trauma masa lalu masih membayangi diri. 'Tidak ... Aku tidak boleh menyukainya! Aku tidak pantas, aku wanita kotor. Ini tidak boleh terjadi.'


Lura menggelengkan kepalanya sambil berusaha menjauh dari Catra.


sayangnya tangan kekar Catra berhasil mencekal langkah Lura.


"Maaf," ucap Catra saat melihat raut ketakutan di wajah Lura.


"Aku yang harusnya minta maaf, Cat! Apa tidak sebaiknya aku pulang saja?"


"Kenapa? Kamu belum ke sana." Catra menunjuk taman bunga lily milik mamanya. "Apa kamu tidak mau melihatnya langsung?"


"Mau, tapi aku merasa tidak pantas berada di sini," ucap Lura sambil tertunduk sedih. Bayangan dirinya yang mantan penghuni rumah bordil dan tidak suci lagi terus membayanginya.


"Kamu pantas berada di sini! Tidak ada yang bisa menghalanginya." Catra berbicara tegas sambil menarik tangan Lura agar mau mengikutinya.


"Kamu belum tahu siapa aku, Cat! Kamu bisa berbicara seperti ini karena kamu tidak tahu yang sebenarnya. Bagaimana masa laluku yang buruk!" Pekik Lura sambil kembali mengingatkan Catra saat langkahnya bergerak cepat memasuki kebun bunga lily.


Catra melepaskan pegangannya pada tangan Lura. Kemudian menghadap wanita itu. "Aku tidak peduli, bagaimana dirimu dulu. Yang aku tahu, kamu untuk hari ini dan masa depan kita. Aku ingin kamu melupakan masa lalu dan melangkah bersamaku menata masa depan."


Hati Lura menghangat mendengar ucapan Catra. Matanya sudah berkaca-kaca. Ingin rasanya ia membalas ucapan manis itu dengan jawaban cinta yang selalu Catra ucapkan padanya.


Selama ini Catra selalu bilang tulus mencintai Lura. Tapi ketakutan yang Lura alami dan diamnya Lura soal masa lalu membuat wanita itu mengabaikan perasaan Catra. Lura juga berusaha menyembunyikan perasaannya.


"Sudahlah aku mengajakmu ke sini bukan untuk melihatmu menangis. Bukan 'kah aku janji akan menunjukkan keindahan kebun bunga milik mamaku." Catra merangkup wajah Lura dengan kedua tangannya kemudian mengusap air mata yang hampir saja menetes dari manik mata indah itu dengan ibu jarinya. "Sekarang lihatlah! Kamu bisa merasakan berada di tengah tanaman bunga lily." Catra melepas tangannya dari wajah Lura kudian merentangkan tangannya. Menunjukkan pada Lura betapa indahnya hamparan bunga lily yang saat ini bunganya sedang tumbuh bersemi.


Wajah sedih Lura berubah senang saat melihat indahnya pemandangan yang ada di depan matanya saat ini.


"Indah sekali?" puji Lura sambil mengedarkan pandangannya. Hamparan bunga lily tersusun rapi di beberapa lahan. Tak hanya bunga lily putih banyak sekali jenis bunga lily di sana.


Catra dan Lura asik berjalan sambil mengobrol santai. Keduanya saling melempar tawa dan canda. Catra selalu berhasil membuat Lura tertawa geli jika berada di dekatnya. Mereka berdua kembali berjalan beriringan melewati tanaman bunga yang indah di samping kiri dan kanannya. menyelusuri indahnya kebun bunga milik Mama Liona. Sebab tak hanya satu jenis bunga ada di sana.


Seseorang memperhatikan Lura dan Catra dari lantai dua rumah mewah itu.

__ADS_1


Mama Liona tersenyum melihat tawa yang terpancar dari wajah Catra. Putranya itu jarang sekali tertawa lepas seperti itu. Mama Liona penasaran siapa wanita yang berhasil merubah sikap dingin putranya itu. Ia berencana membawakan minuman ke gazebo. Ia ingin menilai wanita yang tengah dekat dengan putranya saat ini. Ia tidak mau putranya salah memilih. Bukan dari segi harta atau materi. Tapi Mama Liona ingin Catra mendapatkan wanita yang baik dan tulus mencintainya bukan memandang dari segi kemewahan. Seperti wanita yang pernah diceritakan Catra padanya.


"Coba lihat itu!" Catra menarik lengan Lura agar mengikuti langkahnya. Catra melihat dua kupu-kupu sedang bertengger di atas kelopak bunga lily. "Indah sekali bukan?"


Lura mengangguk pelan. "Ya sangat indah."


Lura melihat Catra mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. Memotret momen itu dengan kamera ponselnya. beberapa kali Catra membidik kupu-kypu dengan kamera ponsel miliknya.


Saat menggeser kamera ke arah Lura, keberuntungan bagi Catra bisa memotret Lura dengan wajah manis sedang tersenyum simpul melihat kupu-kupu yang ia tunjukan tadi.


Lura tidak sadar jika dirinya sedang dijadikan objek foto oleh Catra. "Cantik," celetuk Catra saat Lura sedang serius memperhatikan kupu-kupu itu. Seketika Lura menoleh ke arah Catra.


"Ih, kamu jahil!" Lura berusaha merebutnya ponsel yang dipegang Catra. Tapi Lura kalah tinggi dengan pria itu, Catra mengangkat ponselnya ke atas agar Lura tidak bisa menggapainya.


"Gak, mau, pokoknya hapus!" Pekik Lura, sambil terus berusaha menggapai ponsel di tangan Catra.


"Makanya tumbuh tuh ke atas, jangan stop sampai di sini!" ledek Catra sambil mengukur tinggi Lura hanya sebatas lehernya saja menggunakan telapak tangannya.


"Ih, nyebelin!" Lura terlihat kesal dengan ucapan Catra.


"Hahaha, kamu lucu sekali kalau manyun begini!" Lagi-lagi Catra membuat Lura sebal.


"Nyebelin... nyebelin... nyebelin!" Lura memukul bahu Catra hingga tubuh pria itu sedikit mundur dan terpeleset, mereka pun terjatuh bersama.


Bugh....


Tubuh Lura jatuh tepat di atas tubuh Catra.


"Aww," desis Catra saat tubuh ramping itu menimpa tubuhnya. Tapi itu hanya alasan saja. Rasa sakit itu tidak seberapa. Catra hanya berpura-pura di depan Lura.


"Yah, bunganya jadi rusak!" Ucap Lura saat melihat banyak tanaman bunga yang rusak akibat timpahan dari tubuh mereka yang jatuh mengenai tanaman itu.


"Tubuhku yang sakit! Kenapa tidak menanyakan keadaanku?" protes Catra.


Lura memutar bola malas, ia hendak bangun dari atas tubuh Catra. Tapi dengan cepat Catra mencegahnya satu tangannya melingkar di pinggang Lura agar wanita itu tidak bisa bangun dari atas tubuhnya.


"Catra lepaskan!" Lura berusaha memberontak. Ia takut ada orang yang melihat dirinya dalam keadaan seperti ini di tengah kebun bersama Catra. Lura takut di kira sedang berbuat mesum di sana.


"Apa kamu tidak ada perasaan sama sekali kepadaku, Ra?" tanya Catra pelan dengan tatapan dalam seakan menerobos manik mata Lura, membuat wanita itu diam.

__ADS_1


Ingin sekali membalasnya tapi ia belum sanggup mengakui kalau dia sudah tidak suci lagi.


Keduanya saling diam. Yang mereka lakukan saat ini hanya bisa saling menatap, menelisik perasaan dari sorot mata masing-masing.


Catra terbuai oleh suasana. Sepinya kebun bunga dari para pelayan yang biasanya bekerja membuat Catra berbuat lebih. Catra melihat dari sorot mata Lura, kalau wanita itu memiliki perasaan yang sama dengan yang ia rasakan.


"Aku tahu kamu memiliki perasaan yang sama denganku!"


Lura memutus pandangan itu, membuangnya ke arah samping. "Tolong lepaskan aku!" Lura kembali memohon. Tangannya berusaha melepas rangkulan Catra di pinggangnya.


"Lihat aku, Ra! Tolong jangan bohongi perasaanmu sendiri!" Catra menyentuh wajah Lura agar kembali menatapnya.


"Kita mempunyai perasaan yang sama 'kan?" tanya Catra serius berharap jawab iya meluncur dari bibir Lura saat mereka kembali saling manatap.


Lura hanya bisa tertunduk. Sekeras apapun Lura menutupinya, Catra pasti tidak akan menyerah untuk terus menunggunya. Lura ingin bahagia, ia berpikir akan mengungkapkan jati diri dan masa lalunya pada Catra setelah ia menjawab perasaan pria itu.


Untuk kedepannya Lura akan pasrah, jika memang Catra tidak menerima masa lalunya mungkin Lura akan kembali sakit hati. Tapi itu tidak masalah bagi wanita itu, daripada Lura harus berbohong.


Anggukan pelan tanpa bicara menjadi jawaban Lura. Terbesit senyum bahagia langsung terpancar dari wajah Catra.


Catra langsung mengubah posisinya. Kini Posisi Lura berasa di bawah kukungan pria itu.


"Aku mencintaimu, Lura! Sangat mencintaimu." Perlahan Catra mendekatkan wajahnya, manik mata itu berfokus pada bibir ranum Lura.


Melihat aksi Carta yang semakin mengikis jarak dari wajahnya. Lura memejamkan matanya perlahan, seakan memberikan kebebasan pada Catra untuk bebas menyentuh bibirnya.


.


.


.


Selanjutnya apa yang terjadi... wawww tengah kebun bunga loh?????


Woi... jangan mesum....


Promo lagi, karya sesama Author.


Pastinya seru. Mampir yak!

__ADS_1



Ini karyanya.... Cusss mampir!


__ADS_2